KEHIDUPAN DEWI PELANGI

KEHIDUPAN DEWI PELANGI
KDP 15


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Pagi ini Daisha bangun terlambat, akibat semalam ia gak bisa tidur, pikiran nya gelisah, kenyataan yang baru ia ketahui tentang Keisha sang kakak yang selama ini selalu mengusik dirinya membuat ia tak bisa memejamkan matanya. Ia tersenyum miris posisinya sebagai anak kandung yang tersisihkan dengan anak angkat sungguh membuat dirinya kembali menangis, ia teringat semua perkataan bahkan cacian sang kakak juga mamanya, bahkan dengan begitu tega selalu membuat dirinya terluka.


'Aku gak percaya, mungkin papa salah, ia hanya mau menghiburku saja, padahal akulah yang anak pungut bukan kak keisha,"


Daisha terduduk di tepi pembaringannya, kepalanya terasa berdenyut, ia pegangi sambil di pijitnya perlahan untuk sekedar mengurangi rasa sakitnya.


Perlahan ia menurunkan kakinya, berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, sesakit apapun yang ia rasakan ia tak pernah melakukan kewajiban 5 waktunya.


Daisha segera melaksanakan sholat subuh yang sebentar lagi berakhir, kemudian tak lupa berdo'a untuk kebaikan semuanya, juga menyempatkan diri untuk selalu membuka Alquran dan membacanya, itu selalu rutin ia lakukan.


Pukul 06 pagi, ia sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, diraihnya tas yang sudah terisi buku pelajaran yang sudah ia persiapkan semalam, kemudian di bukanya dompet yang di periksa isinya, Daisha tersenyum ia bersyukur bahwa selama ini meski ia sudah keluar dari rumah dan tidak lagi mendapatkan uang saku tapi ia gak pernah kekurangan, ia sudah mendapatkan upah dari tempat nya bekerja selama ini meski pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.


Dimasukkan nya dompet kembali ke dalam tas kemudian keluar dari kamar.


"Mau sekolah ya?" tanya teh Alifa ketika berpapasan di bawah, teh Alifa adalah orang yang selama ini di berikan tanggung jawab mengelola cafe, sebelumnya ia bekerja di toko Roti milik orang tua Raka, tapi setelah cafe ini di serahkan kepemilikannya pada Raka, ia meminta Alifa untuk membantu menjaga dan mengelola cafe tersebut, sebab Raka masih memfokuskan dirinya untuk belajar.


"Iya teh, aku berangkat dulu ya!" Daisha tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami teh Alifa.


"Sarapan dulu, nih teteh udah bikinin coklat sama roti," Alifa menyodorkan segelas coklat dan roti ke hadapan Daisha.


"Kok jadi ngerepotin gini, teh." Daisha merasa tak enak hati, walau bagaimana pun Teh Alifa adalah atasannya.


"Alaahh.. udah, jangan ngerasa gak enakan, cepetan minum baru boleh berangkat, anggap aja aku kakakmu, jadi jangan sungkan, oke?" Alifa tersenyum sambil mengusap lembut bahu Daisha, selama ini ia melihat pribadi Daisha dan ia tahu bahkan Raka pun sudah menceritakan semuanya, membuat ia merasa prihatin akan nasib Daisha.


"Makasih, teh." Daisha merasa terharu dengan perlakuan lembut Alifa, di minumnya coklat lalu menggigit roti pemberian Alifa dengan mata berkaca.


"Loh kok malah nangis? gak enak ya?" Alifa memperhatikan Daisha dengan tatapan lembutnya.

__ADS_1


"Eng.. enggak koq teh, ini enak, a-aku cuma terharu aja," Daisha menjawab sambil menundukan wajahnya.


"Habiskan kalo gitu, belajar yang rajin ya, biar pinter!" Alifa berdiri lalu meninggalkan daisha yang sedang memakan sarapan nya, setelah habis ia berjalan ke depan untuk menemui alifa dan pamitan untuk pergi sekolah.


"Teh, aku berangkat dulu ya, nanti pulangnya agak terlambat mau ke belanja kebutuhan sehari-hari dulu." pamitnya.


"Iya, hati hati ya." Alifa mengantarkan daisha sampai teras cafe setelah gak terlihat lagi ia baru masuk ke dalam.


 


Setelah sekolah Daisha tidak langsung pulang, tapi ia mampir dulu ke sebuah tempat perbelanjaan di temani Andini sahabat nya, ia akan membeli keperluan sehari-hari.


"Daisha, lihat ini bagus kan?" Andini mengambil sebuah tshirt dan memperlihatkan nya ke Daisha.


"Bagus, lo mau beli?"


"Iya, gimana kalo kita belinya couplean!" ujar Andini yang di iyain sama Daisha, keduanya pun memilih, ketika lagi asik tiba-tiba..


Seorang bocah laki-laki menubruk Daisha sampai terjatuh, membuat Daisha kaget, lalu ia menolong anak tersebut.


"Adek gak papa?" Ia membangun kan anak tersebut kemudian menggendongnya, "Lain kali jangan lari lari ya?" Daisha tersenyum sambil menjawil pipi anak tersebut.sedang si bocah malah tertawa bikin Daisha gemes.


"Tata atik," Ucap bocah tersebut.


"Aduuhh Ioo.... " tiba-tiba seorang ibu menghampiri dan meminta maaf sama Daisha. "maaf ya dek, ini anak kabur terus," tersenyum ke arah Daisha lalu merentang kan tangan untuk menggendong anaknya, tapi si bocah malah menggelengkan kepalanya.


"Io.. mau tama tata antik, wee.. " membuat Daisha tertawa gemes melihat nya.


"Iyoo.. sini sama mama, jangan ganggu kakak, " Ibu tersebut kembali menjulurkan tangannya meraih tubuh anaknya, tapi si anak malah mempererat cengkramannya ke tubuh Daisha.

__ADS_1


"Aduh, dek, maaf ya, ni anak malah merajuk, ayo Iyo.. jangan nakal." ia mengambil paksa anaknya membuat anak itu menangis.


"Ibu, gak papa kok, biar si adek nya tenang dulu, cup cup.. jangan nangis ya." Bujuk Daisha menepuk-nepuk lembut punggung si bocah yang semakin menyelusupkan kepalanya ke leher Daisha.


"Kalo gitu kita duduk di situ dulu ya!" ajak si ibu sambil nunjuk ke arah cafetaria, kemudian ketiga nya berjalan dengan masih menggendong bocah tersebut.


"Perkenalkan, nama ibu Iqlima dan ini anak bungsu ku Kyo!" setelah mereka duduk si ibu tersebut memperkenalkan dirinya juga anaknya sambil mengulurkan tangannya ke arah Daisha juga Andini.


Daisha dan Andini menyambut uluran tangannya sambil menyebutkan namanya masing-masing.


Ketiga nya begitu asik ngobrol, sesekali menggoda si kecil Kyo sampai datang dua orang ke tempat itu.


"Mama, dari tadi di cariin, ternyata di sini." seorang anak perempuan seumuran daisha datang menghampiri di ikuti lelaki pantaran papa Rama.


"Ini, Kyo gak mau lepas dari kakak ini.. " Ima menunjuk Kyo yang masih posesif dengan Daisha tertawa menunjuk anak bungsunya, membuat Reyna dan ayahnya mengalihkan tatapannya pada gadis yang duduk di depan mamanya. sementara Daisha tersenyum canggung.


"Hai.. kenalin aku Reyna kakaknya si manja Kyo," Reyna mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah di ikuti ayah Agus.


Daisha dan Andini kembali menyambut uluran tangan Reyna dan ayahnya yang terlihat ramah dan hangat.


"Hai bocil, emang itu siapa?" Reyna menggelitik pinggang adiknya yang tertawa kegelian, "sini sama teteh!"


"Tak mauu... iihh hihihi... " Kyo terkikik geli lalu menyembunyikan diri di balik tubuh daisha sesekali kepalanya nongol sambil menjulurkan lidah ke arah kakaknya membuat yang melihat tertawa gemas.


"Baiklah, sekalian aja kita makan dulu ya," Ayah Agus memanggil pelayan kemudian memesan makanan dan menawari Daisha dan Andini.


"Sini boy, duduknya dekat ayah jangan gangguin kakak makan ya!" Agus mengambil Kyo dari pangkuan Daisha, setelah pesanan mereka datang.


Setelah selesai makan Mama Iqlima menawarkan untuk mengantar Daisha dan Andini tapi keduanya menolak dengan alasan masih ada yang mau di beli.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun berpisah setelah mengucapkan terimakasih atas traktiran nya tak lupa mereka bertukar nomor telpon.


__ADS_2