
Bryan menaiki tangga menuju kamarnya sambil membuka dasinya. Dia lelah, super lelah. Hari yang luar biasa hectic dan dia mencoba menikmati rutinitasnya sambil berusaha membuang semua pikiran tentang satu perempuan yang selalu membuat dia gerah. Harinya dimulai setelah dia mendarat di Bandara Soetta pada pukul 8 pagi setelah mengikuti seminar 5 hari di Hawaii. Dia masih merasa jetlag ketika pihak rumah sakit menelepon bahwa ada pasien darurat yang harus segera dioperasi. Yah... begitulah nasib dokter spesialis bedah umum. Satu operasi dilanjut dengan operasi kedua lalu ketiga dan sekarang, tepat jam 11 malam dia baru tiba di rumah dengan tubuh yang hampir rontok. Bryan memasuki kamarnya dan setelah melepaskan seluruh pakaiannya dia langsung masuk ke kamar mandi. Selelah apapun rasanya, Bryan tidak akan pernah bisa tidur tanpa mandi. Dia bisa menahan kantuk dan lapar tapi jelas dia tidak bisa menahan untuk tidak mandi. Jadi sudah jelas, mandi adalah yang paling utama. Bryan baru akan membaringkan tubuh lelahnya hanya dengan menggunakan boxernya, tapi rasanya ada yang aneh. Biasanya di saat seperti ini, dia akan berlari ke kamar Allegra atau Elora dan bercerita dengan mereka, lalu tidur bersama sampai pagi. Tapi kedua saudara perempuannya itu sudah menikah. Tidak mungkin dia yang sudah setua ini - walaupun 28 tahun kurang 2 bulan belum bisa dibilang tua - tiba-tiba menerobos ke kamar orangtuanya dan tidur di antara mereka. Oh... mau ditaruh dimana wajahnya? Perlahan Bryan melangkah menuju kamar Allegra dan Clement sudah tidur disana, menguasai seluruh tempat tidur dengan lampu menyala. Sialan! Lalu langkahnya perlahan menuju kamar Elora dan dia bisa bernafas lega bahwa David belum menguasai kamar itu. Kamar itu temaram dan tanpa berpikir untuk menyalakan lampu, Bryan langsung masuk ke dalam selimut dan langsung terlelap. Adriella masih larut dalam mimpi indahnya dan dia mendesah bahagia sambil memeluk gulingnya dengan erat. Akhirnya setelah sekian lama memendam rasa pada Abang sepupu kesayangannya, pujaan hatinya itu melamarnya dan mengajaknya menikah. Ohh... that's so sweet!
Good bye, Marco!
Good bye, Donny!
Good bye, Jacky!
Good bye semua pria yang pernah dekat dengannya hanya sebagai pelarian saja!
Welcome, Bryan Dimitri tercinta!
Akhirnya si cantik Adriella Carolina, youtuber make up tutorial dengan ribuan subscribers, anak bungsunya Papi Nathanael Christopher dan Mami Editha Maharani dilamar juga. Mamiihhhh... akhirnya aku akan menikah juga dengan si 'raksasa' ganteng pujaan hati anakmu. Boleh dong, Mamihhh aku peluk calon suamiku? Boleh ya? Boleh dong! Kalo nggak boleh aku juga akan tetap cium kok. Dengan gemas aku buru-buru mencium kekasih hatiku sebelum dilabrak oleh Yang Mulia Raja Nathanael dan Ratu Editha.Pas lagi enak-enaknya cium-cium, kenapa juga ada suara pluit wasit sepakbola sih? Berisik banget!
"Oh my God! Bryan! Lala!"
Sepertinya aku kenal suara teriakan itu, tapi siapa ya? Kenapa bisa mengganggu mimpiku sih? Trus kenapa gulingku makin berat ya?
"Abang Bryan!"
Akhirnya suara teriakan itu yang berhasil membuka mata Adriella. Dan mata indah itu semakin terbelalak melihat siapa yang menindihnya. Perasaan di dalam mimpi tadi dirinya ditindih guling, bukannya... BRYAN??? Adriella langsung menjerit sekencang-kencangnya sambil berusaha mendorong tubuh 'raksasa' seukuran 185 cm dan berat 90 kilogram.
"Aduh... berisik banget deh. Sumpah!"
Tubuh Bryan memang berpindah tapi tangannya malah menarik pinggang Adriella dan meletakkan tubuh ramping itu di atasnya. Adriella makin panik. Bukannya apa-apa, posisi mereka terasa makin aneh, apalagi dengan sejumlah penonton yang mengelilingi tempat tidur mereka. Kedua orangtua Bryan, Clement, David dan Kak Allegra bersama suaminya.
Astaga Tuhan, kenapa jadi begini? Ini kenapa lagi si raksasa bisa tidur bareng dia?
"BRYAN DIMITRI!"
Sekarang suara Rafael Dimitri, Sang Daddy menggelegar dan sukses membuat Bryan terbangun dengan membawa Adriella ke dalam pangkuannya. Matanya masih tertutup tapi tangannya aktif memeluk tubuh Adriella dan Bryan malah menyurukkan wajahnya ke leher Adriella.
Adriella pucat pasi dan panik. Dia langsung memukul bahu Bryan dengan kencang dan mendorongnya sambil berteriak.
"ABANG!!!"
Sontak Bryan membuka matanya dan pandangan mereka bertemu. Keduanya kembali berteriak bersamaan. Adriella buru-buru menarik selimut begitu menyadari bahwa dia hanya mengenakan tanktop tanpa bra dan celana dalamnya.****** gue! Elora, lo dimana? Tolong gue dong!
"Apa yang kalian lakukan?"
tanya Daddy Rafael dengan wajah garang.
__ADS_1
"Bryan! Jawab Daddy!"
"Amangboru, Bou, ini tidak seperti yang kalian bayangkan kok!"
Adriella mulai meringis gugup.
"Iya kan, Bang?"
Bryan kembali menoleh menatap Adriella dengan tersenyum kecil.
"Menurut Daddy?"
Bryan malah balik bertanya.
"Daddy, ini tidak bisa dibiarkan!"
Mama mulai panik.
"Apa yang harus kita katakan pada Nathan dan Editha?"
Daddy Rafael terdiam sesaat dan menatap Bryan dengan tajam. Lalu
"WHAT??? NO!!!"
teriak Adriella berusaha untuk bangkit tapi tangan Bryan menahan tubuhnya dan melototi sekujur tubuhnya.
Oh astaga! Hampir saja! Dia lupa bahwa dia hampir telanjang.
"Kita akan rapat saat sarapan!"
tukas Daddy lagi sambil berbalik badan.
"Kami tunggu kalian di bawah dalam waktu 10 menit. Silahkan mandi di kamar mandi terpisah!"
Ya iyalah! teriak Adriella dalam hati.
Mereka berbaris keluar kamar. Dan sialnya, Clement dan David senyum-senyum menggoda mereka berdua. David bahkan menjulurkan lidahnya dan Clement mengangkat kedua jempolnya. Syukurlah, pukulan smash dari Kak Allegra melayang di kepala Clement.
"Abang, apa-apaan sih?!"
teriak Adriella sambil memukuli dada Bryan dengan tangannya.
__ADS_1
"Kita kan nggak ngapa-ngapain! Lagian kenapa juga Abang tidur di kamar ini? Abang kan tahu aku lagi nginap di sini!"
"Ngomong satu-satu, La! Pelan-pelan suaranya!"
"Abang!" teriak Adriella makin kesal.
"Abang kan seminggu di Hawaii, La. Mana Abang tahu kamu nginap di rumah ini?"
Adriella terdiam dan menatap Bryan sambil berpikir keras. Dia bukannya tidak ingin menikah dengan Bryan tapi tidak dengan cara seperti ini. Adriella tidak pernah tahu bagaimana perasaan Bryan terhadapnya. Sementara dirinya jelas-jelas mencintai Bryan tapi hanya dia dan Elora yang tahu. Ini rahasia hati dan bisa besar kepala Bryan kalau pria itu tahu perasaan Adriella.
Tapi ide menikah hanya karena salah paham, rasanya tidak benar. Ini salah, definitely wrong!
"Aku tidak mau menikah dengan Abang!"
"Kenapa?"
"Karena ini hanya salah paham, Bang!"
"Buat Abang, ini bukan salah paham!"
"Menikah itu untuk seumur hidup, Bang. Hanya sekali, tidak ada perceraian!"
"Iya memang itu rencana Abang!"
"Dasar keras kepala!"
Adriella bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Bryan melotot dan jantung berdetak lebih cepat. Dia langsung buru-buru menutupi boxernya dengan selimut. Adriella yang hanya mengenakan tanktop dan celana dalam, mengusik keberadaan juniornya di bawah sana dan sekarang, sialan... si junior berdiri tegak.
Tiba-tiba Adriella berbalik dan berkacak pinggang, seolah-olah ingin bicara tapi mulutnya malah terkunci hanya dengan menatap wajah tampan yang baru bangun tidur itu. Kenapa jantungnya jadi blingsatan begini ya?
"Mau protes lagi?"
tantang Bryan dengan garang.
Adriella cuma menggeleng dan berkata.
"Lala cuma mau kasitau kalau burung Abang kayaknya udah siap terbang tuh!"
Adriella langsung berbalik dan membanting pintu kamar mandi. Sialan!
"LALA!!!"
__ADS_1