
"Hai, Jay!"
Pagi-pagi Jaya sudah duduk di atas sepedanya, di halaman rumahku, bersiul-siul ngobrol sama burung kakak tua peliharaan Papa. Papa menyambut Jaya senang hati. Alasan lain Papa begitu senang melihat Jaya karena dirinya tidak perlu mengantarkan aku ke sekolah.
Kami naik sepeda, bedanya aku dibocengnya tidak lagi berdiri. Kata Jaya, aku harus mengakrabkan diri pada lingkungan sekitar. Bila berangkat menggunakan sepeda kami bisa berpapasan dengan warga desa dan aku harus bisa menyapa mereka.
"Karena kamu punya darah Indonesia, bukan Kanada."
Selalu saja bijak dan penuh sindiran. Untung saja dia tampan. Setidaknya wajah Jaya tidak pernah bosan dilihat dari jauh apalagi dekat.
"Itu adiknya Raka, namanya Raina," tunjuk Jaya pada satu perempuan berambut sebahu. Jaya sedang memperkenalkan aku siapa-siapa saja di acara perkumpulan sepupu kemarin. Aku tidak sempat berkenalan dengan mereka. Karena ya..., mereka tidak berminat akan kehadiranku. Jadi aku harus mencari tahu tentang mereka. Salah satu caranya meminta Jaya menceritakan mereka.
"Raka yang mana?"
"Raka yang itu, baru keluar dari koperasi siswa. Raka sama Raina anak-anaknya Bi Lisna. Raka orangnya pandai bersosialisasi. Dia juga ketua OSIS sekolah kita."
"Seperti kamu, pandai bersosialisasi ya."
Jaya terkekeh hambar, "Setiap orang perlu bersosialisasi, Bungah."
"Iya, iya. Lanjut."
"Nah, itu namanya Anggara."
Kami menghabiskan jam istirahat dengan berkeliling sekolah. Jaya memperkenalkan hampir semua sepupu yang ada. Sebagian lagi beda sekolah.
Ternyata perkumpulan sepupu di keluarga ini adalah organisasi mikro yang cukup terorganisir. Ada ketua, wakil, dan bendahara. Mereka dipilih setiap tahunnya berdasarkan jumlah suara. Untuk tahun ini Jaya calon kuat pengganti Kang Bagas---ketua saat ini. Kang Bagas adalah sepupu tertua kedua, dia sedang kuliah semester akhir. Itu juga yang menjadikan alasan mengapa dipercepatnya penggantian ketua, karena kesibukan Kang Bagas sendiri.
"Kang Bagas itu kakakku."
Aku mengerti sekarang, Jaya tidak enak hati disebut calon kuat ketua selanjutnya. Dia tidak ingin dianggap memonopoli kekuasaan karena kakaknya. Sedangkan,
"Heman lebih pantas."
menurutnya.
"Kenapa harus menunjuk orang lain, kalau mereka mengiginkan kamu, Jay?"
"Karena jika aku maju, berarti aku menyalahi urutannya. Heman lebih tua dari aku."
"Bukannya kalian seumuran ya?"
"Hmm, tidak. Dia lebih tua."
Kita malah meributkan siapa yang lebih tua. Sebenarnya Jaya tidak mau disebut tua. Dasar Jaya.
***
__ADS_1
Selepas bel tanda pulang berbunyi, Jaya menelengkan kepalanya ke arah pintu. Aku cepat membereskan peralatan belajar ke dalam tas menyusul Jaya ke luar.
"Jay aku mau ke kamar mandi dulu."
"Oh, ya sudah sini tas kamu biar aku pegang."
"Jay!" selaku. "Aku nggak akan kabur."
Jaya terkekeh, "Maksudnya biar kamu tidak berat bawa-bawa tas. Aku tunggu di sini ya."
Jaya menerima tasku. Aku sendiri berlari ke arah kamar kecil. Tidak tahan lagi menahan kencing. Sampai di sana, sepi, pintu-pintunya terbuka. Kamar kecil ini yang paling dekat dari kelasku. Daripada aku kencing di koridor, aku mengalahkan ketakutanku pada kamar kecil ini.
Di luar riuhnya orang-orang keluar kelas membuat napasku menghembuskan. Apa yang ada dipikiranku selalu horor. Belum lagi cerita-cerita Dewi tentang sekolah ini. Ada perkembangan dari sikap judes Dewi, sedikit-sedikit dia mau bicara padaku. Bagaimana pun bangunan di sini memang mendukung cerita hantu. Lagi-lagi aku membandingkan keadaan sekolah lamaku.
Kriet pintu terbuka disusul air mengalir dari keran membuat kepalaku menoleh pada dinding, lalu langit-langit kusam rumah bagi laba-laba. Aku sudah selesai, segera membuka pintu dan ...
Tidak ada siapa-siapa. Sedangkan keran terbuka membiarkan air mengalir deras. Terganggu oleh perkataan Papa guna menjaga lingkungan lewat menghemat air, aku memutar keran hingga menyisakan suara tetesan lambat.
Sejenak jemari yang basah menepuk pipi, merapikan rambut sebentar. Bu Nada kembali meminta aku mengubah rambut jadi warna alami. Guru-guru tidak percaya warna rambut alami milikku coklat tua. Menyebalkan.
Sejurus kemudian aku terlonjak kaget menubruk tempat sampah. Di cermin besar itu seorang perempuan berdiri di belakangku. Namun nyatanya hanya ada aku sendiri. Pintu-pintu kamar kecil terbuka lebar, artinya tidak ada yang masuk selain aku dari tadi.
Bola mataku tidak tenang menghadapi semua hal baru ini. Perempuan penuh darah itu beseringai pada cermin. Bergerak pelan menciptakan cakaran darah di sana.
Dia sering kali muncul saat aku sendiri. Aku tidak menceritakannya pada Papa, karena pasti Renata akan dipanggil lagi ke rumah. Lebih baik aku tidak menceritakannya pada siapapun.
"Bungah!"
"Kamu bertelur di wc ya? Jaya sampai cari kamu tuh."
"A-aku. Kamu mau ke mana?"
"Aku mau kencing. Kenapa sih muka kamu seperti habis lihat hantu begitu."
"T-tidak, Wi." Aku menyengih aneh, Dewi pun geleng-geleng masuk ke dalam kamar mandi. "Aku duluan ya Wi, mau ketemu Jaya dulu. Sepertinya dia mengajak pulang bersama."
"Oke. Dah, Bung!" balas Dewi menggema dari dalam.
"Iya. Dah ...."
Aku segera berlari. Bergidig melirik sekilas ke arah cermin.
***
"Bungah?"
Aku menoleh. Kak Heman berhenti di pinggir jalan.
__ADS_1
"Hai, Kak," sapaku.
"Hai. Dijemput Om Lingga?"
Aku menggeleng.
"Ayo aku antar kamu pulang."
"Bungah pulang sama aku, Hem."Jaya muncul mendorong sepedanya.
"Kamu sama dia?" tanya Kak Heman sambil menunjuk Jaya.
"Iya kak, aku sama Jaya."
Kak Heman tersenyum kecut, lalu mengangguk sebelum pergi dengan motornya. Aku merasakan aura berbeda berada di antara mereka. Sampai Jaya menyuruhku duduk, aku bisa bernapas lega.
Sedang aku duduk di jok belakang Jaya. Dia sengaja menambahkan jok itu agar aku tidak berdiri terus saat diboncengnya. Perlakuan manis Jaya akan membuat siapa pun merasa istimewa. Sebelum terjerumus pada perasaan lebih jauh, aku selalu mengingatkan diri sendiri, Jaya adalah sepupu.
Tapi tidak bisa ....
Aku selalu lemah menghadapi sikap manis Jaya. Aku ini perempuan dan dia laki-laki. Banyak yang mengatakan persahabatan antara perempuan dan laki-laki itu nyaris nol. Mungkin ada tapi jarang berlangsung lama.
"Lagi mikir apa sih, Bungah?"
"Hm? Enggak. Aku cuma---" Tidak bisa dipungkiri dari kedekatan kami, aku berharap lebih. Itu pun jika Jaya punya keinginan sama. Aku berakhir terkekeh sendiri.
Jaya mungkin aneh dengan sikapku sekarang. Dia ikut tertawa hambar.
"Cuma apa?"
"Tidak jadi, Jay. Aku cuma senang akhirnya punya teman di sini," kataku mengeratkan pegangan pada perut Jaya. Tidak seratus persen bohong, aku senang bisa dekat Jaya dan Dewi.
Jaya tidak memberi respon apapun, dan aku pikir tidak perlu juga.
Menikmati perjalanan pulang bersama Jaya, aku sedikit bersenandung. Lagu-lagu yang aku pilih acak seingatnya.
Pohon beringin besar sudah terlihat dari jauh. Tandanya sebentar lagi sampai di desaku. Sepanjang jalan tersisa aku terus bersandung, sampai melewati pohon beringin mataku mengerjap.
Aku menoleh ke pohon beringin tadi ketika jarak hampir meninggalkan jauh. Benar, seseorang tengah berdiri di sana. Dia wanita yang mulutnya berlumuran darah. Tersenyum lebar padaku, hingga aku mendengar gumaman lirihnya. Dia mengikuti laju sepeda Jaya. Berpindah dari tiap samping rumah warga dan pohon-pohon yang ada.
Napasku tercekat seketika. Tanpa sadar tanganku mencengkeram erat seragam Jaya.
"Bung, kenap---"
Tubuhku limbung tanpa bisa diantisipasi menubruk kerasnya jalan berbatu. Tersungkur ke atas miliaran debu. Tanganku meraba kening ketika sesuatu terasa mengalir hangat. Warna merah aku jumpai di sana. Juga wanita yang mulutnya berlumuran darah itu berseringai menakutkan di ujung kakiku. Samar-samar sebuah senandung mengalun.
Teriakan Jaya mendekat disertai langkah kaki begitu cepat. Sepedanya dia lempar asal. Wajah khawatirnya menghalangi pandanganku pada wanita itu. Telingaku berdenging saat Jaya memintaku agar tetap menjaga kesadaran. Hanya terlihat Jaya makin panik menggerak-gerakan mulutnya. Kelopak mataku mengalun lambat, hingga gelap gulita berjumpa lagi.
Perempuan itu pun tertawa.
__ADS_1
--Damaisland--