
"Kak Una?"
Sophia menoleh ke belakang kala langkahku kepayahan mengejar. Sepeda itu pun berhenti. Sophia berlari ke arahku.
"Kak Una ikutin Opi?"
Terdengar menyedihkan dituduh anak kecil seperti itu. Aku makin gugup melihat dia menuntun sepeda menghampiri kami. Dia menatap datar.
"Nina hilang," aduku pada Sophia di tengah usaha mengatur napas.
Dia tersenyum geli mendengar alasanku. Sedangkan Sophia tampak berpikir.
"Nina pasti mau minum mimi dulu, Kak. Nanti Opi bawa Nina ke rumah Kak Una lagi ya."
Aku mengangguk saja. Diam-diam melirik dia di belakang Sophia.
"Mau ikut?" tanyanya mengagetkan.
"Hah?"
"Kami ada acara di saung. Mau ikut?"
Sophia menggoyang-goyangkan tanganku sambil mendongak, "Iya ayo Kak, Kak Una ikut ke saung yuk."
"Ta-tapi aku bisa pulang saja," kataku menunjuk arah belakang tanpa menoleh, bukan bermaksud menolak hanya saja keberanianku surut. "Tadi cuma kebetulan lihat Sophia. Jadi..." ya begitu, tiba-tiba otak encerku blank.
"Memangnya Kak Una tahu jalan pulang kemana?" Sophia tersenyum jahil.
Aku membalikan badan, sialnya di belakangku jalan persimpangan. Keduanya mirip, dan ini area persawahan. Aku pun menelan ludah kasar, benar-benar lupa. Sesaat aku menatap balik manik Sophia, ketakutan kejadian di hutan terulang terlihat.
"Ikut saja. Di sana saudaramu semua kok," Dia membalikan sepedanya, bersiap pergi. "Ayo Pi, duduk di depan ya. Biar Kakak Bungah di belakang."
"Siap, Bos!" hormat Sophia lalu berlari memamerkan gigi kelinci.
Sophia duduk miring di depan. Lalu aku masih diam di tempat, hingga dia menoleh pada keterdiamanku, "Ayo."
Agak ragu aku pegang bahunya, menyeimbangkan posisi berdiri di belakangnya. Sepeda ini membawa kami meluncur membelah angin sejuk. Terdengar teriakan Sophia begitu bahagia. Pun aku, tidak bisa menyembunyikan gejolak berada sedekat ini dengannya.
Sepanjang perjalanan, kami tidak bersuara selain mendengar celoteh Sophia. Aku menikmati hijaunya alam sejauh mata memandang. Bertanya-tanya apa sudah benarkah langkahku mengerjarnya. Pipiku mendadak panas melihat rambutnya kacau diterpa angin.
Lantas permasalahan tentang Papa pun menguap begitu saja. Aku harap bisa seperti ini setiap hari. Hidup tenang, mengalir sesukanya bagai angin.
***
Kami sampai di sebuah lahan kosong dekat sungai. Sekumpulan anak muda melingkari api besar. Bau daging panggang terhirup dari sisi jalan.
Karena tidak satu pun aku kenal. Jadi aku mengikuti dia, sedangkan Sophia langsung beringsatan entah kemana. Kedatangan kami di sambut tatapan kaget, beberapa lagi terlihat malas. Kak Heman juga berada di sana, dia satu-satunya orang menyapaku. Setidaknya selain Sophia dan dia, ada Kak Heman yang aku tahu.
"Ini untuk Bungah." Kak Heman menyodorkan satu ikan gosong masih di tusuk.
"Itu kan punya A Eman," protes salah satu anak membuat aku ragu memegang gagang bambu. Perhatian semua orang terpusat padaku.
"Ambil saja, aku bisa bakar ikan lagi." Kak Heman menatapku penuh harap. Karena tidak kunjung mendapat tanggapan, Kak Heman pun meraih tanganku agar memegang gagang sate miliknya. "Makan," ujar Kak Heman mengusak rambutku.
__ADS_1
"Makasih Kak."
Kak Heman tersenyum lembut, meninggalkan aku bersama kebingungan harus berbuat apa selanjutnya. Aku memutuskan duduk di sebuah batang pohon sedikit jauh dari tempat keramaian. Memerhatikan canda tawa mereka---para sepupuku. Katanya aku adalah bagian mereka. Nyatanya di sini aku orang asing. Mana berhak orang asing merasakan kehangatan mereka. Bahkan dia pun tertawa, matanya hampir tidak terlihat saking bahagianya dia. Tidak ada yang peduli akan kehadiranku.
Aku jadi rindu rumah, rindu Kanada, rindu teman-teman di sana. Aku hanya bisa menghela napas, selalu sesak bila mengingat masa lalu.
Di tengah keramaian itu, tawa dia terhenti ketika matanya terserobok denganku. Dia menatap sekian detik, sebelum keluar kelompok. Kaki panjangnya berlari kecil, tidak melepaskan lengkungan di bibir. Sial. Dia manis sekali.
"Hei!"
Tak disangka, dia telah berada di dekatku. Sama-sama menikmati keramaian, kami duduk berdampingan.
"Gimana? Ikan bakarnya enak?"
Aku mengangguk sekilas, menimbang kata yang tepat atas hidangan tadi, "Agak gosong, sih."
Dia tertawa mendengar jawabanku. Perasaanku saja atau memang benar jika dia mudah sekali tertawa. Padahal tidak ada yang lucu.
"Iya, memang gosong," ujarnya lagi disela tawa.
"Tapi enak."
"Yaaah nanti juga kamu akan terbiasa."
"Nanti?"
Dia mengangguk, "Iya, kamu akan terbiasa dengan makan di perkumpulan ini. Biasanya tiap Minggu atau tergantung keadaan, kami bisa kumpul kapan saja."
Dia bicara seolah aku akan datang lagi.
"Aku tidak akan ke sini lagi," sanggahku.
Aku terdiam.
"Kalau kamu tidak nyaman, aku akan bicara pada Heman. Dia bisa mengerti."
"No." Tangannya aku cekal. Kami bersitatap lama. Aku teringat kejadian sama di malam terakhir dia menulis kalimat tidak akan menemui aku lagi. Aku juga mencekal tangan dia malam itu, seperti ini. Tetapi kali ini aku merasa aneh. Mungkin karena aku terlalu senang kami bisa berdialog.
"Kamu akan mempermalukan aku. Em ...."
"Jaya."
"Huh?"
Dia menaruh tangannya di udara. "Namaku Jaya."
***
"Terimakasih."
Jaya mengantarkan aku kembali ke rumah. Setelah berkenalan langsung, selain jadi mengetahui nama lengkapnya, aku juga selalu berbunga-bunga akibat perlakuan dia.
"Sama-sama."
__ADS_1
"Aa, Opi ngantuk. Boleh tidur di kamar Kak Una, ya?" tanya Sophia menguap. Anak itu sudah terkantuk-kantuk sedari tadi.
"Kita tidur di rumah ya, Pi. Sebentar lagi kan sampai rumah. Itu rumah Opi udah kelihatan."
Sophia memberengut pada kakak laki-lakinya.
"Engh ya sudah, Bungah, kami pergi ya. Takut Sophia ketiduran, dia berat kalau harus aku gendong," kekeh Jaya.
"Iya, dah Opi."
Sophia melambai lemah.
"Eh Jaya," Jaya tidak jadi melaju.
"Ya?"
Aku menunduk malu, ada yang menggelitik perut saat aku menyebut namanya. "Kata Dewi, waktu aku pingsan saat upacara bendera, kamu yang membawa aku ke UKS ya? Makasih sudah menolong. Sebenarnya aku ingin bilang jauh-jauh hari. Tapi kita, maksudnya aku baru punya kesempatan dekat kamu sekarang."
"Nggak apa-apa. Itu sudah kewajibanku juga. Om Lingga menitipkan kamu di sekolah, apalagi kita satu kelas. Sebagai saudara, kita harus saling menjaga, kan? Dan, sekarang kalau ada apa-apa tidak perlu sungkan. Selama bisa aku pasti bantu."
Jawabannya benar, tapi---entahlah. Ada sisi diriku menuntut lebih.
Aku tersenyum. Jaya memang orang baik. Kenapa aku berharap lebih padanya, hubungan lebih dari saudara ya? Ya ampun sadarlah Bungah, dia sepupumu. Dia sama dengan kakak laki-lakimu.
"Ekhemm."
Suara berat berdeham di belakangku setelah kepergian Jaya.
Papa berpangku tangan di teras rumah. Ini kali pertama aku keluar rumah setelah pindah negara. Terlebih aku pulang malam dan diantar laki-laki.
Aku tidak takut, Papa juga berani membawa wanita ke rumah tanpa meminta pendapatku dulu. Meski alasannya demi kebaikan aku, tetap saja aku belum siap menerima wanita lain mengisi struktur keluarga kami.
"Bungah main kemana saja baru pulang jam segini?" tanyanya mengikutiku ke dalam rumah. "Siapa tadi?"
"Jaya."
Papa bersiul, menyebalkan sekali. Di situasi renggang begini, sempat-sempatnya Papa berusaha bercanda.
"Jaya kakaknya Sophia ya?"
"Hu'um. Aku pergi ke acara makan-makan ikatan sepupu."
Puncak kepalaku ditepuk-tepuk pelan. Saat mendongak, Papa sedang tersenyum bangga padaku. Senyum yang sama saat aku mendapat piala penghargaan juara tiga lomba matematika.
"Bagus. Bungah harus beradaptasi di sini. Terutama dengan saudara-saudara. Gimana keadaan di sana?"
Aku mengulum bibirku sebelum berkata, "Lihat mereka, aku ingat sahabat-sahabatku di Kanada. Kapan kita pulang ke Kanada, Pa?"
Mengalihkan pembicaraan, mana mungkin aku cerita keberadaanku diasingkan. Bukan hanya itu sih, aku memang masih menganggap negara lain sebagai rumah.
Papa membasahi bibirnya. "Bungah bisa menghubungi teman-teman di sana kapan saja. Sekarang, Bungah cari dulu teman di sini, oke? Hitung-hitung tambah teman beda negara, tambah relasi. Nanti, kalau ada waktu, ada rejeki, kita bisa berkunjung ke sana."
Berkunjung. Berarti tidak ada harapan menetap di sana. Aku pernah mencuri dengar percakapan Papa dengan Mr. Toomes ayahnya Billy, mereka membicarakan penjualan rumah kami di sana. Aku agak kecewa Papa meninggalkan kehidupan nyaman di sana hanya demi kenangan masa kecilnya. Papa cukup paham apa yang aku rasa, segera merangkul bahuku. Setelah itu hubungan kami membaik.
Wanita berkebaya merah di depan pintu terlarang menatap kami datar. Dia masih dengan rambut panjang dan untaian bunga melati. Kini aku bisa melihat dia di setiap sudut rumah.
__ADS_1
Mengingat perlakuan wanita bau melati itu pada leherku selalu menakutkan. Dia berniat membunuhku. Jika lengah, kemungkinan aku mati.
--Damaisland--