
Adriella merasa sesak nafas, seperti ada beban berat yang menekan dadanya. Dia berusaha membuka matanya sambil mendorong apapun itu yang menindih tubuhnya tapi rasanya luar biasa berat. Tubuhnya yang hanya berbobot 50 kilo dan 168 cm itu tidak punya tenaga lebih untuk mendorong. Ini pasti mimpi, desisnya.
Ketika pada akhirnya Adriella bisa membuka matanya, dia terkejut luar biasa. Sesosok beruang jantan besar memeluknya erat hingga rasanya tubuhnya akan remuk. Adriella menatap wajah Bryan yang tidur pulas dengan raut damai dan reflek Adriella mengulurkan tangan menyentuh wajah tampan itu. Tiba-tiba saja rasa remuk tadi berubah menjadi rasa nyaman. Adriella luar biasa terkejut ketika tangannya ditangkap oleh tangan Bryan dan ditahan di pipinya. Mata Bryan terbuka dan pandangan mereka bertemu. Tatapan tajam Bryan membuat wajah Adriella merona. Duh... pagi-pagi kok sudah dibuat merinding sih? Mana bajunya minim banget lagi! Bra mana bra?
"Selamat pagi, istriku!"
sapa Bryan dengan wajah datarnya. Adriella termangu mendengarnya. Istriku? Ihh... rasanya kok bahagia banget ya? Adriella kembali merona. Sekarang gantian jantung Bryan yang mulai bertalu-talu. Wajah merona istrinya membuat Bryan tidak fokus. Awalnya sih mau tanya kondisi kesehatan Adriella tapi kenapa pikirannya malah lari ke tempat lain? Bertahun-tahun Bryan melihat Adriella dalam kondisi bangun pagi tapi baru pagi ini dia menyadari bahwa istrinya itu luar biasa cantik saat bangun tidur. Fix! Bryan sudah tidak sanggup menatap bibir seksi itu tanpa bisa menciumnya. Jadi, Bryan langsung menyatukan bibir mereka dan ******* bibir Adriella dengan perlahan. Adriella menyambut Bryan dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Bryan. Rasanya tidak peduli lagi bila tubuh Bryan yang besar itu mulai bergerak di atasnya. Adriella seperti tenggelam di dalam kasur.
Ciuman Bryan semakin menggebu-gebu dan dia hanya memberikan kesempatan sebentar bagi Adriella untuk bernafas dengan melarikan mulutnya ke leher Adriella, lalu kembali lagi ke bibir Adriella. Tangan Bryan mulai merambah ke dalam terusan pendek yang Adriella pakai. Suara desahan itu mulai terdengar ketika tangan Bryan menyentuh payudara Adriella dan itu semakin memacu adrenalin Bryan.
Well, tapi tidak semua pagi indah berjalan mulus ya. Semua adegan kemesraan itu berhenti ketika suara teriakan Mama memenuhi kamar mereka.
"Astaganaga, Abang!"
Dengan berkacak pinggang Mama berdiri di hadapan mereka. Adriella langsung menjerit kaget dan menyembunyikan wajahnya di dada Bryan. Damn! Bryan juga ikut menjerit dalam hati.
"Masih sempet-sempetnya cari kesempatan dalam kesempitan!"
Dengan wajah datar nan polos itu, Bryan tersenyum kecut.
"Namanya juga pengantin baru, Ma. Kayak nggak tahu aja!"
"Mama tahu tapi pesawat kalian tiga jam lagi berangkat dan kalian harus segera check-in dalam waktu satu jam. Satu jam, Abang! Buruan sana mandi, kalo masih pengen pergi bulan madu!"
Bryan buru-buru terduduk sambil menarik Adriella di sampingnya.
"Mandi berdua ya, Ma biar cepet!"
__ADS_1
"Enak aja, NGGAK! Lala mandi di sini, kamu mandi di sebelah!"
"Yahhh Mama, biar cepet Ma!"
rayu Bryan sambil berdiri.
"Nggak bisa! Kalo kamu mandi berdua, ntar baru selesai pas pesawat kamu berangkat! Tahan sampe di Jepang. Ntar kalian mau ngapain juga Mama nggak larang! Sekarang, buruan mandi, Abang! Biar Mama yang urus Lala!"
"Abang nggak rela!"
Bryan berusaha menarik Adriella tapi Mama lebih dulu menahannya.
"Bodo amat!"
teriak Mama sambil mendorong Adriella ke dalam kamar mandi.
Bryan buru-buru terbang ke kamar mandi sebelah dan menyelesaikan ritualnya. Walaupun dengan tergesa-gesa dan sejuta omelan Mama, akhirnya mereka siap berada di teras 30 menit kemudian. Untung saja, Mama dan Kak Allegra sudah melakukan packing bagi pasangan edan itu sehari sebelum pernikahan mereka. Ketika mereka semua, seluruh anggota keluarga Dimitri, melambaikan tangan pada mobil pengantin yang merayap pergi, Allegra berbisik di telinga Mama.
"Waduh Ma, gimana tuh... Al cuma nge-pack lingerie sama pakaian dalam doang buat Lala. Baju jalan-jalannya cuma 2 stel. Gimana dong, Ma?"
"Bagooosss..."
Mama mengacungkan jempolnya sambil tertawa bahagia. "Pulang-pulang langsung hamil. Lagian si Bryan bakalan nggak mau keluar kamar selama di sana. Percuma juga jauh-jauh ke Jepang kalo cuma main di dalam kamar."
"Astaga Nyonya Kayla Dimitri... Anda luar biasa hebat!"
seru Allegra tertawa terbahak-bahak. Mama dan semua orang yang mendengarnya ikutan tertawa. Daddy hanya geleng-geleng kepala dan mengusap dada mengingat semua wanita di dalam rumah tangganya adalah unik, termasuk menantu barunya. Tokyo, here we are! Mereka tiba di Bandara Internasional Narita ketika hari sudah malam dan mereka kelaparan. Sejujurnya, Bryan belum pernah menginjakkan kaki di Tokyo dan ternyata Adriella juga. Mereka berdua seperti dua orang hilang di sana. Satu-satunya hal yang paling Bryan pahami adalah mencari taksi dan meminta supir membawa mereka ke hotel yang dituju. Bryan tahu Adriella lelah dan istrinya itu terus bergelayut manja di lengannya. Dia sih tidak keberatan, senang malah tapi dia tidak ingin Adriella sakit selama liburan singkat mereka ini. Setelah check-in dan masuk ke dalam kamar, Bryan langsung memesan room service. Rasa lapar benar-benar mempengaruhi kerja otaknya. Adriella menyodorkan sebatang coklat ke hadapan Bryan dan langsung dimakannya.
__ADS_1
"Lapar banget ya, Bang?"
Bryan hanya bisa mengangguk sambil membuka pakaiannya.
"Ya ampun, Abang. Udah langsung buka baju segala..."
Adriella tersenyum malu-malu.
"Kita kan harus mandi dan makan dulu, Bang. Sabar dong..."
Adriella mendekat sambil memegangi kemeja Bryan yang setengah terbuka. Tangannya mulai membuka kancing kemeja itu satu-persatu. Bryan langsung tersenyum menggoda. "Tadi katanya makan dan mandi dulu... Kenapa baju Abang kamu bukain?
"Wajah Adriella langsung merona. "
Eh... lupa. Abis badan Abang bikin Adek deg-degan.
"Dada Bryan langsung mengembang dengan bangga. Astaga... gimana bisa tahan nih??? Rencananya Bryan malam ini tidur doang karena takutnya Adriella masih capek tapi kayaknya malah istrinya yang menggoda duluan. Hajarlah, Bry! Sudah waktunya si junior dipakai untuk bikin anak, bukan cuma buat pipis doang... Bryan menunduk dan mengangkat dagu Adriella dengan jarinya. Duh... itu bibir kenapa menggoda banget ya? Takutnya begitu Bryan nyosor, langsung lupa segalanya. Bryan meraih pinggang Adriella dan mendekapnya dengan erat. Adriella terperanjat dan ternganga sesaat. Adriella bahkan tidak sempat menutup mulutnya ketika Bryan memagut bibirnya dan menciumnya dengan lembut. Otomatis lidah Bryan langsung mendesak masuk ke dalam mulut Adriella. Rasanya Adriella sudah mati dan masuk ke surga. Bagaimana tidak, sebanyak apapun pacar Adriella dia selalu menjaga kesucian bibirnya dan seluruh tubuhnya hanya untuk Bryan. Sekarang ketika Bryan mulai mencumbunya, Adriella merasa panas dingin.
"Bukain baju Abang, La,"
bisik Bryan di sela-sela ciumannya. Adriella kembali menggerakkan tangannya dan membuka sisa kancing baju Bryan. Dengan lihai, Bryan membuka bajunya tanpa melepaskan ciumannya. Tangannya mulai membuka jaket dan kaos polo yang dikenakan Adriella dengan sekali tarik. Ciuman mereka terlepas sesaat dan Bryan segera menyatukan bibir mereka sambil menjatuhkan diri mereka berdua ke atas tempat tidur. Tangan Bryan mengelus punggung Adriella dan membuka kaitan branya. Suara desahan Adriella lolos dari bibirnya ketika Bryan menyentuh payudaranya dan ciuman ganasnya berpindah ke sana. Ada dua suara yang membuat Bryan menghentikan gerakannya membuka celana jeans Adriella. Yang pertama adalah suara bel di pintu dan itu tandanya makan malam mereka sudah datang. Yang kedua adalah suara bunyi perut Bryan yang kelaparan. Well, agak memalukan memang tapi apa hendak dikata, nafsu memang tinggi tapi perut juga harus diisi.
"Kita makan dulu, Sayang!"
bisik Bryan sambil mengangkat tubuh Adriella untuk duduk. Posisi Adriella yang kacau balau dengan payudara yang terpampang membuat Bryan susah bergerak. Bryan buru-buru mengambil kaos Adriella dan memakaikannya. Tentu saja dia tidak ingin tubuh istrinya jadi konsumsi si room service. Tapi sialnya kaos polo putih polos itu malah membuat payudara Adriella semakin terlihat nyata. Shit! desis Bryan sambil menutupi tubuh Adriella dengan bedcover. Adriella yang biasanya cerewet, terlihat shock dan masih mengatur nafasnya.
Oh... it's gonna be a long night, Bry!
__ADS_1
Long... long night!