Kekasih Pilihan Hati

Kekasih Pilihan Hati
Lamaran MBA


__ADS_3

Hasil foto rontgen menyatakan bahwa pergelangan kaki Adriella hanya terkilir dan dia tidak boleh mengenakan high heels dulu untuk beberapa waktu. Adriella menangis menahan sakit ketika Dokter Ian Sylvano mengurut pergelangan kakinya.


Beberapa kali Dokter Ian menyuruh Bryan untuk meninggalkan mereka karena Bryan juga harus bekerja. Suster Arini sudah beberapa menjemput Bryan karena pasiennya sudah menunggu. Entah kenapa, Bryan bisa mengenyampingkan profesionalitasnya hanya demi Adriella. Dia hanya tidak ingin calon istrinya terperangkap oleh rayuan maut Dokter Ian. Walaupun dia tahu Adriella tidak akan mengkhianatinya tapi Bryan tidak percaya pada Dokter Ian. Well... berjaga-jaga itu perlu. Biar bagaimanapun dia tidak akan pernah melepaskan Adriella. Sejak Bryan berumur 17 tahun dan dia mengetahui bahwa dalam adat Batak sepupu atau pariban boleh menikah, hatinya sudah terpaut pada Adriella, si manja yang selalu menempel pada Elora. Bryan tidak pernah memperlihatkan perhatiannya karena dia punya tujuan bahwa dia harus menjadi dokter dulu ketika dia melamar Adriella. Bryan bukannya tidak tahu berapa banyak pria yang lalu lalang di dalam hidup Adriella tapi 'mata-mata super'nya yaitu Elora selalu memberikan informasi yang menenangkan hati dan jiwa Bryan. Setidaknya dia tenang bahwa hati Adriella masih dalam genggamannya. Dan sekarang melihat wanita pujaan hatinya menangis kesakitan, hati Bryan terasa diremas. Dia hanya bisa menggenggam jemari Adriella dan memberikan dada bidangnya untuk Adriella menangis. Duhhhh Bry ... Kamu benar-benar berubah... Ini Adriella lho, gadis yang selama ini dicintainya dan Bryan tidak rela bila Adriella menangis. Gimana mau meninggalkan Adriella coba? Bryan tidak tega dan sangat tidak rela.


Very cheesy ya?


Bangetttt Bry!


"Berarti Lala nggak bisa pake heel pas hari pernikahan kita ya, Bang?"


tanya Adriella dengan wajah berantakan penuh airmata. Tapi di mata Bryan, Adriella tetap yang paling cantik.


"Kan masih 10 hari lagi, La. Pasti bisa kok."


Bryan melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan pada orang lain, yaitu menghibur. Ya... dia sedang menghibur Adriella saat ini. Bryan tidak peduli walaupun Dokter Ian berkali-kali mencibirnya, yang penting Adriella berhenti menangis dan tangan yang memeluk lengannya itu tidak lepas.


"Cheesy..."


desis Dokter Ian sebal. Bryan mulai merasa grogi dan keringat dingin mulai mengucur deras di punggungnya. Dia tetap berusaha konsentrasi pada kemacetan di depannya. Daddy duduk di sebelahnya, Mama duduk di belakang bersama si Pilot rese yang ternyata masih sedarah dengannya dan kembaran keduanya, si Clement. Kenapa juga pas mau lamaran begini, Clement tidak juga terbang. Ingin rasanya Bryan menendang bokong Clement ke langit ketujuh tapi itu tidak mungkin karena kalau Bryan melakukan itu, Daddy yang lebih dulu menendang bokongnya ke Sungai Mekong di Thailand. Untungnya si Playboy David berangkat sendiri dengan motor sport yang dia ambil paksa dari Kak Allegra. Daddy tidak mengizinkan beli motor lain sementara motor Kak Allegra masih bagus dan jadilah si David memohon-mohon agar motor itu dialihkan ke tangannya. Kak Allegra yang penuh tipu muslihat itu memberikannya dengan syarat David harus mencuci mobilnya setiap hari selama sebulan. Kak Allegra adalah jelmaan Mama 100%. Dan saat ini dia dan suaminya, Jonah yang kadang menyebalkan, walaupun lebih banyak sisi baiknya, berangkat dari rumah mereka. Demikian juga dengan Elora dan Rocky. Elora sebenarnya tidak ingin datang karena dia sedang mabuk darat, hasil perbuatan Rocky selama bulan madu. Tapi dia rela datang hanya untuk Abang kembar tersayang. Ohhhh... kenapa sih harus ada lamaran? Nggak tahu apa, betapa gugupnya Bryan saat ini? Belum lagi tuduhan dirinya dan Adriella tidur bersama itu sudah sampai ke telinga Tulang dan Nantulang-nya, yang notabene adalah orangtua Adriella. Bryan makin gugup. Untung kandung kemihnya sehat sehingga dia tidak harus pipis di celana saat ini. Yang paling ditakutkan Bryan adalah sosok Nathanael Christopher, Tulang mereka yang nomor 2, Papinya Adriella. Tulang Nathan itu dingin, datar dan bicara seperlunya ditambah tatapan mata tajam yang dinaungi alis tebal plus wajah yang penuh kumis dan brewok. Brewoknya Bryan aja kalah. Beneran!


Lebih baik Bryan menghadapi Tulang nomor 1 yaitu Tulang Ando yang super ramah dan kadang-kadang jayus. Tapi sayang yang Bryan cintai bukan Aleeza, si galak yang super semok tapi Adriella si imut yang menggemaskan. Duh... gini nih repotnya punya Tulang banyak, cuma 2 sih tapi mereka masing-masing punya anak perempuan. Coba nih Mama bakalan jodohin Aleeza sama siapa? Siapa yang bakalan kebagian sial kesamprok sama Neng Aleeza yang super semok itu? Bryan tersenyum licik. Semoga si Clement yang ketiban sial kali ini. Begitu mereka masuk ke dalam rumah keluarga Nathanael Christopher, kedua bodyguardnya Adriella sudah siap menghadang. Yang ini juga nih yang bikin Bryan sebal, kedua kakak laki-laki Adriella, Nicholas dan Edgar. Untuk ukuran badan, Bryan tidak takut tapi resenya yang bikin Bryan nggak nahan. Seperti jagoan yang pengen melindungi adik perempuannya. Ehhh ****, lo juga begitu ke Elora! Bryan seperti tersadar. Iya ya... dia dan saudara kembarnya habis-habisan mengerjai Rocky dan sekarang dia seperti kena karma. Sialan! Bryan langsung menoleh ke arah tangga, ke arah Adriella yang turun perlahan-lahan tanpa mengacuhkan kedua sepupunya itu. Bryan pura-pura menatap datar pada Adriella yang jelas-jelas membuatnya menahan nafas. Kenapa sih dia cantik banget? Tanpa sadar Bryan mendesah.


"Belum apa-apa udah hampir mimisan si Bryan!"


celetuk Nicholas sambil tertawa keras. Suara basnya terdengar seperti orang batuk.Bryan mendesis kesal.


"Sepupu rese!"


Suara deheman yang juga sama beratnya dengan Nicholas membuat semua orang menoleh.


"Eh... Tulang!"


sapa Bryan dengan senyum kecut.


"Apa kabar, Tulang? Nantulang? Sehat?"


Sambil menunduk Bryan menyalami dan mencium tangan keduanya dengan hormat.


Sempat-sempatnya Bryan melirik Tulangnya yang melotot tajam ke arahnya. Astaga, itu kumis kenapa makin lebat aja? Kok mau ya Nantulang nikah sama robot kumisan? Cinta itu buta, Bry! Hallah...

__ADS_1


"Sehat dong, calon mantunya Nantulang."


Senyum Editha, Mamanya Adriella mengembang sambil memeluk Bryan.


"Itu kenapa kaki Lala jadi begitu?"


tanya Nathanael, sang Tulang 'kumis' dengan galak.


"Ihhh Papi... kan Lala udah cerita kalo kaki Lala tuh keseleo pas turun dari tangga rumah Bou. Papi lupa atau cuma mau ngetes Abang Bry?"


Wajah cemberut Adriella membuat Nathanael melembut dan merangkulnya.


"Jadi kamu sudah siap jadi suami, Bry?"


tanya Nathanael ketika semua orang sudah duduk manis di ruang tamu.


"Siap lahir batin, Tulang!"


Jawaban Bryan disertai dengan sorakan penuh godaan dari para sepupu dan saudara kembarnya. Sialan!


"Tapi kenapa harus diapa-apain dulu sih, Bry si Lalanya?"


"Nggak sabaran amat!"


"Nantulang!"


"Mami!"


Bryan dan Adriella serentak memprotes.


"Udah nggak tahan soalnya, Nantulang!"


Yang menjawab malah David dengan tawa cengengesan.


"David!"


tegur Rafael dengan keras. David langsung menunduk. Bryan mengulum senyumnya puas. Rasain tuh, Playboy cap dua cula!


Harus pintar-pintar mengambil hati calon mertua. Tulang Nathan dan Daddy Rafael hampir mirip, sama-sama sok cool. Yang satu mukanya klimis dengan wajah datar, yang satu lagi mukanya penuh bulu lebat dengan mata galak. Coba tunggu sejam lagi, dua-duanya bakalan ke taman belakang, duduk berhadapan dan buka papan catur. Dan itu bisa berjam-jam duduk manis memandangi para pion yang tidak bergerak. Kalau Mama tidak mengeluarkan ancaman seperti 'Daddy tidur di sofa nanti malam!', Daddy nggak bakalan pulang.

__ADS_1


"Kamu serius, Bry? Ini anak bungsu Tulang lho. Tulang nggak bisa bernafas tanpa kehadiran Lala!"


Lebay dot com!


"Jadi kalo Mami nggak ada, Papi nggak apa-apa gitu ya?"


sindir Editha dengan sinis.


"Bukan begitu, Mi. Papi nggak bisa hidup tanpa Mami!"


Eeeyyyaaa!


Tawa mereka pecah mendengar gombalan Bapak Nathanael yang terhormat, Direktur Marketing salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Wajahnya tetap datar dengan rayuan mautnya.


"Bryan serius, Tulang!"


jawab Bryan begitu melihat senyum merona di wajah Nantulang Editha.


"Kalau Lala gimana?"


tanya Nathanael ke arah Adriella. Dengan wajah merona lagi, Adriella menjawab Papinya.


"Lala cuma mau hidup bersama Abang Bryan, Papi. Lala nggak mau yang lain!"


"Cieeee..."


teriak suara yang lain. Yang paling keras adalah suara Elora yang baru saja masuk ke dalam ruang tamu. Bryan langsung sumringah. Rasanya dada bidangnya mengembang penuh dengan udara yang melegakan jiwanya. Oh Lala Sayang... Abang cinta Adek!


"Trus gimana tuh kuliahnya Lala belum selesai juga?"


"PAPI... Kenapa banyak tanya sih?!"


Adriella sudah mau menangis.


"Ntar kalo Lala keburu hamil, gimana???"


Dengan menangis, Adriella langsung menghampiri Bryan dan memeluknya erat-erat.


"Gimana dong Abang, kalo status kita jadi MBA?"

__ADS_1


Hhheeee???


__ADS_2