
🌺Happy Reading 🌺
Sore itu papa Rama pulang lebih awal dari tempat kerjanya, begitu ia memasuki rumah ia mendapati istrinya lagi termenung di sopa depan TV, ada raut sedih terpancar di matanya yang membuat papa Rama merasa heran.
"Ma, mama kenapa, mukanya sedih gitu?" tanya nya yang membuat mama Aishah begitu kaget.
"Eu.. pa papa, sudah pulang, kok mama gak denger." jawab mama gugup.
"Gimana mau denger dari tadi di panggilin juga gak nyahut nyahut, ada apa sih, ma?" tanya papa Rama.
"Gak ada apa apa, pa, cuma kepikiran aja sama daisha, kok gak pulang pulang." mata mama Aishah nampak berkaca-kaca, ada raut penyesalan dalam matanya.
"Oh iya, apa kamu mencari nya ke sekolah dia, ada menanyakan nya ke teman temannya?" papa Rama duduk di sebelah mama Aishah.
"Itulah yang membuat aku khawatir, dia gak ada di sekolahan, bahkan teman temannya gak ada yang tahu Daisha di mana, maafkan aku pa, ini semua gara-gara mama, telah menuding Dais mencuri," mama Aishah akhirnya menangis sesenggukan.
"Mencuri, apa maksudnya?" tanya papa Rama kaget.
"Mencuri uang yang, buat belanja, mama pikir Daisha yang ngambil, sebab waktu mama buka dompet uangnya gak ada, ternyata mama lupa naruh, belum di masukin ke dompet yang biasa buat belanja." tangis mama Aishah semakin keras.
Mama Aishah terpaksa menceritakan kronologis nya, termasuk uang saku Daisha yang ia tahan karena ingin menghukum Daisha biar jera.
"Mama..!! tega sekali mama berbuat seperti itu sama anak kandung sendiri, bahkan mama tega membiarkan Daisha sekolah tanpa bekal! ibu macam apa kamu, ma!" papa Rama membentak istrinya dengan muka merah menahan marah.
"Sudah berapa lama Daisha perginya?"
"Hampir seminggu." mama menundukkan wajahnya, airmata tak bisa lagi ia tahan.
"Tega kamu, ma, bahkan gak ada niat untuk mencari, jika memang kamu sudah tak menyayangi Daisha, biarkan ia di luar sana biar hatimu puas, mau mati atau enggak pun jangan kamu pernah peduli,ini kan yang kau mau?" papa Rama kemudian berdiri menyambar kembali kunci mobil yang di taruh dekat TV, kemudian pergi.
"Pa.. papa kamu kemana? kalau papa mau cari Daisha aku ikut!" mama Aishah berlari mengejar suaminya.
"Untuk apa, apa belum puas menyiksa hatinya? sebelum Daisha di temukan jangan harap kamu ku maafkan." papa Rama menunjuk mama Aishah dengan telunjuknya lalu membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras.
Brak
'Sebenarnya kamu dimana, nak. kenapa harus pergi dari rumah,' sepanjang jalan papa Rama melihat kiri kanan berharap ada sosok Daisha, tak lupa ia terus menghubungi nomor Daisha, tapi tak pernah terhubung sekalipun.
__ADS_1
Sampai di ujung sekolahan ia melihat beberapa teman sekolah Daisha lagi pada nongkrong setelah latihan olahraga, di hentikannya mobil kemudian ia turun menghampiri mereka.
"Maaf ya anak anak, Om mau nanya."
"Nanya apa, om?" mereka mengalihkan pandangannya menatap papa Rama.
"Apa ada yang kenal sama Daisha?" tanya papa Rama.
"Maksudnya, Daisha Irish yang cantik itu ya, Om, Om ini siapa,ada apa, kok om nanyain Daisha?" salah seorang dari mereka berdiri dan mendekati papa Rama.
"Om ini papanya, sudah beberapa hari ini Daisha gak pulang ke rumah." ucap papa Rama seakan berat untuk mengatakan yang sebenarnya tapi ia terpaksa.
"Loh kenapa sampai minggat? Om, pasti berantem dengan Keisha ya, memang tuh orang gak pernah puas gangguin adik sendiri, heran." celetuk seorang anak perempuan yang ikut nongkrong.
"Apa? Keisha sering berantem sama Daisha, kenapa?" papa Rama terkejut di buatnya.
"Iya, Om, bahkan kemarin Keisha sampai bilang, Daisha anak pungut, sampai Daisha lari sambil menangis."
"Astaghfirullah, Keisha... papa gak nyangka, kamu setega itu." mata papa Rama nampak berembun.
"Baiklah, om akan ke sana, apa kalian ada yang tahu alamat rumahnya?" tanya papa Rama.
"Kebetulan rumah saya deket, ayok Om, biar saya antar, sekalian pulang." ujarnya sambil berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke arah motornya, "Om bisa mengikuti saya." ucapnya sambil tersenyum. yang di angguki oleh papa Rama.
Setelah berterima kasih dan membayar semua minuman dan makanan yang tadi di makan mereka, papa Rama pun pergi mengikuti salah satu anak yang nongkrong tadi.
Tak sampai sepuluh menit mereka sampai di depan rumah yang terbilang sederhana, namun tampak nyaman dengan pepohonan yang ada di depan rumah tersebut.
"Ini rumahnya, Om, mari saya antar." anak yang di ketahui namanya Adit tersebut berjalan ke arah pintu, di ikuti papa Rama di belakangnya.
Tok
Tok
Tok
Di ketuknya pintu sambil mengucap Salam.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
Tak lama terdengar jawaban salam sambil suara kunci yang di putar.
Ceklek
Pintu terbuka dan nongol perempuan yang mungkin mana nya Andini.
"Maaf dengan siapa, ya?" tanya perempuan tersebut dengan ramah lalu mempersilahkan masuk.
"Saya papa nya Daisha temen nya putri ibu, apa bisa saya bertemu dengan putrinya?" papa Rama mengenal kan dirinya.
"Oh, papa nya neng Daisha, tapi maaf anak saya gak ada di rumah, pak."
"Kemana ya bu, apa masih lama?" tanya nya
"Anak saya bekerja di cafe pak, kalau masalah pulang jam berapa itu saya gak tahu, soalnya sekarang ia suka nginep katanya nemenin neng Daisha, yang tinggal di mess cafe."
"Oh gitu ya, saya boleh tahu di cafe mana, anaknya bekerja?"
Setelah mendapatkan nama dan alamat cafe, papa Rama permisi meninggalkan rumah tersebut, tujuan nya sekarang adalah cafe.
Daisha... jadi kamu sekarang bekerja di cafe? kasian sekali kamu, nak. Maafkan papa selama ini gak pernah perhatian sama kamu," papa Rama mengusap matanya yang tak terasa air mata nya mengalir tanpa bisa di tahan, mengingat nasib anak tengah nya yang sangat miris.
"Ini semua gara-gara kamu, ma, aku sudah peringatkan kamu waktu itu, tapi kamu gak pernah mau mendengar nya, awas saja kalo terjadi sesuatu dengan Daisha maka aku pun akan memberikan hukuman untukmu dan Keisha."
Papa Rama menjalankan mobilnya sedikit tak pokus karena ia merasa sangat sakit hati dan khawatir dengan keadaan Daisha. bahkan beberapa kali ia hampir menabrak pesepeda motor.
Hingga akhirnya ia sampai juga di cafe tempat yang ia tuju. Ia masuk sambil melihat kesekeliling cafe yang nampak lagi rame. dan matanya lantas tertuju pada sosok gadis yang sangat dia hapal, yang sedang membersihkan meja.
"Da....daisha?" bibirnya bergetar menahan haru menyebutkan nama yang selama ini di cari, matanya berkaca-kaca.
Papa Rama segera menghampiri dan berdiri di depan Daisha yang belum menyadari, dan masih anteng mengelap meja, sampai matanya tertuju pada sebuah kaki yang berdiri di depan nya, perlahan matanya menatap dan terus naik sampai akhirnya ia mendongak, dan terperanjat.
"Pa.. papa... "
"Daisha, sayang.." papa Rama tak kuasa menahan haru ia bermaksud untuk memeluk anaknya, tapi secepat kilat Daisha mundur menjauhi nya kemudian berbalik dan.. lari.
__ADS_1