Kekasihku Ternyata CEO

Kekasihku Ternyata CEO
Bab 2 Pria Malang Yang Misterius.


__ADS_3

Nella berhenti sesekali, mengambil napas saat menggendong pria yang ia tolong.


"Huh, berat sekali pria ini." Ia berjalan terseok menuju ke rumah. Napasnya tersengal, peluh memenuhi keningnya.


Begitu akhirnya sampai di rumah, Nella segera merebahkan tubuh pria itu di atas ranjang miliknya. Nella mengelap lembut membersihkan tubuh pria itu yang di penuhi dengan luka dan lumpur,


"Kasihan sekali pria ini. Tampan tapi nasibnya malang."


Nella lalu membersihkan diri dan kembali berpikir apa yang harus ia lakukan dengan pria itu agar cepat sadar dari pingsannya. Lalu ia, menuju rumah Gea, mencoba meminta bantuan sahabatnya itu. Gea adalah sahabat Nella sejak kecil, maka itu jika Nella memiliki kesulitan apapun ia selalu meminta bantuan padanya.


Setelah sampai rumah Gea. Ia menceritakan tentang kejadian yang menimpa nya tadi. Lalu Gea ikut ke rumah Nella untuk memastikan keadaan pria malang itu.


"Kasihan sekali dia, Nella. Tubuhnya penuh luka," ucap Gea prihatin.


"Kau lihat sendiri ‘kan, aku bingung bagaimana merawatnya. Rumah sakit hanya ada di kota, kendaraan pengangkut barang hanya datang seminggu sekali, dan baru saja kemarin kendaraan itu lewat. Bidan dan mantri hanya sebulan sekali kemari, dan baru dua hari kemarin mereka datang." Nella mengesah berlebihan. Ia bingung dan gelisah, takut jika tak segera di rawat dengan baik, luka di tubuh pria itu menjadi infeksi.


Seperti mendapat angin segar dalam menghadapi permasalahan ini, Nella tiba-tiba teringat tentang neneknya yang pernah mengajarkannya tentang pengobatan tradisional.


"Oh iya, hampir lupa aku. Nenek ‘kan pernah mengajarkan aku pengobatan menggunakan dedaunan dan akar hutan yang ampuh untuk menyembuhkan luka." Nella menjentikkan jari, teringat pesan neneknya.


"Nah itu. Kamu bisa mencoba nya pada pria itu, La," ucap Gea merespon.


"Tapi kamu bantu aku ya, Ge?" Nella yang memohon pada Gea. Sahabat nya itu tak mampu menolak permintaan Nella pun setuju untuk membantu merawat pria asing itu.


Gea bertugas mencari akar pohon dan dedaunan di hutan pinggir rumah Nella, sedangkan Nella menyiapkan ramuan untuk di minum pria itu sebagai obat pemulihan tubuh. Diteteskan sedikit demi sedikit air ramuan yang ia buat ke mulut pria itu.


"Uh, pahit." Rintihan suara pria malang itu terdengar, meski dengan mata yang masih tertutup. Ia bisa merasakan pahitnya ramuan yang Nella buat.


"Minumlah, ini akan membuatmu lebih baik," ucap Nella lembut.


Setelah beberapa jam akhirnya Gea kembali dengan membawa akar daun obat permintaan Nella.


"Nella, ini yang kamu butuhkan." Gea meletakkan keranjang berisi akar daun di atas meja.


"Iya, terima kasih, Gea," ucap Nella, tersenyum.


Gea mengangguk singkat, lantas duduk di bangku dapur sebelah tungku masak. Nella memperhatikan sejenak tumbuhan herbal di depannya, untuk kemudian mulai meramu berbagai macam tumbuhan itu. Tangannya lincah sekali, mengambil beberapa tumbuhan, menakarnya, lantas mulai menumbuknya hingga halus. Setelah itu ia oleskan ramuan yang sudah jadi ke bagian yang luka pada pria itu. Luka di kepala pria itu yang paling parah. Nella membalut luka dengan kain bersih miliknya. Potongan demi potongan kain telah terbalut rapi di tubuh pria itu.


"Gea, dilihat dari wajah dan pakaian yang ia kenakan, sepertinya pria ini bukan orang biasa atau orang penduduk desa." Nella yang menganalisa kondisi pria itu, meskipun baju yang ia kenakan sudah rusak dan kotor, namun terlihat pakaian yang di kenakannya adalah pakaian bagus.

__ADS_1


"Iya juga, ya? Terlihat tampan lagi meskipun lukanya parah tapi tak memudarkan ketampanannya." Gea merespon.


"Kau ini jika sudah melihat pria tampan .... " Nella mendengus melihat temannya yang terpesona oleh ketampanan pria itu.


"Serius dikit dong, Gea. Aku khawatir jika benar orang penting bagaimana?" Nella yang merasa khawatir jika pria itu bukan orang sembarangan.


“Nella, maksud kita ‘kan baik. Jika benar dia orang penting, berarti kita sudah berjasa. Sudah, jangan terlalu banyak berpikir, fokus kan saja merawatnya dengan baik. Aku pulang dulu ya, sudah sore."


Gea meninggalkan rumah Nella dengan Nella yang masih bingung juga khawatir.


"Hah, sudahlah, bagaimana nanti saja." Nella sudah pasrah keputusannya. Dari awal menolong juga dia tak memikirkan hal ini, sekarang malah bingung dengan keputusannya menolong pria itu.


***


Beberapa hari kemudian, kondisi pria itu mulai membaik. Perawatan Nella yang sangat hati-hati dan telaten mempercepat proses penyembuhan luka pria itu.


Jari-jari pria itu bergerak pelan, menunjukkan kesadarannya mulai membuka mata pelan.


Nella yang menyadari pria itu telah sadar dari komanya, tersenyum puas, akhirnya usahanya merawat pria itu berhari-hari ada hasilnya.


"Kamu sudah sadar!" ucap Nella senang.


"A-aku di mana ini?" Pria itu melihat sekeliling rumah yang menurutnya asing.


"Merawatku? Akh ... kepalaku sakit!" Saat akan duduk dia malah mendesah kesakitan dengan memegang kepalanya.


"Jangan banyak bergerak tubuhmu masih lemas." Nella membantu pria itu duduk.


"Kenapa aku diperban?" Pria itu memegang sebagian tubuhnya di balut kain perban.


"Dan pakaian ini milik siapa yang aku pakai... Jelek sekali." Pria itu menyincingkan matanya melihat pakaian yang Ia kenakan menurut nya jelek.


"Masih bagus pakaian mu ku ganti. Itu adalah pakaian kakek ku yang ku simpan sudah lama makanya jelek." Ucap Nella kesal kebaikan nya di respon hinaan.


"Kau... Kau menggantikan pakaian ku?" Pria itu memeluk tubuhnya sendiri merasa canggung dan malu jika Nella membantu mengganti pakaian nya.


Nella mengangguk sekilas seperti tak punya rasa bersalah perbuatan nya membuat pria itu malu.


"Kau terluka parah, dan banyak sekali luka di tubuh mu, jika tak diperban aku takut infeksi." Nella menjelaskan kekhawatiran nya pada luka pria itu. Pria itu hanya mengangguk paham.

__ADS_1


"Dan kamu sudah dua hari tak sadarkan diri, kamu pasti lapar." Nella mengambilkan sepiring singkong rebus dan segelas air teh hangat untuk pria itu.


"Ini makanan apa?" tanya pria itu yang tak pernah melihat makanan yang dibawa oleh Nella sebelumnya.


Nella tersenyum mendengar pertanyaan pria itu. 'Orang macam apa tak tau bentuk singkong rebus. Pasti ia tak pernah memakannya juga,' batin Nella terkikik sendiri.


"Ini adalah singkong rebus. Makanlah, hanya ini yang aku punya untuk dimakan. "


Pria itu lalu membuka mulut tanda ia setuju untuk Nella menyuapinya. Sepotong demi sepotong singkong rebus itu ke mulut pria itu hingga habis.


Setelah itu Nella berniat untuk bertanya tentang bagaimana bisa ia sampai berada di dasar jurang.


"Bolehkah aku tau namamu siapa?" tanya Nella penasaran.


"Nama? Aku lupa namaku. Aku tidak tahu namaku siapa." Pria itu menjawab dengan bingung, seperti orang yang hilang ingatan.


"Hah? Bagaimana mungkin kamu tak tau nama mu sendiri. Atau jangan-jangan kamu hilang ingatan karena luka di kepalamu itu?" Nella menunjuk kepala pria itu, yang ditunjuk hanya menggelengkan kepala.


"Lalu kau juga tak ingat kejadian kenapa bisa kamu masuk ke jurang yang dasarnya adalah desa ini?" Nella bertanya lagi.


"Aku sama sekali tak ingat apa pun. Akh, kepalaku sakit, tolong jangan tanyai aku lagi." Pria itu kesakitan lagi.


"Oke, aku tidak akan tanya lagi. Istirahatlah, aku mau bekerja dulu. Aku baru pulang nanti sore." Nella bersiap untuk kerja.


"Kau ... kau mau meniggalkanku sendirian?" Pria itu meraih tangan Nella.


"Aku harus bekerja, jika aku tak bekerja, nanti kita mau makan apa?" ucap Nella menghela napas.


"Baiklah, tapi cepat kembali, ya?" Pria itu memasang wajah sedih.


"Iya." Nella berlalu pergi untuk bekerja.


“Bagaimana ini jika pria itu benar-benar tak ingat apa pun, apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Nella, sesekali melihat pria malang itu dan melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kebun sawit.


Pria itu melihat langit-langit rumah Nella yang terbuat dari ilalang yang dianyam dan dinding dari papan kayu.


"Meskipun rumah ini sangat sederhana tapi nyaman juga," ucap pria itu.


"Uh, aku ingin pipis " Melihat sebelah nya ada botol, ia langsung melakukan panggilan alam itu mengunakan botol, karena badannya yang masih belum bisa berdiri dan berjalan dengan sendiri, terpaksa ia melakukannya dengan berbaring.

__ADS_1


...----------------...


...****************...


__ADS_2