
Bulan purnama ditabuh, kian larut malam pun semakin ramai. Dingin seolah dilupakan demi menyaksikan orang-orangan kayu dihidupkan oleh tangan tuhannya. Sang dalang sedang bercerita di atas panggung. Sesekali ucapannya. disambut gelak tawa para penikmat malam. Kisah rekaan yang amat lucu.
Mereka duduk di sembarang tempat. Sebagian berjongkok di depan panggung supaya mudah menikmati jalan cerita. Menyembunyikan tubuh kedinginan mereka dengan sarung-sarung tipis. Menyesap lintingan rokok juga minuman hangat.
Para ibu pun duduk di sana, mendekap bayi mereka yang terlelap. Menenangkan anak-anak dari tangis. Tanpa menghiraukan malam semakin dingin.
Tabuhan malam itu membuat bulan purnama bersinar terang. Tanda alam menikmati persembahan manusia. Siapa sangka takdir satu di antara mereka sedang dipermainkan di sana. Gendang, saron, gong serentak berhenti berbunyi. Ketika satu gadis berkebaya merah diseret beberapa orang asing dari panggung. Menjeda senandung tersohornya.
Pesta rakyat pun berubah banyak jeritan. Tawa mereka seketika senyap tidak berbekas. Tangis dan umpatan menggema di perjalanan pengarakan tumbal menuju hutan.
Gadis cantik itu akan mereka korbankan.
Namanya Laras. Dia meronta, menjerit, cakaran kukunya tidak mampu membebaskan diri dari pria-pria berbaju hitam. Obor-obor menyala menggiring gadis malang itu pada peristirahatan terakhir. Sebagai penyelamat desa.
"Warga sekalian. Malam ini tepat bulan terlihat penuh dan terang menyinari malam. Para leluhur berkumpul bersama kita. Meminta syarat jika kita ingin selamat. Aku mendapat mimpi, cahaya terang datang dari tempat jauh mengatakan gadis ini telah dipilih leluhur."
__ADS_1
Pria berbaju hitam menunjuk Laras. Suara beratnya menghentikan riuh mereka di belakang. Sedangkan tatapan tajam masih Laras pertahankan semenjak orang-orang itu berhenti menyeretnya ke hadapan pria tua pemegang tongkat ular.
"Beruntungnya kamu, Laras. Berbanggalah keluargamu. Kamu adalah pahlawan desa ini."
Air mata Laras perlahan menetes, menyaksikan ibunya menggeliat dari cengkeraman seseorang. Ibunya menjeritkan penolakan atas perlakuan mereka pada putrinya.
"Omong kosong kau Wirasana!" jerit Laras pada pria tua itu. Wirasana mendekat, dan Laras meludahi tokoh paling dihormati desanya. Semua orang tersentak. Namun Wirasana tetap tenang. "********!" teriak Laras memberontak.
"Ikat." titah Wirasana amat tenang. Mereka mengikat erat tangan juga kaki Laras.
Gadis itu tertawa keras di sela tangisnya. Mereka saling berpandangan karenanya. Sinden mereka sudah gila.
Tamparan telak di pipinya, membuat darah segar merembes dari ujung bibir. Laras menantang tatapan dingin Wirasana. Pria tua itu berdiri menahan amarah yang akan mempengaruhi citra baiknya. Tangannya tergepal.
Laras berseringai, mendongak dari posisinya bertulut di hadapan Wirasana. "Ingatlah pada hari ini, jika suatu saat ada satu darah dagingmu yang menyerupai aku."
__ADS_1
Matanya menuju sepasang manusia bergenggaman tangan. Lelaki terkasihnya sudah mengkhianati.
Tawa Laras menyuarakan kesakitannya, bersamaan gemuruh petir serta angin mematikan obor-obor. Hutan menjadi gelap. Mereka bergetar ketakutan. Hujan lebat tidak lantas menghentikan tawa Laras. Dia menggila, wajahnya samar terlihat oleh kilatan petir.
"Lempar!" Wirasana memerintah tegas.
Orang-orang ragu menyentuh gadis itu. Namun tatapan membunuh Wirasana lebih menakutkan.
Laras pun tersungkur di atas tanah basah. Lubang kematiannya. Gadis itu terus tertawa meski lemparan tanah dan hujan perlahan membenamkan seluruh tubuh.
Sampai tawa itu hilang meninggalkan napas terengah-engah mereka. Laras telah mati.
Hanya saja mereka keliru.
Mereka berlari tak tentu arah meninggalkan cangkul dan obor. Menyelamatkan diri di tengah hujan badai.
__ADS_1
Tawa gadis itu kembali menggema di seisi hutan. Laras memang telah mati. Senandungnya akan terus terdengar.
--Damaisland--