
"Papa mau kemana sudah rapih jam segini? Kencan ya?"
Papa terkekeh, memakai sepatunya. Kemeja yang Papa pakai seingatku baru beli, menilik dari penampilannya sekarang pasti ada acara penting.
"Ke kantor mengantarkan kerjaan lagi?" Mataku memicing curiga, tapi hari ini Minggu. "Betulan kencan ya, Pa? Kok Papa nggak bilang-bilang sama Unga?!"
"Bungah .... Papa mau ketemu teman lama. Reunian gitu. Memangnya kamu mau ikut?" Papa mengenakan jam tangan.
Aku menggeleng, bukan pada pertanyaannya. Papa makin berkarisma saja diusianya saat ini. Belum kelihatan sudah punya anak gadis tujuh belas tahun.
"Tuh kan kalau Papa ajak kamu pasti tidak mau. Padahal di acara begitu, ada kok anak seumuran kamu ikut orang tuanya reuni."
"Iya ada dan nggak banyak. Nanti aku dijodoh-jodohkan lagi, nggak mau ah. Tapi beneran nggak kencan, kan, Pa?"
"Kencan sama siapa si--"
"Siang, Om."
"Nah tuh." Papa menyambut Kak Heman. "Mau ajak kencan anak Om, ya?"
Kak Heman terkekeh sumbang. Hari ini Kak Heman akan membawa aku ke perkumpulan sepupu. Kebetulan acaranya bersamaan dengan ulang tahun Raina. Aku diajak membuat kejutan bersama mereka. Ditambah Papa juga akan pergi, aku ikut Kak Heman saja dari pada di rumah sendirian.
"Om titip Bungah ya, Hem," pesan Papa menyaksikan aku pergi dibonceng Kak Heman. Papa melambaikan tangan, agak ragu mengizinkan aku pergi. "Hati-hati di jalan!"
Kak Heman membalas acungan jempol pada kekhawatiran Papa. Sedangkan mataku melihat Jaya mematung di pinggir jalan. Jaya memutuskan tatapannya terlebih dahulu, kembali mengayuh sepeda. Aku menekan sesak dalam dada. Bahkan Jaya tidak masalah aku pergi bersama orang lain.
"Nanti kamu yang bawa kuenya menemuni Rai, ya?"
Mereka mengangguk setuju pada perkataan Kak Heman. Aku mencari keganjalan di mata mereka. Takut-takut kena jahil lagi.
Jaya yang sedari tadi diam melihat kesibukan para sepupu memalingkan wajah ketika bersitatap denganku.
Kali ini, semoga saja langkahku benar. Aku mencoba mengikuti naluri, berbaur sebisa mungkin.
Raina datang sendirian ke tempat perkumpulan.
Mereka bersembunyi di semak-semak. Sedangkan aku berjalan hati-hati menghampiri Raina, membawa kue ulang tahun.
__ADS_1
Raina tampak terkejut melihat kehadiranku. Kami diam saling berhadapan sampai air matanya lolos. Semua orang keluar dari persembunyiannya menyanyikan lagu ulang tahun, Raina pun terisak. Aku sendiri terharu melihat kebersamaan mereka. Mungkin beginilah keluarga seharusnya.
Raina tiba-tiba memeluk aku. Dia menggumamkan kata terima kasih berkali-kali. Ada getaran aneh dalam diriku membalas pelukan Raina.
"Sama-sama," jawabku tidak kalah pelan.
"Hati-hati, Kak," bisiknya.
Raina mengusap air mata di selasar pipinya. Dia mengatakan sesuatu lewat mata. Aku mencekal tangan Raina, dia mengangguk sekilas beralih memeluk sepupu lain.
Kata-kata Raina tadi sedikit mengganggu. Dia tidak lepas dari pantauanku selama acara. Nyatanya bukan hanya Raina yang aneh hari itu, Raka juga. Dia terus memerhatikan aku. Jaya berada di sisi lain, sesekali menengok ke tempatku berdiri.
***
"Jay, kita perlu bicara," ujarku mencegahnya pergi. "Ayo kita bicara baik-baik, aku minta maaf jika permintaanku kemarin-kemarin membuat kamu kesal."
Jaya bergeming membelakangi aku. Dari kejauhan sorak-sorai di rumah pohon bersatu dengan gemericik air sungai. Satu hal yang pasti, Jaya berhasil merenggut kehangatan dalam hati. Apa artinya keramaian jika Jaya sedingin ini. Tidak berarti apa-apa.
"Aku nggak akan membicarakannya lagi kalau kamu tidak mau mendengarnya. Tapi tolong jangan begini."
Masih belum cukup kekesalan Jaya, sekarang bertambah kesalapahamannya. Kak Heman selalu datang di saat yang tidak tepat. Kedatangan orang ini membuat Jaya pergi meninggalkan aku. Kalau begini terus aku akan benar-benar kehilangan Jaya.
"Ayo gabung lagi."
Sisa hari itu aku habiskan di perkumpulan sepupu. Mereka tidak seburuk yang aku pikir. Entah kemungkinan aku telah terpengaruh oleh kata-kata Kak Heman di alun-alun kota itu atau mereka mulai membuka diri.
Mereka menerima kehadiranku. Membiarkan aku duduk di tengah-tengah mereka, merasakan hangatnya api pembakaran ikan juga asap yang menusuk mata. Tidak seperti pertama kali mengunjungi tempat ini, aku tidak merasa asing.
Sayangnya kebahagiaan itu kurang lengkap. Seseorang sedang mendiamkan aku tiga hari ini. Jaya memakan makanannya tanpa minat, tatapannya datar padaku. Posisi duduk kami berseberangan, bara api berada di tengah-tengah.
Dari tadi Sophia menempeli kakaknya. Begitu sabar Jaya menyuapi adiknya itu. Dia sangat menyayangi Sophia. Aku iri pada Sophia.
"Enak?" tanya Kak Heman mengaburkan lamunan.
"Hm? Eh--oh enak. Enak."
__ADS_1
Kak Heman mengipasi bara api, tangan satunya membolak-balikan ikan. "Minggu nanti ikut kumpul lagi, ya? Aku siap jemput kamu kok."
Sesungguhnya jika harus kumpul sepupu lagi, aku hanya ingin datang bersama Jaya. Aku harap minggu depan kami sudah baikan, sekarang pun aku ingin berbaikan dengan Jaya. Kalau saja aku bisa menahan sedikit rasa penasaranku mengenai keluarga ini waktu itu dan mencari tahu sendiri, mungkin saja saat inu aku dan Jaya sedang asik mengobrol berdua di depan api unggun.
Manusia memang hanya perencana, skenario kehidupan diatur seluruhnya oleh Yang Maha Kuasa. Namun di balik masalah ini, aku bisa selangkah lebih dekat dengan perkumpulan sepupu.
"Ucing sumput, hayu?" Pratama datang membawa setumpuk kayu bakar. Setengah melemparnya karena berat.
Semua orang berseru membalas ajakan Pratama. "Hayu!!!"
Sedangkan aku menoleh ke kanan-kiri tidak mengerti mereka kenapa.
"Kak, ada apa?" tanyaku akhirnya, bingung semua orang berkumpul membentuk lingkaran. Mereka berseru senang mengatakan 'gambreng gambreng'.
"Ucing sumput. Permainan petak umpet, kita bersembunyi biar orang yang jadi ucing-nya--maksudnya si penjaga mencari kita."
Setahuku ucing itu kucing. Sophia pernah mengatakan 'Kalau Kak Una mau maafin Opi, ucing Opi untuk Kak Una', esoknya Sophia datang ke rumah memberikan seekor kucing hitam padaku. Dalam permainan ini beda lagi ternyata, ucing juga bisa disebut manusia.
Aku pun berlari mengikuti alur permainan, ketika semua orang berpencar mencari tempat persembunyian. Raka yang jadi ucing. Kami harus bersembunyi dari Raka. Meski kebingungan di mana tempat terbaik untuk bersembunyi, aku terus berlari mengikuti mereka. Tiba-tiba tanganku ditarik seseorang.
Mulutku dibekap menahan teriakan ketakutanku.
"Jangan ke hutan," bisiknya membuat mataku membola. Jaya?
Huft. Kukira orang jahat!
Aku mengangguk patuh, telapak tangannya masih membekap mulutku. "Mereka tahu jalan pulang, tapi kamu akan tersesat di sana."
Beberapa sepupuku berlarian ke dalam hutan. Mereka hilang di balik pohon-pohon yang pekat.
Jaya melepaskan tangannya. "Kita bersembunyi di sini. Sejauh aku bersembunyi di tempat ini tidak pernah ketahuan."
Seruan Raka semakin mendekat memanggil satu persatu nama kami. Aku merapatkan diri pada Jaya saat Raka melewati tempat kami bersembunyi. Mulutku tak kuasa menahan kedutan, ternyata Jaya masih peduli.
__ADS_1
--Damaisland--