
Bryan meregangkan tubuhnya yang luar biasa lelah padahal baru 2 operasi yang dia lakukan pagi ini. Memang sejak seminggu yang lalu tugasnya bertambah dua kali lipat sejak dirinya diangkat sebagai Kepala Bedah Umum di rumah sakit ini, Golden Charity Hospital. Bagi mereka yang tidak mengenal Bryan dengan dekat, pasti mengira bahwa kenaikan jabatan Bryan karena koneksi. Yahhh..
mau dibilang apa kalau keberuntungan berpihak padanya. Pemilik dan pemegang saham terbesar rumah sakit ini adalah Daddy dan Om Sudung, adik kandung almarhum Papa Choky. Mamanya bekerja di sini. Mama Mertuanya, Mama Editha juga bekerja di sini. Hanya Elora yang tidak bekerja di rumah sakit ini karena adiknya itu memilih menjadi dokter spesialis olahraga. Jadi rumah sakit ini sudah seperti milik Klan Dimitri. Tapi alasannya bukan itu sehingga dengan mudah Bryan bisa naik pangkat. Kinerja Bryan sebagai dokter spesialis bedah umumlah yang dinilai oleh para petinggi rumah sakit itu. Dan keputusan menjadikannya sebagai Kepala Bedah Umum bukan karena maunya Daddy dan Om Sudung tapi suara mutlak seluruh pemegang saham. Bryan keluar dari ruangannya dan mulai berkeliling ke setiap lantai. Jadwal operasinya sudah tidak ada lagi sampai menjelang jam pulang nanti. Jadi sambil menunggu Adriella yang akan datang, Bryan memutuskan untuk berkeliling ke setiap lantai.
Diliriknya jam tangan dan waktu masih menunjukkan pukul 1.20 dan Adriella pasti masih asyik nongkrong cantik dengan Elora, Kak Allegra dan Aleeza. Adriella bilang mereka sedang berencana untuk membuka toko kosmetik impor dan sambil makan siang mereka membicarakan soal itu. Bryan tidak pernah keberatan selama Adriella masih berada dalam ruang lingkup keluarga mereka. Asal jangan bersamateman-teman kampusnya saja. Bisa pusing Bryan dibuatnya. Suara ribut-ribut itu terdengar ketika Bryan berada di pintu masuk IGD. Bryan melangkah perlahan dan melihat sepasangsuami istri setengah baya sedang menangis memegangi ujung snelli Dokter Yvonne Halim. Bryan mendengus kesal. Kenapa Yvonne masih berada di rumah sakit ini? Apa Direktur lupa memecatnya ya? Dengan bersidekap Bryan mendekati mereka.
"Ada apa ini, Dokter Yvonne?"
"Hei Bry, apa kabar?"
Yvonne menjerit kesenangan. Bryan terkejut dan mengerutkan kening dengan sikap tidak professional Yvonne. Bryan tidak mengacuhkan Yvonne dan malah mendekati pasangan suami istri itu.
"Maaf Pak, Bu, ada yang bisa saya bantu?"
tanya Bryan dengan ramah.
"Dokter, tolong anak saya, Dok. Demamnya tinggi sekali tapi Dokter itu tidak mau memeriksanya."
Wajah Bapak itu terlihat hampir menangis sedangkan si Ibu sudah menangis sejak tadi.
Bryan buru-buru mendekati anak perempuan yang terbaring lemas di atas brankar dan mulai memeriksanya. Dua orang perawat mendekat dengan ketakutan apalagi setelah melihat wajah keruh Bryan.
"Kenapa anak ini tidak ditangani?"
Tanya Bryan pada kedua perawat itu.
"Dokter Yvonne bilang mereka tidak punya uang dan tidak punya jaminan kesehatan, Dok jadi tidak perlu ditangani. Malah tadi diusir oleh Dokter Yvonne."
"Anak ini hampir kejang dan tidak kalian tangani? Kalian manusia atau bukan?!"
Teriak Bryan dan teriakannya itu mengundang beberapa dokter datang ke ruang IGD.
"Berikan infus sekarang dan masukkan stesolid ke duburnya. Periksa darah ke Lab! Lakukan sekarang, BODOH Kedua perawat itu kalang kabut dan Bryan langsung mengambil alih pemasangan infus serta memasukkan stesolid ke dalam ***** anak tersebut. Dan anehnya Yvonne tidak juga bergerak dari mejanya dan hanya mendengus sebal. Setelah Bryan mengurus anak tersebut, dia menekan tombol resepsionis dan berkata, "
Saya Dokter Bryan Dimitri. Saya butuh 3 orang satpam ke IGD sekarang!" Masih dengan wajah sangar Bryan memanggil perawat lain yang kebetulan lewat dan menyuruhnya membantu. menyelesaikan pekerjaan Bryan di IGD. Tidak sampai 5 menit, 3 orang satpam masuk dan menghadap Bryan.
"Saya minta tolong kalian bawa 3 orang ini..."
Bryan menunjuk kepada kedua perawat dan Dokter Yvonne yang terperangah tidak percaya.
".. ke ruangan Direktur dan jangan pergi sampai saya tiba!"
"Baik Dokter!"
Ketiganya memegang erat lengan mereka satu-persatu. Yvonne mengamuk dan berusaha melepaskan diri sambil memaki-maki para satpam itu.
"Jangan sampai mereka lepas atau kalian saya pecat!"
Teriak Bryan lagi. Bryan tahu sikapnya telah membuat takut beberapa pasien yang ada di IGD itu dan dia menarik nafas panjang. Setelah tenang, senyumnya mulai terbit dan mendatangi pasangan suami istri itu.
"Maafkan sikap kami, Pak, Bu!
"Nggak apa-apa, Dokter. Maafkan kami yang sudah
merepotkan Dokter."
Sang Bapak menunduk-nunduk ketakutan. Bryan menyentuh bahu Bapak tersebut.
__ADS_1
"Anak Bapak sudah mulai stabil. Saya sudah suruh Lab untuk memeriksa darahnya dan begitu hasilnya keluar, saya akan memutuskan apakah harus dirawat atau dibawa pulang ya, Pak."
"Untuk semua biaya, Bapak nggak usah khawatir. Semuanya akan ditanggung rumah sakit ya, Pak."
"Makasih banyak, Dokter. Makasih banyak."
"Sama-sama Pak, Bu. Saya tinggal dulu sebentar ya, nanti saya kembali lagi setelah hasil Lab keluar. Anak Bapak adalah pasien saya sekarang. Permisi Pak, Bu."
Setiba di lantai 5, Bryan menyempatkan diri mampir ke karena asistennya, Netta, bilang bahwa Adriella
ruangannya sudah datang. Dengan cepat Bryan memasuki ruangannya dan memeluk Adriella serta menciumnya sekilas.
"Tunggu Abang ya, La. Abang masih harus ketemu Om Sudung dulu!"
Adriella hanya bisa mengangguk bingung
sambil menggenggam erat tangan Bryan.
Bryan tiba di ruangan Direktur, Dokter Sudung Hasiholan dengan wajah marah. Ketiga oknum itu sudah berada di ruangan Dokter Sudung dengan wajah ketakutan.
"Ada apa, Dokter Bryan?"
Tanya Dokter Sudung bingung.Bryan segera menceritakan masalah yang terjadi di IGD barusan dan juga peristiwa Yvonne menolak mengobati Adriella ketika kakinya terkilir dulu.
"Oke, saya tidak akan mengambil keputusan saat ini karena saya juga harus melihat rekaman CCTV dan meminta laporan dari beberapa orang lain. Keputusannya 3 hari dari sekarang!"
Ujar Dokter Sudung dengan tegas.
"Dokter nggak bisa gitu dong. Mereka orang miskin dan jorok, bagaimana mungkin saya memeriksa mereka yang penuh kuman seperti itu?!"
jerit Yvonne berlebihan.
SuaraDokter Sudung terdengar sangat mengerikan. Kadang-kadang kalau Omnya yang satu ini sedang marah, Bryan sendiri agak takut melihatnya. Sifat Om Sudung dan Daddy itu sebelas dua belas. Seperti sekarang ini, wajah Om Sudung seperti ingin makan orang 8
"Anda akan menyesal telah memecat saya, Dok!"
Teriak Yvonne.
"Oh tidak, saya malah beruntung telah memecat Anda, Yvonne karena hanya manusia yang punya hati yang bisa bekerja di rumah sakit ini, bukan makhluk yang tidak punya hati seperti Anda! Silahkan keluar!"
Yvonne menghentakkan kakinya dan meninggalkan ruangan itu dengan membanting pintu.
"Untuk kalian berdua, setelah saya pikir-pikir saya juga tidak perlu menunggu 3 hari untuk memutuskan hal ini. Kalian berdua saya skor selama seminggu dengan pemotongan gaji. Berpikirlah baik-baik di rumah ya!"
Kedua perawat itu keluar dari ruangan Dokter Sudung dengan lemas. Dokter Sudung mendekati Bryan dan menepuk bahunya.
"Om bangga sama kamu, Bry. Kamu persis Mamamu yang punya hati luar biasa baik. Kayla tidak pernah tega melihat orang lain susah dan dia selalu mengulurkan tangan kepada orang-orang membutuhkan."
"Benarkah Om?"
Bryan duduk di depan Sudung di sofa. Sudung mengangguk. "
Itulah yang membuat kami berdua jatuh cinta padanya. Tapi Choky yang beruntung, lalu Daddymu. Aku hanya bisa mencintainya diam-diam karena dia jatuh cinta
pada Daddymu setelah Bang Choky meninggal.
"Om juga pernah mencintai Mama?"
__ADS_1
Sudung mengangguk.
"Om bersyukur, kalian berenam mewarisi hati baiknya. Tapi sialnya kalian mewarisi temperamen buruk Daddy kalian,"
cibir Sudung dengan terkekeh.
"Hati-hati dengan Yvonne, Bry."
Belum selesai Sudung bicara, dari luar terdengar suara jeritan Adriella. Mereka berdua langsung berlari menuju ruangan Bryan yang berada di ujung kanan. Di meja Netta terlihat Yvonne sedang
menarik rambut Adriella dan Netta berusaha menahan tangan Yvonne. Bryan berlari menghampiri mereka dan menarik Bryan mencengkeram tangan Yvonne agar terlepas dari rambut Adriella. Warna merah di pipi Adriella dan airmatanya membuat emosi Bryan melambung tinggi. Dengan marah didorongnya Yvonne yang tertawa puas seperti orang gila.
"Kau sudah gila ya? Apa yang kau lakukan pada istriku?!"
bentak Bryan sambil memeluk erat Adriella.
"Perempuan sok cantik ini yang telah merebutmu dariku, Bry! Kau berubah karena perempuan ini!"
jerit Yvonne sambil masih berusaha menjangkau Adriella. Tiba-tiba saja sebuah tamparan melayang di wajah Yvonne dan membuat semua orang tercengang. Sosok Kayla muncul dengan wajah marah dan berdiri berkacak pinggang di depan Bryan.
"Anakku tidak akan pernah memukul perempuan, jadi aku yang mewakilinya. Kau dipecat! Sekali saja kau mendekati keluargaku, kuhancurkan keluargamu!"
Kayla tidak berteriak tapi suaranya membuat semua orang merinding, tidak terkecuali Rafael dan Sudung yang berada di tempat itu. Setelah Rafael menyuruh seorang satpam menggiring Yvonne pergi dari tempat itu, Kayla hampir terjatuh lemas. Rafael langsung menangkapnya dan memeluknya.
"Dasar si Mama sok jago ngamuknya, padahal jantungnya nggak sekuat dulu. Sini Daddy peluk!"
Kayla menyusup ke dalam pelukan Rafael sesaat saja, kemudian dia menghampiri Adriella dan memeluknya. Diperiksanya wajah dan tubuh Adriella dengan seksama.
"Kenapa mantu Mama ini nggak melawan sih?"
"Lala kaget, Ma. Tiba-tiba aja dia jambak rambut Lala dan nyeret Lala."
Adriella menunjukkan lututnya yang berdarah.
"Mulai besok belajar kickboxing sama Kak Al dan David ya!"
"Mama, Abang sayang Mama!"
Tubuh besar Bryan menabrak tubuh Kayla dari samping dan memeluknya erat.
"Makasih Mamaku Sayang!"
Bryan menyusupkan kepalanya di leher Kayla.
"Ini anak, apaan sih?!"
Rafael menepuk bahu Bryan dengan kencang.
"Jangan peluk-peluk istriku!"
"Eh busyet, Raf. Udah setua ini masih cemburu aja, sama anak sendiri lagi. Dasar sinting!"
Gantian Sudung yang menepuk bahu Rafael dan beranjak dari tempat itu.
"Besok kita akan rapat membicarakan hal ini, Raf"
Bryan memeluk erat Adriella. Jantungnya hampir copot melihat Adriella terluka.
__ADS_1
Love you, La. A lot!