Kekasih Pilihan Hati

Kekasih Pilihan Hati
Tanda Kepemilikan


__ADS_3

Bryan duduk tegak di sebelah Adriella yang aromanya sungguh mengusik panca indera Bryan. Rambutnya yang masih basah dan aroma lembut lotionnya ditambah dengan - beberapa kali, tanpa sengaja - kulit lembut itu bergesekan dengan lengannya. Bryan gagal fokus! Padahal wajah Daddy yang duduk di ujung meja sudah luar biasa garang. Mama menatapnya dengan mengerutkan kening, penuh selidik. Clement dan David cengengesan seperti orang bodoh. Sementara Allegra meliriknya penuh rasa penasaran dan suaminya, Jonah seakan tidak peduli tapi Bryan tahu Jonah memasang telinganya baik-baik. Sedangkan si cantik di sebelahnya - great, sekarang dia terang-terangan mengakui Adriella cantik - asyik menyesap susunya dan mengunyah roti manis di hadapannya. Bryan melirik Adriella dan wow... jantungnya kembali blingsatan. Ada bekas susu yang tertinggal di bibir atas Adriella dan tiba-tiba saja Bryan ingin mengajukan diri dengan sukarela untuk membersihkan sisa susu itu dengan bibirnya.


Dammit, Bryan! FOKUS!


"Fix, Daddy! Pernikahan harus segera dilaksanakan!"


ujar Mama sambil menepuk meja dengan yakin.


"Seriously, Mam?"


Bryan hanya bertanya dengan pelan. Percuma juga kaget, toh kagetnya sudah beberapa saat yang lalu di kamar.


"Kenapa sih Bou, Lala harus nikah sama Abang Bry? Lala salah apa coba?"


Tanya Adriella dengan wajah memelas.


"Kesalahanmu cuma satu, La yaitu berhasil membangkitkan junior yang sudah lama pingsan!"


gurau David sambil diikuti oleh tawa Clement.


Tapi tiba-tiba saja tawanya berhenti dengan bunyi tepukan di kepalanya.


"Kakak!"


teriaknya.


"Kamu ya... kalo ngomong..."


Wajah Allegra sudah mulai terlihat marah, tapi kemudian senyum terkembang di wajahnya.


" kok bisa bener gitu?"


Jonah mengangguk-angguk sambil mengajak istrinya tos. Demikian juga dengan kedua kembaran Bryan yang mendadak gila itu.


"Bryan, Lala!"


Suara Daddy yang berat itu menghentikan semua aksi mereka dan meja makan mendadak hening.


"Amangboru sudah telepon orangtuamu dan mereka akan pulang dari Amerika besok, jadi pernikahan kalian bisa dilakukan 10 hari lagi. Resepsinya nanti saja setelah ada kepastian Lala hamil atau tidak!"


Adriella terbatuk-batuk mendengarnya. Bryan buru-buru menepuk punggung Adriella dengan pelan.


"Tapi kan Lala sama Abang nggak ngapa-ngapain tadi malam, Amangboru!"

__ADS_1


Wajah Adriella langsung merona.


"Iya kan, Bang?"


Adriella menoleh menatap Bryan yang terpaku menatap rona di pipi Adriella.


"Awas mimisan!"


celetuk Clement sambil terbahak-bahak.


Dengan reflek Bryan menggeleng menanggapi pertanyaan Adriella.


"Maksudnya Abang, kita ngapa-ngapain gitu?"


tanya Adriella lagi.


Bryan mengangguk lagi.


"Mendadak bisu kamu, Bang?!"


Mama mulai merasa gemas.Adriella tiba-tiba menepuk kedua tangannya dan menutup mulutnya dengan mata terbelalak.


"Berarti kita melakukan sesuatu ya, Bang? Lala sih emang ngerasa ada yang berat gitu nindih badan Lala. Berarti itu Abang ya?"


"Abang, nikahin Lala! Abang harus tanggung jawab!"


Bryan bukannya marah tapi lebih kearah tegang. Tegang seluruh tubuhnya maksudnya. Seumur-umur dari ketiga pria Dimitri, hanya Bryan yang jarang bersentuhan dengan wanita kecuali kepada ketiga wanita di keluarganya. Entah mengapa Bryan tidak pernah tertarik dengan wanita-wanita di sekelilingnya, tapi setiap kali memandang Adriella, tubuhnya langsung merasa gerah dan syaraf-syarafnya mulai peka. Dan ketika Adriella menyentuhnya, bahkan hanya sentuhan kecil seperti berjabat tangan, si junior di bawah sana mulai berulah. Aneh kan? Jadi, entah dia mencintai Adriella atau tidak, Bryan akan tetap menikah dengan Adriella dan sekarang pelukan gadis cantik itu mulai membuat tegang syaraf yang lain. Sebelum kedua saudara kembarnya yang gila itu mengetahui perubahan di celananya, Bryan buru-buru melepaskan tangan Adriella dari tubuhnya.


"Iya Lala, Abang akan bertanggung jawab!"


Padahal kami nggak ngapa-ngapain deh sepanjang malam, kecuali tidur! pikir Bryan dalam hati. Belum sih!


"Okay fix, Daddy! The wedding is on!"


ujar Mama dengan sangat senang.


"Lusa aja kita langsung melamar!"


lanjut Daddy. David berbisik di telinga Bryan dengan tawa puas.


"Tarik nafas, bro! Celana lo udah makin sempit kayaknya! Lo nggak mau Daddy lihat lo tegang, kan?"


"Diem lo, Monyet!"

__ADS_1


Bryan menoyor kepala David. Tapi tawa David langsung meledak melihat Bryan berusaha menutupi bagian tengah celananya ketika Adriella meletakkan tangannya di atas paha Bryan. Sial! Bryan sedang menarik resleting celananya sambil berpikir tentang rencana pernikahannya dengan Adriella ketika gadis yang sedang dipikirkannya itu menerobos masuk ke dalam kamarnya tanpa repot-repot mengetuk pintu.


"Abang Bry!"


seru Adriella dan dia langsung terpaku melihat Bryan di hadapannya hanya mengenakan celana panjang tanpa baju. Adriella langsung meletakkan tangan di dadanya untuk meredakan jantungnya yang mendadak 'menggila'. Adriella sudah sering melihat pria dalam keadaan telanjang, bersama partner in crime sejatinya yaitu Elora tapi semuanya terasa biasa saja. Sementara pria tampan dan tinggi besar di hadapannya sangat tidak biasa. Pria ini, calon suami dadakannya ini, bisa membuat jantungnya melompat kesenangan. Adriella melangkah perlahan dan pandangan mereka bertemu. Bryan terlihat sangat gagah dengan tampilan sixpacks yang menggemaskan. Rasanya tangan Adriella gatal untuk menjamahnya. Memang sih Bryan tidak semacho kedua adiknya tapi sosok yang tampilannya mirip Noah Guthrie, salah satu kontestan America's Got Talent itu benar-benar membuat Adriella semakin mencintainya.


"Kamu ngapain masuk nggak ketuk pintu?!"


Suara galak itu malah semakin membuat Adriella tertantang.


"Lho... kita kan sebentar lagi nikah, Bang. Memangnya Lala nggak boleh masuk kamar Abang ya? Nanti kan Lala bakalan tidur sama Abang!"


Kalimat Lala bakalan tidur sama Abang itu terdengar merdu di telinga Bryan tetapi gengsinya setinggi langit itu membuatnya hanya menunjukkan wajah datarnya di hadapan Adriella. Bryan langsung melirik tempat tidurnya dan bayangan mesum langsung melintas di benaknya.


"Ihhh... muka Abang jadi merah gitu. Kepengen cepet-cepet tidur sama Lala ya?"


goda Adriella yang sekarang sudah berada tepat di bawah dagu Bryan. Bryan langsung tersadar dan menunduk melihat wajah sumringah Adriella. Aduh... kenapa bibirnya menggoda banget ya? Alih-alih mengatakan sesuatu yang manis, Bryan malah membentak Adriella.


"Cepetan ngomong, mau ngapain kesini?!"


Adriella memonyongkan bibirnya dan cemberut.


"Tolong anterin Lala ke kampus, Bang..."


Bryan mendengus kesal.


"Kalau Abang nggak mau, gimana?"


"Ya udah, aku minta antar Bang David aja!"


Adriella berbalik meninggalkan Bryan yang masih terpaku. What? David? Si playboy itu? No way!


Bryan meraih tangan Adriella dan menghentikan langkahnya.


"Abang cuma bercanda, La! Abang yang antar kamu!"


Wajah Adriella langsung sumringah. Dengan reflek, Adriella berjinjit dan mencium pipi Bryan yang brewok seksi itu dengan lembut. Bryan terkejut dan yang lebih mengejutkan lagi, bibir Adriella turun ke dada Bryan dan menghisapnya beberapa saat, meninggalkan kissmark yang nyata di sana.


"Tanda kepemilikan!"


ucap Adriella sambil mengedipkan matanya dengan genit dan berlalu dari ruangan itu.


Bryan langsung meninju tempat tidurnya berkali-kali dan berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


SIALAN! Dia harus mandi lagi!


__ADS_2