KEHIDUPAN DEWI PELANGI

KEHIDUPAN DEWI PELANGI
KDP 12


__ADS_3

🌺Happy Reading 🌺


Daisha terus berlari, sampai ia lelah sendiri. Kemudian ia mendudukan bokongnya di dekat sebuah jembatan yang air nya mengalir jernih membawa kesejukan, perlahan ia bangkit berdiri lalu menuruni sebuah jalan setapak menuju sungai, dan kembali duduk dekat pohon yang menjuntai ke tepi sungai.


"Maafkan aku, papa!" Daisha kembali terisak karena sadar dengan berlari menjauh akan menyakiti hati papanya, "Aku kangen papa, tapi aku gak mau ketemu papa, aku takut huhu...," lama Daisha menangis meratapi nasibnya, dia kangen papa dan keluarga ya tapi di sisi lain ia sakit sangat sakit dengan perlakuan mamanya. ia terus menangis sampai di kejutkan dengan suara seseorang.


"Astaghfirullah, gue pikir tadi kunti, ternyata elo toh, ngapain duduk di situ sambil mewek, lo gak sadar, bentar lagi maghrib, suara tangisan elo tuh bikin orang takut tahu!" Raka berkacak pinggang di depan Daisha, "Ayok balik, ntar kunti penghuni sini nyamperin lo," Ujar Raka kemudian sambil beranjak ninggalin Daisha. "etdah, mau balik gak? noh di atas lo ada apa?" Raka berjalan cepat sementara Daisha berteriak ketakutan.


"Tungguin atuh, iihh kenapa jahat aku kan takut," bukannya ngikutin Daisha malah nangis kembali sambil menutupi wajahnya.


"Haist... dasar cewek, di mana mana manja, cepetan, kalo nggak gue beneran di tinggal." Ucap Raka yang kemudian tersenyum melihat Daisha berjalan sambil sesekali nengok ke belakang seakan takut ada yang ngikutin.


Setelah jarak mereka dekat, Daisha menghentakan kakinya, jengkel.


"Jalannya jangan cepat cepat." pintanya.


"Elo tuh jalan apa ngesot sih, lamban amat, ayok!" Raka yang merasa kasian dengan Daisha kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Daisha naik ke arah jalan raya.


Sebenarnya sudah dari tadi sejak dari cafe Raka melihat Daisha, ia kemudian mengikuti Daisha, dan secara sembunyi nungguin Daisha, hingga hampir maghrib tiba ia baru menghampiri nya.


"Kita nyari mesjid dulu ya, keburu habis waktu sholat!" Ajaknya dan tanpa nunggu persetujuan Daisha Raka menjalankan motornya lalu berhenti di sebuah mesjid, keduanya turun dan pergi ke tempat wudhu yang terpisah antara perempuan dan laki-laki, keduanya me jalankan sholat maghrib dan keluar setelah selesai dengan ibadah 3 raka'at nya.


Setelah memakai kembali sepatunya, Raka menghampiri Daisha yang tengah duduk menyandarkan punggung ketiang mesjid.


"lo temenin gue, gue pingin makan bakso dulu." Ucap Raka yang mengajak Daisha ke tempat penjual bakso yang ada di depan masjid, Daisha hanya mengangguk dan mengikuti Raka.


Keduanya kemudian duduk di tempat yang tersedia di sana.


"Mang bakso dua ya, sama minumnya teh botol saja," Raka memesan makanannya, tak lama kemudian pesanannya datang, keduanya meracik makanan sesuai selera masing-masing.


"Makan yang banyak, kalo masih kurang bisa nambah, gue tahu tenaga lo terkuras oleh air mata tadi," Ucap Raka sambil menyodorkan teh botol ke depan Daisha.


"Apaan sih, siapa yang nangis?" Daisha cemberut tapi tak urung menerima teh botol yang di sodorkan oleh Raka.


"Oohh... yang nangis tadi kirain kamu, ternyata bener ya di sana tuh ada kunti." Raka menundukan wajahnya menahan tawa.

__ADS_1


"Kakak.... aku kan jadi takut." Daisha meringis sambil menggeser duduknya mendekat ke arah Raka.


"Huuussst... " Raka menempelkan telunjuknya ke bibir sambil matanya pokus ke belakang Daisha membuat Daisha memekik dan menghambur memeluk tangan Raka, sementara mukanya di benamkan di lengan Raka, membuat Raka tersenyum penuh kemenangan.


"Emhemm, elo suka banget ya sama gue."


Daisha yang baru sadar di kerjai Raka langsung menggeser tubuhnya sambil menggeplak tangan Raka yang sedang tertawa.


"Siapa juga, kamu sengaja ya biar aku peluk." Daisha mencebikan bibirnya wajah nya memerah ketika melihat Raka yang terus tertawa menatap nya.


"Dah ah aku balik saja, tolong bayarin dulu nanti ku ganti, aku lupa gak bawa duit." Daisha berdiri kemudian keluar dan menunggu Raka dekat motornya, tak lama mereka meninggalkan tempat itu.


Sampai di parkiran cafe, daisha turun dan hendak pergi tapi Raka menahannya.


"Aku tunggu nanti di rooftop!" ucap nya kemudian berlalu meninggalkan daisha yang sedang bengong.


"Daisha, kamu darimana aja, dari tadi aku cari," ketika masuk Andini sudah memberondong pertanyaan pada Daisha.


"Aku dari luar."


"Aku ganti baju dulu," Daisha tidak menjawab pertanyaan Andini tapi berlalu pergi menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Daisha membersihkan tubuhnya lalu berganti baju dan pergi ke rooftop untuk menemui Raka. ia melihat Raka sedang berdiri menyaksikan malam yang bertabur cahaya dari gedung dan hunian di kota ini.


"Ini kak, duitnya yang tadi aku ganti, makasih." Daisha menghampiri Raka dan memberikan uang sebagai pengganti waktu makan bakso tadi.


"Siapa yang minta ganti? ooo... gue tahu, sekarang lo udah kaya ya!" Raka mencibir.


"Tapi tadi aku janji mau ganti." ucap Daisha tak enak hati.


"Sudah lah, lo simpan saja! anggap saja gue tadi sedekah sama anak yatim yang tidak punya pacar."


"Mana ada istilah gak punya pacar tu yatim, gak punya bapak baru di sebut yatim."


"Ooohh gitu ya, kirain teh sama," Raka tersenyum geli.

__ADS_1


"Iihh kakak ini ada ada saja," Daisha ikut terkikik kemudian keduanya tertawa bersama.


"Daisha... sebenarnya lo tuh cantik kalo lagi tertawa seperti ini, tapi sayang kecantikan lo sering memudar kalo--" Raka sengaja menggantungkan ucapan nya.


"Kalo apa, kak?" tanya Daisha sambil menatap Raka yang sedang menatap nya pula. mereka saling menatap sampai akhirnya Daisha memalingkan tatapannya seiring degup jantungnya yang mulai memainkan musik, dug..dug.. kayak beduk mau lebaran.


"Kalo menangis, lo kenapa, apa ada masalah, sok atuh cerita kali aja gue bisa bantu meringankan masalah lo, asal jangan minta duit aja, gue juga masih minta bonyok." Raka terkekeh. "Oh iya, yang tadi tuh papa lo ya, kenapa menghindar?"


"Kak, a-aku... " Daisha kembali menatap Raka ragu.


"Kalo belum siap, gak papa, gue gak bakalan maksa, tapi setidaknya jangan buat orang lain berpikir negatif tentang lo, jika ada masalah selesaikan, okey?" Raka menepuk bahu Daisha lembut kemudian ia hendak berlalu, tapi berhenti ketika Daisha berucap kembali.


"Aku siap bercerita kok, kak."


Raka tersenyum kemudian menghampiri Daisha, tangannya bertumpu pada pagar pembatas.


"Aku di usir mama dari rumah, mama menuduh aku mencuri uangnya," kemudian Daisha menceritakan semua yang selama ini terjadi dengan keluarga nya termasuk sikap mama nya yang pilih kasih.


Raka tak sepatah kata pun menyela cerita Daisha, ia berpikir untuk saat ini cukup menjadi pendengar sebab ia tahu bukan hanya solusi yang ingin Daisha cari, tapi tempat untuk mencurahkan semua rasa yang selama ini mengganjal dalam hati Daisha, kekecewaan, dan luka biar nanti Daisha bisa bernapas lega. baru setelah Daisha berhenti bercerita ia mengajukan pertanyaan nya.


"Kalo selama ini papa mu baik, lalu kenapa tadi menghindari nya?"


"Aku belum siap untuk bertemu papa."


"Kenapa? sebaiknya lo temuin papa lo, keliatan nya tadi dia khawatir banget, perkara lo mau balik ke rumah mu kembali apa enggaknya, itu terserah lo aja, jika lo gak nyaman, lo bisa tetap tinggal di sini, sebetah lo aja." Raka menepuk bahu Daisha dengan lembut.


"Kak, makasih ya sudah mau dengerin curhatan aku," Daisha mendongak menatap Raka yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya yang mungil.


"Santai aja, lo bebas mau curhat sama gue, gue siap nampung koo, butuh bahu buat nyender aku siap pinjamin, aku sudah nganggep lo adik gue sendiri," Ucap Raka sambil tersenyum manis. membuat Daisha lemes.


---


RASA NYAMAN BUKAN DARI KELUARGA SAJA TAPI BISA JADI DARI TEMAN ATAU SESEORANG


MAAF BARU BISA UP LAGI, OTHOR ADA SUATU HAL YANG TAK BISA DI CERITAKAN MOHON MAAF. MOHON DOA NYA SAJA 🙏

__ADS_1


__ADS_2