
"Ada apa Non?" Anih terkejut lalu menuju asal suara itu. pintu kamar mandi terbuka ia melihat Nella bajunya sudah basah kuyup terkena air yang turun dari shower yang berada di atas kepalanya Nella.
Anih menahan tawa sekaligus kasihan pada Nella yang tak mengerti cara menggunakan keran yang benar.
"Astaga Nona kenapa bisa jadi seperti ini!" Anih terkejut melihat bathroom yang airnya hampir membanjiri kamar Nella.
"He-he-he ... Saya tak bisa menggunakan ini, Bu. Sekarang baju saya malah basah semua."
Anih bukannya marah tapi malah tertawa melihat tingkah Nella yang menurutnya lucu.
"Ha-ha-ha ... Non ini gadis yang lucu. Sini biar bibi bantu Non mandi. Jadi begini cara memakainya dan ini shower namanya Non." Anih menjelaskan cara menggunakan bathup dengan benar.
"Aduh ... Saya jadi malu kalau begini Bi." Ucap Nella
"Udah gak usah malu-malu Non. Kenalin ini Bi Anih jangan panggil Bu ya." ucap Anih memberi tahu.
"Nama saya Nella, Bi. Iya maaf lain kali gak manggil Bu lagi. Hihihi" Nella terkikik sendiri bila mengingat tingkah konyol nya. Mereka bersalaman berkenalan di bathroom, Seperti tak ada tempat lain saja untuk berkenalan.
Setelahnya Nella sudah paham dengan semua yang diajarkan oleh Anih.
"Makasih ya udah mau ngajarin saya. Bi"
"Iya Non, Sama-sama. oya Non, satu lagi tadi tuan menyuruh saya untuk memberikan baju di paper bag itu yang saya letakkan di atas kasur. Kalo gitu saya permisi ke dapur dulu ya, Non."
Nella hanya mengangguk lalu melanjutkan mandinya setelah Anih berlalu dari pandangan nya.
Anih lalu melenggang pergi dari kamar Nella dan akan menuju dapur. Saat akan ke arah bawah tangga Arka menghentikan langkah Anih ingin mengetahui apakah ia sudah melakukan seperti yang ia perintahkan.
"Bagaimana Bi, apa Nella kesulitan untuk mandi di bathroom?" Tanya Arka dengan wajah keingintahuan nya.
"Beres, Tuan. Nona Nella memahami dengan cepat, jadi mudah untuk saya mengajarinya. Untung saja tadi saya datang dengan cepat, jika tidak sudah pasti kamarnya akan kebanjiran" Jawabnya membuat Arka terheran, Lalu Anih menceritakan kekonyolan Nella saat memakai bathroom, Arka tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Embannya itu Lalu tersadar baju yang ia berikan untuk Nella sudah di berikan padanya apa belum.
" Bajunya tadi sudah kau berikan padanya 'kan, Bi?" Ucap Arka bertanya lagi perihal baju.
"Sudah, Tuan." Jawab nya
"Bagus. Oh iya Bi. Jika Nella mencari ku, bilang padanya aku sedang pergi ke perusahaan bersama ayah. Karena ada masalah penting."
"Baik, Tuan muda, saya akan mengatakan nya pada Non Nella jika bertanya."
Arka lalu membiarkan Anih ke dapur setelahnya.
Seusai mandi Nella terkejut bukan main dengan pakaian yang di letakkan di atas ranjang untuknya. Ia menjembreng baju itu dengan menariknya keatas.
Ia belum pernah melihat bentuk pakaian seperti itu,
"Bagaimana menggunakannya, kenapa pakaian ini tak memiliki lengan?" Ia melipat dress yang ia pegang dan menaruhnya kembali ke papper bag itu dan urung memakai nya. Menurut nya pakaian itu terlihat tak sopan jika di kenakannya. Lalu Nella malah memakai pakaian yang ia bawa dari desa. Ia lebih nyaman memakai pakaian miliknya sendiri. Nella mencari keberadaan Arka Sebab saat ia mengetuk pintu kamarnya tak ada respon dari dalam.
Nella menuruni anak tangga itu , setelah sampai lantai bawah Ia masih berdiri mematung di sana
__ADS_1
Mencari sosok yang di carinya namun tak ada. Lalu ia duduk di tepi anak tangga itu dan melamun.
"Rumah sebesar ini terasa hampa jika tak ada orang di dalam nya." Gumam Nella menopang dagunya sendiri diantara kedua tangannya.
Anih yang melihat Nella duduk sendirian itu lalu menghampiri nya.
"Non. Ngapain duduk di sini?" Anih menegur Nella memecah lamunannya.
"Ha ... Bi Anih" Ucap Nella terhenyak, Nella lalu berdiri men-sejajarkan pijakan kakinya dengan Anih.
"Anu bi. Saya mencari Arka, Dimana ya kok dari tadi aku gak ngeliat nya?" Nella celingak celinguk mencari keberadaan Arka.
Anih memberitahu Nella seperti pesan Arka tadi padanya.
Sebenarnya Arka sedang pergi setelah Suaeb memerintahkan nya untuk ke kantor Perusahaan Garmen. Ada masalah yang harus ia selesaikan setelah kepergiannya selama ini banyak berkas yang terbengkalai membuat kinerja di perusahaan menurun.
Nella mengangguk sekilas faham akan hal itu. Lalu Anih ingin melanjutkan memasak kembali.
"Bibi mau kemana?" Tanya Nella pada Anih
"Bibi mau lanjut masak Non." jawab Anih
"Em ... Bi Aku bosan disini, bolehkah aku ikut memasak juga? ." Tanya Nella bersemangat.
"Memang nya Non bisa masak?"
"Bisa dong, Bi." Ucap Nella penuh percaya diri .
"Wuih... Dapurnya mewah, kompor nya ada banyak sekali. Satu, dua, tiga, empat dan lima." Nella menghitung kompor yang tertata rapi di dapur itu.
"Nona Nella ini seperti tak pernah melihat kompor saja" Ucap Anih bergurau.
" Memang gak pernah Bi. Aku di rumah di desa ku satu aja gak punya ini malah banyak sekali. Bahkan yang memiliki kompor itu hanya kepala Dusun di desa ku saja, Bi." Ucap Nella
Setelahnya mereka berdua memasak bersama. Berbincang layaknya seperti teman lama yang tak pernah bertemu, Nella adalah gadis yang ramah, mudah baginya mencari topik pembahasan. Apalagi Anih orang yang suka mengobrol.
"Oh iya, Non. Bibi dengar dari tuan Muda kalo Non menggendong tuan sampai rumahnya Non Nella ya saat menolongnya Padahal 'kan jaraknya cukup jauh, badan Non yang kecil bisa kuat juga menggendong tuan Muda." Ucap Anih memuji dan terkagum-kagum pada kekuatan gadis seperti Nella.
"Iya, kepepet, Bi. Soalnya demi rasa kemanusiaan membuat ku jadi kuat. Hehehe" Ucap Niken meringis merasa malu di puji seperti itu.
Setelah nya masakan mereka siap di hidangkan.
"Wah... Masakan Non kelihatan enak, meskipun terlihat sederhana tapi pasti Nyonya suka Nih. Sudah lama dia ingin makan masakan pedesaan, tapi saya tak pandai membuatnya." Ucap Anih memuji masakan Nella.
"Baguslah, Bi. kalau Nyonya suka, semoga ini bisa membuatnya sedikit lebih menghargai saya." Nella berharap.
"Yang sabar ya, Non. Nyonya memang seperti itu orang nya, jadi jangan di ambil hati, ya." Ucap Anih mengasihani Nella.
"Iya, Bi."
__ADS_1
Mereka lalu menyiapkan semua hidangan yang sudah masak ke meja makan.
Anih baru menyadari jika Nella tak menggunakan baju yang di berikan tuannya, lalu menegurnya.
"Non, kok baju yang bibi bawa gak di pakai? Nanti tuan Muda marah lo kalo gak memakai pakaian yang ia berikan." Ucap Anih
"Anu Bi. Aku gak nyaman memakai nya, bajunya gak memiliki lengan menurut ku aneh memakainya, jika di desa memakai itu di bilang cewek gak bener, Bi." Ucapnya dengan kepolosan matanya.
"Ha-ha-ha ... Non lucu deh. Masak berpakaian seperti itu dibilang cewek gak bener." Anih tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Nella yang menurut nya lucu.
"Apa yang sedang kalian bicarakan, seru sekali!" Ucap Alice yang tiba-tiba datang menghampiri kedua wanita yang beda generasi yang sedang bercanda ria itu.
"Nyonya" Anih dan Nella lalu menunduk melihat kedatangan Alice yang memasang muka judesnya.
"Tak ada Nyonya. Kami hanya sedang bercanda saja." Ucap Anih ,lalu Alice memutar bola matanya malas setelahnya duduk di kursi kosong dekat meja makan
"Sudah siap belum masakan mu, Bi?" tanya Alice lagi
"Sudah, Nyonya."
"Panggil Tuan Suaeb dan Arka, Bi." Perintah Alice pada Anih,
Nella membatin"Apa dia gak bisa panggil sendiri, lagian masak satu rumah gak tau kalo anak dan suaminya gak dirumah"
"Maaf, Nyonya. Tuan besar dan tuan muda tidak dirumah, mereka sedang pergi." Ucap Anih.
Alice lalu mengangguk sekilas dan melahap makanan di hadapannya. sesuap Ia manggut-manggut merasakan enak masakan itu. Nella menelan saliva nya ia juga merasakan lapar, Namun Alice sama sekali tak menawarinya untuk makan. 'Sungguh orang pelit' Gumam hati Nella. Untung saja di dapur sudah menyimpan semangkuk sayur untuk nya dan Anih makan.
Karena rasa lapar yang mendera sebelum Alice selesai makan ia sudah makan di dapur.
Alice mengetahui hal itu ia marah besar lalu memaki Nella atas kelancangannya berani mengunyah makanan dirumah nya tanpa ijin darinya.
"Hei ... Siapa yang menyuruh mu makan, Hah?" Ucap Alice pada Nella yang masih memegang sendok berisi nasi dan lauk yang hampir mendarat di mulut nya lalu berhenti dan meletakkan kembali piring yang ia gunakan dan menanggapi makian Alice.
"Saya lapar Nyonya, Maafkan atas kelancangan saya tanpa meminta ijin pada Anda." Ucap Nella lembut di balas bentakkan dari Alice.
"Dasarnya gadis desa tak tau diri! Tak tau aturan dan tak tau malu!" Alice terus menghina dan mencaci Nella.
"Nyonya. Jangan emosian, Non Nella ini hanya lapar, saya yang memberikan dia nasi itu. Lagian tadi yang masak juga dia. Bagaimana rasa masakan nya enak 'kan Nyonya?" Ucap Anih membela Nella.
Alice menautkan kedua alis nya ia sama sekali tak menyangka jika gadis itu yang memasak untuk nya. Dan masakan nya pun lumayan enak.
"Apa? Dia yang memasak! He'em... kali ini kesalahan mu ku maafkan karena masakan mu enak. Lain kali tak ada kata maaf lagi!" Ucap Alice lalu meninggalkan Nella bersama Embannya.
"Fiyuh... Untung saja Nyonya gak marah." Ucap Anih merasa lega Alice tak murka.
Nella semakin heran dengan sikap ibunya Arka yang seenaknya sendiri.
Sampai kapan ia akan bertahan dengan sikap nya yang arogan Alice terhadapnya?
__ADS_1
...----------------...
...****************...