KEHIDUPAN DEWI PELANGI

KEHIDUPAN DEWI PELANGI
KDP 13


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Setelah kejadian semalam hubungan Daisha dan Raka semakin dekat, tidak seperti layak nya karyawan dan bosnya tetapi lebih seperti seorang kakak terhadap adiknya, meski Daisha punya perasaan agak lain yang ia sendiri gak bisa mengartikannya.


Setiap berdekatan dengan Raka, Daisha selalu gugup dan jantungnya selalu bergetar, bahkan kadang susah untuk di kendalikan, seperti pagi itu, ketika ia bersiap untuk ke sekolah, Raka menghampiri nya.


"Sha, mau sekolah? berangkat bareng yuk, kan searah." Raka menghampiri Daisha yang sedang memakai sepatu nya.


"Makasih, kak, biar aku pergi sendiri," Daisha hanya merasa tak enak kalo dia selalu di antar jemput oleh Raka.


"Gak ada penolakan, ayoo.. " Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Daisha berdiri, lalu keduanya pergi lewat pintu samping.


Daisha turun dari boncengan Raka, ketika ia mengucapkan makasih, Raka mengulurkan tangannya, untuk di salami, membuat wajah Daisha merona namun tak urung diapun menyalami tangan Raka sambil kembali mengucapkan makasih.


"Hati hati, kak!" Daisha melambaikan tangannya sementara Raka tersenyum manis. "Ya Alloh... bisa bisa gue diabet." Daisha mengusap dadanya, kemudian ia masuk ke area sekolah menuju kelas, tapi belum juga ia sampai, Keisha mencegat lalu menyeret Daisha ke tempat sepi.


"Lo kenapa lagi sih?" Daisha menepis tangan kakaknya yang sedang mencengkram pergelangan tangannya.


"Elo yang kenapa, ada gak ada selalu bikin masalah!" Sentak Keisha.


"Gue gak paham maksudnya apa?" Daisha memicingkan kedua matanya.


"Gara-gara lo, papa sama mama bertengkar, dan gara-gara elo juga... papa selalu marah marah kalau di rumah, dan mama tiap malam menangis, sekarang lo puas? dasar tak tahu diri!" Keisha mendorong tubuh Daisha hingga ia terhuyung.


"Kenapa masih nyalahin gue, hah! gue sudah keluar dari rumah itu, elo dan mama menuduh gue." Daisha menatap nanar Keisha.


"Awas aja kalo lo masih cari masalah, kali ini gue gak akan ngalah lagi sama ELO!" Daisha menunjuk dada Keisha dengan telunjuknya, kemudian pergi meninggalkan Keisha yang terlihat geram.


"Darimana aja, lo, gue cariin juga dari tadi." Andini sedikit kesal sama Daisha soalnya dari tadi ia mencari keberadaan Daisha yang gak ia temui.


"Kenapa? kangen ya." jawaban Daisha membuat Andini mencebik gemas, lalu menggelitik pinggang Daisha membuat Daisha kegelian dan menjerit-jerit,membuat semua orang memperhatikan mereka berdua, ada yang ikut tertawa melihat tingkah keduanya, ada yang tersenyum sinis ada yang cuek bebek.


"Udah iiihh.. geli Dini...!!! " Daisha berlari tapi Andini terus mengejarnya seakan tak rela melepaskan kesenangan nya untuk membalas Daisha yang membuat ia kecapean mencari dari tadi, sampai ...


Bruk... Daisha terjatuh karena menubruk tubuh seseorang.


"Maaf.. gak sengaja, gara gara-gara elo, ia melotot ke arah Andini, sementara yang di pelototi malah meleletkan lidah mengejeknya.


" Lo apa apaan sih macam anak TK aja, so kecantikan aja." Omel orang yang Daisha tabrak tadi yang ternyata si ratu julid Faniza.


"Emang gue cantik, kenapa? tersaingi lo?" setelah tahu siapa yang di tabrak tadi Daisha kembali ke mode awal.

__ADS_1


"Apa..? tersaingi...sama elo? sorry gak level." Faniza membalas omongan Daisha sambil memelototkan matanya, lalu mencibir seakan meremehkan Daisha.


"Nyembur anjiir..!!" Daisha mengusap mukanya yang kecipratan mulut Faniza membuat Andini terkikik geli.


"Rasain." ucapnya tanpa bersuara membuat Daisha melempar Andini dengan bolpoin yang ada di meja guru dekat ia berdiri.


"Wlee... gak kena!" Andini mengoyangkan panta**a membuseisi kelas tertawa, hingga guru datang barulah kegaduhan mereda, walau masih ada suara terkikik.


"Anak-anak sekarang pelajaran olahraga, jadi sebentar lagi kalian bapak tunggu di lapangan, silahkan mengganti pakaian kalian dengan baju olahraga karena ada team laen yang akan melawan."


"Siaapp paak." serempak mereka menjawab lalu yang belum memakai pakaian olahraga raga pergi ke ruang ganti termasuk Daisha dan Andini.


----


Pulang sekolah di dekat gerbang langkah Daisha terhenti ketika papa Rama menghampiri. ia yang sudah dapat wejangan dari Raka untuk bisa menerima dan mau berbicara dengan papa atau mama nya jika suatu saat salah satu atau keduanya mendatangi nya.


"Papa... " Tak kuasa menahan air mata yang jatuh berderai membasahi kedua pipi putih bersih milik Daisha ketika papa memeluknya dengan penuh rindu. ia membalas pelukan papanya sambil menangis tersedu.


"Bisa ikut papa sebentar?" papa Rama mengurai pelukannya kemudian membawa Daisha ke sebuah restoran setelah Daisha menyetujui nya.


"Kamu apa kabar, nak? papa kangen kapan kamu akan pulang?" papa Rama memandang Daisha dengan lekat, hatinya terenyug melihat Daisha yang sedikit kurusan.


"Papa, Aku--"


"Jadi... sekarang kamu tinggal di mana?" papa mulai bertanya pada Daisha setelah menghabiskan makanannya.


"Aku sekarang tinggal di mess cafe tempat aku bekerja, pa." Daisha mulai menjawab apa yang jadi pertanyaan papanya, "Maafkan aku pa, aku tidak bisa pulang ke rumah, aku sudah nyaman di tempat aku yang sekarang." Daisha menundukan wajahnya.


"Papa mengerti, papa juga paham, tapi... sampai kapan?"


"Pa... ketika aku telah memutuskan untuk keluar dari rumah, maka pintu untuk kembali sudah tertutup bahkan mungkin gak bisa di buka lagi, karena sudah terkunci." Air mata Daisha kembali mengalir saat ia mendengar papa nya berkata ia lalu menatap papa nya.


"Gak masalah kan kuncinya ada di papa, jadi bisa di buka lagi." papa Rama mengangguk mantap memastikan ucapan nya.


"Dengar kan papa sayang, Waktu kamu lahir papa memberimu nama Daisha Irish, kamu mau tahu artinya? artinya Kehidupan dewi pelangi.


Karena semenjak kamu hadir menyapa dunia selalu memberikan warna dalam kehidupan mama dan papa seperti pelangi, jika kamu bertanya kenapa kamu sikap mama berbeda ke kamu dan kakakmu. kenapa lebih perhatian ke kakak ketimbang kamu? karena mama tahu bahwa kamu tuh anak hebat dan kuat.


Mama sangat sayang pada semua anak anaknya termasuk kamu. kalaupun ia terlihat lebih perhatian ke kakak, karena--" papa Rama sengaja menggantung ucapan nya ingin melihat reaksi Daisha.


"Karena apa, Pa?

__ADS_1


Papa Rama tersenyum, " Baiklah akan papa ceritakan.


Flashback


"Mas, sudah hampir 3 thn kita menikah, tapi aku tak kunjung hamil juga." Ucap Aishah sambil tertunduk di hadapan Rama suaminya.


"Memangnya kenapa, aku gak masalah kok, mungkin Alloh mau kita pacaran lebih lama." Ucapan Rama sambil mengelus rambut hitam Aishah sore itu tidak mampu menenangkan wanita nya.


"Tapi, mas, ibu mu--"


"Sudahlah jangan sampai membuat mu kepikiran, kita se dikasih nya aja," potong Rama kemudian mengajak istrinya untuk masuk rumah karena senja sudah berlalu seiring suara adzan berkumandang.


Mereka gantian mengambil air wudhu lalu sholat maghrib berjama'ah, tak lupa berdoa memohon kebaikan untuk keluarga nya dan segera mendapatkan momongan.


Tiba-tiba hape Aishah berdering.


"Hallo.. assalamu'alaikum bu, ada apa?" Aishah menjawab telpon yang ternyata dari ibunya di kampung.


"Aish, kamu bisa pulang sekarang, nak!" nampak ke khawatiran dari suara nya, "Kakakmu Aish--"


"Kenapa kakak, bu?" tersirat wajah cemas Aishah yang tak luput dari pandangan Rama.


"Kakakmu melahirkan, tapi.. " terdengar ibunya malah menangis.


"Bu! ibu!" telpon terputus membuat Aishah khawatir lalu ia memandang suaminya.


"Bersiaplah, kita pulang sekarang," Ucap Rama tegas, " kita akan tahu keadaan di sana setelah sampai."


Akhirnya mereka pun berangkat ke kampung Aishah setelah pamit kepada kedua mertuanya.


Rama menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga 2 jam mereka sampai di tempat kelahiran Aishah, perasaan Aishah semakin tak menentu ketika mulai mendekati tempat tinggalnya banyak orang yang berkumpul.


"Mas, sebenarnya ini ada apa?" Aishah memegang tangan suaminya.


"Tenanglah, kita hampir sampai." Rama mulai memfokuskan matanya ketika semua orang menyingkir memberi jalan agar mobilnya bisa masuk ke halaman rumah ibunya Aishah.


Begitu mobil berhenti bergegas Aishah membuka pintu dan turun melangkah mendekati pintu yang terbuka lebar terdengar isak tangis dari dalam, semakin mempercepat langkahnya, dan ia berdiri tegang di pintu masuk melihat keadaan di dalam rumah, nampak dua sosok tubuh terbaring tertutup oleh kain.


"Emmaakk... " ucap nya lirih, ketika melihat sosok ibunya terduduk lesu di samping kedua tubuh yang terbujur kaku.


"Aish, Aish... kamu datang? kakakmu nak." Ibu berdiri lalu menghampiri Aishah yang masih ter bengong sesaat kemudian tersadar lalu memeluk ibunya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, bu?" tanya nya.


"Kakakmu tadi.... " lalu ibunya menceritakan dimana tadi siang khodijah anak sulung nya mengalami kontraksi, kemudian di bawa ke puskesmas oleh Bagja suaminya, namun nasib malang menimpa keduanya, sebelum mereka sampai di puskesmas ada mobil yang remnya blong dan celakanya mobil tersebut menyenggol motor bagja, membuat bagja tergilas dan meninggal seketika di TKP, sedang khodijah sempat terpental, di larikan orang yang ada di sana ke rumah sakit karena sudah tidak sadarkan diri, saat itu juga petugas kesehatan segera mengambil tindakan, demi menyelamatkan bayi yang berada di perut ibunya, alhamdulillah bayinya masih tertolong, tapi ibunya tak bisa di selamatkan.


__ADS_2