KEHIDUPAN DEWI PELANGI

KEHIDUPAN DEWI PELANGI
KDP 5


__ADS_3

🦋🦋🦋


Happy Reading


Hari ini minggu, cuaca tampak cerah.


Daisha nampak sudah siap dengan dengan pakaian kebesaran nya, celana jean dan tshirt panjang warna putih, yang di padu padan kan dengan sneaker warna putih, dan selempang kecil tempat ia menyimpan HP.


Hari ini ia sudah janjian dengan sahabatnya Andini untuk pergi jalan jalan.


"Wah, gadis papa udah cantik aja, mau kemana?" goda pak Rama sambil tersenyum dan memutari anak kesayangannya.


Daisha terkekeh menanggapi godaan papanya, tak lama Keisha dan mama nya juga bian datang.


"Mau kemana lo, dah rapi aja, bukannya tugas lo hari ini nyetrika baju?" Keisha menatap tajam penampilan adiknya yang menurut hatinya cantik banget tapi ia gengsi buat ngakuin malah mulutnya mengingkarinya.


"Kepooo," Ucap Daisha yang di timpali tawa Bian.


"lo tuh kenapa sih? di tanya baek baek juga,"


"Kalo baek baek juga gak pake melotot tuh mata, hari ini gue mau jalan jalan ke EMMOLL, puas!" Daisha menekankan kata mall membuat Keisha makin kheki.


"Ngapain? gaya lo kayak banyak duit aja," Keisha tersenyum sinis.


"Jalan jalan tuh gak pake duit, kakakku sayang tapi pake kaki, kalo belanja baru pake duit, dahlah aku berangkat dulu, ma, pa Ay pamit,, oh ya kakakku sayang,aku sudah menyetrika baju ku, kalo baju mu, terserah aku bukan pembantu mu, huh!" Daisha menyalami mama dan papanya sebelum keluar dia berhenti karna papanya memanggilnya.


"Buat jajan nanti," papa menyodorkan 2 lembar uang warna biru, tapi belum juga Daisha mengambilnya, mama sudah merebut uang tersebut dari tangan papa Rama.


"Jangan di biasakan manjain anak, pa, kalo udah di kasih jatah bulanan ya sudah, kecuali ada kebutuhan urgent, ini kan cuma jalan jalan, sana pergi,"


"Tapi, ma... gak tiap hari loh Daisha perginya, lagian pas dia ke Jogja juga dia gak minta bekal ke kita, lain dengan Keisha, kamu bahkan memberi nya uang berlebihan." protes papa, Rama ia melihat prihatin kepergian anak tengahnya.


"Itu uangnya buat aku aja, ma, buat tambahan uang buka," Keisha menengadahkan tangan meminta uang tersebut, yang kemudian berlari kegirangan ketika mama nya memberikan uang tersebut, sedangkan papa Rama hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan istri dan anak sulung nya. ia berdiri dan pergi menuju kamarnya, tal lama kemudian ia sudah keluar lagi sambil memutar mutar kunci mobil.


"Bian, mau ikut papa nggak?" yang di panggil menatap papa nya.

__ADS_1


"Kemana, pa?"


"Jalan jalan keluar diam di rumah juga sumpek," lanjut nya yang langsung di iyain, okeh bian, mereka pun akhirnya perfi meninggalkan mama Aish yang terduduk bengong sendirian.


Di dalam mobil.


"Sebenarnya kita mau kemana, pa?" ucap Bian sambil menatap papanya yang lagi pokus menyetir.


"Coba kamu telpon ka Daisha sekarang sedang di mana !"


Bian pun segera melakukan seperti yang papa nya perintahkan.


"Di mall X katanya, pa,"


"Oke, kita ke sana," papa Rama menjalankan mobilnya menuju mall yang di sebutkan Bian.


sesampainya di mall, ia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, baru kemudian turun dan memasuki mall tersebut.


Ia kemudian mencari keberadaan putrinya, tapi tak juga ketemu.


"Aku telpon dulu, pa," ucab bian yang di angguki papa nya.


"Lo ngapain cari kakak, sama siapa?"


"Sama papa, sengaja nyusulin kakak,"


Daisha yang mendengar papa nya nyusulin jadi gugup, "kamu di mana de, biar kakak yang nyamperin,"


"Ya udah, aku sama papa deket lift lantai 2."


Daisha segera mengganti baju dan pergi nemuin adek dan papa nya.


"Pa, ada apa nyusulin?" tanyanya keheranan.


"Gak ada apa-apa koq, cuma mau ngajak makan aja, yuk! kalian tinggal sebutin aja mau makan apa?" pak Rama nampak seneng bisa jalan dengan anak-anak nya.

__ADS_1


"Papa minta maaf atas semua sikap mama terhadapmu, nak," papa Rama mulai menghilangkan keheningan yang tercipta diantara mereka.


"Kenapa papa minta maaf?"


"Selama ini, bukannya papa tak tahu, tapi papa kira seiringnya waktu, mama mu akan berubah tapi ternyata... " papa memegang tangan Daisha kemudian melanjutkan ucapan nya, "papa keliru, papa harap kamu tak sampai membenci mama mu sendiri."


"Papa, jangan khawatir, aku tidak apa apa, mungkin juga karena sudah terbiasa, aku sama sekali tak pernah membenci mama maupun kakak, entahlah kalau mereka," Daisha tersenyum miris, miris akan nasibnya sendiri, tak terasa air mata sudah menggenangi kedua pipinya yang putih bersih.


"Kamu jangan berpikiran seperti itu, mama mu sebenarnya sangat menyayangi kalian,"


"Tentu saja, mama sangat mencintai dan menyayangi kak Keisha juga Abian, entah kalo sama aku, papa bisa lihat sendiri kan, gimana mama memperlakukan aku."


"Nak, jangan seperti itu, papa harap--"


"It's oke, papa, kalo gak ada yang harus di bicarakan lagi, aku pamit, daisha masih ada keperluan, btw makasih traktirannya, dah papa, dah bian." Daisha langsung memotong ucapan papanya, seakan ia tak mau tahu, ia segera pamit dan langsung meninggalkan papa dan adiknya


"Tunggu, nak!" papa Rama mengambil dompet lalu menarik beberapa lembar uang, dan menyodorkan nya pada Daisha, tapi Daisha menolaknya dengan mengatakan bahwa ia masih punya pegangan, tentu hal itu sangat menyakitkan hati papa Rama.


"Pa, maafkan aku, sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal seperti itu, tapi aku juga masih punya perasaan pa, aku tahu papa sangat sayang sama aku, tapi perlakuan mama sungguh sangat menyakitkan."


Daisha yang sebenar gak pergi, dia hanya gak mau menangis terlalu larut di depan papa dan adiknya nampak mata nya ber linangan, kemudian ia mengusap wajahnya sambil terus menatap punggung dua pria yang sangat di sayangi nya, papa dan bian adiknya.


Setelah mereka tak terlihat lagi, Daisha keluar dari persembunyian nya dan melangkah ke arah toilet, di basuh mukanya agar sisa tangis nya tak nampak, kemudian pergi dari tempat itu dan kembali ke tempat nya semula.


"Papa mu sudah perg?" tanya Andini yang di jawab Daisha dengan anggukan kepalanya.


"Kenapa kamu gak terus terang aja, kalo kamu bekerja di sini?"


"Kalo mereka tahu, dampaknya akan semakin parah, sudahlah gak usah terlalu di pikirkan, biarkan semua seperti sebelumnya." Daisha pun kembali mengerjakan tugas nya yang sempat ia tinggalkan.


Sementara Andini menatapnya iba.


Tanpa sepengetahuan keluarga nya setiap pulang sekolah, Daisha bekerja di kedai kopi milik saudara nya Andini, ia bekerja dari mulai jam 15.00 sampai jam 20.00 malam dan hari minggu dari jam 10 pagi sampai jam 17.00.


Daisha selalu beralasan bahwa ia belajar kelompok, ia bekerja untuk menutupi segala kebutuhan pribadinya termasuk uang buku dan uang saku yang selalu di pangkas oleh mama nya demi ngasih uang berlebih untuk Keisha.

__ADS_1


Miris memang nasibnya, tapi sedikitpun ia tak pernah memperlihatkan kesedihan di depan keluarga nya, ia selalu tampak ceria bahkan kadang ia memperlihatkan sikap pembangkang nya. semua ia lakukan untuk menutupi luka dan kesedihannya.


Daisha selalu bersikap masa bodoamat untuk Keisha, tapi tak pernah melawan perintah mama nya selagi ia bisa Mentelolir nya lain halnya kalo sudah di ambang batas kesabarannya.


__ADS_2