
Gegara pernyataan absurd Adriella tentang MBA alias Married By Accident itu tercetus di hadapan seluruh keluarga, kumis si Tulang Nathan langsung berdiri. Pernikahan yang seharusnya masih 10 hari lagi dimajukan menjadi Sabtu depan, yaitu 6 hari lagi. Walaupun awalnya Bryan kesal luar biasa, tapi setelah dipikirkan lagi dalam 6 hari Adriella akan benar-benar menjadi miliknya. Adriella masih bergelayut di lengannya sementara tatapan setajam es dari Tulang Nathan masih tertuju pada Bryan. Yaelah Tulang... kayaknya nggak rela amat sih anaknya dinikahin aku? keluh Bryan kesal.
"Tulang emang nggak rela kalo belahan jiwa Tulang nikah sama kamu!"
Belahan jiwa??
"Belahan jiwa, Pi? Bukannya Mami yang jadi belahan jiwa Papi?!"
tukas Nantulang Editha dengan ketus. Nathan berdehem keras menjaga wibawanya dan menjawab Editha dengan lembut,
"Mami kan tulang rusuknya Papi."
"Hallahhh, basi!"
"Berarti Lala itu tulang rusuknya Bryan ya, Tulang?"
gurau Bryan berusaha mencairkan suasana.
Adriella menjerit kesenangan mendengar ucapan Bryan dan dengan berani mencium pipi Bryan sambil berkata.
"Enam hari lagi kita bisa bikin belahan jiwa kita ya, Bang!"
Aduh Lala... kenapa juga harus nyeletuk dan cium segala sih? Nggak tahu apa beruang yang duduk di depan Abang seperti ingin mencabik-cabik Abang Celetukan Adriella disambut dengan tawa keras seluruh keluarga, kecuali Tulang Nathanael yang terhormat tentunya, yang sedang melotot ke arah Bryan. Tentu saja tubuh Bryan mendadak kaku. Bukan karena ciuman manis Adriella tapi karena tatapan mata tajam pria setengah tua di depannya.
"Segitu bahagianya ya anak Papi yang mau nikah sama Paribannya?"
tanya Nathan dengan senyum lembut pada putri tunggal kesayangannya.
"Iya Papi,"
jawab Adriella dengan senyum sejuta wattnya.
Senyum yang bisa bikin Bryan deg-degan, termasuk si junior kesayangannya yang ikut-ikutan berdiri tegak. Senyum yang bikin Bryan tidak bisa tidur beberapa tahun ini dan senyum yang bikin Bryan senewen karena banyak pria juga yang jatuh cinta karena senyum itu.
"Emangnya Lala cinta sama Bang Bryan?"
tanya Editha.
"Cinta dong, Mami. Kan Mami selalu bilang kalo Lala nikah harus dengan orang yang Lala cintai."
"Trus kamu yakin Bryan cinta kamu?"
"Yakin dong. Buktinya Abang cuma mau tidur sama Lala..."
Bryan langsung melongo lagi dan menepuk jidatnya dengan keras.
"... lagian Abang itu cuma malu mengungkapkan cintanya, Mami. Iya kan Abang Sayang? Betul... betul... betul???"
Bryan langsung mengernyit. Dia sangka salah satunya episode Ipin Upin kali ya? Editha hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri bungsunya.
__ADS_1
"Nantulang harap, kamu bisa mencintai Lala seumur hidupmu ya, Bry!"
"Siap, Nantulang!"
Bryan melirik Adriella yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Glek! Astaga itu bibir cantik banget jadi pengen dicium, desah Bryan dalam hati. Sekarang dia hanya bisa menelan ludahnya saja sambil berharap ada kesempatan baik sebelum acara selesai nanti. Suara dehemen keras dari Tulang Nathan menghentikan momen mesra mereka. Sabar Bry, 6 hari sebentar kok! Semua urusan pernikahan adalah urusan para wanita. Bryan hanya terima beres. Tugasnya hanya mengantar dan menjemput Adriella ke kampus. Apabila gadis itu selesai jam makan siang, Bryan rela berjibaku dengan kemacetan Jakarta hanya untuk menjemput tulang rusuknya itu. Kemudian mereka akan makan siang bersama dan Bryan akan mengangkut Adriella ke rumah sakit untuk menemaninya sampai tugasnya selesai. Tetapi sudah tiga hari ini, para Mama dan sisters-nya Bryan memonopoli Adriella untuk urusan pernikahan. Rasanya ada yang aneh tidak mendengar celotehan Adriella dan memandangi wajah cantiknya. Bryan sudah terbiasa! Dia merindukan Adriella! Sangat! Dia juga sangat mencintai Adriella! Tapi sampai saat ini, dua hari menjelang pernikahan mereka, Bryan belum juga mengungkapkan perasaannya. Bukannya tidak berani tapi ada perasaan gengsi yang membuat Bryan merasa rapuh bila dia mengatakan kata cinta itu. Rasanya ingin buru-buru pulang dan mampir ke rumah Adriella hanya untuk sekedar melihatnya. Duh... Bryan merasa sangat receh saat ini. Tiba-tiba...
"Abang Sayang, Lala kangen!"
Gadis yang selalu dipikirkannya itu menerobos masuk ke dalam ruangan Bryan dan menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan Bryan. Tentu saja dirinya terkejut seperti mendapat durian runtuh. Sepasang bokong cantik itu mendarat mulus di paha Bryan dan langsung mengenai juniornya yang sedang tertidur pulas. Ditambah sepasang tangan itu merangkul leher Bryan dan mata cantik itu menatapnya dengan penuh kerinduan. Fix! Paket lengkap sore ini Sumpah, demi sepasang aset empuk milik pujaan hatinya yang menempel rapat di dadanya, Bryan sudah tidak tahan lagi. Siapa juga yang mau membohongi kenikmatan ini? Dia langsung menangkup pipi Adriella dan ******* bibirnya dengan rakus.
"Bravo Dokter Bryan! Sepertinya sudah tidak tahan menunggu malam pengantin ya!"
"Yaaa Lala!!!"
Dua suara yang berbeda itu berteriak secara bersamaan. Sangat mengganggu! Sialan!
"Dokter Ian..."
sapa Bryan dengan sebal sambil melirik Dokter Ian yang berdiri tepat di depan pintu. Dan pengacau satu lagi, Elora! Berdiri sambil bersidekap dengan wajah merengut galak sementara Adriella menyembunyikan wajah malunya di leher Bryan.
"Bagoooossss ya, Lala! Sudah curi start sebelum diberkati!"
tegur Elora dengan galak.
"Kamu juga dulu begitu sama Bang Rocky, El!"
jawab Adriella masih di leher Bryan. Well, tentu saja hembusan nafas Adriella membuat sekujur tubuh Bryan merinding.
Adriella beringsut ingin turun ketika pinggangnya ditahan oleh Bryan.
"Nggak boleh! Lala ini calon istri Abang, El - dia harus nurut sama Abang, bukan sama Elora!"
"Abang sih... Lala masih polos gitu sudah Abang cemari!"
gerutu Elora sambil berusaha menarik tangan Adriella. Bryan kembali menahannya. Mereka berdua terlihat seperti berebut Adriella. Perhatian Bryan beralih pada sosok Dokter Ian yang masih berdiri di depan pintu. Ohh... pria ini sangat mengganggu.
"Lo ngapain disitu?"
Dokter Ian terkekeh.
"Awalnya gue melihat dua gadis cantik berjalan ke ruangan lo dan gue pikir hebat banget lo bisa kenal dengan cewek-cewek cantik ini!"
"Yang ini jelas milik gue!"
tunjuk Bryan pada Adriella.
"Yang ini adek kandung gue..."
"Boleh kenalan dong..."
__ADS_1
Dokter Ian bergerak maju.
"Silahkan aja... kalo lo rela dicabik-cabik sama beruang jantan ganas yang selalu berdiri di sampingnya!"
Dokter Ian berhenti dan menatap Bryan dengan bingung.
"Maksud lo?"
"Elora sudah nikah dan lagi hamil dua bulan!"
"Damn!"
Dokter Ian memaki sambil berbalik keluar dari ruangan itu.
"Mau ngapain lo kesini?"
tanya Bryan dengan wajah sebal.
"Mau jagain Lala supaya nggak lo ngrepein, Bang."
Elora mencibir.
"Ayo pulang, La!"
"Gue yang antar Lala pulang. Lo aja pulang sendiri sana! Eh... lo nggak nyetir kan?"
"Nggak lah, Bang. Gue sama Sam Smith. Kayak lo nggak kenal Bang Rocky aja!"
Bryan menghela nafas lega. Buru-buru dibereskannya barang-barangnya. Syukurlah Elora bawa supir sehingga dia dan Adriella bisa berduaan. Kali aja adegan tadi bisa diulang. Lumayan lah icip-icip dikit sebelum malam pengantin.
"Mau bulan madu kemana, La?"
tanya Bryan di dalam mobil menuju rumah Adriella.
"Maunya ke hati Abang Bry aja."
Adriella memberikan senyum manja sejuta wattnya.
Hati Bryan langsung berbunga-bunga tapi dia harus menjaga wibawanya.
"Serius, La!"
"Hhmmm... ada adegan telanjang nggak?"
tanya Adriella polos.
Bryan melongo dan hanya bisa mengangguk.
"Kalau begitu di kamar Abang aja. Soalnya kalau hanya untuk telanjang di depan Abang, kenapa harus repot-repot bawa koper ke suatu tempat dan menghabiskan banyak uang? Bryan semakin melongo. Astaga sayangku, cintaku, aku makin mencintaimu. Sumpah! Bryan tidak salah pilih istri. Thank God! 4
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kita bulan madu ke hati Abang aja ya, La!"
Diciumnya bibir Adriella sekilas dengan perasaan membuncah. Ada yang mau ikut jalan2 ke hati Abang ga???