
Wajah pak Bram yang seperti itu membuat Dini ketakutan,"Pasti orang ini galak yah dalam pikirannya.
"Aku mau mundur tidak bisa ,aku bakal
dikeluarkan dari kantor ,maju juga seram," ucap Dini dalam hati.
Dengan alis tebal naik ke atas memandang Dini.
"Siapa namamu?
"Dini pak ," dengan suara bergetar.
"Baik Dini kamu ikut saya! ," ujar pak Bram jantung Dini seperti berdetak kencang ,deg ... deg ... deg.
Pak Bram berjalan di depan ,dan membuka satu ruangan dengan pintu yang begitu besar dan megah.
Ada lemari - lemari kaca dengan lampu di dalamnya. Dan banyak lukisan - lukisan yang di beri penerangan ,sepertinya lukisan berharga.
Menurut pandangan Dini,seperti itu dan banyak patung - patung tidak terlalu besar tapi antik kesannya.
Ruangan itu penuh pencahayaan di sana - sini.
"Kamu harus mendata semua barang - barang antikku dan masukkan foto juga data nama barangnya,diwaktu senggang kamu,"ujar pak Bram.
Ke dua kamu harus mengurus tamu yang ingin bertemu denganku di rumah ini ,rumah ini adalah kantor saya ,tapi sesekali saya ke kantor yang saya kelola," pak Bram menjelaskan.
"Baik pak," jawab Dini.
Di ruang itu ada komputer juga laptop yang kamu bisa gunakan untuk bekerja,sambil menunjuk ke meja kerja Dini di sebuah ruangan lainnya.
"Baik pak ," jawab Dini.
Tidak lama kemudian datang pelayan dan mengatakan bahwa ada tamu yang ingin bertemu.
"Dini kamu siapkan teh atau kopi di ruangan saya ," ujar pak Bram.
"Baik pak!," ucap Dini.
Dini mulai terbiasa mendengar suara berat itu ,tidak begitu ketakutan seperti awal bertemu pak Bram.
Dini diantar pelayan ke tempat di mana perlengkapan minuman untuk disajikan.
Dini mencatat semua apa kebiasaan pak Bram yang di infokan ibu Anjani ketua pelayan di rumah itu.
Setelah itu Dini mengantarkan minuman pesanan pak Bram ,perlahan Dini mengetuk pintu itu dan membawa minuman itu ke meja tamu tersebut.
Pak Bram memperkenalkan Dini adalah sekretaris pribadinya kepada tamunya,tetapi alangkah kagetnya Dini ternyata tamunya pak Bram adalah laki - laki yang sempat bertabrakan di depan kantornya.
Laki - laki itu_pun begitu terkejut bisa bertemu dengan Dini di rumah itu.
"Oh ... Kamu toh !," ujar Daniel.
__ADS_1
"Hek ! ... Iya pak !," jawab Dini.
"Oh kalian sudah saling kenal ya ," ucap pak Bram.
"Belum ," serentak mereka bilang seperti itu.
Menambah bingung pak Bram.
"Oh begini pak ,kami sempat bertemu tapi tidak sempat berkenalan ," ungkap Daniel.
"Oh ... Begitu ya?ucap pak Bram.
Laki - laki itu langsung berdiri dan menjulurkan tangannya dan mengatakan," Aku Daniel! .
Dini menyambut tangan Daniel ," Saya Dini.
Rasa canggung terasa karena Dini juga baru kenal pak Bram hari ini .
"Silakan pak diminum,saya tinggal dulu ada yang harus saya kerjakan," ucap Dini.
Dini kembali ke ruangan besar itu yang penuh barang koleksi pak Bram.
Dini coba menyalakan komputer di ruangan itu mencari file apakah sudah ada sebelumnya data - data itu ,atau harus buat yang baru.
Dini tak menemukannya sepertinya sudah dihapus seseorang ,akhirnya Dini membuat file baru dan yang tidak bisa
dibuka oleh orang lain selain dia sendiri.
"Dini ,tolong kamu antar pak Daniel untuk melihat koleksi saya ,apabila ada yang pak Daniel minat kamu kasih tahu saya," ujar Pak Bram dengan suara beratnya.
"Baik pak!," ucap Dini.
"Silakan pak saya antar ," ucap Dini.
Dini jantungnya berdebar kencang hingga Dini memegang dadanya ,pak Daniel tersenyum memandang Dini.
"Wah ... Besar sekali ruangan ini dan banyak sekali barangnya ,"ujar pak Daniel.
Kadang kita menemukan barang antik tampa disengaja dan
Di tempat yang tak terduga memang sulit dipercaya.
Meski begitu, penemuan tersebut memang benar adanya dan bahkan bikin bertanya-tanya bagaimana bisa ditemukan dan muncul kembali," ungkap Daniel memberi penjelasan ke Dini.
"Maaf aku orang baru sekali di bidang ini,pengetahuan aku mungkin masih nilai O( nol) ,tapi mungkin beberapa bulan mendatang aku sedikit mulai tahu," ujar Dini.
Sambil berjalan di samping pak Daniel.
Pak Daniel seakan memberi masukan tentang barang antik ke Dini .
Seakan paham kalau Dini benar - benar tidak mengerti soal barang antik itu.
__ADS_1
"Aku lihat kau masih baru kerja di pak Bram ," ucap Pak Daniel.
"Iya betul aku baru hari ini masuk kerja di sini,biasanya di kantor yang bapak bertemu dengan saya ," ucap Dini dengan perasaan malu mengingat pertemuan itu.
"Oh gitu! ... ,"jawab pak Daniel.
Barang - barang seperti ini misalnya ,ini sangat langka ,pak Daniel menunjuk sebuah batu dengan ukuran besar dengan warna - warni begini ," ungkap pak Daniel.
Kadang sewaktu barang itu di temukan tak jarang kemudian di diteliti untuk mengetahui lebih detail dan usia dari barang antik tersebut.
Tentunya barang antik tersebut merupakan salah satu bagian dari sejarah yang baru muncul kembali di era modern.
Dini mengerti apa yang pak Daniel maksud.
Pak Daniel menatap beberapa lukisan ,dengan seksama dan teliti.
"Ya ampun apa yang dilihatnya ya? ,serius begitu ,Dini menatap wajah Pak Daniel yang begitu mempesona ,sedang yang ditatap tidak menyadarinya.
Dini senyum - senyum sendiri.
Pak Daniel tiba - tiba menoleh ,membuat Dini salah tingkah.
"Aku mau lukisan ini ,nanti tolong tanyakan pak Bram berapa kalau dijual ," tanya pak Daniel.
"Oh ok pak ,saya bisa dapat nomer telepon bapak biar nanti saya WA saja tentang harganya," ungkap Dini.
" Boleh ok ... Ok ," jawab pak Daniel.
Setelah selesai bicara dan memberi nomer teleponnya pak Daniel pamit pulang .
Dini berpikir ,seperti kebetulan bisa ketemu orang yang Dini cari selama ini, bertemu dengannya secara tidak sengaja.
Dunia ini sempit,mungkin betul istilah itu bisa berlaku.
Dini diam memandangi lukisan yang ingin di beli pak Daniel.
"Tentang apa ya?," Aku sama sekali tidak paham soal lukisan.
"Ah masa bodoh ,bukan aku yang mau kerja di rumah ini,jadi mereka harus mengerti ,aku butuh waktu untuk belajar ," ucap Dini dalam hati.
"Aduh sudah jam berapa ini ,pangeran dan Trimusketir bagaimana ,bisa kacau semua di rumah ," ujar Dini terus bergumam.
"Wah terlambat aku pulang ,Dini buru - buru mematikan komputernya dan beranjak pulang sempat berpamitan dengan ibu Anjani pegawai pak Bram,sedang pak Bram sudah tak tampak di ruangannya.
Dini berlari keluar dari rumah besar itu dan buru - buru memesan grap car untuk pulang .
Benar juga sampai di rumah pangeran juga Trimusketir belum makan, mereka kelaparan menunggu Dini pulang ,karena Dini memang pesan untuk jangan menggunakan kompor karena belum mengerti caranya,menghindari kebakaran.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_--------\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Bersambung,
__ADS_1
Pembaca tercinta ,jangan pindah ke cerita lain ya ,tetap dukung aku ya ,janji ya 💐