KEHIDUPAN DEWI PELANGI

KEHIDUPAN DEWI PELANGI
KDP 8


__ADS_3

🦋🦋🦋


Happy Reading


Mau tidak mau Daisha harus menerima keputusan bahwa pengajuan tentang jam kerja nya gak bisa di rubah, namun ada tawaran untuk menempati sebuah kamar sebagai tempat tinggal jika ia takut untuk pulang jika terlalu malam, dan itu semua sudah ia pikirkan, 'mungkin ini saatnya aku harus keluar dari rumah,'


Dan sejak memutuskan untuk meninggalkan rumah dan memilih untuk menempati sebuah kamar yang di jadikan mess, sejak itulah ia mulai mencicil pakaian nya, tanpa seorang pun tahu.


Daisha semakin memantapkan hati nya ketika hari itu dia di marahi habis habisan oleh mama nya, di tuduh melakukan kesalahan yang tak pernah ia lakukan.


"Kamu, mama hukum bukannya jadi lebih baik malah semakin menjadi, mau nya kamu apa sih? kamu mau mama cepat mati, kenapa??"


Daisha hanya bisa menangis ketika mama memukul tangannya dengan kemoceng, bukan karna pukulannya tapi karena tuduhannya.


Waktu itu, mama kehilangan uang yang jumlahnya lumayan, ia menuduh Daisha mengambilnya karena tahu bahwa Daisha tidak pernah ia kasih uang lagi, tapi ia bisa membeli barang baru, dan semua itu tak lepas dari aduan Keisha. sekuat apa pun ia membela diri tapi marah sang mama semakin menjadi. bahkan ia tega menunjukan pintu keluar untuk Daisha. dan hari itu pun Daisha keluar dari rumah nya.


Ia membereskan semua pakaian yang tersisa, sesampainya di ruang keluarga ia mendapati mama nya sedang duduk sama Keisha.


"Daisha, mama memberi kesempatan padamu sekali lagi, kamu akui semua perbuatan mu, lalu minta maaf dan berjanji untuk tidak akan melakukan nya lagi, kamu bisa tetap tinggal di sini!" mama nya berseru ketika melihat Daisha keluar dari kamar sambil menggendong tas yang besar.


"Maaf, ma, aku tidak akan pernah mengakui perbuatan yang tidak pernah aku lakukan, aku tidak akan pernah minta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah aku lakukan, mungkin ini jalan terbaik yang harus aku pilih, selamat tinggal ma, mama jaga kesehatan, aku pergi." Daisha melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


"Daisha, sombong kamu, apa susah nya sih ngaku, jangan pernah menyesal jika di luar sana kamu menggelandang, dan pintu rumah ini tertutup untukmu selamanya." Tiba-tiba Keisha berteriak.


"Keisha, diam kamu." mama menatap tajam Keisha dia kaget dengan perkataan anak sulung nya.


Daisha membalikkan tubuh nya kembali.


"Jangan khawatir kak, aku bisa menjaga diri, dan aku tak akan pernah kembali, ma......tolong sampai kan permintaan maaf ku untuk papa, makasih untuk selama ini kalian sudah menyayangi dan menjaga ku, sekarang aku pergi, selamat tinggal, ma.assalamu'alaikum!" Daisha melangkahkan kaki nya keluar, dia tak peduli Keisha mencaci dia juga pura-pura gak mendengar ketika mama nya menyuruh untuk berhenti.


Daisha terus melangkah sampai sebuah motor berhenti di dekat nya.


"Hai! mau ke mana? habis di usir ya." Daisha berhenti kemudian melirik orang yang menyapa nya.

__ADS_1


"kenapa, ayok naik biar aku antar." orang yang nyapa tersebut adalah Raka, pemilik cafe yang kebetulan melewati daerah tempat tinggal Daisha, melihat Daisha menangis ia kaget lalu menawarkan diri untuk mengantarnya, Daisha yang saat itu lagi kebingungan akhirnya naik ke boncengan.


Motor pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Kamu mau kemana?" setelah setengah perjalanan Raka bertanya.


"Kemana saja, yang penting jauh dari sini." Ucap Daisha.


Raka menghentikan motornya, kemudian ia melihat ke belakang.


"Kamu, Beneran minggat?" ucapnya kaget.


"Minggat sama di usir beda, pak!" Ucap Daisha asal membuat Raka sejenak diam kemudian ia melanjutkan kembali motornya.


Tak lama motor berhenti di parkiran cafe.


"Kamu boleh istirahat di atas, kalo sudah siap bercerita, bukan apa apa, biar plong saja." ucap nya setelah mengantarkan Daisha sampai depan pintu. Daisha hanya mengangguk dan cepat masuk ke dalam kamar. sementara Raka kembali ke kantornya di cafe itu.


Sementara di rumah, sepeninggal Daisha, mama ke kamar kemudian ia menangis merasa menyesal atas apa yang telah terjadi.


"Ay, sayang maafkan mama, mama ngelakuin itu bukan bermaksud untuk mengusir kamu nak, tapi mama hanya menggertak kamu, biar kamu jujur, apa yang harus mama bilang sama papa tentang hal ini,"


Menjelang maghrib papa baru kembali setelah dua hari lamanya bertugas di sana, Dan hari ini ia pulang langsung menanyakan anak anaknya, tentu hal seperti ini lah yang di takutkan mama Aishah.


"Ma, anak anak mana? panggil sana nih papa bawa banyak oleh-oleh buat mereka."


"Nanti aja pa, sekalian makan malam, ini sebentar lagi mau maghrib." Ucap mama Aish dengan perasaan tak menentu, yang ia tutupi dengan senyum manisnya.


"Baiklah, kalo begitu papa juga mau membersihkan diri dulu." papa Rama bangkit dari kursinya masuk kamar dan membersihkan tubuhnya yang terasa le gket akibat perjalanan jauh tadi, sementara bu Aishah menyiapkan baju ganti.


Dan di sinilah sekarang sehabis maghrib mereka berkumpul untuk menyantap makan malam.


"lho, Daisha mana, kok belum kesini?" papa Rama heran karena anak gadis yang satunya belum bergabung di meja makan.

__ADS_1


"Papa kayak gak tahu aja kebiasaan anak itu, tiap malam juga kan kagak pernah makan malam bareng kita," Keisha menjawab dengan mencebikan bibirnya.


"Iya pa, tiap malam Daisha belajar kelompok sama temen temennya." Bu Aishah mengangguk sambil menjelaskan tentang Daisha.


"Ma, coba mama bilangin sama Daisha, jangan tiap malam belajar di luar, atau sekali kali ajak aja temennya yang belajar di sini."


"" Mana mau denger dia, pa! hoby nya kan ngelayap, belajar kelompok hanya di buat alasan." Keisha kembali mengompori kedua orang tuanya.


"Gak ada salahnya kan bicarakan dulu, nasehati dia, aku tahu Daisha anaknya penurut, mungkin kalo mama, yang minta dia belajar di sini bareng temennya, dia mendengar, selama ini Daisha kurang nyaman sama sipat mama ke dia," papa Rama melirik istrinya.


"Baiklah, nanti mama coba bicara sama anak itu."


"Bagus, bersikap lah sewajarnya seorang ibu, jangan sampai ada yang merasa tersisihkan, kita sebagai orang tua harus tahu itu, ma! sebelum semuanya terlambat dan kita akan menyesalinya."


Ucapan papa Rama terasa monohok masuk ke dalam perasaan mama Aishah, ia hanya tertunduk tak berani berkata lagi, sementara papa Rama setelah menyelesaikan makannya beranjak dari kursi menuju ruang keluarga.


kemudian ia mengeluarkan beberapa barang dari totebag dan memanggil Keisha dan Bian, lalu menyerahkan barang tersebut sebagai oleh oleh, tentu saja kedua anaknya kegirangan.


"Itu apa, pa?" Bian menunjuk satu bungkusan lagi.


"Ooh ini buat Daisha,"


"Boleh lihat gak, pa!" Keisha mengambil bungkus san tersebut, tapi tangannya di tahan sama papa Rama.


"Jangan! kalian udah sama papa bawain, jadi buat Daisha biar dia yang buka sendiri, jangan di biasakan mau tahu dan membuka barang atau apa pun yang bukan hak kalian, meskipun itu saudara sendiri." papa Rama menatap tajam Keisha sementara mama Aishah yang baru datang sambil membawa kopi hanya tertegun mendengar ucapan suaminya yang keliatan tidak suka terhadap sikap Keisha.


Sementara Keisha menundukan kepala mendengar perkataan tajam papa Rama, baru kali ini ia mendapat perlakuan seperti itu, mata Keisha berkaca-kaca, kemudian ia bangkit menuju kamarnya.


"Papa, kenapa bicara kasar seperti itu, lihat Keisha menangis." Tegur mama Aishah.


"Huh, dasar cengeng, baru sekali di gituin udah mewek, apa kabar kak Daisha yang tiap hari di bentak bentak sama mama," Ucap Bian sambil berdiri dan berlalu ke kamarnya.


"Sudahlah!" papa Rama mengibaskan tangannya lalu pergi menuju kamar Daisha sambil membawa totebag.

__ADS_1


__ADS_2