
Bryan memarkir mobilnya di parkiran yang bertuliskan.
"Khusus Dokter"
di rumah sakit tempatnya bekerja. Adriella masih mengenakan sepatu wedgesnya dengan pergelangan kaki berbalut perban.
Tanpa bicara, Bryan mengangkat kedua kaki Adriella ke pangkuannya dan membuka sepatunya. Diambilnya sepasang sandal berwarna putih cantik dari bangku belakang.
"Sendal siapa nih? Kok bisa ada di mobil Abang?"
tanya Adriella curiga.
"Kenapa? Cemburu?"
pancing Bryan geli.
"Iya, Lala cemburu! Abang keberatan? Lala nggak mau pake sandal bekas cewek Abang!"
"Berisik banget sih! Ini sendalnya Elora!"
"Beneran? Kok Lala nggak pernah tahu kalo Elora punya sandal seperti ini?"
selidik Adriella. Bryan menghela nafas panjang sambil membuka sabuk pengaman Adriella.
"Penting banget ya, La urusan sandal ini?"
Bryan turun dari mobil dan membantu Adriella turun. Tapi ringisan kesakitan Adriella membuat Bryan tidak tega.
"Sini Abang bopong kamu aja!"
"Ya ampun, Abang sayang. So sweet banget sih! Tapi Lala maunya digendong di punggung Abang seperti adegan di drama korea itu."
"Ogah!"
Bryan buru-buru menolak. Gila apa dia? Memalukan banget harus pake gendong ala-ala drakor. Amit-amit! Tapi sayang, penolakan Bryan hanya dalam hati saja. Wajah sedih Adriella yang menunduk membuat Bryan mengalah dan menghembuskan nafasnya perlahan. Bryan memberikan punggungnya kepada Adriella dan Bryan tahu gadis itu tersenyum lebar di pundaknya.
"Makasih ya, Abang!"
bisik Adriella di telinganya sambil memeluk erat leher Bryan. Dada empuk berukuran 34C itu menempel erat di punggungnya. Bryan hanya bisa menelan ludah dan berusaha mengatur nafasnya. Ya Tuhan, berikanku kekuatan menahan hasrat sialan ini! Bryan menggendong Adriella di punggungnya menuju UGD. Ucapan selamat pagi datang bergantian dari setiap orang yang berpapasan dengannya ditambah dengan tatapan bingung serta takjub kepada Bryan. Bagaimana tidak, Bryan terkenal sebagai dokter tampan yang pendiam dan terkesan dingin. Semua orang tahu bahwa dia tidak punya pacar dan selalu menjaga jarak dengan semua wanita yang menyukainya. Dan sekarang tiba-tiba Bryan datang dengan menggendong seorang perempuan cantik yang memeluknya erat.
Sebuah berita yang berhasil membuat banyak pegawai rumah sakit silih berganti datang melihat mereka di ruang UGD dengan wajah penasaran. Taruhan, dalam waktu satu jam berita tentang dirinya sudah menyebar ke seantero rumah sakit. Ketika Bryan baru saja meletakkan Adriella di atas sebuah tempat tidur, seorang perawat dan seorang dokter cantik datang menghampiri mereka. Bryan bergegas ingin pergi tapi Adriella menahan tangannya dengan tatapan memohon.
"Pagi Dokter Bryan Dimitri,"
sapa dokter cantik itu dengan riang.
"Pagi-pagi begini kamu udah jadi berita di kolom gosip rumah sakit. Siapanya Dokter Bryan nih, cantik amat?"
tanyanya lagi.
__ADS_1
"Selamat pagi, Dokter Yvonne. Ini Adriella, calon istriku dan tolong lihat pergelangan kakinya ya. Sepertinya terkilir."
Penjelasan Bryan membuat Yvonne dan perawat itu terpaku menatapnya. Adriella langsung memicingkan matanya dengan curiga dan semakin erat memeluk lengan Bryan.
"Lo serius, Bry?"
tanya Yvonne dengan menghilangkan sikap formal mereka.
"Serius lah!"
"Tapi Bry, kamu kan tahu aku menyukai kamu. Kok kamu tega?"
Wajah Yvonne mulai cemberut. Hhheee... Bryan dan Adriella sama-sama mengerutkan kening mereka dan sedikit bingung dengan pernyataan Yvonne.
"Tega gimana? Memangnya aku pernah kasih kamu harapan gitu?!"
Bryan mulai terdengar kesal.
"Sekarang kamu periksa dulu kaki tunanganku!"
Yvonne mendengus dan menatap sinis pada Adriella.
"Cari dokter lain aja! Aku nggak mau ngurusin sainganku!"
Yvonne langsung berbalik meninggalkan mereka, sementara perawat tersebut jadi kebingungan dan mengekori Yvonne. Dengan marah Bryan mendatangi mereka berdua dan berkata.
"Kamu bersikap tidak professional, Von. Aku akan adukan kamu ke Pimpinan dan lihat apakah kamu akan bertahan di rumah sakit ini!"
"Maafkan aku, Bry. Aku hanya cemburu dan tidak terima bahwa kau sudah memiliki tunangan!"
"I don't give a shit!"
Bryan tidak bergeming. Dia malah menghampiri Adriella dan tersenyum menenangkan.
"Kita langsung ke bagian Ortopedi aja ya, Sayang!"
Adriella terperangah mendengarnya dan mengakibatkan semburat merah menjalar di pipinya.
"Mau Abang gendong kayak tadi lagi nggak?"
Bryan langsung menghadapkan punggungnya kepada Adriella yang semakin tersipu.
"Bry, biar aku yang periksa!"
Yvonne menarik tangan Bryan dan langsung ditepis kasar oleh si empunya tangan.
"Maafkan aku!"
Adriella buru-buru memeluk leher Bryan sebelum pria itu berubah pikiran. Adriella sadar sikap manis Bryan hanya karena kekesalannya pada Yvonne dan itu menjadi satu keuntungan buat Adriella. Dari sini Adriella tahu bahwa akan sangat mudah meraih hati Bryan ke dalam hidupnya. Bryan menggendongnya di punggung tanpa menghiraukan seruan-seruan panik Yvonne. Mereka meninggalkan UGD dan menuju lift yang membawa mereka ke Departemen Ortopedi di lantai 3. Bryan membawanya masuk ke sebuah ruangan praktek dan mendudukkan Adriella di kursi pasien. Adriella malah terpana melihat wajah tampan yang duduk di belakang meja di hadapannya. Senyumnya membuat Adriella tidak berkutik.
__ADS_1
"Oh jadi ini ya tunangannya Dokter Dimitri yang katanya cantik banget!"
gurau sang dokter tampan itu. Adriella langsung merona dibuatnya. Bryan mengeluh dalam hati. Gini nih... serba salah jadinya. Dokter tulang paling kompeten di rumah sakit ini umurnya 35 tahun dan super ganteng. Pujiannya juga bikin para wanita serangan jantung. Bryan mah kalah banget. Lihat kan? Adriella aja sampai tersipu-sipu malu begitu. Bryan buru-buru menggenggam jemari Adriella dan merangkul bahunya. Tapi Bryan hanya percaya Dokter Ian Sylvano untuk mengobati kaki Adriella.
Dilema...
"Udah Dok, nggak perlu muji-muji tunangan gue. Langsung aja periksa!"
Bryan menunjukkan tampang menyebalkan yang langsung disambut tawa keras oleh sang dokter.
"Hebat lho kamu, Bry. Belum sejam tapi seantero rumah sakit udah kepo sama kalian! Jadi kapan rencananya?"
tanya Dokter Ian sambil memberi kode pada Bryan untuk mengangkat Adriella ke tempat tidur periksa.
"10 hari lagi,"
jawab Bryan sambil memeluk Adriella dengan posesif.
"Wahhh... sayang ya, aku terlambat ketemu kamu, Cantik!"
goda Dokter Ian sambil mengedipkan matanya pada Adriella. Adriella semakin tersipu-sipu dan semakin membuat berang Bryan.
"Udah dong, Dok. Kenapa jadi godain calon saya sih?"
gerutu Bryan sambil mengarahkan wajah Adriella ke arahnya.
"Sayang, jangan terpesona gitu dong lihat Dokter Ian. Abang nggak suka!"
Adriella menatap Bryan dengan perasaan meleleh. Tuh kan... dramanya berhasil. Bryan memang mencintainya dan dari tadi sudah dua kali panggil 'sayang'. Receh banget sih, Bang cemburunya tapi Lala suka...
"Nggak akan, Abang. Ntar kalo Oppa So Ji Sub lewat di depan Lala baru Abang boleh cemburu ya!"
Adriella merangkum kedua pipi Bryan ke dalam tangannya dan mencium bibirnya sekilas. Bryan langsung terpaku sementara Dokter Ian tertawa terbahak-bahak.
"Dokter Bryan sudah kepentok cinta kayaknya ya?"
"Apaan sih, Dok? Biasa aja kali! Gue cuma nggak rela tunangan gue lo gangguin!"
"Oh gitu. Berarti kalo aku rebut Lala, lo nggak keberatan ya?"
Gurauan iseng Dokter Ian membuat wajah Bryan makin keruh. Apalagi ketika tangannya mulai menyentuh kulit pergelangan kaki Adriella. Jantungnya belum berhenti dagdigdug karena ciuman singkat Adriella, sekarang dia malah dibuat kesal oleh si Ian rese.
"Sini, biar gue yang bukain celananya! Ini cewek gue!"
"Astaga Abang, bukanya ntar aja pas di kamar berduaan. Kan malu sama Dokter Ian?"
Adriella merona lagi. Dokter Ian tertawa puas sambil memegangi perutnya. Ya Lord! Beriku kesabaran!
"Beneran Bry, dua jam lagi aja gue berdua Lala, bisa langsung jatuh cinta gue!"
__ADS_1
Mampuslah kau, Bry!
"Abang pasti cemburu berat kan?"