
Ternyata Yvonne tidak hanya menjambak rambut Adriella, pipi kirinya juga kena sasaran. Lebamnya baru terlihat keesokan harinya ketika bangun tidur. Itupun ketahuan tanpa sengaja ketika Bryan memeluk Adriella dan tangannya menyenggol pipi Adriella. Suara kesakitan itu yang membuat mereka berdua terbangun. Sialan! keluh Bryan kesal. Dengan lembut disentuhnya pipi Adriella yang sudah berubah warna itu.
"Sakit ya, Sayang?"
Adriella mengangguk dan meletakkan kembali kepalanya ke bantal.
"Kenapa kemarin nggak bilang kalau pipimu juga kena tampar, Sayang?"
"Bukan ditampar, Bang tapi ditinju."
"Hhaaa?! Wah nggak bener nih. Harus ditindak nih orang!"
Bryan mulai geram dan berusaha bangkit dari tempat tidur.
"Masih jam 4 pagi, Bang. Lala masih ngantuk! Nanti aja, Bang.."
"Tapi itu udah bengkak, La. Abang ambil minyak dulu ya."
Adriella tidak menyahut karena kantuknya lebih dominan dia terlelap. Bryan tidak sehingga kembali
tega membangunkannya sehingga setelah mengoleskan minyak tawon di pipi Adriella, Bryan memeluk istrinya dengan erat.
"Maafin Abang, La. Abang nggak jagain kamu!"
Hanya karena pipi yang lebam membuat semua keluarga resah, terutama Daddy Rafael. Wajahnya berubah murung dan marah sepanjang sarapan pagi. Bahkan Mama juga ikut diam dan sibuk berpikir. Apalagi lebam di pipi Adriella mulai menjalar ke bagian mata dan membuat matanya menyipit juga bengkak. Sudah pasti hari ini Adriella tidak akan bisa ke kampus. Bryan malah akan membawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Bryan tidak akan pernah menyalahkan tindakan Daddy bila beliau tiba-tiba menelepon Om Sudung saat itu juga.
"Kau mengerti hukum kan?" Daddy sengaja mengaktifkan loudspeaker agar suara Om Sudung terdengar oleh mereka semua.
"Apakah kondisi Lala makin parah?"
"Kok kau bisa tahu?"
"Ketika kalian sudah pulang, aku penasaran dan mengecek rekaman CCTV. Yvonne meninju Lala dengan keras, menjambak rambutnya dan menyeretnya hingga kepala Lala membentur lantai. Aku ingin meneleponmu semalam tapi kupikir lebih baik aku yang bertindak. Yvonne sudah di kantor polisi sekarang dan bagusnya Bryan bawa Lala untuk segera divisum."
"Gila, parah banget! Makasih Dung. Really appreciate it! Wajah Lala sudah bengkak hingga ke mata dan dia kesakitan."
"Makasih banyak, Om. Bry langsung bawa Lala sekarang ke rumah sakit."
"Aku sudah telepon pengacara kita, Raf. Jadi kita semua juga harus siap-siap karena kalau berita ini sampai ke media, rumah sakit akan disorot."
"Kupikir aku akan menyuruh anak buahku untuk mencari informasi lengkap tentang si Yvonne ini, untuk berjaga-jaga saja."
"Good idea, Raf. See you there!"
"Lala, gila kenapa nggak cerita kalau perempuan
itu membenturkan kepala kamu?"
Tanya Kayla dengan sedih.
"Maafin Lala, Ma. Lala takut sama perempuan itu."
__ADS_1
Tangan Adriella sedikit bergetar. Bryan langsung menggenggamnya erat. Kayla hanya bisa menghela nafas panjang.
"Lala habiskan sarapannya dulu ya, Nak. Setelah itu makan obat pereda sakit baru kita ke rumah sakit"
"lya Ma,"
jawab Adriella sambil mengernyit.
"Apa kalian perlu bantuanku?"
Tanya David yang sedari tadi diam.
"Kamu ada shooting dimana, Dek?"
Tanya Kayla pelan sambil terus memperhatikan Adriella.
"Shooting di Raja Ampat, Ma. Tapi kalau Daddy perlu aku untuk ikut menyelidiki, aku bisa cuti kok."
"Nggak usah, Dek. Kamu shooting aja. Nanti kalau Daddy perluu kamu, Daddy akan telepon ya!"
"Makasih ya, Dek!"
Bryan menepuk bahu David dengan rasa sayang.
"Sama-sama, Bang. Aku juga nggak suka kalau perempuan itu seenaknya menganiaya keluargaku!"
"Kenapa kepala Lala makin pusing ya, Bang?"
Mama bangkit dari duduknya dan menghampiri Adriella.
"Abang, kita ke rumah sakit sekarang aja!"
Adriella dibawa ke IGD dan ketiga petinggi rumah sakit itu ada di sana. Suami istri Dimitri dan juga Bryan Dimitri. Bahkan Pak Direktur, Dokter Sudung, ikut turun menuju IGD untuk melihat kondisi Adriella.
Setelah serangkaian pemeriksaan yang membuat kerutan di dahi Bryan bertambah banyak, Adriella dinyatakan terkena gegar otak. Memang bukan gegar otak berat tapi tetap saja yang namanya gegar otak akan berpengaruh pada kepala Adriella.
Adriella harus dirawat. Rafael dan Kayla semakin kacau melihat airmata Editha, Maminya Adriella dan wajah kusut Nathan. Rasanya mereka gagal melindungi Adriella. Bryan yang lebih sedih. Dia sama sekali tidak beranjak dari sisi Adriella dan
terus menjaganya. Sudung yang langsung bertindak dengan memberikan hasil visum Adriella kepada pengacara mereka yang langsung mengurusnya ke kantor polisi. Rafael yang tidak tega melihat
kondisi Adriella kembali ke ruangannya di lantai 5.
Anak buah Rafael kembali setelah makan siang dan
menyerahkan laporan lengkap tentang Yvonne dan keluarganya. Kayla juga berada di ruangan Rafael karena mereka baru saja makan siang bersama. Yvonne Halim adalah anak dari Eduardo Halim, seorang pengusaha batubara yang sukses. Sejak kecil Yvonne berada dalam pengawasan psikiater. Hebatnya gadis itu berhasil menjadi dokter dan lolos tes dengan sempurna ketika bergabung di rumah sakit ini.
"Cari tahu berapa banyak harta bapaknya!"
Tukas Rafael dengan geram.
"Aku tidak ingin gadis ini lolos dari hukum. Aku tidak ingin bapaknya membebaskan anaknya dengan uang yang dimilikinya!"
__ADS_1
Kayla mendekat dan memeluk Rafael. "Biarkan hukum yang berjalan, Raf. Jangan biarkan amarahmu membuat kita salah melangkah!"
"Aku tidak sanggup melihat Lala terbaring seperti itu, Kay. Sulit bagiku menghadapi Nathan dan Editha saat ini. Aku bahkan tidak bisa menjaga putri kesayangannya. Yang kubayangkan bila Alle atau El yang berada di posisi Lala, aku pasti akan menghancurkan siapa saja yang mencelakai anakku
Kayla mengeratkan pelukannya."
"Lala sudah ditangani dengan baik dan kita fokus pada Lala. Urusan Yvonne, biarkan pengacara kita yang mengurusnya."
Rafael menatap Kayla sambil tersenyum.
"Bagaimana jadinya aku tanpamu?"
"Kau tidak akan bisa apa-apa tanpaku, Sayang! Ayo kita lihat anak-anak!"
"Jangan sakit, La. Abang nggak sanggup lihat Lala sakit begini!"
Bryan terus memeluk tubuh Adriella yang masih tertidur.
"Maafin Abang nggak bisa jagain Lala!"
"Udah Bang, istirahat dulu. Lala udah nggak apa-apa kok"
bujuk Editha sambil mengelus bahu Bryan.
"Tapi Mam, ini semua gara-gara Bryan!"
"Emang kamu salah apa? Perempuan gila itu kok yang bikin Lala begini!"
gerutu Editha sambil terduduk di sofa.
"Abang.."
Suara lemah Adriella mengejutkan Bryan yang langsung memperlihatkan wajahnya tepat di depan mata Adriella.
"Apa Sayang? Mana yang sakit?"
"Adriella menggeleng lemah. "Lala lapar, Bang."
"Mami.. Mami ngapain disini?"
Editha mencium dahi Adriella.
"Mami kangen lihat anak bungsunya. Kenapa harus sakit sih? Bikin Abang Bryan ketakutan tuh!"
Adriella menoleh pada suaminya sambil tersenyum.
"Lala mau makan spagethi, boleh nggak Bang?"
"Boleh Sayang. Boleh banget. Abang pesan ya!"
Bryan sedikit lega karena apabila Adriella mengeluh lapar berarti dia mulai sehat. Bagi istrinya itu makan adalah segalanya.
__ADS_1
"Jangan sakit lagi ya, Sayang karena Abang takut kehilangan kamu!"