Keluarga Brutal

Keluarga Brutal
Part 10 Keranda


__ADS_3

Aku sudah bersiap menuju sekolah. Jaya menyandarkan sepedanya pada tembok pagar depan rumah. Sempat aku tengok jendela bekas pembobolan malam tadi. Jaya luar biasa menutupi perbuatannya, tidak ada bekas jendela dibuka paksa sedikit pun. Aku sempat tercenung beberapa lama. Tanpa membahas tadi malam kami berbincang di teras depan sambil aku memakai kaus kaki. Seketika tawa kami lenyap oleh kedatangan seseorang.


"Loh Jaya?"


Tidak ada angin, tidak ada hujan, Kak Heman berdiri di teras rumah memakai jaket parasut hitamnya serta tas yang dicangklungkan di bahu kanan. Sejenak aku dan Jaya bertatapan heran. Ada apa gerangan sepupu kami itu.


"Bungah sama Heman aja Om antar jemput, naik motor. Lebih cepat sampainya. Kemarin kan Bungah sempat kecelakaan gara-gara dibonceng sepeda, Om," kata Kak Heman tiba-tiba, melirik Jaya sinis.


"Kemarin Bungah pusing jadi jatuh. Jangan salahkan sepedaku ya. Justru naik motor tuh Om pasti bawanya kebut-kebutan."


"Aku hati-hati kok. Kapan sih kamu lihat aku balapan liar?"


"Justru aku belum pernah lihat kamu kebut-kebutan jadi aku khawatir. Jangan ejek sepedaku ya. Butut-butut begitu Bunga suka dibonceng sepedaku. Lagi gak baik saja nasib aku kemarin, sampai Bungah jatuh. Emangnya Bungah mau naik motor kamu?"


"Eh kamu kok ngomongnya meremehkan gitu?!"


"Kamu juga meremehkan sepedaku."


"Biar Bungah saja yang pilih sendiri. Motor atau sepeda. Haha pasti motorlah."


"Oh belum tentu. Bungah pasti--"


"Guys dengar dulu. Jadi gini ...," Papa menghentikan perdebatan mereka. "Om makasih banyak kalian sudah peduli sekali pada Bungah. Tapi karena kondisi anak Om itu lagi kurang sehat, hari ini sampai waktu yang tidak ditentukan, Om dan Mang Budi yang akan mengantar dan menjemput Bungah. Kalau Om ada perlu pasti hubungin kalian. Thanks for coming today. Semangat!" Bahu keduanya ditepuk Papa sembari digiring keluar teras.


Aku menghembuskan napas. Papa juga sama. Baru masuk rumah setelah suara motor Kak Heman ke luar halaman.


"Anaknya Papa gadis idaman ya ternyata."


"Apa sih, Pa?" aku masih bertopang dagu di meja makan.


"Itu loh sama sepupu-sepupu aja kamu direbutin, apalagi di sekolah." Papa terkekeh. "Wajar sih keturunan Papa."


"No kidding, Pa." geramku lemah. Papa mengusak pucuk kepalaku. "Where is my sepasang telor mata sapi?"


"Astaga, Bungah." Papa terbirit-birit. Dapur jadi sumber suara benda beradu. Papa datang sambil mengelap dahinya, menaruh sebuah piring di hadapanku.


"Apa ini hitam-hitam?" Telur di hadapanku gosong.


Papa menyengih. "Sorry, Sayang. Gara-gara para penggemar anak Papa, jadi lupa angkat masakan."


 


***


 

__ADS_1


Laju mobil memelan melewati iring-iringan warga. Langkah mereka pelan menundukan kepala, satu dua wanita menangis. Di barisan paling depan bahu para pria memanggul keranda berselimut kain hijau juga untaian bunga.


Aku dan Papa diam sepanjang jalan. Udara pagi bercampur wangi-wangian bunga.


Tadi malam kuda misterius, paginya keranda kematian. Kepalaku menggeleng, hanya perasaanku saja.


"Pa, siapa yang meninggal?"


"Tetangga kita. Terhalang beberapa rumah dari kita. Kasihan keluarganya ditinggal mendadak. Sepertinya sakit jantung."


"Banyak juga ya yang mengantarnya ke pemakaman."


Papa mengangguk, tangannya mengendalikan kemudi. "Beginilah hidup di desa. Solidaritasnya masih kuat. Mau berduka mau sukacita, semua orang kumpul."


"Ini juga alasan Papa tidak mau pindah ke kota?"


Kekehan Papa terdengar sumbang, "Ya ..., bisa dibilang begitu. Unga masih nggak betah ya tinggal di sini?" tanya Papa menoleh.


Aku bergumam memerhatikan persawahan. Papa tahu jawabannya. Ya. Perasaanku selalu tidak enak jika berada di rumah itu. Akan lebih menenangkan ketika aku berada di luar.


Sampai di sekolah Papa menanyakan jam berapa aku pulang, Papa akan menjemputku. Sepertinya pekerjaan Papa akan bertambah setiap paginya. Selain memasak sarapan, juga harus mengantar aku sekolah.


Sebetulnya Papa bukan seorang pria tampan yang mahir di dapur. Faktanya Papa baru menyentuh peralatan dapur setelah kami hidup di Kanada karena keadaan terpaksa--single parent. Sebagai pemula masakan Papa tidak jauh dari roti bakar, terkadang sepasang telur mata sapi, dan yang terbaru pancake. Percayalah pancake buatan Papa paling enak.


Jaya beranjak dari bangkunya menghampiri aku. Dewi sudah duduk membaca buku. Gadis berkacamata ini maniak belajar.


"Kamu sudah sarapan?"


"Belum." Aku teringat telur buatan Papa.


"Kita ke warung Bi Minah yuk? Aku juga belum sarapan."


"Boleh." Aku mengangguk sama riangnya. "Wi ikut kita nyari sarapan?"


Dewi sedikit mengangkat wajah, kacamatanya sedikit melorot. Tatapannya jatuh pada Jaya kemudian padaku. "Tidak."


Jaya berdecak.


"Tidak ada harapan ajak anak ambisius seperti dia."


"Siapa? Dew--"


"Stttth!" Jaya menempelkan telunjuknya di bibir. Kami terkekeh bersama melewati koridor sepi. Semua kelas tengah melakukan kegiatan belajar. Kebetulan sekali guru matematika di kelas kami tidak masuk. Ketua kelas membawa kabarnya dari ruang kesiswaan.


"Ini namanya nasi tumpeng bukan?"

__ADS_1


Jaya tersenyum, meminum teh hangatnya sebelum menjawab pertanyaanku, "Sama jenisnya, tapi yang ini namanya nasi uduk biasa dimakan saat sarapan. Sedangkan nasi tumpeng untuk perayaan."


Aku mengangguk, lidahku menikmati makanan rekomendasi Jaya. Menimang komposisinya dalam mulut.


"Enak."


"Mau tambah lagi?" tawar Jaya.


"No. Aku sudah kenyang."


"Baru sedikit kamu makannya. Atau tidak selera ya? Katanya makanan bule tidak pakai banyak rempah seperti makanan Indonesia."


"Hm western maksud kamu? Iya sih beberapa. Tapi aku suka ini, nasi uduk. Satu lagi Jay, aku bukan bule."


"Oh ya? Tapi," Mata Jaya mengarah pada rambutku.


"Ini pirang asli, mamaku memang keturunan Inggris-Padang, Nenek yang orang Inggris. Bu Nada minta aku menghitamkan rambut, apa itu harus ya?"


"Tetap saja ada darah luarnya," Jaya berdecak. "Warnanya kan asli, bukan dibuat-buat supaya pirang. Emangnya kamu nenek-nenek harus dicat hitam? Haha ada-ada saja."


"Jadi boleh begini saja?"


"Hu'um, bolehlah aku suka kok. Cantik."


Beginilah. Kalau menghadap siang akan didominasi tawa renyah Jaya, maka malamnya aku yang bicara banyak pada sosok ini. Terkadang aku heran, kenapa Jaya bisa berubah-ubah. Dia punya kepribadian ganda? Mungkin saja sih, atau ada hal lain?


"Jay, kamu punya saudara kembar?"


Tawa Jaya berhenti berganti kedua alis tebalnya bertautan.


"Tidak. Kenapa, mukaku pasaran ya?"


Jangan bercanda Jay.


Jaya itu paling tampan di sekolah ini, tampan versiku ya. Dia berbeda, entah mungkin aku langsung menyukai dia dari awal perjumpaan pertama. Tapi berkali-kali aku perhatikan tidak ada yang menandingi Jaya sejauh ini. Jadi aku berani mengatakan dalam hati, Jaya ini tipeku.


"Di jalan bertemu orang mirip aku ya?" tanyanya lagi.


"Tidak, ih. Sudah. Sudah. Ke kelas yuk?"


Jaya terkekeh mengejarku. Tangannya merangkul bahu.


 


--Damaisland--

__ADS_1


__ADS_2