KEHIDUPAN DEWI PELANGI

KEHIDUPAN DEWI PELANGI
KDP 10


__ADS_3

🌺 Happy Reading 🌺


Jam menunjukan pukul 14.15 ketika Daisha di bangunkan oleh Andini, karena sebentar lagi pergantian shift.


Daisha lekas mandi dan memakai seragamnya tak lama Andini kembali membawa dua bungkus nasi untuk mereka makan siang.


"Cepet makan kalo telat ntar di omelin lagi," Andini menyodorkan botol air mineral untuk minum Daisha.


Setelah makan selesai mereka bergegas ke lantai bawah untuk memulai bekerja. sebab yang shift pagi sudah mulai pada pulang walau sebagian masih ada, terutama bagian kasir.


"Daisha, nanti malam kamu nyanyi ya, soalnya Iren gak bisa masuk, ibu nya lagi sakit." Ucap Alifa yang melihat Daisha sedang membersihkan meja di dekatnya. yang bernapas lega ketika melihat Daisha menganggukan kepalanya.


"Tenang ada bonus khusus." Ucap nya sambil tersenyum yang dibalas Daisha dengan mengangkat jempolnya.


Memang di cafe tersebut di tampilkan juga live musik setiap malam sabtu dan minggu.


Dan malam itu pengunjung lumayan rame, yang di dominasi oleh para remaja dan kaum muda.


Seperti yang di janjikan, Daisha turun untuk bergabung dengan grup musik menggantikan Iren yang gak bisa tampil. ketika Daisha tampil, nampak semua orang menikmatinya, disamping suaranya yang merdu di tunjang dengan wajah yang cantik alami sehingga memukau semua pengunjung yang ada di cafe tersebut, bahkan banyak yang request beberapa lagu, juga memberikan tif yang lumayan banyak.


Daisha turun dari panggung setelah membawakan 5 lagu, ia yang sedang beristirahat sambil minum di meja paling sudut ketika di hampiri seseorang.


"Hai Daisha, ternyata kamu penyanyi si cafe sini ya?" Tanya nya sambil duduk di kursi yang ada di depan Daisha.


"Kak Freeya!" Daisha terkejut ketika yang menghampiri nya tersebut Freeya temen Keisha kakaknya.


"Suara mu oke juga Daisha," ucap Freeya sambil tersenyum manis.


"Kak, tolong jangan kasih tahu siapa siapa ya, terutama kak Keisha, aku cuma gantiin kak Iren yang kebetulan gak masuk," Daisha menundukkan wajahnya.


"Tenang aja, aku gak bakal bilang kok, tapi--" Freeya sengaja menggantung ucapan nya sambil tersenyum memandang Daisha yang masih tertunduk.


"Tapi apa, kak?" Daisha mendongakkan wajahnya menatap Freeya.


"Bantu aku buat deket sama pemilik cafe ini, gimana?" tanya Freeya.

__ADS_1


"Maksudnya kak Raka?" tanya Daisha.


"Emang ini cafe milik siapa lagi?" balas tanya Freeya. "bisa nggak?"


"Aku gak begitu dekat dengan kak Raka, tapi... baiklah aku usahain, tapi kak Freeya harus menepati janji gak bilangin kak Keisha kalo ketemu aku di sini!" Suara daisha terdengar lirih, nampak gurat kecemasan di wajahnya.


"Tergantung, berhasil apa enggak nya kamu mendekat kan aku sama Raka," Freeya tersenyum lalu bangkit dari kursinya meninggalkan Daisha yang masih bengong.


"Ngapain bengong? ayam tetangga ku kemarin bengong esoknya mati." Raka menghampiri Daisha lalu duduk sambil menyodorkan sebuah amplop ke hadapan Daisha.


"Mati kenapa, kak?" tanya Daisha yang terperanjat begitu melihat Raka di depan nya.


"Di sembelih," Ucap Raka lalu tergelak, melihat Daisha cemberut.


"Asem." Daisha memonyongkan mulutnya cemberut mata mendelik bikin Raka gemes melihat nya.


"Aih, bibirnya jangan gitu." Raka menatap Daisha. yang malah semakin memajukan bibirnya itu.


"Biarin!" ujarnya.


"Nanti aku khilaf,"


"Khilaf aja, nih uang honor mu untuk malam ini," Raka menggeserkan amplok tadi kedepan Daisha.


"Beneran kak?" mata Daisha berbinar.


"Enggak! ya beneran lah masa bo'ongan," ucap Raka, Daisha mengambil amplop tersebut dan melihat isinya, ia tersenyum.


"Kak, banyak banget, ini gak salah?"


"Itu untuk honor satu bulan, jadi mulai malam ini dan malam sabtu dan minggu seterusnya kamu menyanyi walaupun nanti Iren sudah masuk, karena banyak yang menyukai penampilanmu, untuk sekarang kamu boleh istirahat." ucap Raka kemudian ia berdiri hendak pergi tapi Daisha menahannya.


"Kak, tunggu! ada yang mau aku omongin."


Raka menghentikan langkahnya kemudian berbalik, "Gak usah berterimakasih, aku tahu kamu baru kabur dari rumah, jadi aku bayar di muka karena kamu pasti butuh uang, iya kan?"

__ADS_1


"Ist, bukan soal itu, ini soal lain." ucap Daisha ragu.


"Soal apa?"


"A-aku mau ngenalin seseorang sama kakak," Daisha menatap Raka ragu.


"Siapa, terus maksudnya apa?" tanya Raka memandang heran Daisha.


"It-tu kak Fre-ya." ucap Daisha terbata. ia kemudian melambaikan tangannya kearah Freeya yang lagi memandang kearahnya, kemudian Freeya berjalan nyamperin Daisha dan Raka. "Ini kak, katanya mau kenalan sama kakak." ucapnya pelan.


Raka melirik sekilas cewek yang ada di sebelah Daisha, "namanya Freeya kan? saya Raka, udah kan? oke aku pergi." Raka pergi meninggalkan Daisha dan Freeya.


"Kak, kakak tu--" Daisha menatap kepergian Raka yang hanya melambaikan tangannya.


"Kak Freeya, maaf aku gak bisa menahan kak Raka," Daisha menangkup kan kedua tangan nya di dada, sambil menatap Freeya.


"Ya udah gak papa, tapi tugas kamu belum selesai, kamu harus membuat Raka menyukaiku.


" Eh, gak bisa gitu kak, aku gak bisa maksa perasaan orang lain untuk menyukai atau enggak nya." protes Daisha. "Seharusnya kakak yang berusaha."


"Iya, tapi kamu harus bantu aku, atau aku aduin kamu sama kakakmu." Freeya kemudian meninggalkan Daisha sendirian.


"Gimana caranya kan aku bingung, heehh ada ada saja," gerutunya kemudian minum sisa air di gelas lalu bangkit dan berjalan perlahan meninggalkan cafe menuju lantai dua tempat ia tinggal sekarang.


Sesampainya di kamar yang berukuran 4x4,5 meter ia menghempaskan tubuhnya di tepi ranjang yang hanya muat untuk 2 orang, biasanya ia di temani Andini sahabat nya, tapi malam ini Andini pulang ke rumahnya, jadi untuk pertama kalinya Daisha tidur sendiri.


Dilepaskan nya baju yang menempel di tubuhnya kemudian bergegas masuk ke kamar mandi sekedar membersihkan tubuh dan gosok gigi lalu berganti dengan baju tidur.


Daisha membaringkan tubuhnya, memandang langit langit kamar,


'Papa, Ay kangen, papa lagi apa, papa udah pulang belum, maafin Ay, pa, ay pergi tanpa pamit sama papa,'


Tak terasa airmata Daisha turun tanpa di cegah, ia teringat akan perlakuan mamanya yang tega menuduh ia mencuri uang, juga tega tidak memberi uang saku selama beberapa minggu.


"mama, sebenarnya Ay ini anakmu atau bukan, kenapa sikap mama sangat berbeda ke aku sama ke Kak Keisha, atau aku anak pungut?"

__ADS_1


Karena kelamaan melamun dan menangis akhirnya Daisha ketiduran. dan ia terbangun ketika adzan subuh, dengan malas karena masih ngantuk Daisha memaksakan dirinya melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu melaksanakan ibadah sholat subuh, selesai sholat ia membaca Al-Quran yang selalu ia biasakan sejak dulu.


Pukul 6 pagi ia mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.


__ADS_2