Kekasihku Ternyata CEO

Kekasihku Ternyata CEO
Bab 4. Tersengat Tawon


__ADS_3

Di sebuah persimpangan jalan yang sepi terlihat sebuah mobil terparkir menabrak pohon besar yang daunnya lebat. Mobil itu hangus terbakar, membuat perhatian pengguna jalan yang lewat. Hal itu sudah menyebabkan berita viral di televisi sebuah saluran televisi memberitakan kejadian tersebut, banyak yang merekam kondisi mobil yang sudah rusak parah, di media sosial seperti Facebook dan instagram. Bagaimana tidak, jika pemilik mobil itu adalah pewaris tunggal PT Garmen.


" Selamat siang pemirsa TV Berita Lebay, kali ini saya akan memberitahu tentang kecelakaan Mobil mewah keluaran terbaru telah meledak yang sebelumnya menabrak sebuah pohon besar, kondisi mobil hangus terbakar, tidak ditemukan pengguna yang membawa mobil itu. Namun keluarga korban pemilik mobil itu kini memasang poster di televisi dan media sosial lainnya, telah kehilangan anak semata wayang nya dan juga pemilik perusahaan Garmen terbesar di Lampung. Di Foto itu terdapat nama dan ciri fisik orang yang dimaksud.


Nama : Arkalios Gurman


Umur : 28 tahun.


memiliki paras yang tampan, badan tinggi tegap. Memiliki tahi lalat di bawah kelopak matanya.


Pria itu adalah anak dari keluarga terkaya sekota Lampung memilik ayah bernama Suaib Gurman" Begitulah ulasannya keterangan penyiar berita di televisi.


...----------------...


Ingatan Ga/ Arka.


Krasakkk krasakk


Suara kaki melangkah berat menapaki jalanan hutan yang penuh semak belukar...


"Kepala ku sakit sekali." Arka kesakitan menekan dahi nya bercucuran darah. Ia terus berjalan meminta pertolongan.


"Hei... Berhenti kamu!" Dua orang pria tegap berwajah seram meneriaki Arka dengan membawa pistol di tangannya. "Cepat kejar dia!" Titah pada anak buah, menyuruh untuk mengejar Arka.


"Huh... Mereka masih mengejar ku! Sial ...


Dengan kondisi ku begini aku tak mungkin bisa mengalahkan mereka, " Arka merasa terancam, Dia berlari sampai jatuh bangun karena pandangan mata nya mulai kabur Ia tak melihat didepan ada sebuah jurang yang dalam, Arka terperosok ke jurang itu.


Aaaaaaakkkkk....


Sekumpulan orang itu hanya melihat Arka tak berniat untuk menolongnya. Malah tertawa terbahak-bahak melihat Arka celaka.


"Ha ha ha... Rasakan itu anak sial. Itu lah akibat kau ikut campur urusan ku!!!" Ucap pria berumur setengah abad itu, ku kira dia adalah bos pria garang yang mengejar Arka.


...----------------...


Di depan rumah Nella.


Akhh....


Ga mengaduh sakit, Nella yang melihat Ga kesakitan lalu menanyakan keadaan nya.


"Kau kenapa, Ga?"


Ga mengatakan apa yang baru saja di ingat nya Ia mengingat sebelum Ia ditemukan oleh Nella.


"Aku mengingat itu, dan membuat kepala ku sakit, Nella." Nella mengangguk paham,


"Kau cobalah jangan terlalu memaksakan diri, jika itu semua ingatan mu, berarti kau adalah Arkalios Gurman 'kan." Nella menerka


Ga/Arka masih ragu untuk mengatakan iya. Ia hanya mengangguk sekilas.

__ADS_1


"Tapi kau jangan katakan pada siapa pun tentang ini, aku ingin mencari tahu dulu siapa orang yang ingin mencelakai ku, Aku mohon." Arka meminta Nella untuk menyembunyikan identitas nya, untuk mencari tahu orang yang ingin mencelakai nya, dengan Ia menyembunyikan identitas nya, orang lain akan mengira bahwa Arka sudah meninggal dunia.


Nella merasa sudah paham dengan maksudnya Arka. Ia menganggukkan paham, dia pikir membantu nya sekali lagi tak masalah, kepolosan Nella karena hanya gadis desa tak mengerti dengan politik yang terjadi dalam dunia bisnis. Nella tak tau bila berita mengenai Arka/ Ga sudah tersebar luas di kampung nya.


"Kau sebaiknya ikut aku saja ke kebun, mungkin saja bisa menyegarkan kepala mu yang pusing." Nella mengajak Arka/Ga ke kebun tempat nya bekerja.


"Em... Boleh juga." Ga setuju ajakan Nella. Mereka berdua berangkat menuju kebun.


Setelah berjalan selama 30 menit mereka sampai di kebun Sawit. Nella tak memiliki kendaraan jadi mereka berjalan kaki.


Nella bekerja per lorong barisan sawit. Satu lorong ada pemetik buah, pengambil buah janjang dan Nella pengambil buah yang jatuh dari janjang nya.


"Ini kebun nya, Nella?" Tanya Ga


"Iya, kau duduk lah di sini, aku mau bekerja dulu." Nella menyuruh Ga duduk di gubuk yang berada di kebun sawit itu.


" Jika Aku sendirian di sini Aku tak mau." Ga manja pada Nella.


"Lalu kamu ingin bagaimana, atau kamu ingin ikut kerja dengan ku, Apa kamu 'bisa?"


"Bisa 'lah kalo kamu tunjukan caranya, aku cepat belajar 'kok" Ga bersikeras untuk ikut Nella bekerja.


"Yah... Terserah kau saja. Nih pakai!" Nella memberikan sarung tangan, ember dan serok untuk mengambil buah sawit yang tercecer dari janjang nya.


"Hai, Pak Gono!" Panggil Nella pada pekerja pemetik buah sawit.


"Eh... Nella, Itu siapa sebelah mu?" Melirik pada Ga.


"Hai... Pak Gono, nama saya Ga." Memperkenalkan dirinya.


Pak Gono tersenyum mendengar nama nya yang aneh. Ga merasa canggung.


"Hai, Ga." Sapa Pak Gono. "Sepertinya honor mu akan di bagi dua... Hahaha." Pak Gono meledeki Nella.


"Seperti nya iya pak." Nella menyahut.


Sementara Ga tak mengerti maksud perkataan mereka.


Selanjutnya melakukan pekerjaan kembali.


Ga mengikuti langkah Nella dari belakang, Ga melihat Nella sesekali, ia mengagumi Nella yang bekerja keras, meski masih muda ia tak lantas pantang menyerah, Gadis yang berparas cantik dan baik hati tak malu mempunyai pekerjaan seperti itu.


"Ga... Kenapa melamun, kamu memikirkan apa?" Nella menegur Ga yang bengong.


"Siapa yang melamun, Aku sedang memunguti buah kok." Ga mengalihkan pandangan nya karena ketahuan melamun.


Sedang asyik memunguti buah sawit tak sengaja Ga menabrak sarang tawon yang berada di salah satu pohon sawit. Ga berlari kencang karena sudah tersengat di bagian pipi nya.


"Aaaaaa... Tolong, Nellaa.... " Ga ketakutan memanggil-manggil Nella yang berada jauh di depan nya.


Nella menoleh ke asal suara yang memanggil nama nya, Ia terkejut sekaligus tertawa melihat Ga yang ketakutan di kejar tawon dan berlari terbirit-birit.

__ADS_1


"Ga... Cepat nyemplung ke air!" Teriak Nella memberi aba-aba agar Ga masuk ke kanal dan menyelam ke dalam air supaya tawon itu tak mengejar lagi. Ga mengangguk dan....


Plung


Ga nyemplung ke kanal air dekat pohon sawit, benar kata Nella tawon itu tak mengejar Nella lagi. Setelah tawon itu pergi Ia menghampiri Ga yang basah kuyup.


"Kau baik-baik saja, Ga?" Tanya Nella khawatir.


Ga mengangkat tubuhnya ke daratan, tergeletak lemas. Sinar matahari tertutup oleh wajah Nella.


"Uh... Cantik. Bidadari ku." Gumam Ga.


"Ga... Kamu kenapa? Hei" Nella menepuk pipinya pelan, Ga malah tersenyum sendiri.


"Nih orang kenapa sih kok mulai aneh, atau gara-gara tersengat tawon tadi jadi agak somplak gitu." Nella menggidik merinding melihat Ga


"Hei... Mau di obati gak?"


Ga tersadar wanita itu adalah Nella yang menurut nya sebagai bidadari


"Nella," Ucap Ga lirih.


Nella membantu Ga berdiri dengan baju yang basah kuyup akhirnya memutuskan untuk pulang, karena belum selesai pekerjaan nya di tinggal dan meminta ijin pada mandor.


Selepas itu mereka pulang, Ga kedinginan dengan wajah tersenyum melihat Nella menopang nya membantu berjalan sampai rumah.


"Kau duduklah, aku ambilkan obat oles dulu."


Ga duduk di dipan, Nella mengambil pakaian dan obat oles.


"Kau ganti baju dulu, nanti baru ku olesi obat ini." Nella menyuruh Ga mengganti bajunya yang basah.


Setelah itu Nella mengoles salep pada bagian tubuh Ga yang tersengat lebah. Yang parah adalah di bagian punggung, tadinya Nella tak tau jika punggung Ga juga tersengat, karena Ga mengatakan punggungnya perih dan sakit.


Nella menelan saliva nya susah melihat tubuh Ga yang gagah.


'Sudah berapa kali aku melihat nya telanjang dada, tapi masih bisa merasakan malu ini. Huft... bagaimana ini tangan ku gemetaran. Tapi 'kan waktu itu dia terluka parah, aku sama sekali tak memikirkan hal ini, sekarang aku malah berpikiran hal jorok ini.' Batin Nella bergejolak.


"Sudah belum mengoles nya? Aku mulai kedinginan." Ga menggidik karena dingin.


"Ah... Sudah kok, cepat pakai bajumu." Pipi Nella memerah.


Tiba-tiba salep yang di bawa Nella jatuh, Ia akan mengambil nya, keburu di ambil Ga. Mereka saling memegang benda kecil itu, saling berpandangan, semakin melekat kan pandangan.


Ga mencium bibir Nella, Sang empu bibir pun terkejut, lalu mendorong pelan tubuh Ga.


"Apa yang kau lakukan!" Nella berlari pergi meninggalkan Ga sendirian di rumah.


"Maafkan aku Nella bukan aku bermaksud begitu...." Nella sudah jauh saat Ga mengatakan itu.


...----------------...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2