
"Ini berlebihan Hem, kalau dia mati gimana?"
"Jangan banyak bicara!"
Aku merasa sedang berada di punggung seseorang. Orang ini tidak banyak bicara dibanding yang lain, tetapi suara gumamannya masih bisa aku dengar. Dia berjalan agak oleng, aku sedikit khawatir dibawanya jatuh.
"Ini masih jauh ya? Kita mainnya kejauhan sih."
"Bisa diam tidak? Bisanya mengeluh terus. Lihat tuh jalannya, sudah berapa kali kamu jatuh."
"Eh kamu juga tidak membantu tau sampai kita tersesat begini."
Mereka berhenti berjalan.
"Kamu tuh yang dari tadi ngoceh tidak jelas sekarang ngajak orang debat."
"Diam!" sentak seseorang menengahi perdebatan, mereka pun diam. Orang yang menggendong aku pun menghela napas sembari membetulkan posisiku. "Ini hutan. Kalian harus ingat itu."
"Tapi Hem, dia tuh--"
"Kalau aku bilang diam ya diam!"
Sesuai keinginannya perjalanan kami jadi hening. Selain suara binatang malam bersahutan mengikuti. Dalam keadaan setengah sadar aku mendengar banyak langkah kaki. Krasak-krusuk mengingkap semak-semak serta omelan perempuan tadi tak luput dari dinginnya malam. Ketika gemericik air dirasa dekat, mereka menghela napas lega.
Sahutan-sahutan memanggil namaku dari kejauhan terdengar ramai. Perempuan tadi memekik girang. Bisa aku dengar gemuruh air bersama basahnya sebagian kakiku. Dingin sekali.
Keramaian dengan pukulan-pukulan nyaring mendekat. Cahaya-cahaya kecil seperti lilin membuat bibirku menyungging tipis. Aku mati rasa.
"Bungah... kamu kenapa Nak?"
Suara terakhir Papa bersama menjauhnya harum seseorang yang membawaku. Pelukan hangat Papa aku dapatkan. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi.
Ketika membuka mata, aku tidak sedang berbaring di tumpukan daun kering dalam hutan. Sekitarku bukan lagi pohon-pohon tinggi beraura hitam. Memang tampak asing, ini tempat tidur berkelambu putih. Di atasnya gambar mawar merah besar bemekaran. Asing sekali.
"Sudah bangun?" Pintu terbuka, Papa tersenyum hangat membawa nampan.
Aku mencoba bangun, lalu sehelai kain basah langsung terjatuh dari dahiku. Sepertinya aku habis demam. Tubuh ini sakit semua jika digerakan sedikit saja. Akhirnya Papa membantu aku bersandar pada kepala tempat tidur.
"Gimana? Udah enakan?"
__ADS_1
Aku menerima segelas air, membasahi kekeringan di tenggorokan. Papa menghela napas pelan menerima anggukan lemahku. Pusing senantiasa menjalar di kepala. Sesuatu berdegup pelan di dalam sana, sangat menyakitkan.
"Ya sudah. Mau makan atau tidur lagi?"
"Tidur."
"Oke sekarang tidur lagi nanti makan dan minum obat."
Papa membetulkan bantal, membantu aku berbaring kembali, tangannya enggan melepaskan genggaman. Papa memeras kain basah dengan satu tangan setelah meraba dahiku. Demamku belum turun ternyata atau semakin meningkat karena sekarang aku merasa intensitas denyutan dalam kepala bertambah kuat.
Di saat begini Papa akan selalu di dekatku mengecup punggung tanganku sambil berbisik, "Cepat sembuh anak kesayangan Papa."
Aku terlelap kembali, mengabaikan lengket di tubuh akibat keringat dingin. Mencoba berdamai dengan rasa sakit.
***
Papa menceritakan semua kejadian semalam sambil menyuapi aku sop ayam. Hanya tiga suap lalu meminum obat.
Aku diantarkan oleh beberapa sepupuku kemarin malam. Mereka dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya masing-masing, kata Papa. Aku rasa mereka pantas mendapatkannya, mungkin kurang, seharusnya mereka juga merasakan bagaimana jadi aku. Hampir mati di tengah hutan.
Mengingatnya saja aku bergidig ngeri. Kakiku digusur makhluk mengerikan masuk ke kedalaman hutan. Gelap. Tak punya harapan hidup. Hanya ada suara tangisku sendiri. Sedangkan mereka pasti tertawa di semak-semak. Menyaksikan semua siksaanku sebagai hal lucu. Sialan!
Aku menghapus air mata di pipi. Mentalku akan berada di urutan paling bawah jika sedang sakit begini. Sakit fisik akan sembuh dalam beberapa hari, untuk hati belum tentu. Memangnya lucu diperlakukan begini? Perkenalan antar saudara mereka bilang? Lihatlah banyak luka di tubuhku, perih sekali. Belum lagi pergelangan kaki membengkak saat aku terjatuh begitu kerasnya. Mereka bilang ini hanya bercanda. Jahat sekali.
Aku menoleh pada Papa dibalas ringisan karena tatapan tajam putrinya ini. Kalimat Papa itu tidak tepat soal mereka yang ingin bertemu denganku. Mereka sudah berdiri di kamarku. Di hadapanku dengan wajah-wajah songong. Tidak ada raut merasa bersalah sedikit pun. Hanya satu yang terus mengajak aku negosiasi.
"Bungah."
Aku melirik sebentar, kemudian memalingkan muka asal tidak melihat mereka.
"Aku Bagas. Adik-adik aku sudah nakal ya sama kamu. Maafkan kami, Bungah. Ini harusnya jadi perkenalan yang bahagia sebagai saudara. Kami tidak bermaksud mencelakai kamu. Ini diluar rencana. Sekali lagi kami minta maaf Bungah, Om Lingga kami gak akan mengulanginya lagi."
Papa beranjak dari sisi tempat tidurku beralih menepuk bahu Bagas yang terlihat paling dewasa di antara mereka. Tidak kunjung mendapat reaksiku. Mereka keluar ruangan dengan tertib. Aku bisa bernapas lega.
Biar mereka mengerti sakit hatinya aku. Esoknya aku merasa konyol, mereka tidak benar-benar meminta maaf karena merasa bersalah tapi karena takut tidak mendapat uang jajan.
***
Satu hal yang belum terbiasa. Lamanya waktu siang dan malam di sini. Kegiatan baruku mendengarkan detak jarum jam kala sendirian.
__ADS_1
Udara malam ini sangat dingin. Papa sampai membawakan air panas dalam botol plastik. Lalu menempelkannya ke telapak kakiku. Hangat.
Papa menyembunyikan aku dengan banyak helaian selimut. Telapak tanganku digosok Papa karena hampir membeku. Ini di mana sebenarnya, Sumedang atau Kanada ya? Berasa sedang peralihan ke musim dingin.
"Slept tight, Bungah. Cepat sembuh, Nak." Papa mengecup pucuk kepalaku lama.
Nyatanya sampai Papa kembali ke kamarnya, setelah memastikan demamku turun, jarum jam telah melewati angka sepuluh. Aku masih terjaga.
Aku menatap setiap benda di ruangan tidak terlalu luas ini. Meja belajar, meja rias di samping lemari kuno. Ini kamar semasa mudanya Tante Nidria. Dilihat dari penghargaan di atas nakas. Sekarang Tante Nidria tinggal bersama suaminya.
Ketukan pada kaca jendela memaksa aku memanjangkan leher. Pening langsung dirasa. Sungguh mengganggu, orang kurang kerjaan mana mengetuk jendela orang sakit malam-malam begini.
Aku mendesah jengkel. Perlahan kakiku menapaki lantai, meresapi dingin yang menusuk. Aku berjalan tertatih, menggigit kulit dalam bibir sebab pergelangan kaki makin membengkak.
Ketukan itu baru berhenti ketika aku menyingkap gorden. Cengiran lebar di depan jendela mengingatkan aku pada patung kepala badut berukuran besar di gerbang selamat datang sirkus.
Sophia, anak itu menggerak-gerakan mulutnya. Bahasanya tidak aku mengerti. Kenapa juga anak kecil ini masih di luar malam-malam. Apa orang tuanya tidak mengunci pintu ya sampai dia bebas berkeliaran?
"Kak Una buka jendelanya."
Meskipun dia menggedor-gedor jendela hingga retak pun aku tidak akan membukanya. Dia memberengut kesal. Siapa yang tahu, anak sekecil Sophia bisa melakukan hal gila apa lagi untuk mengerjai aku. Berkomplot dengan kakak-kakak sepupunya saja dia senang.
Aarrrgh! Aku kembali teringat perlakuan mereka.
Gorden aku tutup cepat-cepat, menimbulkan bunyi gesekan. Terserah dia mau adukan aku pada orang tuanya. Aku tidak peduli.
Berselang lama, jendela itu diketuk lagi. Aku kira Sophia telah menyerah. Anak itu tangguh juga.
Namun ada yang aneh dari ketukannya, lama-kelamaan membentuk sebuah irama. Mungkin hanya irama asal. Hanya saja terlalu cantik menurutku.
Maka mataku tidak luput dari jendela. Jam menunjukkan setengah dua belas. Berpegangan pada dinding, aku kembali turun dari tempat tidur.
Ketukan berirama itu hadir lagi.
Gesekan besi gorden sedikit berisik meski digerakan pelan. Penglihatanku langsung tertuju pada seorang pemuda berdiri di depan jendela. Kami saling berhadapan, dengan bulan yang bersinar terang di belakang pemuda itu.
Dia memutus pandangan terlebih dahulu. Sebuah perahu kertas ditaruhnya di depan jendela. Dia memberi kode agar aku mengambilnya.
Setelahnya dia pergi. Pergerakannya begitu cepat hingga aku bingung ke arah mana perginya. Aku menggeleng, tadinya aku akan menutup lagi gorden. Hanya saja perahu kertas yang disinari bulan itu terlalu menarik perhatian. Aku membuka jendela, mengangkat perahu kertas itu ke udara.
__ADS_1
Dia tidak benar-benar asing. Siapa dia?
--Damaisland--