Kekasih Pilihan Hati

Kekasih Pilihan Hati
Burung Yang Bikin Kacau


__ADS_3

Pemberkatan pernikahan Bryan dan Adriella dimulai pada jam 4 sore di hari Sabtu yang cerah. Kedua orangtua mereka mengatakan bahwa ini merupakan resepsi pernikahan sederhana karena hanya diadakan di sebuah hall hotel bintang lima. Tetapi tamu yang datang di pemberkatan saja sudah mencapai 200 orang, lalu dimana letak sederhananya? Anyway, Bryan tidak terlalu peduli tentang hal itu selama semua temannya berada di daftar undangan. Yang Bryan pedulikan saat ini adalah betapa cantiknya Adriella dengan gaun pengantin putih panjang yang melekat di tubuh indahnya. Sayangnya bukan hanya Bryan yang memandang Adriella dengan takjub, tapi hampir semua teman Bryan yang datang, termasuk Dokter Ian sinting itu menatap Adriella dengan mata melotot. Rasanya Bryan ingin mencolok mata mereka satu persatu atau membungkus Adriella dengan karung. Hheee??? Sekarang dia yang mulai sinting! Dan ketika Tulang Nathan menyerahkan tangan Adriella ke dalam tangan Bryan, rasanya tidak terkatakan. Rasa bahagia Bryan membuncah, tumpah ruah. Ketika giliran Adriella yang mengucapkan janji nikahnya, Bryan gemetar dan matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Adriella, 'if I know what love is, it's because of you'. Bryan menunggu-nunggu dengan tidak sabar ucapan Pendeta 'you may kiss the bride' tapi tetap tidak ada. Sepertinya seluruh keluarga sengaja menghapus kalimat itu di acara pernikahan mereka.


Bryan mendesis kesal. Setelah pemberkatan selesai dan sesi foto bersama dimulai, wajah Bryan kembali datar. Dia masih kesal dan moodnya belum kembali baik. Dia sama sekali tidak melepaskan tangan Adriella dari genggamannya sampai mereka tiba di private room di hotel tempat resepsi diadakan. Tapi di ruangan itupun, tidak ada privasi untuk mereka. Para Mama dan kedua sisters Bryan ada di sana bersama para make-up artist [MUA] untuk mendandani Adriella sebelum resepsi. Bryan hanya bisa pasrah, duduk lemas di sofa dan dia hanya bisa memandangi senyum cantik Adriella dari cermin. Si kembar datang bolak-balik hanya untuk mengganggu Bryan dengan memuji Adriella secara terang-terangan.


"Wow... Lala cantik banget ya!"


Atau...


"Geezzz... Lala seksi. Abang David suka deh lihatnya!"


Bryan hanya menatap sinis kepada mereka berdua. Inginnya sih menoyor kepala mereka berdua tapi apa hendak dikata, sepasang mata cantik Mama ada disana memperhatikan mereka. Terpaksa Bryan hanya diam mengalah. Tidak lama kemudian Mama menyuruhnya berganti pakaian dan tanpa ada yang melihat, Bryan langsung menarik Adriella ke dalam bilik kecil untuk tempat berganti pakaian. Bryan menyeringai senang melihat Adriella ada di hadapannya, di ruangan sempit itu.


Adriella yang terlihat mungil tanpa sepatunya menengadah menatap Bryan yang menunduk ke arahnya. Suara di sekeliling mereka menghilang. Bryan hanya melihat Adriella seorang yang di matanya sangat bercahaya. Bibir Adriella yang seksi dan diberi warna merah menyala itu sangat menggiurkan bagi Bryan. Bryan masih menatap mata bulat bening milik Adriella sambil berpikir betapa dia ingin mencium bibir Adriella ketika suara ribut-ribut di luar bilik itu mulai terdengar.


"Lala mana? Lala? Lala?"


Suara Nantulang Editha mulai terdengar.


"Abang, itu Mama nyari kita!"


bisik Adriella tepat di bawah bibir Bryan.


"Ada yang lihat Lala nggak?"


tanya Mama dengan panik.


"Abang Bry mana, El?"


Bryan seakan tidak peduli dengan situasi di luar dan dia langsung menyentuh dagu Adriella dengan lembut dan mencium bibir merah itu secara perlahan.


"Mama sama Nantulang tenang aja deh,"


ucap Elora yang duduk manis di sofa dengan santai.


"Si Abang lagi horny, maklum pengantin baru jadi dia nggak sabaran buat langsung bikin anak."


"Kamu ngomong apa sih, El?"


Mama mulai terdengar kesal.


"Tuh... ujung gaunnya Lala aja kelihatan dari sini!"


Elora menunjuk pada ujung gaun Adriella yang terlihat dari luar bilik itu.


"Biasa Mam... lagi ena-ena berdua Abang Bry!"

__ADS_1


"OH.MY.GOD! Bryan!"


teriak Mama sambil berkacak pinggang dan mulai menggedor pintu. Bryan sendiri masih sibuk mengulum bibir Adriella dan tangannya mulai menarik pinggang Adriella semakin menempel padanya.


"Bryan!"


"Lala!"


Bryan semakin memperdalam ciumannya dengan sedikit tergesa. Lidahnya mendesak masuk ke dalam mulut Adriella. Sementara tangan Adriella mulai naik dan memeluk leher Bryan.


"Bryan!"


"Tanggung Ma!"


jawab Bryan dengan suara yang tidak jelas.


"Buka pintunya, Bang!"


Suara Mama makin marah.


"Abang lagi pake celana, Bou!"


jawab Adriella dengan iseng diikuti dengan wajah melongo Bryan.


"WHAT??!!"


tanya Bryan berbisik. Adriella hanya tersenyum dengan bibirnya yang bengkak dan lipstik yang berantakan.


"Makanya sering-sering tuh junior diuji coba sebelum nikah,"


celetuk David dengan tawa terkekeh.


"Masa' iya udah setua itu, si junior cuma dipake buat pipis!"


sambung Clement dengan rasa puas menggoda Abangnya. Mama menoleh dengan sorot mata membunuh.


"Oh baguss ya... sudah berapa kali burung kalian berkicau selama ini? Sepertinya Mama harus melakukan sunat masal kedua setelah acara ini ya! Clement! David!"


"Selamatkan diri kalian, Bang! Hahaha..."


Tawa Elora menggema di ruangan itu.


"KABOOOORRRR!!!"


Clement dan David buru-buru lari dari ruangan itu bersamaan dengan dibukanya pintu bilik itu.

__ADS_1


"Good job, Bang!"


Masih sempat-sempatnya Clement berteriak dan mengacungkan jempolnya pada Bryan.


"Hajar terus, Bang sampe Lala nggak bisa bangun!"


"CLEMENT!!!"


jerit Mama. Sumpah! Gara-gara si kembar, ruangan itu jadi heboh.


"Aduh... aduh... sepertinya darah tinggiku kumat, Ta!"


Mama terhuyung memegangi kepalanya sambil meraih tangan Nantulang Editha.


"Emang lo punya darah tinggi, Kay?"


tanya Editha bingung.


Kayla kembali berdiri tegak dengan anggun.


"Nggak sih. Tadinya mau drama tapi nggak jadi!"


Wajah sengit Kayla beralih ke arah pintu bilik.


"ASTAGA, LALA!"


Sekarang gantian Editha yang meradang.


"Itu bibir berantakan begitu!"


"Kayaknya sekarang saat yang tepat untuk menyunat Abang Bryan nih, Ma!"


celetuk Elora yang sedari tadi asyik menontoni mereka sambil mengelus-elus perutnya yang mulai membesar.


"Jangan sunat burung Abang Bry, Mama!"


Adriella langsung merentangkan tangannya di depan Bryan dan bermaksud melindunginya.


"Nanti kalau disunat lagi, Lala nggak bisa hamil dong..."


"Biarin aja biar kapok suamimu itu, La!"


"Boleh pinjam burungnya Abang Clement atau Abang David nggak?"


Waduhhh...

__ADS_1


"LALA!!!"


Kedua Mama langsung lemas mendengarnya, sementara Elora tertawa terbahak sambil memegangi perutnya. Bryan hanya bisa mengelus dada.


__ADS_2