
"Kok bukan Mang Budi yang jemput?" tanyaku mendapati Papa duduk manis di balik kemudi menungguku. Tadinya aku ingin ke rumah Nenek Surtiasih. Kalau Papa yang jemput, aku mesti putar otak memikirkan alasan sepele supaya mendapat izin Papa.
"Kenapa sih kalau Papa? Kayak nggak senang gitu."
"Ya, nggak apa-apa."
Tangan Papa lihai memutar stir. Membelah jalan menuju arah pulang. Deru mesinnya bersaing dengan kendaraan lain. Aku menyandarkan kepala pada kaca, memikirkan cara pergi ke rumah Mang Budi bertemu Nenek Surtiasih. Lalu setengahnya lagi memikirkan perkataan Raina di ruang kesehatan. Ah, lama-lama aku gila betulan.
"Mang Budi jaga ibunya lagi sakit."
Aku menoleh. "Nenek Surtiasih sakit? Ya, sudah kita tengok yuk, Pa?"
"Kamu ini. Pasti ada maunya nih. Aneh sekali seorang Bungah bisa serespek itu sama orang tua, terlebih orang lain."
"Kata Papa Nenek Surtiasih dan Mang Budi sudah dianggap keluarga. Berarti bukan orang lain dong."
"Mulai pinter ngelesnya. Iya, iya, Bungah. Kita akan tengok Nenek Surtiasih. Tapi beli buah tangan dulu."
Akhirnya alasan sepele itu hadir tanpa berpikir keras. Aku dan Papa berdiri di depan pintu sebuah rumah. Mengetuk dan menyerukan salam. Lingkungan ini tidak terlalu sepi saat sore begini.
Pintu pun terbuka, menampilkan wajah kaget Mang Budi.
"Lingga, ada apa ke sini? Sama Neng Bungah juga?"
"Bungah tiba-tiba merindukan Neneknya. Aku cerita ibumu sakit, Bungah langsung minta ke sini. Kami boleh menjenguk Nenek Surtiasih, kan Di?"
Sedikit rikuh Mang Budi membuka pintu lebar-lebar. Mempersilakan aku dan Papa masuk ke dalam rumahnya. Aku kembali duduk di ruangan ini. Potret-potret usang hampir menguning tergantung rapih di dinding. Tergambar jelas Nenek Surtiasih menyimpan banyak kenangan keluarga kami, aku tidak salah orang.
Jika dilihat dari rekam jejak pengabdiannya, leluhur Nenek Surtiasih juga mengenal betul keluarga kami. Banyak lukisan close up orang berwibawa yang letaknya di paling atas potret-potret usang itu. Sepertinya mereka adalah karya seni yang usianya sangat tua. Belum lagi pedang dan keris yang sengaja dijadikan ornamen tambahan. Aku takjub seketika. Keluarga ini sangat apik menjaga kenangan.
"Harusnya tidak perlu repot-repot ke sini. Bahkan aku tidak masuk kerja." Mang Budi datang membawa nampan hitam, lalu menaruh dua gelas teh hangat serta kue kering di atas meja. "Maaf kami tidak punya makanan unik. Silakan dinikmati."
"Ah, kamu Bud, seperti sama siapa saja. Bungah membeli buah-buahan tuh Bud."
Buah-buahan yang dibeli tadi aku serahkan pada Mang Budi. Dalam hati aku tidak sabar bertemu Nenek Surtiasih. Agak tidak sopan sih, mewawancarai orang sakit. Tapi ini urgent.
__ADS_1
"Mang," panggilku setelah beberapa lama menyela obrolan ringan Papa dengan Mang Budi. "Boleh Bungah lihat Nenek?"
Kedua pria di ruangan itu menatap aku penuh. Aku merasa aneh sendiri.
"Boleh," jawabnya mengundang senyum lebarku. "Neng Bungah ke kamar di samping lemari hitam itu ya. Nenek Surti juga menanyakan Neng Bungah terus dari kemarin."
"Bungah, jangan ganggu istirahat Nenek Surti ya?"
Aku mulai melangkah, Papa mewanti-wanti agar aku tidak berbuat aneh-aneh. Papa punya mata bulat yang sangat lucu kalau melotot, marahnya selalu dibuat-buat. Kemudian aku mengangkat kedua jempolku menimbulkan gelengannya.
Sebentar aku mengetuk pintu di depan pelan-pelan. Tidak ada jawaban. Maka kenopnya aku putar hingga pintu terbuka mengalirkan tekanan udara dari dalam sana.
Di atas ranjang, tubuh ringkih Nenek Surtiasih terbaring. Setengah mengendap-endap aku mendekat, takut beliau terbangun. Wajahnya menyuratkan kelelahan. Melihat bagaimana keadaannya sekarang, aku merutuki diri sendiri. Egoku mengalahkan kesopanan.
"Laras?" Nenek Surtiasih membuka matanya. Meski bukan namaku yang dipanggil, aku duduk di sisinya.
"Nek, ini Bungah. Putrinya Lingga," ujarku amat pengertian.
"Lingga? Bungsunya Nyi Mas?"
"Putrinya Wirasana. Penguasa desa ini. Laras kamu harus hati-hati dengan Guru Wirasana. Putrinya menyukai kekasihmu, Surya. Bila mereka tahu kamu punya hubungan dengan Surya, mereka ... mereka tidak akan tinggal diam. Laras lekas pergi! Pergi Laras! Pergi!" Mata Nenek membulat penuh, bergerak gelisah ketakutan. Getar suaranya menyatakan seolah sesuatu menakutkan sedang mengintai di sekitarnya.
"Nek, tenang. Tenang. Kenapa Nenek sangat ketakutan? Ada apa, cerita sama Bungah, Nek."
"WIRASANA!!" teriaknya mengagetkan. Tak lama Mang Budi dan Papa datang. Papa menatapku sukar diartikan. Aku mundur perlahan membiarkan dua pria itu menenangkan Nenek Surtiasih. "Wirasana! Ampun ...."
Jeritan Nenek Surtiasih menggema. Aku keluar kamar bersamaan seorang wanita dewasa masuk rumah. Orang-orang hanya bisa melihat dari jendela. Wanita itu menutup pintu serta menguncinya. Gorden pun tidak luput menutup akses penglihatan mereka.
Setelahnya kami berdiri kaku. "Maaf, Neng Bungah bisa menunggu di sini dulu?"
Walau belum mengerti pada keadaan ini, aku mengangguk. Wanita itu memasuki kamar Nenek Surtiasih. Teriakan Nenek Surtiasih perlahan lenyap. Benakku terus mengulang nama-nama dalam perkataan Nenek Surtiasih.
Wirasana? Siapa lagi dia?
***
__ADS_1
Sepulang dari rumah Mang Budi, Papa lebih banyak bungkam. Tidak akan bicara jika tidak ditanya. Satu kalimat sebelum aku melangkah ke dalam kamar terucap dari mulut Papa. Tubuhnya memunggungi aku.
"Jangan melakukan hal yang tidak perlu, Bungah."
Aku tidak melihat bagaimana raut wajah Papa saat mengatakan itu karena detik selanjutnya keheningan begitu pekat merambat. Papa meninggalkan aku sendiri. Menutup pintu kamarnya.
Itu sebuah ultimatum.
***
Satu nama menambah ikatan tali di atas karton. Salah satu sisi tembok kamarku menjadi tempat penghubung benang keganjalan-keganjalan keluarga ini. Hasilnya tampak semerawut, namun ada keyakinan aku bisa menemukan titik terang. Benang merah dari keganjilan yang aku alami.
Untaian pernak-pernak menutupi penelitianku itu. Siapa pun akan menganggap itu hiasan dinding biasa. Aku harus menyembunyikannya. Semata-mata agar siapa pun yang masuk ke kamar ini saat aku tidak di rumah, mereka tidak menaruh curiga pada apa yang aku sedang selidiki. Bahkan meski itu ayahku sendiri. Papa jelas akan menentangnya.
Lampu gantung di kamarku berkedip-kedip. Cahayanya yang kekuningan semakin redup. Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Dan hap, aku terkesiap, dalam satu jentikan lampu di rumah ini padam.
"Pa?" panggilku parno kegelapan, meraba-raba ruang hampa. "Papa?"
Papa tak menyahut, sepertinya sudah terlelap. Perlahan derit panjang lemari terbuka menggema dalam ruangan. Aku menelan ludah, tak berani membalikkan badan.
"Laras ...."
Seketika punggungku menegak. Bisikan lirih itu tepat di telinga, diikuti gumaman nada seorang perempuan. Kehadiran sosok lain di sekitarku semakin kuat. Pintu kamar yang telah aku kunci begitu pun jendela diteralis besi, cukup memberi jawaban siapa yang berdiri di belakangku ini.
Laras. Aku mengenal hawa dingin menakutkannya. Dia datang.
__ADS_1
--Damaisland--