Keluarga Brutal

Keluarga Brutal
Part 17 Nenek Surtiasih


__ADS_3

Esoknya Jaya aneh kembali. Kali ini aku bingung dia kenapa. Dia bukan marah, lebih tepatnya menjaga jarak. Setelah dipikir-pikir aku tidak melakukan kesalahan bicara lagi.


"Bungah." Decitan sepeda berhenti di sampingku.


"Hai, Jay."


"Kamu dijemput?" tanyanya.


"Iya. Dijemput Mang Budi." Kami diam. Hilir mudik siswa melewati gerbang mengisi kekosongan dialog. Aku tertunduk, merutuki diri mengapa bisa secanggung ini.


"Aku pulang duluan, Bung."


"Oh, iya. Um--Jay," Jaya menunda kayuhannya kembali menatapku. "Hati-hati."cicitku agak geli.


Jaya mengangguk, kemudian berlalu menerobos keramaian menggunakan sepedanya. Pipiku jadi panas begini. Rasanya ingin tertawa dan jingkrak-jingkrak.


"Kalian dari tadi aneh," komentar Dewi lanjut berjalan keluar gerbang.


"Aneh gimana?"


"Ya, aneh saja, lirik-lirikan terus senyum. Lirik-lirikan lagi, senyum lagi. Kalian baru pacaran ya?"


"Hah?! Enggak. Kami kan sepupuan, Wi. Nggak mungkin." sanggahku cepat.


Dewi berdecak, "Emangnya kenapa kalau sepupuan? Kalau adik-kakak baru tidak boleh."


"Apa sih kamu, Wi?"


Dewi bergegas memasuki angkutan kota nomor kosong empat. Berdesakan-desakan dengan orang-orang di pintu. Terkadang Dewi bisa sekonyol itu, apalagi sikapnya yang tidak mau mengalah. Orang-orang akan kena kejudesannya jika tidak selaras dengan pemikiran dia.


Tidak lama mobil Papa berhenti di depanku. Mang Budi menurunkan kaca depan, menyapaku sebentar sebelum masuk. Bagiku, Mang Budi sudah seperti keluarga bukan hanya pekerja rumah.


"Neng Bungah. Mamang boleh mampir dulu ke rumah sebentar?"


"Ada yang ketinggalan, Mang?"


"Bukan. Mamang belum menyiapkan makan untuk ibu Mamang, istri Mamang mendadak ada keperluan di luar."


"Boleh kok, Mang. Sekalian biar Bungah tahu dimana rumah Mamang."


"Makasih Neng." balasnya menatapku dari cermin rearview.


***


 


Dari jalan besar menuju rumah Mang Budi harus jalan kaki melewati sebuah gang kecil. Rumah Mang Budi sederhana di ujung gang tampak asri. Halamannya penuh tanaman hijau menyejukkan. Mang Budi mempersilakan aku masuk begitu kunci di buka.

__ADS_1


"Kalau tidak dikunci takutnya ibu keluar rumah, Neng. Sudah pikun, bahaya."


Kawasan ini cukup sepi. Hanya satu-dua warga yang berdiam di luar rumah. Jika ada apa-apa dengan ibunya Mang Budi dan tidak ada yang menjaga, itu lebih bahaya lagi. Seorang wanita berambut putih keluar dari sebuah ruangan. Berjalan mendekati tempatku duduk, sepertinya ini ibunya Mang Budi. Aku memaksakan senyum canggung. Tadinya aku siap meraih tangan keriput nenek ini, namun cara beliau menatap juga memanggil ku membuat aku tertegun di tempat.


"Laras?" suaranya bergetar. Wajahku ditangkup, kerinduan bercampur sedih jelas tercipta pada bola matanya.


"Nek, saya bukan Laras."


"Laras kamu datang menjemput ku?" tanganku digenggamnya. Aku membalas genggaman ibunya Mang Budi. "Apa kamu sudah bertemu Nyi Mas dan Surya? Bagaimana kabar mereka?"


Laras? Apa Laras yang disebut ibunya Mang Budi ini adalah Laras yang pernah aku mimpikan?


"Siapa Laras itu, Nek?"


"Laras, maafkan aku tidak bisa menolongmu. Nyi Mas menyukai Surya. Aku ... aku tidak bisa menolak keinginan Nyi Mas untuk berkenalan dengan Surya."


Nenek ini tidak menjawab pertanyaanku.


Pasti ini ada korelasinya antara Laras, Surya dan mimpiku. Ini bukan kebetulan semata. Mana mungkin bisa sesering ini aku mendengar nama Laras. Aku pun termenung, nenek ini terus menyebut Laras dan maaf.


Kedatangan Mang Budi tergesa memisahkan ibunya dan aku. Membujuk wanita sepuh itu dengan amat pengertian hingga mau masuk ke dalam kamar kembali. Meski tatapan sayunya terus mengarah padaku tanpa henti bergumam.


"Mang Budi tahu siapa Laras yang ibunya Mamang maksud?"


"Tidak, Neng. Mungkin teman lamanya ibu, maklum sudah sepuh jadi pikirannya kadang ingat kadang lupa. Campur-campur gitu, Neng, ingatannya. Sama Mamang aja sering lupa. Kenapa, Neng?"


"Nah kalau Surya sepertinya Pak Ginanjar, kakeknya Neng Bungah. Ginanjar Surya."


Sudah kuduga, Laras berkaitan dengan kehidupan keluargaku. Sebab aku berada di aliran darah sama, maka terkena imbasnya. Sesuatu mengikat hubungan ini, semua keterkaitan coba aku uraikan. Sayangnya membuat kepalaku pening seketika.


Aku harus mendiskusikannya dengan B jika begini. Dia satu-satunya orang yang mempercayai cerita aku dan bisa diajak bicara--maksudnya diskusi mengenai keaneh keluarga kami.


"Mang, lain kali Bungah boleh ya Bungah jenguk ibunya Mamang? Bungah jadi kangen Nenek."


***


 


"Papa tahu ibunya Mang Budi?" tanyaku duduk di samping Papa yang sedang bekerja di ruang tengah.


"Hng? Bi Surtiasih? Kenapa?"


"Tadi Unga mampir ke rumah Mang Budi. Soalnya ibunya Mang Budi gak ada yang kasih makan. Berapa sih umurnya, Pa? Seumuran sama Nenek?"


"Sepertinya lebih muda dari Nenek." jawab Papa masih berfokus pada layar laptop. "Keluarga Bi Surti itu mengabdi pada keluarga kita dari lama. Bi Surti juga yang pengasuh Papa, waktu Mang Budi lahir, Papa berasa punya adik."


Berarti ada kemungkinan Nenek Surtiasih mengetahui seluk-beluk keluarga Ginanjar. Meski beliau pikun dan perkataannya melantur, aku yakin ada di antara perkataannya adalah kebenaran. Menilik pengabdiannya pada keluarga kami yang masih keturunan bangsawan kerajaan Sumedang cukup lama, Nenek Surtiasih punya banyak dokumentasi. Aku harus menemui Nenek Surtiasih. Lebih cepat tahu lebih cepat dapat ditangani.

__ADS_1


"Jangan macam-macam ya, Bungah," peringat Papa.


"Gimana acara reunian kemarin?"


Papa mengalihkan perhatiannya padaku, matanya menyipit. "You switched. Mengalihkan pembicaraan dengan orang tua itu nggak sopan."


"Oh come on, Pa. I just wanna talk to you.”


Bahunya mengedik. "Yeah, banyak yang datang. Kapan-kapan kamu ikut Papa deh. Masa orang lain pada bawa istri dan anaknya, cuma Papa yang sendirian."


"Iya siap Bos." Tanganku memberi hormat menertawakan raut memelas Papa.


***


 


Di kamar aku duduk tidak tenang. Kantuk tidak hadir malam itu habis oleh kegiatanku melihat putaran lambat jam dinding. Begitu jendela kamar diketuk, sejurus kemudian aku berlari membuka jendela. B hampir terjengkang kaget. Seperti biasa B sangat lihai membuka teralis besi jendela kamarku. Aku menarik B ke dalam kamar tidak sabaran.


"B aku tahu sesuatu," cercaku tanpa membiarkan dia duduk dulu, dia menyimak. "Tadi pulang sekolah Mang Budi mampir dulu ke rumahnya. Aku bertemu Nenek Surtiasih--tunggu kamu kenal Nenek Surtiasih?"


B mengangguk. Dia mendudukan diri di atas tempat tidurku. Lantas aku naik ke sana, menarik selimut agar kami tidak kedinginan. "Nah, terus Nenek Surtiasih manggil aku Laras."


Tidak mengerti alasannya, B menyilangkan telunjuknya di bibir. Matanya melotot seolah baru saja diriku melanggar sesuatu. Bahuku mengedik tanda tanya. Dia pun meraih catatan kecilnya.


Jangan sebut nama itu.


Oh, aku lupa. Suatu malam aku menceritakan mengenai penampakan dua orang wanita menyeramkan serta suara-suara aneh setiap aku sendirian. B melarangku menyebut nama Laras secara terang-terangan. Nama itu seperti punya kutukan.


"Maaf, lupa," ringisku. "Bagaimana menurut kamu kalau aku menemui Nenek Surtiasih lagi? Masalahnya beliau sudah pikun, aku nggak tahu kapan Nenek Surtiasih bicaranya tidak melantur."


Kamu yakin Nenek Surtiasih mengetahui sesuatu?


"Apa bukti Nenek Surtiasih memanggil aku dengan sebutan Laras adalah hal wajar? Sedangkan akhir-akhir ini nama itu menghantui aku. Makanya aku ingin bertanya langsung, mengapa Nenek Surtiasih memanggilku begitu? Mungkin beliau punya jawaban, atau setidaknya sedikit petunjuk."


B menghela napas. Setidaknya aku menemukan keyakinan di mata B.


Aku akan menjaga mu Bungah.


 


 


 


 


--Damaisland--

__ADS_1


__ADS_2