Kekasihku Ternyata CEO

Kekasihku Ternyata CEO
Bab ketiga. Fitnah Penduduk desa.


__ADS_3

Bab ketiga. Fitnah penduduk desa.


Pagi itu Nella berpikir bagaimana jika ia memberi nama pada pria itu, setiap hari memanggilnya 'hei' terdengar tidak sopan.


"Em ... bagaimana kalau aku memberi nama kamu?" tanya Nella menatap lelaki di depannya yang tengah duduk di kursi panjang miliknya yang setiap malam ia gunakan untuk tidur, karena kamarnya di dalam rumah Nella hanya satu dan sekarang digunakan oleh pria malang itu. Ia tak tega jika orang sakit tidur di luar, jadi Nella membiarkan pria itu menggunakan kamarnya.


"Memangnya ada nama yang bagus untukku? Aku tak mau jika nama untuk ku itu jelek," ucapnya membuang muka pada Nella.


"Belum juga memberi tahu nama itu, kamu malah sudah mau menolaknya. Apa kamu ingin aku memanggilmu 'hei' terus begitu?" gerutu Nella.


Pria itu menatap Nella, melihat Nella mengerucutkan bibir membuatnya gemas. 'Wanita ini jika cemberut begitu menggemaskan juga' batinnya.


"Kau marah padaku? Baiklah aku setuju apa pun nama yang kamu berikan padaku," ucap pria itu pasrah apa pun nama yang diberikan padanya karena tak ingin melihat Nella marah.


Nella tersenyum mendengar kepasrahan pria itu.


"Apa ya ... namamu Ga saja. Oke tidak? Oke dong," ucap Nella memberitahu nama pria itu sekarang.


Pria itu menaikan salah satu alisnya mendengar nama yang diberikan oleh Nella sangat pendek dan menurutnya aneh.


"Pendek sekali namaku," protesnya.


"Nama itu mudah diucapkan dan diingat. Sudah, terima saja nama itu. Tak ada protes." Nella menyilangkan lengan ke dada agar pria itu tak protes lagi. Setelah perdebatan nama yang sengit, akhirnya pria itu menerima nama yang diberikan oleh Nella.


Di sisi lain rumah Nella ternyata ada yang mengintip dari jendela aktivitas Nella dengan pria itu yang sekarang bernama Ga.


"Ternyata Nella menyembunyikan seorang pria di dalam rumahnya," ucap pria yang bersembunyi di balik jendela kamar Nella.


"Menarik, ini akan aku sebarkan pada para penduduk, agar ia dituduh kumpul kebo. Nella siap-siap kamu di usir dari kampung ini!" gumamnya tersenyum jahat, lalu melancarkan rencana jahatnya pada Nella.


Pria yang bernama Rojak itu adalah pria yang pernah ditolak cintanya oleh Nella. Mungkin karena sakit hati Nella tak menerima cintanya lalu kesempatan ini ia ambil untuk membalas dendam.


Karena berita itu sudah melebar luas, penduduk desa berbondong-bondong ke rumah Nella untuk memastikan kebenarannya. Ibu-ibu yang tukang julid itu pun sangat antusias mengikuti langkah Rojak menuju rumah Nella.


Tok! Tok!


Suara pintu rumah Nella diketuk. Segera Nella membukanya, ia terkejut melihat sekumpulan orang mendatangi rumahnya.


"Ada apa ini, Pak Wawan. Kenapa para warga mendatangi rumah saya?" Nella bertanya pada salah satu orang itu, Pak Wawan adalah kepala dusun.


"Begini Nella, maaf sebelumnya kami mendengar bahwa kamu sudah menyembunyikan pria di rumahmu ini dan kami mengira kamu sudah kumpul kebo. Jadi kami semua mendatangi rumahmu hanya untuk memastikan kebenaran berita itu." Pak Wawan menjelaskan maksudnya.


Nella terkejut mendengar cerita Pak Wawan, lalu ia menyuruh Pak Wawan masuk ke rumahnya dan mempersilakan duduk. Warga berkerumun di samping Pak Wawan yang duduk. Nella yang merasa tak melakukan tuduhan itu terus membela diri. Ia menjelaskan semuanya kejadian yang menimpanya di hutan kepada semua orang, mereka awalnya tak mempercayai perkataan Nella karena hasutan dari Rojak.


"Halah, tidak usah bohong kamu, Nella. Di mana pria itu jangan coba-coba menyembunyikannya!" Rojak yang menolak percaya dengan ucapan Nella. Ia terus berusaha membuat warga percaya pada ucapannya dan memojokkan Nella.


"Rojak! Sebaiknya kamu diam jika kamu tak tau apa-apa. Dia sedang istirahat di kamarku karena lukanya belum sembuh dan masih sulit untuk berjalan," sungut Nella yang kesal tak hentinya Rojak memfitnahnya.


Dari balik kamar, Ga mendengar ucapan Pak Wawan dan warga yang datang. Ia berjalan tertatih untuk membantu Nella berbicara bahwa yang dituduhkan mereka tak benar.


Nella melihat Ga keluar kamar lalu membantunya berjalan. Warga yang melihat kehadiran Ga terdiam.


"Apa ada bukti jika aku benar-benar melakukan zina itu. Lihatlah pria yang aku tolong ini, berdiri pun tak sanggup bagaimana mungkin kami melakukan hal yang tidak senonoh itu." Emosi Nella meluap-luap.


"Bagaimana ini, Pak Wawan. Apa ucapan Rojak bisa dipercaya? Sedangkan kita lihat sendiri apa yang dikatakan Nella tak bohong." Salah satu warga bertanya keputusan ada di Pak Wawan.


"Iya kita lihat sendiri ‘kan bahwa mereka berdua tak melakukan yang kita tuduhkan. Jadi kita bubar sekarang," ucap Pak Wawan menyuruh warganya itu untuk pulang ke rumah masing-masing.


Warga sangat mematuhi keputusan kepala dusunnya itu, dan warga mengikuti perintahnya. Akhirnya Nella lega dengan keputusan Pak Wawan. Ia berterima kasih karena Pak Wawan telah membantunya. Rojak terlihat kecewa dengan keputusan Pak Wawan, ia meninggalkan rumah Nella dengan kesal karena rencana jahatnya tidak berhasil.


Setelah itu Pak Wawan berpamitan untuk pulang. Namun sebelum itu ia menasehati Nella, bila ada hal seperti ini harus melaporkannya pada kepala dusun dulu.


Nella meminta maaf karena memang termasuk juga kesalahannya yang tak melapor hingga menimbulkan fitnah.

__ADS_1


Ga melihat Nella yang sedih karena menolongnya dan membuat Nella harus mengalami hal ini.


"Maafkan aku, ya. Karena kamu menolongku, kamu jadi mengalami hal seperti ini," ucapnya merenungi nasib.


Nella tersenyum melihat Ga sedih.


"Kenapa harus meminta maaf, ini juga salahku karena tak melapor setelah menemukanmu." Nella mencoba menerima nasibnya.


"Tapi memang harus semua warga ikut membully kamu begitu?" Ga yang merasa warga berlebihan terhadap Nella.


"Namanya juga tinggal di desa jadi kehidupannya disorot oleh tetangga." Nella menyentuh keningnya yang tak pusing.


Kruyuk!


Terdengar suara dari perut Ga. Ia membeku sejenak, lantas menatap pada Nella.


"Kau lapar?"


Ga tersenyum malu pada Nella.


"Hehe ... iya." Ga menggaruk kepala yang tidak gatal.


Nella lalu beranjak dari bangku dan mengambilkan sepiring nasi berisi lauk tahu dan tempe.


"Kenapa makanan ini begitu asing bagiku?" Ga yang merasa tak pernah memakan makanan sederhana itu.


"Sebenarnya kamu ini siapa, sih? Makanan seperti ini saja kamu tak pernah memakannya. Bagaimana kamu hidup sebelumnya?"


Ga memakan lahap masakan Nella.


"Rasanya tak terlalu buruk." Mulut Ga berkomentar.


Nella hanya tersenyum sekilas sambil menelan salivanya karena ia juga lapar belum makan.


"Hanya itu nasi yang aku punya. Kau habiskan saja, aku belum lapar." Nella berbohong padahal ia sangat kelaparan.


Ga mendengar suara perut Nella yang lapar, menyodorkan satu sendok nasi ke mulutnya.


"Makanlah. Aku suapi kamu."


Nella tak menolak suapan itu langsung melahapnya. Mereka suap-suapan, kejadian itu dilihat oleh sahabat Nella, Gea.


"Cie cie ... pantas saja kalian dikira kumpul kebo, habis seperti pasangan kekasih." Gea meledek.


Nella merasa malu dan Ga langsung menghentikan makannya.


"Kamu ini bicara apa sih, Gea. Kamu juga dari mana saja, teman susah malah tak muncul." Nella merajuk pada Gea.


Gea gemas melihat Nella yang mengerucutkan bibir saat marah, lalu mencubit pipi Nella.


"Aw, sakit tahu!" Nella mengaduh sakit.


"Habis kamu gemesin."


Ga yang merasa diacuhkan beranjak dari duduknya menuju ke kamar.


"Aku mau ke kamar."


Nella mengangguk dan membantu Ga berdiri.


Nella menghampiri temannya kembali setelah membantu Ga ke kamar.


"La, kamu tau tidak? Tadi aku lihat berita di TV, katanya ada pengusaha muda yang menghilang dari kecelakaan mobilnya. Dan fotonya mirip sekali dengan dia." Gea berbicara berbisik agar tak terdengar Ga.

__ADS_1


"Benarkah? " Nella tak percaya cerita Gea.


"Benar. Coba kau tanyakan padanya." Gea meyakinkan Nella


"Jika dia tidak amnesia mungkin aku tidak akan memberi dia nama juga." Nella mendesah sebal.


"Apa? Amnesia?" Gea terkejut.


"Iya. Dan nama Ga yang aku berikan padanya, agar mudah diingat." Nella beranjak dari kursinya dan menyuruh Gea pulang. Karena hari mulai malam ia ingin istirahat.


Setelah sahabatnya pulang, Nella lalu merebahkan diri ke bangku panjang miliknya.


Ia memejamkan matanya perlahan, lelah harinya ia lewati teringat kembali jika nenek masih hidup mungkin bisa berbagi dengannya.


Nella meneteskan air mata bila teringat orang yang telah merawatnya sedari kecil kini telah tiada.


Saat mata mulai terpejam, Nella mendengar suara Ga berteriak.


"Akh, tidak!" Ga berteriak meneteskan peluh yang banyak. Nella mengucek mata, terseok-seok melangkah menuju asal suara.


"Hei, bangun!" Nella menepuk pipi Ga karena berteriak dengan mata yang masih terpejam.


Ga terbangun dengan napas tersengal.


"Minumlah." Nella memberikan segelas air.


Gluk! Gluk!


Ga meminumnya cepat.


"Kau kenapa berteriak-teriak. Ini sudah malam. Aku ingin istirahat—hoam!" Nella menguap karena masih ngantuk.


"Aku bermimpi terjun ke jurang karena ada yang mengejarku dengan membawa pistol." Ga bercerita tentang mimpinya.


Nella terbelalak mendengar cerita Ga, mengira bahwa Ga pasti orang jahat.


"Yang mengejarmu polisi, bukan?"


Ga menggelengkan kepalanya, melegakan prasangka Nella.


"Mereka yang mengejarku seperti psikopat." Nella lalu teringat cerita Gea yang melihat berita di TV tadi, mungkinkah yang dimaksud benar-benar pria ini.


"Oh iya. Saat aku membawamu kemari, aku juga menemukan dompet yang jatuh di samping tempatmu terluka. Aku menemukannya kemarin saat aku mencari kayu bakar. Aku tak berani membukanya." Nella memberikan dompet pada Ga.


Ga membuka dompet itu. Berisi uang dan ATM juga KTP.


"Itu ada KTP-nya. Pasti punyamu, ‘kan? Fotonya mirip sekali denganmu." Ga menutup kembali dompet itu. Ia tak berbicara apapun setelah melihat isi dompet itu, raut wajahnya pun berubah.


Nella bertanya apakah ia tak mengingat apa pun setelah melihat isi dompet itu.


"Aku tidak ingat apa pun. Aku mau tidur lagi." Ga tidur membelakangi Nella yang masih berdiri di sampingnya.


"Ya sudah. Aku juga mau tidur." Nella kembali tidur di bangku panjang.


Ia memikirkan Ga yang wajahnya berubah ketika melihat isi dompet itu dan sikapnya yang aneh.


"Ya kalau tidak ingat apa pun ya sudah, ngapain juga mesti membelakangi aku seperti itu," gumam Nella kesal berbicara sendiri.


'Maafkan aku, Nella. Sepertinya aku mengingat sesuatu. Tapi aku tak bisa mengatakannya padamu sekarang,' batin Ga.


Malam itu terasa begitu panjang, hanya suara nyamuk dan jangkrik yang membelah kesunyian.


...----------------...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2