
Di sebuah desa bernama Desa Sukamaju tinggallah seorang gadis bernama Nella Giancarlo gadis sederhana yang setiap hari bekerja keras untuk menghidupinya juga neneknya , ia hanya memiliki nenek yang sudah sering sakit-sakitan setiap hari hanya berbaring di ranjang tempat tidur, sebenarnya sedari kecil yang merawat nya adalah neneknya. Tidak diketahui keberadaan orang tuanya. Yang ia tahu hanya nenek yang ia punya, merasa anak yatim piatu sosok mandiri sudah melekat dalam kehidupan nya sehari-hari, itu adalah ajaran dari neneknya.
Setiap hari ia bekerja di sebuah perkebunan sawit sebagai pengambil berondolan sawit. Diperkebunan sawit yang luasnya kurang lebih 200 hektare itu tak diketahui siapa pemiliknya, yang pekerja tahu pemiliknya adalah orang terkaya di kota Lampung, Namun meskipun begitu tak lantas membuat tentram para buruh, justru Upah yang mereka terima pekerja seperti Nella dan teman-temannya malah tak seberapa, hanya untuk menghidupi nenek dan juga Nella ia sering mencari tanaman singkong untuk di makan jika beras sudah habis dan belum gajian. Begitu miris jika melihat para buruh sering mendapatkan gaji tak sesuai dengan jerih payahnya setiap hari, mengabdi pada perusahaan yang mengelola namun tak lantas dihargai.
Saat ini Nella sedang istirahat duduk di bawah pohon sawit, memakan bekal yang ia bawa, berisi singkong rebus. Melahap bekal nya itu dengan memikirkan apa yang harus ia lakukan agar neneknya bisa berobat ke kota, mengingat desa yang ia tinggali sangat jauh dari perkotaan dan alat medis yang sudah modern.
"Nella!" panggil mandor pengawas pekerja di perkebunan sawit itu. Pak Mingun namanya. Nella menghampiri asal suara itu, pak Mingun dengan suara bergetar memberitahu kan kabar bahwa baru saja nenek nya meninggal dunia.
"Begitu kata Pak Wawan di telepon, Nella." Pak Wawan adalah tetangga dekat rumah Nella.
Seketika itu dada Nella sakit mendengar kabar dari mandornya. "B-bagaimana mungkin nenek meninggal, pak. Tidak ... tidak mungkin. Hanya nenek yang aku punya." Nella merasa putus asa mendengar kabar dari mandor nya.
"Kau pulanglah dulu. Kuberi ijin satu minggu untuk mengurus pemakaman nenekmu dan meredakan rasa sedih mu. " Pak Mingun yang merasa kepedihan Nella begitu dalam memberi uang untuk Nella mengurus jenazah nenek nya.
"Ini terimalah. Mungkin bisa membantu pemakaman nenek mu. Maaf aku tak bisa mengantarkan mu pulang, karena harus mengawasi pekerja disini."
"Tidak pa pa, Pak. Sekali lagi Terima kasih, Pak. Saya permisi. " Nella berpamitan.
Nella berlari menuju rumahnya dengan menggenggam uang yang di berikan mandornya. Jarak 500 meter perkebunan dari rumah hanya di tempuhnya sepuluh menit. Tak peduli semak belukar yang menyayat kakinya. Ia terus berlari dengan menitikan air mata yang terus mengalir deras ke pipinya, sesekali di usap agar tak menghalangi pandangan matanya.
Setelah sampai halaman rumahnya, ia melihat tetangga sudah berkerumun untuk melayat. Bendera kuning telah di pasang di atas tiang kayu rumah miliknya. Nella berjalan terseok-seok memasuki rumahnya. Tetangga yang melihat kedatangan Nella memberi jalan masuk untuk Nella. Dilihat tubuh yang renta dan juga pucat wajahnya, telah terbaring kaku di atas dipan milik neneknya. Tubuh itulah yang setiap hari menyemangati hidupnya, menemani saat ia sudah lelah dengan keras nya kehidupan ini, kini telah di ambil nyawanya oleh Sang Khalik.
"Nenek!" Tubuh Nella berhamburan ke pelukan neneknya. "Kenapa Nenek meninggalkan aku? Kenapa, Nek?" Nella menggoyang-goyang tubuh yang kaku itu.
__ADS_1
"Nella!" panggil sahabat Nella, Gea. Ia memeluk sahabatnya itu dan mengalirkan energi positifnya agar Nella kuat menghadapi kenyataan.
"Gea ... sekarang aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Aku sendiri sekarang. " Nella memeluk Gea.
"Kau masih punya aku, Nella. Jangan seperti ini, kasihan nenekmu jika kamu seperti ini. Dia tidak akan tenang di alam sana. Kita doakan saja nenekmu agar tenang di sisi-Nya." Gea berusaha menenangkan Nella yang tak henti nya menangis.
"Kau benar Gea." Nella menyetujui ucapan Gea. "Nenek. Maafkan aku yang sedari tadi hanya menangis."
Nella lalu beranjak berdiri dibantu Gea, membersihkan diri karena baju yang ia pakai masih baju untuk bekerja di kebun, setelah itu lalu ia duduk di samping jenazah mendoakan neneknya agar pergi dengan tenang. Jenazah neneknya pun dimakamkan di TPU Udik Desa Sukamaju yang jaraknya 500 meter dari rumah Nella.
Satu minggu kemudian, ia masih merasakan kesedihan yang mendalam. Nella duduk di bangku depan rumahnya. Melamun sendirian, memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang, tak ada lagi penyemangat hidup untuk nya bekerja.
"Hei, kenapa melamun?" teriak Gea mengagetkan Nella, entah datang dari mana.
"Kenapa melamun? Bukannya hari ini kamu mulai bekerja lagi?" Gea duduk di samping Nella.
"Aku malas berangkat kerja, tak bersemangat," ucapnya malas dan putus asa.
Gea berdiri, menarik tangan Nella. “Mana boleh kamu tidak bersemangat begini. Nella yang aku kenal tidak mungkin bertingkah seperti ini. Ayo, lebih baik kamu cari kayu bakar. Siapa tahu kamu menjadi lebih baik setelah berjalan-jalan sebentar. Tapi aku tidak bisa menemani karena ada urusan.”
Nella akhirnya mengangguk. Mencari kayu bakar tidak buruk juga. Jika terus berdiam diri di rumah, dia akan terus kepikiran neneknya, dan berakhir dengan air mata seperti biasanya.
Nella mulai berjalan menuju hutan, sesekali mengambil kayu bakar yang ditemukan. Saat berjalan di dasar jurang, matanya berkilat senang saat melihat tumpukan kayu begitu banyak.
__ADS_1
"Banyak sekali kayu bakar di sini."
Saat Nella tengah asyik mengambil kayu bakar, semak belukar tiba-tiba bergerak. Nella penasaran bagaimana mungkin semak itu bisa bergerak sendiri. Disingkapnya semak itu ia menemukan pria gagah dan juga tampan, namun dipenuhi dengan luka, baju nya compang-camping dan penuh sayatan ditubuhnya, mungkin terkena semak rumput tajam. Nella melotot terkejut, lalu berteriak.
"Akh, mayat!” Nella terlonjak kaget, beringsut mundur beberapa langkah. Namun kemudian terlihat gerakan kecil gari tubuh yang tergeletak tak berdaya itu, membuat Nella buru-buru mendekatinya, lantas mengecek napasnya. “Masih bernapas!”
"T-tolong aku. " Suara rintihan pria itu terdengar oleh Nella.
"D-dia masih hidup!"
Karena rasa kasihan Nella yang besar, ia tak jadi membawa kayu bakar, malah pria asing itu yang ia bawa pulang.
"Hem... Harus bagaimana lagi, ini demi rasa kemanusiaan ku, aku terpaksa membawanya pulang untuk ku rawat."
Awalnya Nella kesulitan menggendong pria itu.
Namun ia mengerahkan semua tenaga nya dan
membawanya ke rumah dengan setengah diseret, karena tubuh pria itu lebih tinggi dari Nella.
...****************...
...----------------...
__ADS_1