Kekasih Pilihan Hati

Kekasih Pilihan Hati
Quickie Oh Quickie


__ADS_3

Pesawat mereka terbang dari Narita International Airport menuju Jakarta pada jam 11.40 malam waktu Tokyo dan diperkirakan mereka akan tiba di Jakarta pada pukul 9 pagi. Adriella langsung terlelap begitu pesawat lepas landas. Bryan langsung mengangkat Adriella dan memangkunya serta memeluknya erat. Bryan baru bisa tertidur pulas dengan Adriella di dalam pelukannya. Mereka mendarat di jam 9 pagi dan supir Daddy, Pak Dadang sudah berada di gerbang kedatangan menyambut mereka berdua. Kebetulan sekali hari ini hari Sabtu dan mereka masih bisa beristirahat sebelum beraktifitas lagi hari Senin. Luar biasa penyambutan seluruh keluarga besar Dimitri,


bahkan Allegra dan Elora membawa seluruh keluarganya. David yang biasanya sibuk melanglang buana hadir juga. Clement dan Denny tidak ada karena keduanya sudah berangkat ke Amerika.


"Naga-naganya Mama bakalan cepet gendong cucu lagi nih. goda Mama sambil memeluk mereka berdua. "Ihhh Mama... baru juga seminggu ngadonnya. Sabar dong!" tegur Allegra dengan senyum menggoda ke arah Bryan.


"Oleh-oleh, La!" teriak Elora yang terduduk santai sambil memegangi perutnya.


"Elora... sayangnya Lala!" Diciumnya pipi dan perut Elora dengan gembira.


"Oleh-oleh seadanya ya, Keluargaku! Soalnya Abang nggak mau diajak jalan-jalan!"


"Oh ya? Di kamar terus dong, La?" goda Mama lagi sambil mendekati Adriella. "Cerita dong, La sama Mama!"


"MAMA... tegur Bryan dengan mata melotot.


Mama mendelik kesal. "Dasar pelit! Mama juga bisa bulan madu lagi sama Daddy!"


"Ngapain lagi bulan madu sih?" David menggerutu. "Anak udah enam, Ma. Cucu udah mau 3. Jangan macem-macem deh!"


"Sirik aja, Bang David! Makanya cari pacar! Jangan tato doang diperbanyak!" Elora mencibir membela Mama. Ruang tamu besar itu tumpah ruah dengan suara tawa sukaria. Koper tidak sempat mampir ke kamar mereka karena sudah dibuka di ruangan itu untuk membagikan oleh-oleh.


"Nanti malam atau besok kalian ke rumah Papi dan Mami Iho,


Bang!" Mama mengingatkan. "Tadinya mereka mau datang kesini tapi keluarga Om kamu mau balik besok ke Hongkong, La jadi malam ini mereka kumpul. Kamu nggak mau ke sana, La?"


"NGGAK BOLEH!" teriak Bryan mengejutkan. Semua mata menatap Bryan dengan bingung. "Hhmmm.. Lala dan aku masih cape, Ma. Lagipula Lala kurang tidur!" Salah ngomong nih! Bryan langsung salah tingkah. Lagian nggak mungkin kan dia kasitahu alasan sebenarnya kalau dia cemburu berat pada Donny Lim, sepupu Adriella. Bisa ribut dunia persilatan! Serentak semua bergumam dan berdecak.

__ADS_1


"Ya iyalah kurang tidur, kan kamu yang bikin, Bang!" Daddy langsung menepuk bahu Bryan dengan kesal.


"Ya sudah sana, mandi trus langsung turun ke sini untuk makan siang ya! Ingat Bang, LANG-SUNG-TU-RUN! Nggak ngapa- ngapain dulu!" Mama langsung berkacak pinggang dengan memicingkan matanya ke arah Bryan.


"Tunggu dulu, ada satu lagi yang mau Daddy katakan. Berhubung rumah yang Daddy mau kasih untuk kalian masih dalam tahap pembangunan, kira-kira 3 bulan lagi lah. Benar kan,


Jon?" Daddy menunggu jawaban Jonah, suami Allegra dengan tatapan matanya.Jonah mengangguk, "lya Dad, kurang lebih lah. Tinggal


finishing dan interior dalamnya itu urusan Allegra sih."


"Jadi kalian masih harus tinggal disini dulu. Kamu nggak keberatan kan, La kalau harus tinggal di rumah ini dulu?" Adriella langsung memeluk Daddy dan Mama bergantian.


"Lala nggak keberatan kok, Dad selama bareng Abang tidurnya!" Bryan langsung menepuk jidatnya. Ouch, Lala!


"Kamar lo bersebelahan sama kamar gue, Bang jadi mohon jangan berisik!" bentak David. "Dasar love bird!"


Mood Bryan tidak terlalu baik sejak pagi tadi. Bagaimana tidak, sejak masuk ke dalam kamar mereka semalam, Bryan


sedang dalam kondisi libido tinggi untuk bercinta. Tapi begitu dia keluar dari kamar mandi, sang Nyonya Dimitri sudah tertidur pulas dan tidak bergerak ketika dibangunkan. Paginya mereka berdua bangun terlambat, jam 8.30 pagi.


Sepanjang malam Bryan tidak bisa tidur karena si junior tidak juga mau tidur. Dan dia sangat bersyukur karena Adriella terbangun dengan meringkuk di dadanya. Kesempatan, pikir Bryan dengan girang. Dengan cepat dia berada di atas Adriella dan langsung mencumbunya. Adriella


langsung terbangun dan membalas ciuman Bryan dengan bersemangat.


Sayang sekali, ketukan di pintu yang membabi buta


menghancurkan momen mesra mereka.

__ADS_1


"Hei... pengantin baru! Ayo bangun!'" teriak Mama dengan keras.


Bryan berusaha tidak peduli dan meneruskan ciumannya. Tangannya mulai melepaskan terusan tipis berwarna gading yang dipakai Adriella.


Tiba-tiba..


"Ayo Abang, cepetan! Ditunggu makan siang di rumah Tulang Nathan!" Kali ini suara David yang terdengar sangat menyebalkan.


"Gue tahu kalian sudah bangun, Bang. Lagi berbuat mesum kan lo!"


"Sialan, ini bukan berbuat mesum ya!" maki Bryan pelan.


"Kita kan lagi proses bikin bayi ya, Sayang!"


Adriella mengangguk sambil mengelus dada Bryan dan menciumi pundaknya.


"Abang udah nggak tahan, La. Gimana dong?"


Quickie aja kita, Bang!" usul Adriella tidak menghentikan gerakannya. Malah membuat Bryan semakin panas dingin.


Quickie? Kok kamu tahu soal quickie?"


"Dari Elora! Ayo cepet, Bang di kamar mandi aja!" desak Adriella sambil mendorong Bryan dengan sekuat tenaga. Bryan buru-buru turun dan menggendong Adriella menuju kamar mandi. Mereka menghabiskan 30 menit berikutnya untuk


quickie dan mandi. Lumayan lah dapat quickie daripada tidak sama sekali. Setidaknya bisa memperbaiki mood Bryan dan sakit kepala hilang.


Mereka harus buru-buru pindah kalau begini caranya. Nggak mungkin lah quickie terus setiap pagi Quickie oh quickie!

__ADS_1


__ADS_2