KEHIDUPAN DEWI PELANGI

KEHIDUPAN DEWI PELANGI
KDP 9


__ADS_3

Happy Reading


Cek lek


Pintu kamar di buka oleh papa Rama, kemudian masuk, melihat ke sekeliling kamar nampak bersih, bahkan di atas meja gak ada barang apapun, termasuk buku dan foto yang selama ini slalu terpajang di atas meja belajar.


Papa Rama mengernyitkan kening nya, ia merasa heran dan janggal. ia melangkah ke arah lemari, kemudian di bukanya, deg... jantung berdegup membuka pintu yang satu nya lagi. tersisa pakaian yang sudah tak di pakai lagi.


"Kosong ....kenapa?" ia melangkah ke arah laci dimana Daisha sering menyimpan barang berharganya seperti buku tabungan jam dan surat surat penting, pa Rama tambah heran.


sebab akte dan beberapa surat sudah gak ada di tempat nya, sudut matanya melirik pada sebuah buku kecil sampul biru. 'Diary.' di bukanya sambil melangkah dan duduk di pinggir ranjang.


Dear deary...


Aku gak punya tempat untuk


mencurahkan isi hatiku, jadi,


kamu aja ya tempat aku curhat


kamu gak papa kan. makasih..


kamu emang terbaik.


Papa Rama tersenyum membaca tulisan Daisha, di buka nya halaman kedua.


Dear deary.


Nilai raport ku baik bahkan aku jadi


ranking satu, papa muji aku, tapi mama


enggak, bahkan dia bilang gitu aja bangga.


kenapa ya mama begitu.


Membuka halaman berikutnya, papa Rama tersenyum membaca tulisan Daisha tentang kejadian yang ia tuangkan dalam catatan kecilnya, namun ketika membuka halaman berikutnya, ia sempat tertegun dan berpikir apa artinya ini, semakin penasaran ia melangkah mengunci pintu kamar setelah memberi tahu bahwa ia akan tidur di kamar Daisha sambil menunggunya pulang.


Dear deary


Luka tak memiliki suara

__ADS_1


sebab airmata jatuh tanpa bicara.


Seperti luka ku, tak berdarah tapi sakitnya nyampe ke hati


"Apa Daisha punya pacar trus putus," monolog papa Rama, kemudian di buka lagi halaman berikut nya dan kembali ada tulisan aneh menurut nya.


Dear deary.


Sebenarnya ada banyak tanya yang ada dalam dada, namun aku tak tahu harus nanya sama siapa, sebenarnya aku siapa??


Halaman berikutnya.


Dear diary.


Tiada yang lebih menenangkan selain berdamai dengan expetasi beristighfar atas segala kesalahan dan berdo'a memohon hidup yang lebih baik.


"Ni i anak maksudnya apa sih?" Pa Rama tambah penasaran dengan maksud yang di tulis Daisha. ia terus membaca tulisannya Daisha yang kebanyakan mengeluhkan sipat pilih kasih nya juga ketidak pedulian dirinya. sampai ia membaca tulisan.


Dear deary


Kebetulan gajian nih, sepatu ku sudah usang, minta di beliin mama, jawabannya nanti nanti aja.


"Gajian, maksudnya Daisha kerja, jadi sepatu itu dia beli dengan uang nya bukan mama.


" Kamu gak pulang, nak, dimana kamu sebenarnya, baju baju dan bukumu juga sudah gak ada? '


Hingga subuh papa Rama gak bisa memejamkan matanya kembali ia kemudian keluar dari kamar Daisha, melangkah menuju dapur, bermaksud mau bikin kopi, tapi di dapur dia melihat bi Ijah yang lagi menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan.


"Bi, bibi tahu kemana Daisha pergi?" tanya papa Rama mengagetkan bi Ijah.


"Bapak? aku kira siapa bikin kaget aja," bi Ijah memegang dadanya, papa Rama tersenyum kemudian minta maaf karena membuat bi Ijah kaget.


"Bapak, nanya apa tadi?"


"Daisha, bi, bibi tahu Daisha pergi kemana dan kenapa ia pergi?" tanyanya.


"Euu... bibi gak tahu dimana sekarang neng Daisha, kasian si neng harus hidup di luar," Bi Ijah mulai terisak.


"Bibi tahu kenapa Daisha pergi?"


"Neng Daisha itu, pak--"

__ADS_1


"Papa, sedang apa di sini?" Tiba-tiba mama Aishah muncul di pintu dapur.


"Ini lagi bikin kopi, ya sudah makasih ya bi kopinya," bi Ijah yang paham hanya mengangguk mengiyakan saja.


"Bapak tadi nanyain apa, bi?" setelah papa Rama masuk mamah bertanya pada bi Ijah.


"Eu.. euu, tadi bapak nyuruh bikin kopi sama minta di buatin nasi goreng aja kok, bu," Bi Ijah menjawab sambil mengupas bawang sekedar mengalihkan sedikit rasa gugupnya.


"Ooh, kirain apa, soalnya tadi kedengaran sebut nama Daisha."


"Tidak bu, cuma itu tadi, Bapak bilang katanya semalam neng Daisha gak pulang, apa tidur di rumah temennya, jadi bibi iya kan saja." Bi Ijah mulai menumis bumbu.


Siangnya ketika papa Rama ke kerja, mama Aishah pergi ke sekolah Daisha untuk membujuk Daisha biar mau pulang kembali ke rumah, ia merasa takut dan khawatir kalo sampai papa Rama tahu Daisha minggat, ia akan kena marah. ia menunggu sampai sekolah bubar, tapi sampai semua murid keluar dan pulang ia tak menemukan sosok Daisha, sampai Andini muncul dengan seorang temennya, mama Aishah buru buru mendekati Andini.


"Hai, kamu yang bernama Andini temennya Daisha, kan?" tanya nya.


"Iya, bu, ada apa ya, kenapa Daisha tidak masuk apa dia sakit, bu?" ucap Andini sambil menatap bu Aishah, yang terkejut mendengar kabar bahwa Daisha gak masuk, sesaat ia terdiam.


"Bu.. bu, Daisha sakit apa?" Andini kembali bertanya sama Bu Aishah yang kaget.


"Ooh, iya nak, ibu tadi lupa untuk memberi surat izin kalo Daisha sakit jadi langsung pergi ke sini," bohongnya. 'Aduh Daisha, kamu kemana sih, gawat kalo papamu tahu, pasti aku kena marah, '


Bu Aishah mulai panik.


"Ya sudah kalo begitu, ibu permisi ya, mari." bu Aishah tersenyum lagi pergi dengan langkah tergesa sementara Andini tertawa di tahan lalu berbalik masuk kembali menemuu seseorang yang tengah bersembunyi.


"Sudah pergi," ucapnya dan munculah Daisha dari balik pintu. "Ayo, cepet kita pulang cerita nya nanti aja keburu dateng lagi." Andini dan Daisha pergi lewat jalur yang berbeda dengan mama Aishah, mereka berjalan kaki lewat perkampungan penduduk hingga akhirnya sampai di tempat yang merupakan bagian belakang cafe.


Daisha masuk dari pintu belakang, langsung menuju tangga yang mengarah ke lantai 2 di mana kamarnya berada di ikuti Andini.


Sesampainya di kamar ia langsung melemparkan tas nya ke atas kasur menyusul tubuhnya yang dia rebahkan, tanpa membuka sepatu, Andini yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.


"Pinjam baju ya, aku mau ganti, yang ini buat sekolah besok takut lecet," ucap Andini.


"Ambil aja, aku mau tidur dulu jangan ganggu," sahut Daisha.


"Ganti baju dulu atuh, trus buka sepatu." Andini melirik Daisha yang malah menelungkupkan wajahnya ke bantal.


"Akh, nih anak, gak bisa di bilangin." Andini masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa baju ganti, tak lama sudah keluar, dan berdecak ketika mendengar dengkuran halus dari Daisha yang menandakan bahwa ia sudah tidur.


"Kasian banget sih kamu, Ay," gumam Andini sambil membuka sepatu Daisha dengan pelan berikut kaus kakinya.

__ADS_1


"Kamu cantik, anak orang kaya pinter lagi, tapi nasibmu... tak lebih seperti anak yatim piatu," Andini terus saja memandang Daisha yang tertidur seperti bayi, tak terasa ia menitikan air mata, begitu miris nasib sahabatnya ini.


__ADS_2