Keluarga Brutal

Keluarga Brutal
Part 16 Rumah Pohon


__ADS_3

Marahnya Jaya mampu membekukan setiap inci hati. Meleburkan harapan bisa tertawa bersama pemuda jangkung itu lagi. Jaya menghindari kontak mata denganku. Akan memalingkan langkah jika jalur yang diambilnya berpotensi membuat kami papasan. Nyaliku tidak lantas menciut.


Ke mana pun dia pergi, aku ikuti. Sudah bosan aku terdiam menunggu amarah Jaya reda. Dia malah menjadi-jadi, menyaksikan segala kebetulan antara aku dan Kak Heman. Jadi aku duduk di hadapannya ketika makan bakso, melihatnya dari dekat ketika dia mencatat materi dari papan tulis. Padahal mana ada ceritanya Jaya rajin menulis materi. Sama seperti anak laki-laki lain di kelas ini, Jaya jarang mencatat materi. Yang terakhir, aku menolak ajakan Kak Heman pulang bersama di hadapan Jaya.


“Jay, kamu masih marah ya?”


Jaya berhenti menulis. Terpekur menatap baris-baris kosong.


“Apa nggak lebih baik kamu marah-marah sama aku daripada diam terus begini. Biar aku mengerti perasaan aslinya Jaya gimana.”


“Aku tidak marah,” ujarnya kembali mencatat, namun penglihatannya pada papan tulis terhalang olehku.


“Bohong. Kamu marah sama aku, Jay!”


“Tidak.”


Jaya dan keras kepalanya. Aku harus bagaimana lagi merayu dia agar kembali bicara padaku.


“Kenapa kamu mengikuti aku kemarin?”


Jaya balas menatap aku sekarang. Meski bukan tatapan ramah, aku senang bisa meraih perhatiannya.


“Aku tidak mengikuti kamu. Kamu bebas jalan dengan siapa pun.”


“Loh kok kamu tahu kemarin aku jalan sama seseorang?”


Bibir Jaya mengatup rapat. Aku tersenyum geli, satu-kosong. Lucunya wajah Jaya ketahuan. Dia menghela napas, firasatku mengatakan dia mulai menyerah.


“Aku tidak suka kamu jalan dengan laki-laki lain.”


Yes! Hatiku bersorak menang. Apa kubilang, mana ada orang tahan mendiamkan seorang Bungah. Semarah-marahnya Papa juga paling tahan marah beberapa jam. Apalagi Jaya. Mungkin memang begitulah tujuan Mama dan Papa menamaiku Bungah, agar mendapat banyak kebahagiaan dan memberi kebahagiaan.


“Kenapa kamu jalan sama dia? Kalau mau ke mana-mana kan bisa bilang ke aku, nanri aku antar. Kenapa, karena aku cuma pakai sepeda?”


Perutku terasa digelitik mendapat rentetan pertanyaannya. Tawaku tidak bisa dipendam lagi, tidak peduli soal kernyitan alis tebal Jaya. Aku senang Jaya memarahi aku jalan bersama laki-laki lain. Entahlah, mungkin aku merasa dimiliki Jaya.


“Tidak ada yang lucu.” Jaya masih mempertahankan keketusannya.


Aku berusaha menghentikan tawa sampai terbatuk-batuk. “Maaf. Maaf. Kamu lucu sih Jaya.” Kukira kamu marah karena aku membahas ruang terlarang, lanjutku dalam hati tidak mau Jaya kembali kesal. “Kemarin-kemarin kan, kamu menghindar terus. Gimana aku minta kamu temani. Ya, udah pulang sekolah jalan yuk?”


Jaya berdeham. “Hayu.” Dan kembali menulis, ada gengsi yang sedang dia pertahankan. Baik, aku biarkan.


Kelakuan manisnya ini buat senyumku mengembang seketika. Ingatanku melayang pada malam kemarin. Kehadiran B–sosok lain Jaya di depan jendela sungguh mengagetkan ku. B masuk ke kamarku seperti biasa. Kami duduk bersandar pada sisi tempat tidur beralaskan karpet, menghadap jendela terbuka dimana bintang-bintang berkerlipan. Pikiran kami sama-sama berkelana jauh. Tidak banyak yang kami bicarakan, namun B punya radar paling nyaman di situasi apapun.

__ADS_1


Aku tidak bisa marah padamu, Bungah.


Begitulah tulisan B, menyirnakan kekhawatiranku akan kehilangan sosok Jaya sekaligus B. Sumpah, aku tidak ingin kehilangan mereka. Apalagi di saat aku mulai beradaptasi. Bisa melewati sejauh ini, akan sulit tanpa kehadiran mereka.


“Litari Bungah?”


Bu Nada melorotkan kacamatanya. Aku tergagap. “I-iya Bu?”


“Kamu tidak mencatat?”


Jaya terkekeh kecil. Satu sama.


***


 


“Kamu dekat sama sepupu-sepupu?”


Jaya menoleh. “Lumayan.”


“Sama Kak Heman?” Seketika tatapannya berubah horor, aku meringis, lupa kalau Jaya tidak suka ada nama Kak Heman dalam obrolan kami. “Dia kan sepupu kamu juga.”


“Sepupu kita,” ralatnya.


“Memangnya benar ya sepupu-sepupu ki ... ta,” agak kesal juga mengingat aku dan Jaya juga sepupuan. “tidak membenci aku?”


“Dari dulu mereka biasa saja sama kamu. Mereka tidak membenci kamu–setahuku. Kamu saja yang cepat mengambil kesimpulan gara-gara kena jahil mereka di hutan.”


“Menurut kamu juga begitu?”


Jaya mengangguk mantap. “Ya. Coba saja sapa mereka lebih dulu. Biar mereka tidak segan. Waktu ulang tahun Raina kemarin, bagaimana perasaan kamu berada di sekitar mereka?” tanyanya merapikan helaian rambut ke sela telingaku. Kemanisan Jaya telah kembali.


“Agak asing. Tapi menyenangkan.”


“Kalau perasaan kamu waktu jalan dengan Heman?”


“Jaya ....” rengekku, dia mulai lagi. Kenapa sih Jaya setidak suka itu pada Heman?


“Hm?”


Mata kami bertubrukan, aku menjauhkan tangannya dari rambutku agar bisa menggenggam kehangat Jaya. Aku selalu suka genggaman lembut Jaya selaras tatapannya padaku. Jantung ini selalu berulah, sangat menyenangkan.


“Jaya ... jangan diamkan aku lagi seperti kemarin ya? Aku sedih.”

__ADS_1


"Iya."


"Janji?" Jaya menatap kelingkingku, lalu membawanya dalam satu genggaman erat.


Keyakinan itu sampai pada hatiku. Pernyataannya mengirim pasokan udara dalam bentuk paling menenangkan yang pernah aku dapatkan. “Janji.”


Kami menghabiskan waktu hingga petang di tempat perkumpulan sepupu. Sebuah rumah pohon di pinggiran sungai.


“Aku nggak tahu kenapa kamu tidak suka aku dekat-dekat Kak Heman. Tapi kalau boleh jujur aku senang kamu marah begini.”


“Kamu sengaja ya?” selidiknya melepas genggaman tangan kami.


“Sedikit.”


Jaya berdecak menghadapi tawaku. Dia mengusak rambutku, kemudian membawaku bersandar padanya. Aku memejam menghirup aroma parfum di tubuh Jaya. Ketenangan ini membuatku bersenandung selirih angin yang berhembus pelan sore itu.


“Laras.”


“Surya?”


Ilalang kecoklatan bergerak seirama, di mana seorang perempuan tersenyum lebar menyambut kedatangan kekasihnya. Perempuan itu berlari kecil, menginjak ranting dan semak belukar tak sabar ingun segera bertemu. Pemuda di seberangnya menaruh senapan laras panjang di pada sebuah pohon. Mereka berlari kecil memangkas jarak.


Seperti itulah indahnya cinta. Mereka memadukan rasa yang sama. Sama-sama merindu. Pemuda itu mengangkat tubuh kurus perempuannya, mereka berputar dengan tawa kencang. Mengabaikan dunia, berlari sesuka hati, membebaskan rasa itu liar menemukan pemiliknya.


Sampai mereka kelelahan, terengah bersama di atas hamparan ilalang. Langit tampak bersahaja, secerah perasaan mereka. Namun rasanya semua masihlah kurang, tatapan mereka beradu, ego besar untuk saling memiliki lebih dari itu.


“Laras...”


Aku tersentak mendapati sekelilingku gelap. Tersadar berada dimana sekarang, tanganku meraba baju seragam. Napasku berhembus lega setelahnya. Pandanganku tertuju pada seseorang tergeletak di samping. Dadanya naik turun teratur.


“Jay. Jaya. Jaya bangun sudah malam.”


Jaya melenguh, aku masih bisa melihat wajahnya walau samar. Dia menggosok mata dan mangacak rambut sebentar. Memulihkan kesadaran.


“Sudah gelap?” tanyanya serak baru bangun tidur.


“Iya, ayo pulang.” Aku meraih tas di pojok rumah pohon mendahului Jaya menuruni tangga.


Sepanjang perjalanan pulang kami diam. Membiarkan angin malam menusuk kemeja sekolah. Gesekan rantai sepeda berpacu dengan kayuhan kaki Jaya. Laki-laki ini membiarkan aku tenggelam memikirkan dua orang dalam mimpiku tadi. Nama mereka terus mengusik. Laras dan Surya. Siapa mereka?


 


 

__ADS_1


--Damaisland--


__ADS_2