Keluarga Brutal

Keluarga Brutal
Part 18 Kematian Meliani


__ADS_3

Kabar duka datang hari ini. Seorang siswi meninggal tadi malam. Usia memang tidak bisa diprediksi. Ini soal kesanggupan sebagai makhluk ciptaan-Nya terhadap takdir. Termasuk cara kita meninggalkan dunia. Semua telah diatur.


Sayangnya ada ganjalan besar dalam hatiku mendengar kabar duka tadi pagi oleh anggota OSIS yang menenteng kardus ke tiap kelas meminta sumbangan. Apalagi mengetahui siapa gerangan yang telah berpulang itu. Adalah Meliani mantan sekretaris OSIS. Seketika dadaku sesak seperti ditikam gada. Ada jeritan yang berusaha meloloskan diri namun tak tahu jalan. Hanya air mata, padahal aku tidak mengenal siapa gadis itu.


Sembunyi di bawah bangku, tanganku termor. Adegan demi adegan membentuk sebuah sinema mengerikan. Semua bermula tepat bubaran sekolah kemarin. Aku menanti jemputan Mang Budi seperti biasa. Sudah direncanakan, aku akan memintanya menemui Nenek Surtiasih dulu. Banyak sekali daftar pertanyaan untuk beliau. Aku sampai mencatatnya takut out of the topics.


Namun aku menangkap suara tapal kuda beserta gemerincing yang entah dari mana. Sebuah kretek bergerak cepat dari kejauhan diikuti asap kelabu. Lengkingan kuda tersebut semakin mendekat, larinya bertambah cepat diberi pecutan perih oleh seorang kusir berjubah hitam. Mataku membelalak mendapati seseorang menyeberang jalan seorang diri. Sepertinya perempuan berambut ikal itu belum menyadari kedatangan kretek. Secara spontan aku mengambil langkah lebar mengejarnya. Sebelum sempat tanganku meraih tas gendong yang terakhir kuketahui bernama Meliani, Kak Heman mencekal lenganku.


Entah apa maksud Kak Heman membuat aku berdiri ketar-ketir di pinggir jalan. Menggagalkan upayaku menyelamatkan seseorang. Kuda itu semakin dekat sedangkan Meliana masih santai tidak terusik.


"Awas!" pekikku sekencang mungkin.


Terlambat, kretek itu menghantam tubuh Meliani. Menembusnya begitu enteng menyerupai angin. Kretek itu hilang bagai serpihan. Tidak aku temukan meski kepalaku diedarkan seratus delapan puluh derajat. Meliani sampai di seberang jalan tanpa luka, kebingungan seperti tatapan heran semua orang terhadapku.


"Ada apa Bungah?" Kak Heman melepaskan cekalannya.


Tatapanku tidak lepas dari Meliani yang berlalu. Dia baik-baik saja hingga kabar kematiannya begitu mendadak pagi ini mengirimkan sinyal pada otakku bahwa semua tidak baik-baik saja.


Andai aku berhasil menarik tas gendong Meliani. Jika saja Kak Heman tidak datang hanya untuk berbasa-basi aku pulang dengan siapa. Setidaknya aku akan lolos dari perasaan bersalah telah membiarkan seseorang diambil nyawanya. Mungkin tindakanku akan mempengaruhi takdir. Hanya saja aku bisa bernapas seperti biasa tanpa dihantui kuda, seseorang berjubah hitam serta kematian.


"Bungah. Kamu baik-baik saja?"


Jaya meringsut sebab sedari tadi aku mengabaikan pertanyaan orang-orang.


Aku pun bertanya pada diri sendiri. Aku kenapa?


"Aku ... gak enak badan Jay," jawabku menggigil. Perasaanku kalut, sulit dijelaskan. Mungkin beginilah perasaan seseorang yang membunuh tanpa sengaja.


"Mau istirahat di ruang kesehatan?"


Tatapan khawatir Jaya belum lepas dariku. Di luar kendali tubuh ini malah makin menggigil. Jaya meraba keningku.


"Demam," gumamnya. "Ayo aku antar ke ruang kesehatan. Atau mau aku gendong?"


Napasku memang terasa hangat. Aku menatap Jaya setengah mengantuk. Memberinya gelengan kecil semoga dia paham. Sayangnya aku salah soal pemikiran waras seorang Jaya.

__ADS_1


Satu kelas bersorak heboh ketika dia mengaitkan lengannya pada tengkuk dan tungkaiku. Dia mengangkat tubuhku begitu enteng membuat siulan-siulan nakal menggiring kami sampai ruang kesehatan. Siulan dan sorakan mereka berhasil menarik penghuni kelas lain. Mereka melongokan kepala ke jendela karena penasaran, adapula yang sengaja berlari keluar kelas mencari tahu keramaian itu. Hingga guru-guru turun tangan menyuruh mereka masuk kembali.


Sepanjang dalam gendongan Jaya wajahku tidak berpaling dari kemejanya, menghirup perpaduan pelembut pakaian dengan aroma tubuh Jaya. Kini rasa malu lebih besar persentasenya daripada pusing dalam kepala. Aku ingin sekali mengumpat banyak-banyak. Menyebut segala jenis binatang agar mewakili perasaan ini. Dia mengacaukan sudut hati yang tersisa, setelah kemarin-kemarin mengikisnya dengan gelombang naik-turun. Dia seakan enggan membiarkan aku bernapas lega tanpa perlakuan manisnya.


"Sudah sampai. Kamu mau bersembunyi di ketiakku terus?"


"Hah?!"


Dia tersenyum, mendaratkan tubuhku di atas tempat empuk. Tangan panasku begesekan dengannya. Aku menuruti apapun perlakuan dia.


"Tunggu sebentar ya, aku mau panggil anak MPR dulu."


Jaya hendak beranjak. Aku segera menarik ujung kemejanya hingga dia berbalik. "Sebentar Bungah. Aku pasti kembali."


Walau sedetik pun aku tidak mau ditinggalkan. Aura ruang kesehatan ini menakutkan. Ada banyak cerita dari orang yang sering menggunakan ruang kesehatan sebagai alasan bolos belajar, beberapa anak Palang Merah Remaja juga berdongeng. Aku pun merasakan, ruang ini agak aneh. Meski sebenarnya aku belum mengerti aneh karena apa.


Ujung baju Jaya lepas dari genggamanku. Sontak giliran tangannya aku cekal. Dia menatapku sedikit kesal, namun pasrah duduk di kursi menghadapku.


"Kenapa, hm?"


Elusan dikepalaku terus berlanjut. Jaya mengabulkan permintaanku. Perasaanku menjadi lebih baik.


Hingga aku kehilangan elusan lembut itu. Mataku terbuka lebar merasakan sesuatu menetes di permukaan dahi. Jemariku menyentuhnya, di ujung jari terdapat cairan merah. Aku menengok ke sisi, seseorang tengah duduk di sisi tempat tidur. Dia menunduk dalam menyembunyikan wajahnya dengan rambut panjang.


"Siapa?"


Hening merambati ruangan itu. Aku berharap Jayalah yang aku lihat saat bangun bukan orang lain.


Perempuan itu mendongak perlahan. Mempertemukan netranya denganku. Mataku menyipit, melihat perubahan air mukanya. Perlahan dia menarik kedua sudut bibir membentuk seringai berlumuran darah.


"Kamu tidak menolongku."


Itu Meliani. Menatap marah padaku.


Seketika aku lupa cara bernapas. Perempuan ini sudah meninggal dan menagih pertanggungjawaban karena aku tak menolongnya.

__ADS_1


"Kak Bungah. Hei Kak ...." Suara itu lain lagi, disertai guncangan. "Kak!"


Tubuhku dihisap sebuah lubang kecil. Lorong gelap itu berubah terang. Raut cemas hadir di hadapanku. Aku merasa terlahir kembali, meraup napas banyak-banyak.


"Kak. Kak Bungah mimpi buruk?" Raina memegang tanganku. Ada kekuatan yang coba dia salurkan. "Kak Jaya sedang ambil teh hangat," katanya seolah mengerti alasanku mengedarkan pandangan.


"Kak." Raina mengambil alih kursi di samping tempat tidur. "Aku tahu Kak Bungah sedang terbebani sesuatu. Aku hanya ingin bilang, kami juga bisa melihat apa yang Kakak lihat."


"Apa maksud kamu?"


"Melihat kematian orang lain," jawab Raina mengembalikan sesak itu, dia mempererat genggamannya. "Semua cucu kandung Nenek punya kemampuan itu. Kak Bungah hanya belum terbiasa. Tapi satu hal yang harus Kakak patuhi, jangan mencoba ikut campur."


Tiba-tiba denyutan dalam kepalaku bertambah. Pusingnya bukan main. Apa-apa kata Raina barusan. Bagaimana aku harus terbiasa melihat proses penjemputan orang lain?


"Hei sudah bangun?"


Jaya membawa segelas besar teh hangat juga roti. Raina mempersilakan Jaya duduk di sampingku. Walau begitu, aku terus memperhatikan pergerakannya membuka lemari.


"Raina anak PMR," ujar Jaya menyodorkan gelas, lalu menyobekan bungkus roti untukku.


"Jay, kamu gak bilang-bilang aku masuk ke ruang kesehatan lagi ke Papa, kan?"


Jaya menggeleng, "Tidak. Tenang saja."


"Kak Jaya ini obat penurun demamnya. Diminum ya Kak Bungah. Rai mau kembali ke kelas."


"Terimakasih, Rai."


"Semoga lekas sembuh, Kak Bungah," senyumnya padaku. Aku tahu, dia sedang mengatakan hal lain.


 


 


--Damaisland--

__ADS_1


__ADS_2