
Bryan sudah menunggu Adriella sekitar 10 menit ketika gadis itu turun dari tangga dengan gayanya yang elegan. Bryan mendengus kesal. Perasaan waktu Adriella mengganggunya tadi, gadis itu sudah rapi tapi tetap juga Bryan masih harus menunggu lama.
"Kenapa lama sekali sih?"
Tukas Bryan dengan wajah merengut.
Adriella hanya tersenyum dan dengan sukses senyum itu membuat jantung Bryan berdebar-debar lagi. Dia malah teringat tanda kepemilikan yang ditinggalkan Adriella di dadanya. Shit! Adriella terlihat sangat cantik di mata Bryan. Dia mengenakan celana ripped jeans ketat dan kaos Polo berkerah, tapi sepatunya... Astaga tumitnya tinggi sekali, keluh Bryan dalam hati. Senyum Adriella menghilang seketika ketika kakinya menyandung sesuatu dan dia terjungkal di tiga anak tangga terakhir. Bryan berusaha menangkapnya tapi Adriella sudah lebih dulu jatuh menimpa Clement yang kebetulan lewat di hadapan mereka. Bryan langsung gusar melihat posisi Adriella berada tepat di atas Clement.
"Abang rela jatuh seperti ini, La selama yang nimpa secantik kamu dan empuk banget! Sumpah!"
"Sialan banget lo, Nyet! Calon bini gue tuh!"
Teriak Bryan sambil mengangkat Adriella dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Cieee... yang cemburu... Sepertinya ada cinta nih!"
Clement bangkit dan mendekati mereka berdua.
"Bener Bang?"
Tanya Adriella berharap sambil mendongak ke atas menatap Bryan tapi dagu gagah itu menghalangi pandangan Adriella. Dia sih tidak keberatan disuguhi dagu penuh brewok yang menawan dan wangi tapi Adriella juga perlu tahu jawaban Bryan.
"Bener apaan sih, La? Ayo berangkat!"
Bryan langsung menarik Adriella untuk masuk ke dalam mobil.
"Jangan kasar-kasar sama Lala, Bang!"
Seru Mama dari teras.
"Kalau kamu nggak mau sama Lala, biar Mama kenalin dia ke Axel!"
Bryan membanting pintu mobil dengan kesal. Apa kata Mama? Axel? In Mama's dream!
Axel itu sepupu Bryan, anak pertama Tante Marinka, kakaknya Daddy yang tinggal di Seattle dan Axel super ganteng, masih single dan matang pula. Bryan tidak akan rela menyerahkan Adriella ke tangan si playboy dunia itu.
"Abang beneran cemburu ya?" tanya Adriella lagi.
Bryan mendengus sambil menjalankan mobilnya.
"Mimpi kamu?!"
Tanyanya sinis.
"Ya udah kali, Bang nggak usah sinis juga. Kalo nggak cemburu juga nggak apa-apa. Lala nggak akan maksa!"
Adriella mencibir.Mereka terdiam sepanjang perjalanan menuju kampus Adriella di Jakarta Selatan. Rasanya masih kesal melihat raut datar wajah Bryan ditambah pergelangan kaki Adriella mulai nyeri akibat jatuh tadi. Sepertinya ada yang luka deh sama kakinya.
"Kamu nggak punya sepatu yang lain? Kenapa harus pake sepatu yang tumitnya setinggi itu, La?"
__ADS_1
Tanya Bryan begitu mereka sudah masuk ke lapangan parkir kampus Adriella. Adriella hanya terdiam. Dia malas menjawab Bryan. Basa-basi banget! Tiba-tiba saja Bryan mengangkat kaki kanan Adriella ke atas pahanya dan membuka tali sepatu wedges yang dikenakan Adriella. Digulungnya sedikit celana jeans itu dan melihat sekeliling pergelangan kaki Adriella.
"Biru... lebam..."
Keluh Bryan pelan. Diambilnya kotak P3K di bawah kursi kemudi dan membukanya.
"Abang perban dulu ya, La!"
Tumben, nada suaranya lembut! gerutu Adriella dalam hati. Begitu Bryan menyentuh telapak kaki Adriella, gadis itu meringis menahan sakit. Airmatanya mulai menggenang. Bryan menatapnya terpaku.
"Sakit banget, La?"
"Kita ke rumah sakit aja deh, biar dirontgen dulu. Abang jadi khawatir nih!"
Wajah Adriella langsung cerah mendengar ucapan Bryan barusan. Airmatanya lenyap seketika.
"Abang khawatir sama Lala?"
"Iya!"
"Abang peduli sama Lala?"
"Iya!"
"Berarti Abang sayang dong sama Lala?"
Diliriknya Adriella yang sedang merona. Waduh... kok cantik amat sih? Bryan langsung buru-buru menggeleng dan berusaha konsentrasi dengan kemacetan di depannya.
"Lala juga sayang sama Abang Bry, calon suami Lala yang paling ganteng!"
Adriella menyentuh bahu Bryan dengan telunjuknya. Jari Adriella naik turun di bahu besar itu, sementara Bryan hanya bisa menahan nafasnya sekuat tenaga.
"Bernafas, Bang! Lala nggak bakalan terkam Abang di sini kok!"
Adriella memberikan senyum lebarnya pada Bryan yang sudah hampir panas dingin.
"Paling-paling Lala cuma berani begini doang!"
Dikecupnya sudut bibir Bryan sambil mengelus brewok seksi itu. Tubuh Bryan yang besar itu benar-benar tegang. Kecupan Adriella yang sepertinya disengaja dekat dengan bibirnya membuat jantungnya salto di atas trampoline. Belum lagi elusan tangannya yang membuat si junior sialan ini ikutan tegang disaat yang tidak tepat.
Bryan ingin lepas kendali saat ini tapi sialnya waktunya tidak tepat. Mobilnya berada di tengah jalanan macet dan dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang gila seperti membalas ciuman Adriella dengan menggebu-gebu. Bryan melirik ke samping dan si Nona Cantik Pembuat Onar itu senyum-senyum sendiri. Anehnya, wajah merona Adriella membuat darah Bryan berdesir hingga ke kepala.
"LALA!"
Tukas Bryan dengan wajah galak.
"Jangan pernah cium-cium Abang seperti itu lagi!"
Wajah Adriella yang berubah mendung membuat Bryan menyesal.
__ADS_1
"Kenapa, Bang?"
"Ini tempat umum, La!"
"Oke, Abang sayangnya Adek Lala!"
Senyumnya terkembang lagi. Bryan menoleh lagi dengan curiga. Biasanya Adriella selalu protes dengan ucapannya tapi sekarang dengan mudahnya Adriella mengiyakan.
"Kenapa langsung senyum-senyum gitu?"
"Berarti kalau di tempat tertutup, kita bisa ngapa-ngapain ya, Bang? Lala setuju!"
"Ngapa-ngapain apa maksudnya, La?"
Adriella memukul bahu Bryan dengan genit.
"Ihhh Abang... pura-pura nggak tahu padahal pengen!"
Bryan terperangah. Jangan bilang kalau Adriella sudah berani berpikiran tentang 3 huruf yang dimulai huruf S diakhiri dengan huruf X. Astaga Lala!
"Jangan bilang kamu berpikir tentang itu, La!"
"Yang Abang maksud dengan 'itu' apa ya, Bang? Lala nggak ngerti!"
Adriella menatap Bryan dengan bingung. Sesaat kemudian dia menjentikkan jarinya dan berseru.
"Oh... maksud Abang tentang kita berdua bercinta ya?"
Oh my God! Kurang keras suaranya, La! jerit Bryan dalam hati.
"Kenapa kita yang bercinta?"
tanya Bryan menahan kesal di hati. Pertanyaan bodoh, Bry!
"Lho... iya dong Bang. Kan yang mau nikah kita berdua. Emangnya Abang rela Lala bercinta sama Bang David atau Bang Clement gitu?"
Bryan mendadak menginjak rem dan melotot ke arah Adriella.
"Abang yang akan bercinta dengan Lala, bukan David ataupun orang lain!"
Adriella langsung memeluk bahu Bryan sambil berseru.
"Aduh... Bisa-bisa Abang bikin Lala makin jatuh cinta nih..."
Tapi Adriella buru-buru menggeleng.
"Tapi Bang, Lala belum ngerti banget soal bercinta gitu. Nanti Lala tanya sama Elora ya? Boleh kan?"
Bryan langsung menepuk dahinya. Ya ampun! Kenapa juga dia bisa terjebak dengan gadis ini? Harusnya sebelum Bryan jatuh cinta pada Adriella, dia memeriksa isi kepala Adriella dulu sebelum menyesal di kemudian hari. Astaga Bry! Kamu pikir Lala itu barang? Bryan menjatuhkan kepalanya di atas stir mobil dan bergumam bangga pada dirinya sendiri. Selamat Bry, anda hebat! Anda mendapatkan seorang Princess cantik tapi oneng!
__ADS_1