
Setelah perdebatan hati cukup alot semalam Jumat kemarin. Jaya sepertinya marah padaku--dia tidak mau bicara. Jadi di sini aku berdiri, memandang keramaian bersama orang asing.
"Hei."
Matahari sedang menuju peraduan. Jingga di langit semakin pekat ketika aku dan seseorang berjaket kulit hitam duduk menghadap alun-alun kota.
"Maaf menunggu lama." Kak Heman memberiku sepiring makanan hangat. "Basotahu."
"Makasih Kak."
"Gimana?"
"Huh? Oh--enak. Saus kacangnya enak."
"Di sini banyak jenis jajanan enak-enak. Basotahunya lumayan terkenal."
"Hm ... Kak, boleh aku tanya sesuatu?"
Kak Heman mengangguk sambil makan. Aku tidak bisa berbasa-basi.
Kendaraan besar menuju Jawa Tengah bergerak pelan menorot jalan raya. Ruko-ruko menyalakan lampu, diikuti keramaian area penjual kaki lima. Bibir dalamku digigit kecil.
"Kak Heman pernah ke--"
"Ruang terlarang?" tebak Kak Heman, tersenyum kecil. "Jaya cerita." tambahnya menjawab keterkejutanku seolah isi pikiranku terbuka lebar untuknya.
Aku baru tahu Jaya dan Kak Heman berbagi cerita. Bukannya mereka agak beda pemikiran, ya? Bahkan Jaya secara terang-terangan melarang aku dekat dengan Kak Heman. Alasannya ... lagi-lagi Jaya punya alasan tersendiri.
"Sebenarnya di antara cucu Nenek, kamu orang pertama berhasil masuk ke ruang terlarang. Kami ngeri sekaligus salut sama kamu, bisa keluar dari sana dengan selamat. Bagaimana melakukannya?"
"Hah?"
"Iya. Waktu kita membawamu ke hutan itu ... kami minta maaf. Benar-benar minta maaf. Kejadian itu di luar rencana kejutan. Yang jelas kami terkesan, kamu begitu tahan banting terutama setelah keluar ruang terlarang. Kamu tidak sadar ya kami iri? Hegar adikku saja selalu memperhatikan gaya berpakaian kamu. Raka yang suka berkoar di sekolah sebagai ketua osis itu, diam-diam kagum mendengar setiap obrolanmu pakai Bahasa Inggris dengan Om Lingga yang mengalir begitu saja seperti kami bicara Bahasa Sunda. Pernah juga aku melihat Raina membawa pulang cat rambut sepulang sekolah, dia ingin punya rambut pirang seperti kamu. Tapi takut dimarahi ibunya. Melihat rambutmu berubah hitam di acara sarapan bersama, Raina tidak lantas kecewa. Dia tetap menyukai kamu. Katanya Kak Bungah itu keren."
"Hah?" Dibanding kagum, aku malah merinding.
Ternyata mereka lebih menakutkan dari Jaya yang berbeda kepribadian tiap siang dan malam. Ada sisi obsesi mereka terhadapku. Harusnya aku menyadari lebih dini, selama ini ketika aku merasa diikuti dan mengira itu ulah hantu ruang terlarang, ternyata dugaanku salah. Mereka adalah sepupuku sendiri. Pengagum yang bersikap membenciku itu perkumpulan sepupu.
"Mereka malu mengajak kamu bergabung. Padahal aku tahu semuanya." Kak Heman tertawa.
__ADS_1
"Ke-kenapa bisa?"
Kak Heman menatapku. "Karena mereka saudara-saudaraku. Aku kenal mereka sejak lama. Tahu kebiasaan mereka. Menurut kamu kenapa Sophia selalu mengikuti kamu?"
"Karena dia ... nggak punya teman?" Ua Rinanti--ibunya Sophia pernah bilang begitu.
Kak Heman menggeleng. Ditaruhlah piring basotahu miliknya di atas kursi. "Sophia menganggap kamu beda. Orang lain mana tahan sama kelakuan jahil dia. Sedangkan kamu bisa mengabaikan dia tanpa marah-marah."
Jadi aku harus senang mengetahui kebenaran mereka tidak benci aku? Refleks tanganku menggaruk tengkuk, agak asing mengetahui hal ini tiba-tiba. Bingung saja, sepulang dari sini aku harus bersikap bagaimana, biasa saja atau mulai menyapa mereka lebih dulu? Entahlah, jika keadaannya Jaya yang bercerita ini, pasti aku langsung percaya.
Aku diajarkan Mama melihat karakter seseorang dari matanya. Hasilnya tidak kuantitatif, namun beberapa terbukti. Dalam penilaianku sorot mata Kak Heman agak sulit ditebak.
Kak Heman lagi nggak bercanda, kan?
"Kak Heman, jujur aku agak bingung sama kata-kata Kakak barusan mengenai mereka. Waktu di perkumpulan sepupu, sikap mereka seperti singa lapar melihat kedatangan aku. Mereka tidak menyukai kehadiran aku. Kata-kata Kak Heman barusan agak aneh. Maaf."
Kepalaku ditepuknya pelan. Kami bersitatap, lalu mataku menangkap kehadiran seseorang yang jauh posisinya berdiri di dekat sebuah pilar memerhatikan kami. Aku diam saja sampai orang itu menghilang. Jaya?
Kenapa Jaya mengikuti ku?
"Kenapa Bungah?" Kak Heman berbalik mengikuti arah pandangku.
Tangan Kak Heman mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Pemantik membakar ujung benda yang diapit dua jemari Kak Heman. Kepulan asap dihembuskan bagai naga bernapas api.
Cigarettes. Papa tidak pernah merokok. Jika teman-teman Papa waktu di Kanada singgah selepas pulang kerja ke rumah kami, mereka membawa minuman juga rokok. Papa hanya makan kacang atau kuwaci meladeni mereka. Sedangkan aku akan berada di kamar. Katanya, Papa tidak merokok karena sayang paru-paru, takut mati konyol gara-gara asap sehingga tidak bisa menyaksikan aku hidup sukses.
"Itu namanya sasajen. Bi Lisna sering buat itu tiap malam Jumat."
"Untuk di simpan di ruangan itu?"
Selagi bibirnya tersungging menghembuskan kepulan asap, kepalanya mengangguk. Tubuh tegap Kak Heman menghalangi sorot kekuningan matahari tenggelam.
"Bukannya kita tidak boleh keluar malam Jumat?"
"Kita memang tidak boleh. Tapi para orang tua boleh. Di daerah kita masih kental adat istiadatnya. Setiap rumah waktu malam Jumat tiba, mereka mengirim sasajen untuk karuhun," jelas Kak Heman, baru saja aku membuka mulut Kak Heman kembali berkata, "Karuhun itu para leluhur. Kami mendoakan orang-orang yang sudah meninggal, terlebih untuk Tuhan Yang Maha Esa agar tanah kami subur dan panen berlimpah. Tapi ...,"
Merasa lucu akan jiwa penasaranku, aku pun terkekeh. "Tapi? Hehe. Maaf Kak, aku bawel orangnya. Nanya terus."
Kak Heman tertawa juga. Niatnya mengalihkan perhatian Kak Heman agar tidak melihat Jaya di sekitar kami malah mendapatkan informasi baru. Jika Ua Lisna setiap malam Jumat menyimpan benda itu di ruang terlarang, kemungkinan kakak-kakak Papa juga akan mengunjungi ruangan itu. Maka khusus malam Jumat pintunya terbuka.
__ADS_1
"...tapi kembali lagi, keinginan manusia itu beda-beda. Seperti pintu ruang terlarang yang selalu terkunci, niat orang yang memasukinya pun tidak ada yang tahu selain orang itu sendiri."
***
Sampai rumah aku menghela napas sebelum memutar kenop. Dari jalan, rumah milik keluarga Nenek terlihat damai. Begitu damai sampai aku merinding. Rumah itu punya aura berbeda.
"Bungah?"
"Malam, Pa."
Papa bangkit dari kursi. Kacamata bacanya dilepas begitu aku mendekat.
"Bukannya kamu sudah pulang ya, tadi kamu ... ke kamar. Kok--"
Papa berjalan menuju kamarku tergesa seperti ingin memastikan, aku mengikutinya.
Pintu kamarku dibuka. Sunyi.
"Tadi ... kamu--Papa yakin kok kamu masuk rumah melewati ruang keluarga. Daritadi Papa duduk di sana memeriksa file. Kamu lewat, tapi nggak nyapa." Papa menggaruk kepala.
"Pa, its ok. Mungkin Papa lagi capek. Maaf Bungah pulang kemalaman, tadi diajak Kak Heman makan dulu di alun-alun."
Papa memandang lamat-lamat wajahku, lalu menggeleng seraya memijit pangkal hidung. Keterkejutan belum hilang dari matanya. Aku mengerti, sebenarnya bukan hanya aku, Papa juga berat meninggalkan Kanada lalu tinggal di sini. Terutama menyangkut kariernya. Ketika ada kekhawatiran atau ketidaktenangan, aku akan langsung memeluk Papa.
"Maaf, gara-gara Bungah nggak ngasih kabar, Papa jadi kacau gini. Sepertinya Papa memang kecapean."
Semoga begitu, batinku mengamini.
--Damaisland--
__ADS_1