Kekasihku Ternyata CEO

Kekasihku Ternyata CEO
Bab 7. Memasuki Istana horang kaya


__ADS_3

"Iya... " Nella menjawab teriakan temannya yang menangis tersedu melihat nya akan masuk ke mobil Suaeb.


"Hati-hati ya disana jaga dirimu baik-baik." Ucap Gea lalu melambaikan tangannya pada Nella. Lalu Nella mengangguk menjawab seruan Gea.


"Kau juga ya." Perlahan mobil melaju meninggalkan desa Sukamaju.


Supir pribadi keluarga Suaeb bernama Kang Asep melajukan mobilnya. Alice masih terlihat kesal pada suaminya terlebih lagi pada Nella.


"Pa... Bocah itu nanti akan tinggal dimana? " Di tengah-tengah kesunyian dalam mobil Alice menanyakan pada suaminya dimana nanti Nella tinggal dengan sebutan bocah.


"Maksud mama siapa? Nella... Dia akan tinggal rumah kita lah, Ma. Papa juga berencana untuk Nella bisa bekerja di salah satu perusahaan kita" Ucap Suaeb pada Istrinya. Alice membulatkan matanya mendengar ucapan suaminya yang akan memperkejakan Nella di salah satu perusahaan cabang Garmen.


"Apa mama gak salah dengar, Pa? Gadis udik seperti nya mau bekerja jadi apa di perusahaan papa, bukankah yang bekerja di sana hanya orang-orang yang berpendidikan tinggi saja!" Alice lagi-lagi mengulang kesalahan yang sama, ia malah menghina Nella kembali dengan ucapannya menyebut gadis udik.


Nella hanya terdiam, ia meredam perasaannya yang bergejolak dengan menekan-nekan jemarinya yang berada di atas pangkuannya, ia merasakan dingin disudut jari miliknya.


Arka yang duduk berada di samping gadis itu berusaha memberikan kepercayaan diri dengan meremas lembut jemari Nella, sungguh pria yang pengertian.


"Nella nanti akan bersekolah juga Ma. Jadi jangan khawatir masalah itu. Dan gadis ini bernama Nella bukan udik." Ucap Arka pada Mamanya kini mendengus sebal mendengar anaknya malah membela gadis itu.


"Terserah kalian saja!" Ucap Alice lalu menghadap ke arah jendela mobil yang menampilkan pemandangan perkebunan sawit dan ada juga pohon karet yang luas sejuk serta rindang.


Suaeb geleng-geleng kepala melihat sikap istrinya yang angkuh, mungkin karena ia terlalu memanjakan istrinya dengan kekayaannya hingga sikap nya pun menjadi arogan pada orang berstatus sosial rendah.


Sementara Nella terus berusaha menikmati perjalanan itu, jarak yang di tempuh berjam-jam hingga sampai ke kota.


Begitu sampai di kota Nella terkagum-kagum melihat bangunan yang menjulang tinggi hampir menembus langit menurut nya yang tak pernah bisa ia lihat di desa tempat nya tinggal.


"Wah... Bangunannya tinggi-tinggi sekali ya...." Gumamnya lirih yang masih terdengar oleh Alice, jiwa perjulidannya meronta-ronta ingin mencibir Nella.


"Dasar kampungan! Melihat gedung seperti itu saja sudah heran. Apa lagi nanti lihat istana kita. Heh!" Ucap Alice dengan mulut pedasnya, seperti tiada rem cakram yang bisa mencegatnya membuli Nella.


Nella tak mendengarkan celotehan wanita paruh baya itu mengalihkan pandangan nya dengan asyik melihat-lihat gedung dari jendela mobil yang menyita perhatiannya.


Setiba nya dikediaman keluarga Suaeb. Gerbang tinggi mungkin sekitar 5 meter tingginya terbuka otomatis. Mobil yang membawa mereka memasuki pelataran istana yang mewah nan megah itu.


Mereka semua turun dari mobil, Nella masih ternganga melihat gedung yang ada di depan mata nya, begitu luas, berdiri kokoh dengan desain modern tapi tak kehilangan sisi kehangatan namun ada kehampaan di dalamnya. Alice yang melihat Nella ternganga oleh kemegahan rumah milik Keluarga Suaeb itu gatal ingin menegur Nella.


"Nah 'kan... Dia malah melongo sekarang!" Celotehan yang tak dianggap oleh kedua pria itu maupun Nella, Alice yang merasa diabaikan lalu berkata,


"Aku mau masuk duluan!" Dengan langkah gontai Alice menuju kediamannya.


"Sudah... kau jangan dengar kan Mama nya Arka ya, Dia memang seperti itu pada orang baru,sebaiknya nanti jika ia mengatakan apapun kau anggap angin lalu saja." Ucap Suaeb pada Nella Lalu mengikuti langkah istrinya itu mungkin sudah sampai di ruang pribadi nya.


Barang-barang Nella akan dibawa masuk oleh pak Asep tapi di cegah oleh Nella, ia merasa tak enak hati jika dibawakan oleh supir itu.

__ADS_1


"Biar saya saja, Pak." Ucap Nella lalu meraih tas yang berada di genggaman Asep itu.


"Tidak apa-apa, Non. Ini sudah menjadi tugas saya, non pasti capek 'kan." Asep memaksa untuk membawakan tas nya Nella. Tapi Nella juga kekeh ingin membawanya sendiri, dengan begitu Asep lalu membiarkan Nella membawa tas nya sendiri.


"Non Nella gadis yang sangat baik. Dan tak suka merepotkan orang lain." Ucap Asep memuji gadis cantik itu hanya tersenyum. Namun Arka melihatnya tak suka,


"He'em... Pak Asep apa tak ada kerjaan lain berani merayu wanita didepan ku! Lagian Nella itu gak selemah wanita biasanya,Pak. Dia ini wonder Woman." Ucap Arka lalu memberi kode agar Asep segera pergi hadapannya.


"Hehehehe... Maaf tuan saya gak ngerayu siapa-siapa kok, kalo begitu saya permisi." Asep melenggang pergi menuju mobil yang digunakan tadi dan membawanya ke garasi. Asep Ngeri-ngeri sedap melihat tatapan tuan mudanya yang tak suka saat ia berbincang dengan Nella.


Setelah itu Nella dan Arka memasuki ruangan utama di rumah itu. Berbagai macam hiasan rumah terpampang jelas di ruangan itu. Vas besar,lukisan langka, foto keluarga dan masih banyak barang bagus lainnya yang terpajang rapi di ruangan tersebut.


"Rumah mu mewah sekali ya, Pantas saja kamu terlihat tak nyaman di rumah ku yang berada di desa." Ucap Nella mengingatkan Arka waktu di desa.


"Siapa bilang... Aku sangat nyaman di sana, cuman karena nyamuknya banyak membuat ku tak bisa tidur." Ucap Arka meringis pada Nella.


"Namanya juga hidup di pinggiran hutan, jelas banyak nyamuk lah" Gumam Nella yang masih terdengar oleh Arka


"Aku akan tunjukkan kamar mu. Ayo ikutin aku!" Arka menarik lengan Nella mengajak nya ke lantai atas rumah nya.


"Dimana?" Tanya Nella bingung rumah sebesar itu begitu memiliki banyak ruangan.


"Sudah ayo ikut saja" Jawab Gio dan mereka menuju ke lantai atas rumah Arka.


"Ini kamar mu, Nella." Arka membuka pintu kamar yang tadinya sudah di buka kuncinya.


Kamar yang luas menurut Nella. Dekorasi berwarna silver dengan jendela menghadap ke balkon.


"Luas sekali kamar ini, Ga. Sepertinya terlalu besar untuk ku tempati sendiri." Ucap Nella melihat kamar yang begitu luas seluas rumahnya yang berada di desa.


"Jika kau merasa terlalu besar untuk kau tempati sendiri, bagaimana jika kita tidur bersama?" Ucap Arka lalu duduk di tepi ranjang besar.


"Kamu gila ya. Kita 'kan belum menikah, jangan berpikir yang macam-macam, aku hanya tak enak hati saja jika tidur di tempat sebagus dan seluas ini." Nella lalu ikut duduk di samping Arka.


"Ini adalah hadiah untuk mu dan kau tak bisa menolaknya, Mengerti."


"Hem... Baiklah jika kau memaksa." Nella menerimanya begitu saja.


"Oh ya, jika kau butuh sesuatu, kau bisa memanggilku ke kamar sebelah adalah kamar ku. Atau kau bisa panggil saja bibi di dapur." Ucap Arka lalu berdiri.


"Ah... Iya, Ga. Eh... Arka maksudnya" Nella kembali salah menyebut nama Arka dengan sebutan Ga.


"Kamu bisa memanggilku Ga. Itu bila nyaman untuk mu aku tak masalah." Ucap nya lalu melenggang pergi dari kamar Nella, Nella menutup pintu kamarnya.


Setelah itu Nella merasa gerah ingin mandi. Ia menuju bath up untuk mandi, Nella bingung dengan kamar mandi yang berbentuk seperti itu. Biasanya juga cuman mandi di kali.

__ADS_1


Sesekali menekan tombol merah airnya berubah menjadi panas dan menekan tombol hijau airnya berubah menjadi dingin.


Malam ini adalah makan malam di keluarga Suaeb Sebenarnya bukan maksud menghina pakaian yang dibawa Nella sedikit kampungan Maka itu Arka menyuruh Bibi di rumah nya untuk membantu Nella dan memberikan satu set pakaian yang pernah ia beli sebelum nya, tapi Arka lupa pakaian itu untuk siapa, Ingatan nya belum pulih sempurna, jadi daripada mubazir lebih baik ia berikan untuk Nella pakai.


Lalu ia mencari keberadaan Anih langkah kakinya menuju dapur.


"Bi!" Panggilnya


"Tuan muda sudah pulang!" Anih memeluk Arka seperti layak nya seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah lama tak bersua. Arka membalas pelukan Anih.


"Bagaimana keadaan nya, Aden? Bibi khawatir sekali mendengar berita kecelakaan dan jatuh ke jurang, sampai-sampai bibi tak bisa tidur memikirkan keadaan Aden. Aden baik-baik saja 'kan?" Anih mencurahkan segala kekhawatiran nya pada Arka. Bagaimana tidak, Anih tak memiliki keturunan dan lagi suaminya juga sudah meninggalkannya, Hidup nya hanya ia curahkan untuk keluarga Suaeb semata dengan mendengar tuan kesayangannya kecelakaan membuatnya sedih.


Anih adalah ART yang sudah merawat Arka sejak kecil, dan Arka menganggap ia seperti ibu kandung nya sendiri.


"Aku baik-baik saja, Bi. Jangan khawatir aku ini pria kuat dan tangguh." Arka menunjukkan otot besar miliknya yang berada di pangkal siku.


Anih tersenyum melihat kekonyolan tuan mudanya.


"Oh ya. Tuan tadi panggil bibi ada apa?"


"Tolong bawa pakaian ini untuk Nella. Dan bantu dia untuk mandi, Kemungkinan ia tak tau cara menggunakan shower karena di desa seingat ku kita jika mandi harus pergi ke sungai. Bi" Titah Arka pada Anih.


"Siapa itu Nella, Tuan?" Tanya Anih karena Arka belum memperkenalkan Nella padanya.


"Dia adalah Gadis desa yang menolong ku hingga aku bisa masih hidup sampai sekarang, Bi. Gadis desa yang sangat cantik."


"Wah ... Aden sepertinya menyukai gadis itu ya?"


"He'em Bi. Tapi dia wanita yang unik, ia tak mau ku ajak berpacaran padahal 'kan aku ganteng begini bisa-bisanya di tolak." Arka bercerita pada Anih seperti seorang anak pada ibunya. Ia lebih nyaman bercerita dengan Anih ketimbang Alice.


" Gadis itu berani sekali menolak Tuan ganteng saya. Tuan tadi bilang pernah mandi di sungai, apa itu benar?"


Arka mengangguk menjawab pertanyaan embannya.


"Em... Bahkan bersama beberapa orang lainnya, Bi. Tapi itu sangat menyenangkan sekali." Ucap Arka membayangkan rambut Nella yang basah terkena air, saat itu Arka belum bisa mandi sendiri karena kondisi kakinya yang belum sembuh setelah tragedi itu.


"Tuan muda membuat Bibi jadi geli dengernya, Ya sudah Bibi bantu Non Nella dulu ya." Ucapnya lalu memasuki kamar Nella yang tak terkunci. "seumur-umur baru kali ini tuan muda merasa dekat dengan orang lain selain orang tua dan sahabatnya itu." Gumam batin Anih tak percaya dengan ucapan tuannya yang kini berubah.


"Non Nella... Maaf Bibi nyelonong masuk!" Panggil Anih pada Nella namun tak ada sahutan. Malah terdengar suara gemercik air yang mengalir.


"Aww!!" Nella menjerit


...----------------...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2