KEHIDUPAN DEWI PELANGI

KEHIDUPAN DEWI PELANGI
KDP 14


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Aishah yang mendengar cerita ibunya, menangis tanpa bisa ditahan, tubuhnya mendadak lemas, tubuhnya beringsut me dekati kedua mayat tersebut, perlahan di bukanya penutup yang menutupi wajah mayat tersebut, ia memalingkan muka ketika melihat keadaan wajah kakak ipar nya, bagja, kemudian beralih ke tubuh satunya, khodijah kakak satu satunya, Aishah menangis sampai Rama mendekati nya membujuk istrinya dan menyuruh untuk istirahat di kamar.


Keesokan harinya kedua mayat di kuburkan berdampingan, banyak pelayat mendoakan, hingga menjelang zhuhur pemakaman telah beres.


Semua pelayat meninggalkan area pemakaman begitupun Aishah dan Rama juga ibunya.


Malam harinya selama 7 malam berturut-turut diadakan pengajian tahlilan, selama itu juga ia berada di kampungnya dan akan kembali pulang ke kota di hari ke 8.


"Ibu, bagaimana kalo bayi ini aku bawa ke kota, aku akan mengurus nya dan akan menganggap dia anak sendiri." malamnya Aishah mengutarakan maksud nya ke ibunya untuk mengambil alih hak asuh anak kakaknya, sebab hanya ia yang dia punya selain neneknya, sedangkan keluarga bagja, kedua orang tuanya sudah meninggal dan bagja adalah anak satu satunya.


"Tapi, apakah suami mu dan keluarga nya bisa menerima bayi ini?" ucap si ibu sambil berkaca kaca memandang bayi yang sejak lahir sudah yatim piatu.


"Aku sudah membicarakan sebelumnya dengan mas Rama, bu, jadi ibu gak usah khawatir, lagian aku juga belum punya anak, siapa tahu bayi ini bisa jadi pancingan biar aku cepat hamil." Aishah tersenyum sambil mengusap usap dada si bayi biar tidur nyenyak.


"Baiklah kalo begitu, ibu gak khawatir lagi, cuma pesan ibu, jika nanti kamu punya anak yang lahir dari rahimmu sendiri, jangan sampai kau terlantarkan bayi ini, kasian dia sudah gak ada kedua orang tuanya.


" Gak akan bu, apapun yang terjadi dia adalah anugerah yang datang dalam kehidupan kami, aku akan sangat menyayangi nya melebihi apa pun." ucap tegas Aishah.


Dan seperti rencananya, esok harinya mereka pulang memboyong bayi perempuan yang mereka kasih nama KEISHA YUNIA PUTRI.


#Flasback off


"Ja--jadi, kak Keisha?" Daisha melotot sambil membekap mulutnya seakan tak percaya.


"Ya, kamu benar, tapi papa harap kamu jangan kasih tahu siapa pun, termasuk kakakmu sendiri, biarlah ini menjadi rahasia selamanya, mungkin selama ini mama mu bersikap seolah kamu di abaikan, asal kamu tahu, mama bersikap seperti itu, agar kakakmu lebih nyaman tinggal bersama kita."


"Kak Keisha pasti nyaman pa, tapi mama lupa bahwa aku juga butuh perhatian, bahkan mama gak pernah mau tahu dan gak pernah bertanya,apakah sikap mama seperti itu bisa membuat nyaman? ENGGAK papa!


Selama ini aku tersiksa,bahkan aku sering bertanya pada diri sendiri, aku ini siapa dan anak siapa,karena apa? karena mama tak pernah mencintaiku,mama tak pernah menyayangiku dan mama tak pernah melihat aku seujung kuku pun, perhatian mama, kasih sayang dan cinta mama semua tercurah hanya untuk kak Keisha. " Daisha kembali menangis.


"Nak, mamamu... " papa Rama menghentikan ucapan nya ketika Daisha mengangkat tangannya.


"Aku mengerti, papa, karena mama ingin kak Keisha mendapatkan kasih sayang lengkap, karena ia sudah tak punya siapa siapa alias yatim piatu, gitu kan maksud papa?"

__ADS_1


Papa Rama mengangguk sambil tersenyum, ia senang bahwa Daisha bisa mengerti, tapi kemudian ia terkejut saat Daisha berkata lagi.


"Tapi, secara tak sengaja mama sudah membuat aku seakan anak yang SUDAH TAK MEMILIKI IBU!" Daisha menekankan kata terakhirnya.


"Nak, maafkan mama mu, mungkin ia khilaf."


"Apakah harus sampai 13 tahun, mama khilap, papa? asal papa tahu, selama ini aku tersiksa papa, aku harus jadi babu di rumah orang tua ku sendiri, bahkan aku harus berjuang mencari uang untuk sekedar memenuhi kebutuhan aku sendiri, padahal orang tuaku mampu.


Aku bekerja jadi pelayan karena aku juga pingin jajan seperti temen yang lain," Daisha menyusut wajahnya yang di banjiri air mata dengan kasar.


Papa Rama semakin menundukan wajahnya, ia merasakan kepedihan yang di alami Daisha, Ia tidak menyangka mama nya telah berbuat sejauh itu.


"Sayang, maafkan papa selama ini, tak begitu memperhatikan keadaan di rumah, papa mengira mamamu tak berbuat sampai begitu, biar nanti papa tegur mama mu, sekarang kita pulang ya!" Papa Rama mencoba membujuk Daisha agar mau pulang bersama nya, sementara Daisha hanya tersenyum getir.


"Percuma papa bujuk Daisha karena Daisha gak akan pulang, Daisha lebih nyaman tinggal sendiri gak ada yang bikin sakit hati," Daisha terkekeh mentertawakan nasibnya sendiri.


"Tapi nak, apa kata orang jika kamu tinggal di luar sementara kami enak enakan di rumah."


"Sudah lama aku tak pernah memikirkan perkataan orang, pa, aku sudah mati rasa, kurasa papa sebaiknya pulang saja, aku juga harus masuk kerja, makasih traktiran nya." Daisha meraih tangan papanya kemudian di kecupnya, "Assalamu'alaikum"


Sepanjang perjalanan pulang kata kata yang di ucapkan Daisha selalu terngiang di telinganya. 'Secara tak sengaja, mama sudah membuatku tak memiliki ibu. '


"Begitu dalam ternyata luka hatimu, karena mama mu, nak, maafkan papa, karena selama ini papa tak pernah memperhatikan kalian." Ia terus bergumam, sampai akhirnya ia sampai di halaman rumahnya yang nampak lengang.


Rama masuk rumah langsung melangkah kan kaki nya ke dapur untuk mengambil air minum, di bukakan nya kulkas dan mengambil sebitol air dingin kemudian di tenggaknya langsung untuk menghilangkan sedikit tenggorokan nya yang mendadak kering, hampir separuh nya habis.


"Loh, papa dari mana saja kok baru pulang, tadi mama nelpon ke kantor katanya hari ini papa gak masuk," Mama Aishah yang baru masuk dari pintu belakang langsung bertanya keheranan.


"Nemuin Daisha!" jawab nya singkat.


"Ngapain cari dia? anak itu susah di atur." mama Aishah berucap dengan ketus.


"Ma, apa selama Daisha ada di luar mama gak punya rasa khawatir, sedikitpun sama dia?" pertanyaan papa Rama membuat mama Aishah terkejut.


"Maksud papa?"

__ADS_1


"Sebagai seorang ibu yang melahirkan dia, seharusnya mama tahu, kenapa anakmu sampai susah di atur, kenapa dia selalu melawan."


"Alah.. itu karena dia nakal, papa selalu membela dia jadi dia berani melawan."


"Ma, mama sadar gak kenapa ia melawan, mama tahu apa yang anak itu rasakan selama ini, mama tahu semuanya tentang Daisha?" papa Rama duduk di sebelah mama Aishah.


"Ma, papa tadi sampai menangis mendengar apa yang di ucapkan Daisha." papa Rama menatap mama Aishah begitu lembut.


"Emangnya anak itu ngomong apa?" ucapan mama Aishah masih saja terdengar ketus.


"Coba mama ingat ingat, semua kelakuan dan sikap mama terhadap Keisha dan Daisha, sama enggak?"


"Tapi papa kan tahu, kenapa aku begitu."


"Yah, papa tahu dan karena itulah Daisha berpikir, bahwa secara tak langsung, mama telah membuat Daisha merasa tersisih, seharusnya mama sadar jangan pernah membeda-bedakan anak, papa dulu pernah bilang jangan sampai kita menyesal, dan kini telah terbukti, ku harap kau segera menyadari semua perbuatan mu itu salah, ma!"


"Maksud papa apa sih, ngomong yang jelas! gak usah muter muter, mama pusing." Mama Aishah memegangi kepalanya. sementara si papa hanya menggelengkan kepalanya yang di buat heran dengan istrinya yang tidak pernah peka.


"Naluri mama sebagai seorang ibu, gimana sih?" mulai jengkel dengan istrinya papa Rama akhirnya meninggal kannya yang masih duduk dengan pemikiran nya sendiri.


"Ma... mama... " Tiba-tiba Keisha datang dengan berteriak.


"Kenapa teriak-teriak sih, kayak di hutan aja, ada apa?" Omel mama Aishah.


"Aku tadi ketemu sama Daisha di sekolah." ujarnya.


"Terus?"


"Kurang ajar banget dia, berani dorong aku."


"Masalah nya apa? kamu mungkin cari gara-gara sama dia, tak mungkin Daisha berani kurang ajar kalo kamu gak duluan macam macam sama dia," Papa Rama yang baru keluar dari kamar langsung berkata.


"Haist papa mana ada, dianya aja yang sensian." Keisha sedikit kaget dengan kemunculan papa nya, karena ia mengira papa nya masih bekerja.


"Yakin?" memicingkan mata nya seolah menelisik apa yang ada di pikiran Keisha.

__ADS_1


__ADS_2