Keluarga Brutal

Keluarga Brutal
Part 4 Perpisahan


__ADS_3

Papa bilang aku terkena nightmare, begitu aku menceritakan kejadian semalam sedetail mungkin. Hell, nightmare macam apa yang terasa nyata membuat setiap bunyi benda bergesekan, kepalaku lantas tertoleh. Separno itulah aku menjelaskan keadaan sekarang. Bahkan malam ini ketika jendela diketuk dari luar, aku berdiam cukup lama. Meyakinkan diri bahwa sekarang bukan malam Jumat.


Senyuman dia aku jumpai setelah gorden tersibak ke ujung. Dia menaiki kusen jendela masuk ke dalam kamarku. Aku belum juga tenang.


Ada masalah?


Dia menyodorkan catatan kecilnya padaku. Aku menggeleng. Berganti senyum membalasnya. Cukup lega mengetahui orang ini adalah dia.


"Malam kemarin ada yang datang."


Kami duduk menghadap jendela bersandar pada pinggiran kasur. Dia tampak menawan terkena sorotan cahaya bulan. Matanya menyiratkan pertanyaan padaku.


Aku menghela napas lesu, padahal kami tidak mengeluarkan suara, sejak kapan aku mengerti bahasanya? Kemampuan ini seolah mengalir begitu saja.


"Jadi, ada yang mengetuk jendelaku kemarin malam. Aku kira itu kamu. Papa bilang aku mimpi buruk. Tapi apa yang aku lihat sangat nyata dan menyeramkan."


Bola matanya membesar, ada yang ingin dia suarakan namun tertahan di ujung lidah. Aku yakin dia tahu sesuatu. Maka dari itu aku kembali bertanya.


"Kamu tahu sesuatu?"


Tiba-tiba dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia membuang muka ke arah lain. Lalu menulis sesuatu di buku kecilnya.


Aku sudah bilang jangan keluar rumah di malam Jumat.


Aku membaca tulisan sambungnya. Pemuda ini malah makin membangunkan jiwa penasaranku. Ini kedua kalinya dia melarang aku keluar rumah malam Jumat. Memangnya ada apa?


"Aku tidak keluar rumah!" bantahku. "Memangnya kenapa tidak boleh keluar malam itu?"


Dia frustrasi menatap aku. Biasanya Papa yang jengkel menghadapi keingintahuanku. Jemarinya kembali bergerak di atas lembaran kosong menulis sesuatu.


"Taruhannya nyawa?" bacaku.


Dia mengangguk. Meski agak kaku, dia punya daya tarik sendiri. Aku nyaman-nyaman saja berdekatan dengan dia. Kali ini tulisan tangannya yang menarik seluruh atensiku pada bola matanya.


Kosong.


Aku tidak berhasil menemukan urat bercanda di sana. Dia benar-benar kaku.


"Kenapa seseram itu?"


Rahangnya mengeras, dia juga meremat kertas barusan. Menggenggamnya sepanjang malam. Sampai dia pulang, tepat di pertengahan malam aku ikut membungkam diri. Rasanya sangat menyebalkan duduk berduaan dengan patung.

__ADS_1


Sebelum pergi, dia meninggalkan cacatan kecil.


Mungkin malam ini akan jadi terakhir kita bertemu. Terimakasih Bungah sudah membukakan jendela.


"Hei!" Tangannya aku cekal. Maksudnya apa? Kenapa tiba-tiba dia menulis ini. "Apa-apaan kamu?"


Tetapi dia melepas cekalanku perlahan. Memberikan senyuman, seolah semuanya berakhir sampai di sini. Kemudian langkahnya berbalik meninggalkan aku sendiri. Punggung tegap itu menjauh ditelan gelapnya malam.


Aku menghembuskan napas pasrah. Dia pergi. Seperti Mama dan Lucas mantan pacarku.


Derit jendela ditiup angin menyadarkan kewarasanku untuk menutup jendela. Senandung malam kemarin masih terekam jelas. Aku tidak ingin mengulangnya kembali.


Setelah jendela terkunci, aku terperanjat. Perempuan berkebaya merah itu berdiri di kejauhan. Menatap lurus jendela kamarku. Segera gorden itu aku tarik hingga kehadirannya tidak semakin mengganggu akal sehat. Sedangkan tanganku menekan detakan kacau dalam rongga dada.


***


 


Malam-malam berikutnya dia tidak datang. Aku begadang hanya demi menanti ketukan di jendela. Aku kecewa, dia benar-benar menepati tulisannya. Lari dariku sebelum kami berkenalan secara resmi. Sampai sekarang aku belum tahu namanya.


Lingkar hitam di sekitar mataku membuat Papa bertanya-tanya di meja sarapan. Sekarang Papa mulai bekerja di rumah. Hanya sesekali akan pergi ke kantor untuk menyerahkan sesuatu. Ini dilakukan karena kantornya di luar kota, sedangkan Papa tidak ingin meninggalkan aku sendiri.


Padahal sederhananya, kami bisa pindah ke tempat yang lebih dekat dari kantor Papa. Anehnya Papa memilih jalan tidak mau meninggalkan rumah ini. Jelas-jelas tingg di sini jauh dari kota. Terlalu banyak kenangan masa kecil, katanya. Lagi pula, di sini banyak saudara Papa yang akan menjaga aku bila dirinya sedang disibukan pekerjaan. Justru itu, aku tidak mau. Terakhir aku dititipkan pada anak kecil keluarga ini saja aku pingsan di hutan. Nanti-nanti akan terjadi apa padaku?


Iya, karena Papa tidak mengerti bagaimana rasanya diseret pergi dari perayaan ulang tahun yang diidam-idamkan hanya untuk dikerjai habis-habisan di tengah hutan.


Papa melipirkan mobil di bahu jalan. Sebuah gerbang tinggi terlihat lusuh dari dalam mobil. Catnya mengelupas. Orang-orang memakai pakaian sepertiku memasuki gerbang. Aku menoleh ke Papa.


Sekolah baru.


Aku dan Papa masuk ke sana. Bel tanda masuk membuat beberapa orang kalang kabut. Seorang pria menyambut kedatangan kami. Namanya Pak Agus, wakil kepala sekolah.


Pak Agus mengatakan aku baru bisa masuk kelas setelah jam berikutnya. Sebab sedang berlangsung upacara pengibaran bendera. Aku lupa, hari ini Senin. Papa pernah mengatakan, di Indonesia semua anak sekolah harus mengikuti upacara. Sebagai misi mempertahankan kemerdekaan negara kami. Ya... hanya usaha kecil bila dibandingkan darah para pahlawan. Termasuk darah Kakekku. Tiba-tiba aku merasa sangat bangga jadi anak bangsa Indonesia.


"Mau Papa antar ke kelas?" goda Papa di depan seorang guru wanita muda. Bu Nada.


Aku mendengus kesal, "No!"


Papa memberiku wejangan lagi, harus jadi anak baik, ramah, belajar yang betul. Aku bosan, tapi mengiyakan. Saat menengok ke belakang, Papa setia berdiri di depan ruang kepala sekolah melihat aku pergi dengan guru muda ini. Sekali lagi aku melambaikan tangan, Papa membalasnya. Bila diingat-ingat setiap aku masuk sekolah, Papa yang selalu ada. Mama bahkan mana tahu sekolahku dimana. Aku kelas berapa saja aku sanksi Mama tahu.


***

__ADS_1


 


Dalam perjalan menuju kelas, Bu Nada bilang sebaiknya aku mengubah warna rambut jadi alami. Warna alami maksud Bu Nada adalah hitam. Katanya warna rambut hitam sangat sopan sebagai pelajar di Indonesia.


"Maaf Bu rambut saya memang alaminya begini." Tapi Bu Nada sepertinya tidak percaya.


Kami berhenti di depan sebuah kelas lantai dua. Dari luar terdengar sangat ramai.


Mereka langsung terdiam saat Bu Nada memasuki ruangan. Aku menunggu di luar harap-harap cemas. Menautkan jemari-jemariku.


Tiba namaku dipanggil, aku menatap Bu Nada ragu. Guru muda itu mengangguk, meyakinkan aku untuk melangkahkan kaki.


Hello new world ....


***


 


Hari pertamaku di sekolah baru tidak sesuai ekspektasi. Aku duduk dengan Dewi, gadis berkacamata yang hanya peduli pada buku.


Di saat hampir semua orang berburu bersalaman denganku, Dewi santai mengerjakan integral. Aku sudah pernah belajar itu di sekolahku dulu.


Mereka terlalu antusias pada orang baru lama tinggal di luar negeri. Apalagi karena rambutku pirang. Ternyata kabar tentang aku sudah tersebar dari kemarin. Mereka kira aku bule. Aku memang bule, perpaduan Padang dan Sunda. Spesialis bahasaku Inggris dan Indonesia. Aku tidak mengerti mereka bicara Bahasa Sunda, hanya sedikit yang aku pahami. Sepertinya aku harus banyak bertanya pada Papa agar tidak dibohongi. Jaga-jaga saja.


Setelah mereka bubar, mataku menangkap kehadiran seseorang yang beberapa hari ini tidak berkabar. Dia.


Dia di sini. Satu kelas denganku.


Mendadak saja sangat senang sekolah di sini. Setiap hari akan bertemu dia.


Aku terus memerhatikan dia. Ada yang aneh. Dia tidak serapih biasanya. Tidak memenuhi standar penampilan seorang siswa baik dari penjelasan Pak Agus tadi pagi. Jauh dari kesan pertemuan pertama kami di depan jendela kamarku. Dalam benakku dia adalah orang yang tidak mungkin menyalahi aturan. Tapi ini, bajunya dikeluarkan, rambutnya pun dibuat agak berantakan. Dia yang aku lihat juga bisa tertawa bersama teman-temannya. Lalu aku meremat tangan sendiri, belum pernah mendengar suaranya.


"Kamu kenapa?" Dewi menoleh padaku.


Aku sakit hati.


"Tidak apa-apa. Oh iya, sudah bel. Mau kasih lihat kantin di sekolah ini?"


"Yakin?" tanggap Dewi meremehkan. Dia bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan aku.


Kenapa Dewi terkesan membenciku ya?

__ADS_1


Untungnya teman yang lain mengajak aku. Aku pergi bersama mereka. Tidak sengaja bahuku bertubrukan dengan dia saat keluar. Anehnya dia tidak berkata apa-apa hanya menarik sudut bibirnya. Dia berlalu menyusul teman-temannya. Jadi dia tidak mengenali aku.


--Damaisland--


__ADS_2