Keluarga Brutal

Keluarga Brutal
Part 3 Senandung


__ADS_3

Mama mengirim undangan pernikahan. Dua minggu lagi. Dan aku baru diberi tahu hari ini. Sebegitu tidak dianggapnya aku, katanya lupa dan sibuk urus ini itu. Sampai menelponku barang lima menit saja tidak bisa. Sepertinya bukan itu alasannya. Mama takut aku melarangnya menikah lagi dengan pria lain. Jelas, aku tidak mau punya bapak tiri.


Semenjak Mama kenal seorang pria berkewarganegaraan Jerman satu tahun lalu, Mama mulai jarang menghubungi aku. Entah siapa namanya, John, Philip, atau Leo, aku rasa nama-nama itu hanya khayalan liarku saja. Mama tidak pernah menceritakan kekasihnya. Yang terparah, ya ini, tiba-tiba diundang ke pernikahan Mama.


"Mama juga kirim gaun buat kamu pakai di gedung nanti. Kamu harus tampil cantik pokoknya," kata mama setelah aku telpon berkali-kali menagih penjelasan mengapa ada undangan atas nama diriku. Aku ini siapanya Mama sebenarnya?


Aku mengakhiri sepihak perbincangan itu, tidak lagi peduli kalimat Mama belum rampung. Sudah jelas aku tidak akan datang. Lagi pula datang atau tidak, tidak akan berpengaruh untuk Mama. Kan, aku hanya tamu undangannya bukan anaknya. Pernikahan kedua Mama akan tetap berlangsung tanpa kehadiranku.


Ponsel pun aku lempar ke kursi. Tanganku beralih membuka tutup kotak kado merah hati. Di dalamnya ada gaun berwarna krem selutut. Manis sekali sampai ingin rasanya menyobek-nyobek menjadi banyak bagian. Menerbangkannya lalu bernyanyi mama nikah lagi.


"Eh eh mau diapakan?" Papa menaruh kopinya asal melihat aku memegang gunting dan baju dari Mama.


"Mau aku gunting, aku gak suka."


"Bungah ...." Pada akhirnya Papa berhasil mendapatkan gunting itu. Merebut serta pakaian pemberian Mama dari percobaan mutilasi.


Aku semakin kesal karena Papa tidak ada usaha sedikit pun memperbaiki hubungan mereka. Papa masih mencintai Mama, aku tahu dari sorot matanya jika mereka bertemu membahas aku. Sampai usia sekarang, aku masih saja tidak mengerti bagaimana orang dewasa berpikir.


Mengabaikan seruan Papa aku pergi ke kamar, dan membanting keras pintu. Tubuhku luruh bersandar. Terduduk di sana dalam beberapa lama. Menyesali usahaku kurang keras mempersatukan mereka. Andai masih ada waktu untuk mengembalikan Mama dan Papa menjadi orang tuaku secara utuh.


"Kenapa anakmu?"


Aku berhenti menangis, seseorang datang. Kemungkinan besar mendengar keributan kecil antara aku dan Papa. Mengingat rumah ini dan rumah saudara-saudara Papa sangat berdekatan membentuk satu lingkungan tetangga.


"Bungah marah karena Mentari memberitahunya akan menikah lagi mendadak."


"Kenapa lagi dengan wanita itu? Tidak memikirkan perasaan anaknya. Ibu macam apa dia."


"Kak ...."


"Lingga, kamu tidak berniat mencari ibu baru untuk Bungah?"


"Kak ...," Terdengar helaan napas Papa frustasi, "ini tidak semudah itu. Tolong jangan bahas ini. Bungah bisa saja mendengar percakapan kita. Aku tidak mau anakku makin tidak nyaman tinggal di sini."


"Baiklah, terserah. Aku hanya kasihan pada adikku," pungkas wanita itu. Tidak ada percakapan lagi. Sepertinya, wanita yang dipanggil 'Kakak' oleh Papa sudah pergi.


Jendela kamarku diketuk tiga kali. Biasanya ketukan itu akan terdengar saat malam. Tapi kenapa dengan siang ini?

__ADS_1


Pemuda yang sering aku jumpai dalam temaram sudah berdiri di depan jendela. Dia sempat melihat wajah kacauku sebelum aku menghapusnya. Senyuman lebar akan membuat siapa pun ikut tersenyum. Aku membuka jendela kamar. Namun tak lama senyumnya surut menabrak tatapanku. Aku mengerutkan dahi karena perubahan raut wajahnya.


Dia bertanya lewat mata, aku menggeleng sebagai jawaban. Selalu begitu, komunikasi kami tanpa suara.


Siang itu dia memakai kaus hitam lengan pendek. Kulitnya yang putih makin kontras. Boleh juga, dia terlihat lebih tampan di bawah sinar matahari dari pada sinar bulan.


Dia menggaruk tengkuknya, bingung. Perlahan, seikat bunga mawar kecil diletakan di atas papan jendela. Aku menatapnya heran.


"Kenapa siang? Biasanya malam." Bunga pemberiannya aku ambil, melirik nakas di sana, sudah ada empat perahu kertas. Tidak biasanya dia memberi aku bunga. Tatapanku beralih padanya, tapi dia sudah menghilang tanpa pamit.


Aku menghela napas karena lagi-lagi aku lupa menanyakan nama pemuda itu. Dia meninggalkan selembar kertas kecil.


Setiap hari Kamis, jadwal perahu siang. Semua orang harus tetap di rumah saat malam Jumat karena pelayaran dihentikan.


Hm...? Tapi kenapa tidak boleh keluar rumah malam Jumat?


***


 


"No. Sudah malam, sayang. Tidak boleh keluar."


"Pa, ayolah baru juga maghrib. Kemarin malam kita bakar ikan di luar, kenapa malam ini aku tidak boleh keluar?"


Papa tidak langsung menjawab, aku membuntutinya mengambil minum di dapur lalu kembali ke ruang tengah mematikan televisi.


"Pa ...."


"Ada yang boleh dan tidak boleh dilakukan di tempat baru, sayang. Kita, harus mematuhinya."


"Iya, but why? Bungah juga ingin tau alasannya."


Papa menggedikkan bahu, tetap tidak mau menjelaskan. Oke aku harus cari tahu sendiri kalau begitu.


"Jangan coba-coba Bungah."


Suara Papa sarat penekanan menghentikan langkahku. Gerak-gerikku selalu saja dibaca Papa.

__ADS_1


"Ini bukan candaan."


Sekarang aku mengerti. Papa tidak ingin dibantah. Aku masuk ke dalam kamar dengan perasaan dongkol. Sebelum Papa benar-benar marah dan tidak bisa aku bayangkan hukuman apa yang Papa berikan nanti bila terus melawan.


Pintu kamar aku tutup. Menahan gejolak penasaran yang telah mendarah daging dari bayi. Sejak menginjakan kaki di rumah mendiang Nenek, terlalu banyak hal yang disembunyikan dariku. Aku tidak bisa sehebat Papa bisa mengira-ngira pikiran orang lain, hanya saja aku juga makhluk hidup yang punya insting jika merasakan keanehan.


Malam itu aku tidur cepat. Papa bolak-balik ke kamarku menyuruh cepat tidur.


Tepat pukul sebelas. Jendela kamarku diketuk. Padahal mataku hendak tertutup rapat oleh kantuk. Gambaran dia tersenyum cerah seperti tadi pagi sungguh mengganggu.


Mataku sontak terbuka teringat sesuatu, bukannya dia bilang tidak akan datang malam ini? Semua orang tidak boleh keluar rumah pada malam Jumat. Lalu apa dia melanggarnya?


Ketukan itu kembali terdengar. Lalu berhenti, digantikan detak jarum jam di dinding. Aku terperanjat. Ketukan itu berubah menjadi gedoran siap memecahkan kaca.


Mataku waspada pada gorden yang masih tertutup dalam temaram. Tiba-tiba aku merasa ruangan ini sangat dingin. Harap-harap cemas aku menanti ketukan lainnya, bila itu dia. Aku tidak berani menyingkap selimut apalagi turun dari tempat tidur. Entahlah, hatiku tidak mengizinkannya.


Lama menanti, telingaku tidak menangkap detak jarum jam lagi. Sangat hening. Binatang malam yang biasanya saling bersahutan ikut senyap.


Aku menarik selimut hingga menutupi kepala. Menyembunyikan tubuhku di sana. Ketakutanku tiba-tiba memuncak kala jendela kamar didobrak. Angin memaksa masuk hingga menciptakan bayangan gorden berterbangan. Tanpa sadar gigiku mengigit kuku, mengintip dari celah selimut yang aku ciptakan.


Detik selanjutnya kelopak mataku merapat, ada perempuan tersenyum lebar terlihat dari celah itu.


Jantungku bergedup sangat kencang. Angin bertiup-tiup tidak berhenti menggerakan jendela yang terbuka. Air mataku tidak bisa dicegah lagi lajunya. Ketika angin berhenti berganti lirih senandung seorang wanita. Aku membekap mulut agar tidak berteriak. Memanggil Papa dalam hati.


Keberanianku berkhianat meninggalkan ketakutan ini sampai mati. Inikah alasan mereka melarang keluar rumah saat malam Jumat? Bahkan coba memikirkannya pun jangan. Bodohnya sebelum pergi tidur tadi, tanganku sengaja melepas kunci jendela. Agar dia yang biasa datang setiap malam tidak menunggu lama.


Ternyata bukan dia yang datang. Senandung wanita itu mengusai ruang ini. Senyuman lebar wanita itu kembali terlihat.


"Bungah. Bungah. Kenapa teriak-teriak?! Hei, Bungah. Look at me, Bungah!!"


Selimut yang membungkus tubuh disingkap kasar. Aku bisa melihat kepanikan Papa.


"Papa ...." Suaraku bergetar bersama air mata berderai-derai. Tanpa aba-aba aku menerjang tubuh tegap Papa. Percaya saja orang yang mengelus rambutku adalah ayahku.


"Astaga Bungah kamu kenapa?!"


Aku tidak menjawab. Sibuk tersedu-sedu dalam rengkuhannya. Di balik jendela, bayangan seorang perempuan berdiri. Tangisku semakin kencang menyadari keadaan kamar tidak sekacau ketika senandung wanita itu mendobrak jendela.

__ADS_1


 


--Damaisland--


__ADS_2