Keluarga Brutal

Keluarga Brutal
Part 11 Keluarga Terkutuk


__ADS_3

Rombongan berjubah hitam bergerak menuju hutan. Obor menyinari jalan setapak malam itu. Sementara seorang perempuan diseret kasar oleh mereka. Jeritan serta tangisannya tidak dipedulikan. Perempuan itu tidak kehabisan cara melepaskan diri, terus meronta meski kelihatannya cengkeraman pada lengannya semakin kuat. Tidak ada belas kasihan.


Langkah mereka menderap di bawah cahaya bulan. Serangga-serangga hutan mengiringi perjalanan. Burung kematian berpindah ke setiap dahan pohon, menjadi saksi. Lalu awan hitam membawa kelam, menyelimuti sempurnanya bulatan bulan.


Gemuruh langit seolah memperingati sebuah batas kemanusiaan telah dilanggar. Hujan pun ikut serta menemani tangis perempuan itu, membasahi tanah yang sedang mereka cangkul. Bara obor di tangan mereka seketika padam.


"Laras."


Aku tersentak, meraup udara di ruang kosong. Seperti baru saja menarik jiwaku yang hendak keluar. Langit-langit kelambu bergambar bunga merah darah buat aku berpikir, mimpi apa aku barusan? Perempuan dalam mimpiku terasa familiar. Mengapa akhir-akhir ini mimpiku selalu aneh?


Kokokan ayam jago penanda siang terdengar nyaring. Melirik jam dinding, ternyata aku kesiangan lagi. Gawat! Tidurku amat tenang. Tidak ada alarm--gedoran pintu ulah Papa pula.


Segera aku ke luar kamar. Hening aku dapatkan. Ua Hanggara terlihat baru keluar dari ruang terlarang, sedang menggembok pintu. Hampir seluruh anggota keluarga ini merahasiakan ruang terlarang. Hanya aku dan Papa yang tidak boleh masuk ke sana. Kata Papa ini masalah kepercayaan.


Mungkin mereka menganut ajaran iblis, siapa tahu, 'kan? Lantas aku cepat melarat pemikiran itu, enggan mengulang kejadian terakhir kali di ruang terlarang. Di tempat baru jangan berpikir, berkata, dan bertindak sembarangan. Aku mengetuk-ngetuk kepala.


"Bungah?" Ua Hanggara menyadari kehadiranku.


Aku tersenyum canggung, mengangguk sopan. "Ua."


Hanya itu. Di antara kakak-kakaknya Papa, Ua Hanggara agak menakutkan. Jarang sekali aku mendengar suaranya. Kami pun berlalu tanpa basa-basi panjang. Ua Hanggara keluar halaman dan aku ke kamar mandi.


Rumah peninggalan Nenek hanya punya satu kamar mandi, yaitu di dekat dapur. Karena letak kamarku berada di ujung maka sedikit jauh. Aneh, pagi ini berbeda. Biasanya sepi, tapi kali ini sepinya terasa mencekam. Aku melirik dapur tempat Papa memasak untuk sarapanku. Letak kamar mandi dan dapur yang bersebelahan mengharuskan aku mendengar omelan Papa gara-gara telat bangun. Pagi ini tidak ada Papa di sana.


Kemana sih Papa sepagi ini? Tidak biasanya pergi tanpa sepengetahuanku.


Sedangkan menunggu ember terisi air, aku bersenandung pelan. Caraku membunuh ketakutan. Bila merasakan keanehan, mataku tak bisa tenang, liar melihat sekeliling. Sungguh, tidak adanya Papa sangat aneh. Lebih tepatnya tidak terbiasa.


"Laras."


Kepalaku sontak tertoleh ke berbagai arah. Baru saja aku mendengar seseorang memanggil, namun bukan pada namaku. Aku diam sejenak, hanya ada kucuran air yang meluap dalam ember. Degub jantungku sangat keras hampir pecah. Segera kepalaku menggeleng berusaha positif, mendoktrin diri sendiri tidak ada yang bersuara selain aku. Selain aku.


Tapi perasaan tidak bisa dibohongi. Aku menatap waspada ke setiap sudut kamar mandi.


***


 

__ADS_1


 


"Bungah kamu suda--waw?"


Papa tertergun begitu membuka pintu kamar. Aku menertawakan kekagetannya.


"Gimana?"


"You so--I'm speechless. How--why?"


"Jelek ya Pa?"


"Bukan gitu, maksudnya Papa kaget tiba-tiba rambut anak Papa jadi hitam. But--Papa gak tahu--I mean ya ... kamu jadi lebih mirip anak pribumi sekarang, haha. Bercanda, Sayang. Kamu tetep Bungahnya Papa yang cantik. As always." Papa belum berhenti dari kekagetannya.


"Hm ..., gombal!"


"Eh? Papa serius juga. Oh iya, hari ini sarapan bersama. Agenda bulanan keluarga. Ayo!"


Tanganku ditarik Papa ke halaman depan, di bawah gazebo di lingkungan rumah keluarga kami,  orang-orang berkumpul.


"Hai, Bungah!" sapa saudarinya Papa.


Jaya menepuk tempat kosong di sisinya, namun Papa segera menarik tanganku agar duduk dengannya saja.


"Pacaran itu ada waktunya, kalau di rumah waktunya Bungah sama Papa," bisik Papa.


"Ih Papa, aku gak pacaran kok."


"Ah masa ...." Papa memberiku sepiring nasi berserta lauk-pauk. Oke, makan berat pagi ini. "gak pacaran tapi kalian lirik-lirikan gitu."


"Papa ...." Aku malu.


"Bungah ganti warna rambut?" Ua Lisna meletakan segelas air teh di meja setiap orang menginterupsi acara bisik-bisik kami.


"Iya, Ua. Sekolah nggak melarang muridnya berambut pirang."


"Mau jadi orang Indonesia asli katanya." tambah Papa sambil mengunyah. "Aneh, ya? Masa seberapa Indonesia-nya kita diukur dari warna rambut. Apa kabar rambut putih nenek?"

__ADS_1


Mereka terkekeh karena lelucon Papa, dilanjutkan dengan obrolan ringan keluarga. Obrolan yang membicarakan prestasi tiap anak, membicarakan bisnis mereka. Sebagian besar tentang pamer. Tidak jarang mereka membandingkan anak satu dan anak lainnya. Lalu pembicaraan para orang tua teralih pada keributan si kembar berebut makanan. Papa menoleh padaku, tersenyum maklum agar aku melanjutkan makan dengan tenang.


Satu lagi keanehan keluarga ini. Mereka tidak punya pasangan, semua yang duduk meriung bersila di atas karpet adalah keluarga inti. Tidak ada menantu.


Keluarga Jaya juga, ayahnya Jaya kerja jauh di Kalimantan biasa pulang dua atau tiga bulan sekali. Beda lagi dengan kisah Ua Hanggara yang istrinya tidak jelas ada di mana. Ua Lisna dengan suaminya cerai mati. Ua Anjani dengan suaminya juga cerai mati. Sedangkan Papa tahu sendiri sudah lama menduda, malah minggu lalu ditinggal nikah sama mantan istrinya. Hanya Tante Nidria, anggota keluarga yang paling normal kehidupannya. Tante Nidria punya dua anak dan mereka tinggal di kota.


Apa keturunan Papa punya semacam kutukan terhadap keluarga bahagia ya? Papa sempat menyangkal, ini semua hanya kebetulan.


Di dunia ini tidak ada yang kebetulan.


Aku pun membilas sabun di tangan. Kami dibiasakan mencuci alat makan masing-masing setelah menggunakannya.


"Cantik." Jaya bergumam mendekatkan wajahnya padaku saat berpapasan.


Lantas bibirku berkedut semu, tersenyum malu. Tiada hari tanpa godaan Jaya.


Pagi itu kami berangkat sekolah dikenyangkan dulu oleh masakan enak saudari-saudarinya Papa. Mobil Papa ditumpangi tiga sepupuku, si kembar Pratama dan Pratiwi juga Sophia. Terkadang aku lupa nama-nama mereka, anak dari siapa mereka, kelas berapa mereka saking banyaknya sepupu.


Pratama dan Pratiwi sendiri duduk di sekolah menengah pertama, empat ratus meter dari sekolahku. Mereka turun lebih dulu. Sedangkan Sophia, anak itu hanya ikut-ikutan. Sophia baru masuk taman kanak-kanak, hari ini dia meliburkan diri sendiri, alias merengek tidak mau sekolah.


Dari acara makan bersama keluarga tadi, agaknya menciptakan sedikit celah bagiku bergaul dengan mereka. Bahasan utama tadi soal rambutku. Mereka menjengkelkan sih banyak bertanya, tapi dibalik semua itu mereka lucu.


"Hm? Ungah bilang apa?"


Aku menoleh, Papa sedang menatapku datar. "Unga nggak bilang apa-apa," jawabku menggeleng.


Papa keheranan, terlihat tidak yakin. Lalu beralih ke kursi belakang dimana Sophia tersenyum lebar.


"Opi bicara sama Om?"


Anak itu menggeleng, dia cekikikan sendiri. Aku dan Papa berpandangan, agak merinding sebenarnya.


Ada apa dengan anak itu?


 


 

__ADS_1


--Damaisland--


__ADS_2