Keluarga Brutal

Keluarga Brutal
Part 14 Seorang Penembang


__ADS_3

Nenek seorang penembang lagu-lagu lawas. Tutur katanya santun dan lemah lembut. Suaranya merdu, pernah jadi pengiring seorang dalang kenamaan memainkan wayang golek. Nenek menghabiskan sepanjang hayatnya mengabdi pada seni.


Ada sebuah sanggar kesenian dikelola keluarga Nenek. Secara turun-temurun dilestarikan tetap ada. Aku pernah menyaksikan Nenek mengajarkan tari pada anak-anak desa. Sekarang Tante Rinanti yang mengajar di sana.


Ketika aku mendengar Nenek bersenandung. Aku merasa berada di tengah hamparan sawah yang sangat luas. Menyusul petikan kecapi membawa pengkhayatan paling dalam kala angin bertiup pelan menciptakan gulungan ombak lautan hijau padi. Pada ketukan ke sekian nyawa di setiap kata mengalir dari sela bibirnya.


Itulah lagu yang sering Nenek nyanyikan sebelum aku pergi tidur. Nenek bilang lagu itu menceritakan seorang wanita ditinggal suaminya berperang. Menggambarkan pengharapan akan pulangnya orang tercinta. Mewakili kisah hidup Nenek.


Lagu itu mengingatkan Nenek pada Kakek. Di dinding ruang tamu ada potret Kakek mengangkat senjata. Mirip Papa, mereka sama-sama gagah. Pantas saja Papa agak kaku dan tegas, mungkin karena faktor keturunan juga. Tapi biasanya mereka tipe makhluk romantis, terbukti, Nenek tidak pernah lupakan Kakek. Meski telah puluhan tahun dipisahkan maut. Setiap waktu, selalu mengingat Kakek. Seperti kata lain dari Kakek tetap hidup dalam hati.


Kakek tewas melawan tentara pembelot negara pasca kemerdekaan Indonesia. Papa masih dalam kandungan waktu itu. Semasa hidupnya Papa belum penah melihat ayahnya secara langsung.


Menuju malam yang panjang Nenek banyak berkisah mengenai awal pertemuannya dengan Kakek. Tentang sebuah rasa yang melebihi kata cinta ialah kasih sayang. Mereka disatukan perjodohan pada usia amat muda. Di desa, orang-orang belum mementingkan pendidikan selain bertani. Bahkan belum mengenal apa itu cinta, mereka yakin tidak butuh cinta dalam mengawali hubungan. Lambat-laun akan menyadarkan mereka tentang satu sama lain, mengikat hati dengan kasih sayang.


Lalu aku bertanya, "Kenapa Mama dan Papa tidak lagi bersama? Apa mereka tidak saling menyayangi?"


Kulit di ujung mata Nenek berkerut ketika tersenyum. Nenek menghentikan kegiatan merajutnya beralih mengelus rambutku perlahan. "Mama dan Papa Bungah sudah menghabiskan banyak waktu untuk berpikir banyak hal. Mereka sangat menyayangi Bungah. Agar tidak melukai Bungah, mereka mengambil keputusan ini."


Aku tidak mengerti. Mungkin tunggu sepuluh tahun lagi, aku akan paham apa maksud perkataan orang dewasa. Baru kemarin aku ulang tahun ke sembilan, aku masih kategori anak kecil. Kata sepupuku ketika aku mendengar Papa dan Mama saling berteriak tengah malam, anak kecil lebih baik diam saja biar orang dewasa menyelesaikan.


Aku akan menutup tubuh dengan selimut berharap pertengkaran mereka tidak terdengar, biasanya aku terlelap sendirinya. Hingga suatu pagi, Papa membangunkan aku tidak biasanya. Papa memasukkan pakaianku ke dalam tas. Liburan mendadak di hari sekolah. Aku pikir Mama akan menyusul liburan kami di rumah Nenek, berminggu-minggu menunggu, Mama tidak kunjung datang. Aku hanya bisa melihat televisi setiap sore, menonton satu pembaca berita favoritku; Mama.


"Papa ajak kita ke Kanada. Nenek udah siap-siap? Kata Papa, di sana lagi banyak salju. Aku gak sabar ingin main salju. Nanti kita buat boneka salju yuk, Nek?"


"Nenek tidak ikut sayang," jawab Nenek terus mengelus rambutku, kegiatan ini cepat sekali membuat aku mengantuk.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kalau Nenek pergi, Kakek dengan siapa di sini?"


Oh iya, ada Kakek. Aku mengangguk ragu, terlalu mengantuk sekadar menyadari bahwa yang sudah mafi tidak akan pernah kembali.


Nyanyian Nenek semakin menggiringku ke alam mimpi. Di ambang batas sadar itu, sayup-sayup aku melihat seseorang memeluk Nenek dari belakang. Wajahnya buram, dominan gelap. Hanya pakaiannya pernah aku lihat di suatu tempat dikelilingi asap hitam. Apa dia orang yang sama pada malam-malam sebelumnya? Ketika Nenek menembang sebelum aku pergi tidur? Lawan bicara Nenek di kamarnya. Namun aku tidak pernah menjumpai wujudnya.


"Nenek bicara dengan siapa?"


Sekilas Nenek tersenyum, tangan keriputnya lihai menarik-ulur benang rajutan. "Kakek."


Baru bertahun-tahun kemudian aku menyesali penglihatanku malam itu. Harusnya aku bercerita pada Papa agar membawa Nenek ke Kanada. Semua sangat terlambat.


"Too late."


"Kebiasaan, bicara sendiri." Dewi mendengus. Aku mengerjap, sekelilingku orang-orang berbaju abu berlarian mengejar bola. Mereka bersorak berhasil memasukan bola ke dalam gawang buatan. Kami sedang berada di lapang serba guna dan memakai baju olahraga. "Hayu ganti baju bareng, moal?" (Ayo, ganti baju bareng, tidak?)


"Bung, titip barangku dulu ya. Aku mau beli pembalut, nanti ke sini lagi."


"Oke."


Dewi pergi ke koperasi, tidak jauh dari sini. Sedangkan aku lanjut melipat baju olahraga. Satu-dua orang memasuki kamar mandi. Mereka mengobrolkan sesuatu pakai Bahasa Sunda. Cukup terhibur, meski tidak mengerti mereka membicarakan apa. Sampai di dalam kamar mandi kembali sepi, tinggal diriku sendiri, Dewi tak kunjung kembali. Aku mengusap lengan, dingin sekali.


Di tengah ruangan sunyi, tetesan air mengenai wastapel pun menciptakan gema. Indera pendengaranku berkali-kali lebih peka. Aku mulai menggumamkan nada. Sesekali melirik pintu yang terbuka lebar, menengok setiap bayangan orang yang melewati kamar mandi ini. Bukan juga Dewi.


Hanya pantulan diriku di cermin besar menjadi teman. Jadi aku putuskan memberi Dewi waktu lima menit lagi. Jika dia tidak kunjung datang juga, aku akan kembali ke kelas lebih dulu membawa barang milik Dewi bersamaku.


Jam di pergelangan tanganku menunjukan tengat pergantian jam pelajaran. Sebelum sempat berhitung mundur, suara benda terjatuh mengagetkan aku. Langkahku otomatis menuju sebuah bilik kamar mandi.

__ADS_1


Ragu aku mendorong pelan pintu bercat biru penuh coretan jahil. Derit panjangnya terdengar linu. Tidak ditemukan apapun di dalam sana. Apalagi bekas benda terjatuh, langit-langit pun tidak ada bolong.


Namun satu yang menarik perhatian. Tusuk konde tergeletak di lantai mirip sekali dengan tusuk konde di ruang terlarang. Aku pernah melihatnya sekali, dan mengingatnya selalu.


Tanpa sadar, aku sudah berada di dalam bilik itu berjongkok demi memungut tusuk kode berwarna perak berkilauan. Tanganku yang terulur terhenti di udara, mendapati sepasang kaki penuh tanah. Aroma bunga melati membuat perasaanku tidak karuan. Aku paksakan meneliti dari ujung kakinya, kain batik cokelat tua ... noda tanah, kebaya merah hingga sepenuhnya aku mendongak menatap langsung wajahnya pucat pasi. Mataku membelalak. Itu wajahku!


"Laras ..."


Gelap seketika. Rasanya pasokan oksigen hilang tanpa tersisa.


Saat membuka mata kembali, Papa menangis di sampingku. Tanganku digenggamnya bergetar ketakutan.


"Pa, Unga dimana?"


"Di UKS. Tadi kamu jatuh di kamar mandi. Untungnya Hegar menemukan kamu. Bungah bikin Papa takut, tidurnya lama sekali. Jangan begini lagi ya, Nak."


Aku menggumamkan kata maaf. Pikiranku berputar, di kamar mandi tadi aku jelas melihat perempuan ... ah entahlah. Dia selalu muncul akhir-akhir ini.


Kilasan tentang perempuan berkebaya merah itu makin menyakitkan kepala, sepertinya sempat membentur sesuatu. Ada benjolan di keningku.


Di balik kesakitan ini aku ingin tertawa. Ada seseorang penjenguk. Dia mengintip di pintu. Itu Jaya.


 


 


--Damaisland--

__ADS_1


__ADS_2