Kekasihku Ternyata CEO

Kekasihku Ternyata CEO
Bab. 11


__ADS_3

Nella sangat cemas hatinya dengan sikap Arka terhadap ibunya di rumah tadi. Apalagi wanita yang mengaku sebagai kekasih Arka itu sangat di sukai oleh ibunya, Sebagai seorang yang baru tahu kehidupan orang berada, Nella merasa ia tak pantas mendapatkan perlakuan Arka yang memprioritaskan ia ketimbang ibunya


Nella menoleh pada Arka yang sedang menyetir di bangku supir.


"Arka!"


"Iya!" Sahut Arka Menoleh pada Nella sekilas lalu melihat kearah depan lagi.


"Apa kita tidak keterlaluan jika seperti ini, kabur dari rumah orang tuamu? Aku merasa tak enak pada ibumu." Tanya Nella dengan perasaannya yang sedikit gundah karena Arka sudah begitu kasar dengan Alice tadi.


"Kita tidak kabur, Nella. Kita pergi berpamitan, bukan? Kau jangan khawatir begitu." Ucap enteng Arka sedikit menenangkan hati Nella. Namun tetap saja ia merasakan tak enak hati


"Tapi... Lalu Kita mau pergi kemana sekarang?" Tanya Nella yang masih bingung akan kemana ia di bawa oleh Arka


Arka tersenyum mendengar pertanyaan Nella tak menjawab nya dan malah menepikan mobilnya di depan bangunan besar yang berdiri kokoh.


"Kenapa berhenti di sini?" Tanya Nella lagi


"Turunlah!" Arka menyuruh Nella turun dari mobilnya.


"Gak mau! Sebelum kau bilang ini dimana dan kenapa kau membawa ku kemari?" Ucap Nella menatap tajam Arka meminta jawaban.


"Oke baiklah, Jangan galak begitu padaku. Ini adalah apartemen ku, dan aku ingin kau tinggal di sini." Jelas Arka.


"Em... Tapi bukankah kau sedang hilang ingatan, Tapi kenapa sekarang bisa mengingat apartemen mu? Dan apartemen itu apa?" Timpal Nella bertanya pada Arka dengan tatapan polosnya.


Arka lupa jika ia sedang berbicara pada gadis desa yang tak mengenal kehidupan perkotaan modern, tentu saja gadis itu tak tau apa itu apartemen. Dan untuk ingatan Arka itu pulih secara manual yang membuat nya mengingat secara bertahap. Meskipun ingatan nya pulih pun sebaiknya ia harus memeriksa kesehatannya pada medis. Karena ada kemungkinan jika luka di kepalanya masih belum kering.


"Apartemen hampir sama seperti rumah fungsinya, hanya tak memiliki teras dan halaman saja." Jelas Arka, namun Nella masih belum faham dan tak mengerti sedikitpun penjelasan Arka pada-nya.


"Sebaiknya kita turun dulu, nanti akan aku jelaskan semuanya pada mu jika sudah sampai di sana." Arka.


Dan akhirnya Nella mengikuti titah Arka. Ia turun dari mobil begitu juga Arka.


Seseorang datang menghampiri dan menyapa Arka. Mereka berdua yang tadinya akan memasuki lift untuk menuju apartemen di urungkan kembali.


"Hai, Bro!" Seru Pria itu memanggil Arka dengan sebutan 'bro'


"Hai, Wen!" Sapa Arka pada pria itu.


Nella masih terpaku dengan kedua pria yang saling menyapa. 'Siapa pria itu yang menyapa Arka, mereka terlihat begitu akrab?' Batin Nella.

__ADS_1


"Apa dia gadis yang kau maksud?" Tanya pria itu yang berpakaian rapi juga berperawakan gagah tak kalah ganteng dari Arka pria itu ternyata bernama Wen. George Wen sahabat Arka dan juga rekan kerja di perusahaan miliknya.


"Iya. Cantik bukan?" Ujar Arka berbisik pada Wen.


"Iya cantik!" Ucap Wen tak kalah berbisik.


"Ehem... kalian sedang membicarakan apa? Kenapa aku tak mendengar suara kalian?" Seru Nella menatap tajam kedua pria yang berada dihadapannya merasa dirinya di bicarakan.


"Hehe... Kami sedang membicarakan soal masalah pria, dan wanita tak perlu tau." jawab Wen berbohong dan nyengir melihat Nella. Sedangkan Arka menautkan kedua alisnya melihat sahabat nya berbohong pada Nella.


Nella memutar bola matanya malas mendengar jawaban Wen yang ambigu.


"Benarkah! Cih...." Dengus Nella


"Oh ya! Kenalkan aku George Wen panggil saja aku Wen. Dan kamu Nella 'kan?" Ucap Wen berkenalan dengan Nella dan bersalaman.


"Iya." Jawab Nella singkat.


"Sudah bersalaman nya jangan lama-lama!" Ucap Arka bersikap posesif pada Nella, lalu melepaskan tangan Wen yang bersalaman dengan Nella.


Wen menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabat nya itu.


Di lain sisi Regina sudah memberi tahu tentang Nella yang berada mendekati Arka dan sikap Suaeb yang tak peduli dengan Regina yang membuat ayah Regina murka


"Benar, Ayah! Tapi yang membuat aku kesal adalah Si gadis udik itu, sok polos dan kampungan!." Regina mencaci Nella di depan ayahnya.


"Tenang saja, Nak. Ayah akan membuat dia menyesal pernah datang ke kota ini!" Senyuman jahat terpampang jelas dari raut wajah ke-duanya.


Kembali pada apartemen Arka.


Setelahnya Mereka bertiga berjalan menuju lift


Arka memencet tombol untuk membuka, Saat Mereka bertiga akan memasuki lift yang terbuka Nella sedikit takut.


"Ini tempat untuk apa? Kenapa bentuknya kotak? Dan pintunya bisa terbuka sendiri." Nella yang masih belum pernah melihat lift merasa asing dengan yang ia lihat sekarang.


"Ini adalah tempat teleportasi menuju ke ruang angkasa, jadi kau sebaiknya berpegangan pada Arka, agar tak jatuh. Dan tutup matamu juga." Wen mengada-ada ucapannya pada Nella. Ia sengaja mengatakan itu agar Nella bisa menempel pada Arka.


Arka terheran mendengar sahabatnya itu membantunya berdekatan dengan Nella.


"Benarkah itu yang kau katakan? Kenapa aku jadi ragu."Nella yang ragu akan ucapan Wen padanya.

__ADS_1


"Kalau tak percaya ya sudah!" Ucap Wen lalu memencet tombol ke atas menuju apartemen Arka.


Sedikit guncangan dalam lift itu membuat Nella ketakutan dan tak sengaja memeluk Arka yang berada di sampingnya.


"Tolong jangan lepasin pelukanku ini, Aku benar-benar takut Arka." Ucap lirih Nella pada Arka


"Aku takkan melepaskan mu, Nella." Ucap lirih Arka.


'Ternyata Gadis itu sangat polos sekali' Batin Wen terkikik sendiri, ternyata gadis itu mudah di bohongin dan dikerjain.


Sampai pada lift terbuka dan Nella masih memejamkan matanya. Ia takut untuk membuka mata jikalau yang di ucapkan Wen benar, dan ia benar-benar terjatuh, sungguh bukan hal yang lucu bukan?


"Nella. Kita sudah sampai di depan apartemen ku. Ayo kita masuk dan buka 'lah matamu." Arka mengusap lembut lengan Nella yang masih bergelayut pada lengannya.


"Tapi aku takut jatuh, Arka" Ucap Nella


"Kau 'kan sudah berpegangan padaku, jadi buka lah matamu" Arka membujuk agar Nella membuka matanya.


Nella menilik sekitar matanya, melihat sebuah pintu berdiri kokoh dengan segala tombol di pojok kiri nya.


Wen menempelkan ID card milik Arka di samping handle pintu yang selalu ia bawa bila sewaktu-waktu sahabat nya itu jika ingin singgah ke apartemennya.


Mereka bertiga memasuki apartemen setelah pintunya terbuka. Nella melongo melihat isi ruangan itu. Dapur dan ruang keluarga jadi satu.


"Ini sangat luas... Dan semuanya yang kita butuhkan ada di dalamnya.Ada servis juga untuk mendapatkan kenyamanan disini. Dan Nella jika kau meminta sesuatu bisa menghubungi lewat telepon di meja itu. Nomor nya 111 Itu tersambung langsung pada staf yang mengurus keperluan mu di sini." Jelas Wen pada Nella.


"Jadi, Arka. Kau tak perlu mengkhawatirkan gadis-mu akan kesulitan di sini." Sambung nya di tujukan pada Arka.


"Good job! Terima kasih, Wen. Kau memang sahabat terbaik ku." Arka memuji persentase Wen pada apartemen miliknya.


" Sekarang kau boleh tunggu aku dibawah" Sambung Arka menyuruhnya ke lobi.


"Ya Ampun, Ar. Baru juga masuk, gua udah mau di usir aja sama lo." Ujar Wen mengeluarkan perkataan khasnya.


"Sudah!!! Cepetan keluar... Ada yang ingin aku bicarakan dengan Nella!" Arka menatap tajam Wen yang bermain-main dengan perintahnya.


"Oke... Oke... Gua turun sekarang, Bye bye Nella!" Ucapnya melambaikan pada Nella dan melenggang pergi menuju ke lobi.


Nella penasaran apa yang ingin di bicarakan Arka pada-nya.


"Kau bilang pada temanmu, ada yang ingin kau bicarakan pada-ku? Apa itu" Tanya Nella.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2