
Arka melirik Nella yang tengah menatap lekat dirinya lalu menghampirinya. Tanpa di sadari oleh Nella, Arka sudah berada tepat di hadapan nya.
Dengan lembut, Ia menyisipkan sehelai rambut poni milik Nella yang menutupi pipinya.
*Degh
Degh...
Seketika jantung Nella berdetak Cepat, merasakan nafas yang memburu panas di dadanya.
Hembusan nafas lembut menerpa wajahnya, Nafas harum milik Arka menjadikannya terpaku pada kehangatan yang terdapat di dalam sebuah gelombang asmara berkecepatan tinggi hingga menembus langit biru.
Betapa terhanyut keduanya dalam melodi asmara yang mendayu-dayu,
Ceklek...
Tiba-tiba pintu ruangan kantor milik Arka terbuka.
"Arka! Hari ini schedule kamu padat..." Ucapannya terhenti kala melihat dua sejoli yang melotot melihat nya tengah berdiri di bibir pintu yang terbuka.
Wen, masuk tanpa mengetuk pintu, membuyarkan gejolak asmara yang hampir menyentuh beradu bibir terhenti oleh kedatangan nya.
"Waduh! Salah waktu masuknya Nih...
Pasti nanti kena omel lagi." Gumamnya menutup rapat mulutnya dan menatap dengan puppy eyes agar Arka merasa kasihan padanya dan tak marah.
Namun nyatanya sahabatnya itu sudah menunjukkan kekesalan padanya.
"Wen! Lain kali kalau mau masuk ruangan ku, ketuk pintu dulu!" Menekankan setiap kata karena hasratnya terhenti di tengah jalan
"Sorry, Ar. Ini penting soalnya, lagi pula, biasanya juga gak perlu ketuk pintu." Desisnya yang beralasan.
"Sudah-sudah... Jangan di bahas lagi! sekarang aku ingin kamu mengajari Nella tugas untuk menjadi asisten pribadi ku." Perintah Arka.
Wen melongo mendengar titah bos nya itu.
"Apa aku gak salah dengar, Ar? Aku 'kan yang jadi asisten kamu. Lalu kalo dia asisten kamu sekarang, trus kerjaan aku apa dong?" Protes nya lalu bertanya
Arka memutar bola matanya malas.
"Apa kamu gak mau jadi asisten ku lagi, hem? Pakai mempertanyakan pekerjaan lain pula!" Tukas Arka.
"He... Jadi aku dan dia kerja sama gitu untuk jadi asisten kamu?" Tanya Wen
"Iya" Jawabnya singkat.
Setelah itu Wen memberikan arahan pada Nella untuk menjadi asisten pribadi Arka.
Nella sama sekali belum paham dengan penjelasan Wen untuk tugas-tugas nya.
Nella merasa pusing melihat tulisan yang begitu banyak, sedangkan Wen sudah hampir putus asa mengajari Nella.
Arka tersenyum melihatnya.
"Sisipkan jadwal untuk hari rabu dan kamis aku akan mengajar dua jam pertama saat masuk kantor." Titahnya pada Wen
__ADS_1
Wen menautkan kedua alisnya mendengar titah sahabat nya itu yang menurutnya aneh
"Mengajar. Mengajar siapa, Arka?" Tanya Nella di sela-sela perbincangan
"Tentu saja Kamu, La." Jawab Arka lembut menyentuh punggung tangan Nella.
Wen menatap bergantian dua orang yang berada di hadapan nya.
"Ha... Iya." Jawab Wen malas berlalu meninggalkan ruangan Arka.
'Dasar sahabat lucknut. Gak mandang jomblo apa tebar kemesraan di depan mata. Huh... Nasib memang nasib jomblo, Untung bos Gue... kalo bukan,udah tak hih.' Gumam Wen menuju ruangan miliknya.
Setelah jam kerja kantor habis, Semua pegawai sudah pulang.
Arka menyuruh Wen untuk menyetir mobilnya, karena kepalanya merasa pusing.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit aja, Ar. Mungkin dokter bisa periksa kepala kamu yang sakit." Wen memberi saran sambil menyetir.
"Udah... Lo fokus nyetir aja, Gak usah banyak omong!" Tegas Arka yang duduk di kursi belakang bersama Nella
"Tuh 'kan... Gitu tuh kalo di suruh ke rumah sakit, pasti bawaan nya emosian." Ujar Wen
"Bener kata Wen, Ar. Sebaiknya kita periksakan kepala kamu, mungkin bisa mengurangi rasa sakitnya." Ucap Lembut Nella mengelus pundak Arka.
"Tapi, Nella... Aku... Sebenarnya..." Ucapan nya terhenti dan dilanjutkan oleh Wen
"Sebenarnya dari kecil Arka itu takut jarum suntik, La. Dan kalo di suruh minum obat juga suka nolak-nolak gitu. Pokoknya dia itu anaknya super ribet 'lah di urusin kalo masih sakit." Tukas nya.
Ucapan Wen tentang nya, membuat wajah Arka memerah, Nella terkikik sendiri menahan tawanya melihat raut wajah Arka.
"Oh... Jadi itu masalahnya, Gak papa Kok, Ar. Aku juga dulu takut kalo mau di suntik mantri pas waktu sakit. Tapi kata Nenek, kalau kita mau sembuh, kita harus menahan sakit sebentar untuk menghilangkan sakit yang lama." Ucap Nella
Setelah berhasil membujuknya, Arka memutuskan untuk mau di periksa di rumah sakit.
"Oke deh, Gua mau periksa ke rumah sakit sekarang."
"Oke, Cus lah..." Wen memutar kemudi menuju rumah sakit,
Beberapa menit kemudian mereka sampai di halaman rumah sakit,
Tubuh Arka sedikit lemas karena pusing yang berkunang-kunang.
Nella sedikit menopang tubuh milik Arka yang terhuyung.
Nella jadi teringat saat-saat ia menolong Arka pertama kalinya hingga menggendong sampai rumah, Kejadian tak terduga kala baru saja kehilangan Nenek tercintanya.
"Nella. Kenapa melamun?" Arka.
Tersenyum lalu membantunya berjalan.
"Gak papa kok." Menggelengkan Kepalanya.
Pemeriksaan intensif di ruang UGD, seluruh bagian tubuh di scan terutama bagaian kepalanya.
Dokter membaca hasil dari scan nya.
__ADS_1
"Luar biasa, dengan luka yang begitu banyak, bisa di sembuh kan dengan hanya obat tradisional, tak bisa di percaya. Tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun. " Dokter yang terheran-heran dengan hasil yang mengejutkan dunia medis.
"Apa obat ramuan yang kau buat untuk tuan Arka, hingga obat medis pun belum tentu bisa menyembuhkan dengan cepat begini? Bahkan luka di kepala nya pun bisa pulih." Sambungnya lalu bertanya pada Nella
"Itu ramuan turun-temurun dari Nenek saya, Dan saya hanya memanfaatkan tumbuhan yang ada di hutan saja." Jawabannya penuh kemantapan hati
Dokter Guso manggut-manggut mendengar ulasan Nella.
"Tapi, Dok. Kenapa Arka mengalami pusing dan lemas, jika luka di kepala nya sudah sembuh?" tanya Nella.
"Ini karena obat yang ia minum menyebabkan ia merasa pusing sekarang." Jawab dokter
"Tapi, ini obat dari ibu saya, mana mungkin itu penyebab nya." Arka.
"Coba perlihatkan obat itu pada saya untuk di periksa kebenarannya. Kau masih menyimpan obat itu?" tanya Dokter
"Iya, Dok. Selalu saya bawa di kantong saya." Arka merogoh saku celana nya dan memberikan kapsul kecil yang pemberian ibunya.
Alice bilang itu adalah suplemen makanan dan penyenyak tidur, sehingga Arka meminumnya setiap hari.
"Setelah dua hari, saya akan memberikan hasil penelitian obat anda ini, Tuan." Ucapnya
"Baik, Dok."
"Untuk selanjutnya mengurangi rasa pusingnya, Nona Nella bisa membuatkan minuman yang sama saat merawat Tuan Arka sesuai kecelakaan itu, Obat itu sangat ampuh ketimbang resep obat saya." Ujar Guso.
"Baik, Dok. Akan saya coba."
Setelahnya dokter meminta Nella untuk ikut meneliti ramuan obat-obatan bersamanya.
"Tapi, Dok. Saya hanya memiliki pendidikan yang rendah, dan saya merasa tak pantas mendapat kehormatan ini." Nella menolak dengan cara halus.
"Tak apa, La. Kau bisa mencobanya, siapa tahu keahlian mu ada di bidang ini." Ujar Wen,
Lalu Arka melotot padanya.
'Takut tuh, di tinggal sama Nella, Gitu amat liat gua.' Wen menundukkan kepala nya melihat sahabat nya melotot padanya.
"Tapi, Apa ada jaminan jika penelitian ini tidak akan menimbulkan resiko?" Arka sedikit tak suka ajakan Dokter pada Nella
"Semua hal yang kita lakukan pasti ada resiko nya, jaminan untuk keselamatannya tentu saja pasti ada. Tapi Tuan Arka jangan khawatir, Kita akan meneliti di desa Nona Nella. Desa Sukamaju." Ujar Dokter.
"Baiklah, Saya mau dok." Jawab Nella mantap setelah mendengar kata desa miliknya.
Arka terlihat sedih mendengar nya. Ia merasa Nella akan pergi meninggalkannya selamanya.
Nella melihat raut wajah itu saat di dalam mobil arah pulang ke apartemen,
Arka hanya terdiam tak mengatakan sepatah kata pun. Ia menjadi murung mendengar Nella akan kembali ke desa bersama dokter itu.
Dokter Guso gagah dan tampan, masih lajang, Namun niatnya mengajak Nella benar-benar untuk wawasannya tentang ilmu pengobatan tradisional.
Ternyata membuat Arka cemburu.
...***********...
__ADS_1