keluarga pangeran D4

keluarga pangeran D4
Bab.7 Dini sudah dewasa


__ADS_3

" kau tunggu di situ ya aku bawa turun bayinya," ujar bang ucok.


Bang Ucok membuka pintu dan meminta pak Herman membawa turun bayi itu.


Pak Herman membawa bayi itu hati - hati sekali,menyerahkan ke ibu Evi dan mereka buru - buru masuk ke dalam takut ada yang tetangga yang lihat.


Ibu Evi memandang bayi itu takjub.


" Bayi ini ,serius ketemu diboks di dekat tempat sampah ?


" Iya,Jawab pak Herman kita tidak melapor ,daripada diambil orang kan mendingan ke ibu dan abang Ucok yang ambil,tapi kalau tidak mau baru kita lapor ke Rt setempat," ujar pak Herman.


"Bagaimana bu?Mau enggak kalau tidak aku bawa ke pak Rt,makanya mobil aku parkir di depan ,biar bisa cabut langsung karena kan kasian bayi ini sudah semalaman di luar ,harus dicek ke klinik dulu atau ke bidan,mudah - mudahan sehat," ujar pak Herman.


Akhirnya bu Evi mau bersedia sebagai orang tua dari bayi mungil yang cantik itu.


"Eh bang gimana kalau kita bawa dia ke bidan ada temannya aku," ujar bu Evi.


"Sekarang !


Buru - buru mereka semua naik truk sampah lagi dan membawa bayi malang itu ke ibu bidan.


Kebetulan bidan Eni sedang beres - beres ruang tunggu pasien,terlihat ibu Evi sedang menggendong bayi sontak bidan Eni bertanya.


" Hah ... Menemukan bayi.


"Tolong kau periksa,ada yang sakit enggak ini bayi?


"Coba bawa sini,sambil di gendong bu bidan ditimbang dan cek badannya,ternyata dibadannya banyak luka - luka lebam ,kasiah bayi ini sepertinya bekas di pukul dan di cubit juga ada luka di kakinya ," ujar ibu bidan Eni .Untung kalian cepat bawa ke sini ,supaya bisa di obati.


Ini kalian bawa bawa salepnya mudah - mudahan luka - lukanya dalam seminggu cepat sembuh,kalau belum sembuh ya dibawa ke klinik saja ya.


"Biar dapat obat yang lebih baik,kalau di sini kan terbatas," bu bidan Eni jelaskan.


Bu bidan Eni mengerti perasaann bu Evi yang ingin mempunyai anak.


Bersedia untuk tutup mulut,ibu Bidan Eni adalah sahabat dari kecil,dan ibu bidan Eni tahu kalau Evi tidak bisa punya anak.


Bu Eni ingin Evi bahagia.


Kau mau kasih nama siapa anak ini " Dini"


"Kenapa? Tanya bu bidan Eni.


"Sebab ketemunya pada Dini hari bu bidan," jawab bang Ucok.


"Oo ... Begitu ya! Sambil tertawa memandang bu Evi senyum - senyum keliatannya happy banget dengan nama itu.


" Wah kalian ini benar - benar beruntung ya?


"Harus kalian rawat betul loh,pesan bu bidan jangan kau kasar - kasar sama anak perempuan ya.


"Nih coba liat pada pada lecet dan luka anaknya, pesanku kalau ada apa - apa cepat bawa kemari ya?


"Ya terima kasih Eni," ucap ibu Emi dengan wajah senang.


Bu Evi dan bang Ucok semakin hari semakin menyayangi Dini,mereka berusaha membahagiakan .


Mereka berusaha memberikan apa saja yang Dini ingini.


Mainan bertumpuk di kamar Dini,makanan kesukaan Dini semua tersedia di meja.


Dan luka - luka Dini sudah tak nampak lagi.


Tumbuh kembang Dini,semakin pesat dari Dini belajar menyebutkan ibu,ayah supaya Dini dapat berbicara dengan lancar ,setiap hari ibu Evi mengajari Dini.

__ADS_1


Berjalan ,bermain bersama,jalan - jalan di taman bersama bang Ucok.


Setiap jalan - jalan ke suatu tempat pasti ada yang menyapa Dini disebabkan parasnya yang cantik,putih dan menggemaskan.


Dengan wajah penuh cokelat Dini masih minta ice cream,lucu sekali.


kebahagian keluarga kecil ini lengkap sudah dengan kehadiran Dini rumah mereka.


▪️


18 tahun kemudian tak terasa Dini sudah dewasa.


Acara wisuda kelulusan SMA Dini menggunakan kain juga kebaya berwarna merah ,begitu segar ,cantik anggun mempesona itulah Dini dengan potongan rambut dibiarkan tergerai.


Dengan bangga ibu Evi dan bang Ucok menghadiri,semua lancar - lancar saja.


Ibu Evi dan bang Ucok sudah berhasil mendidik Dini dengan baik.


Dini adakah kebanggaan ibu Evi dan bang Ucok.


Di sekolah juga Dini banyak teman - teman yang menyayangi Dini.


Setelah lulus SMA,Dini mengambil kursus supaya bisa langsung bekerja .


Dini tidak ingin kuliah sebab takut membebani kedua orang tuanya,mungkin nanti kalau Dini sudah berhasil mengumpulkan uang cukup,rencananya Dini akan ikut kuliah secara online.


Di era yang serba modern seperti ini terdapat beberapa kampus yang menyediakan perkuliahan secara online,itu sudah dibicarakan dengan kedua orang tua Dini,dan mereka menyerahkan semua yang menurut Dini itu yang terbaik.


Dini di terima kerja di perusahaan pers


Orang tua Dini semakin puas dengan pencapaian Dini.


Cara kerjanya dipandang bagus,walau tidak bertitel sarjana.


Suatu saat sewaktu bang Ucok sedang turun beli makanan di warung padang,seorang ibu yang posturnya cacat mengayuh sepeda juga hendak membeli makanan.


" ini bu ...," ucap bang Ucok.


Ibu itu kaget.


"Hah ... Ibu itu mengucapkan terima kasih dengan tertunduk sebentar kemudian melihat ke pergian pak Ucok.


Cepat - cepat tanpa setahu bang Ucok,ibu itu mengikuti truk sampah itu dengan sepedanya.


Akhirnya ibu itu mengetahui di mana rumah bang Ucok.


Bang Ucok seperti biasa jam 6.00 pagi sudah jalan.


Seorang ibu - ibu menggunakan sepeda menjual jamu,berhenti di depan pagar rumah bu Evi.


"Jamu - jamu !


Dini keluar ,ibu ... Ada yang jual jamu mau enggak," tanya Dini.


"Mau !," jawab bu Evi.


"Ya bu buat 2 ya bu,aku yang kencur saja,kalau buat ibu kunyit asem," ujar Dini.


"ini buat neng ,beras kencur.


Yang ini kunyit asem buat ibu," ucap ibu tukang jamu.


"Berapa? gratis neng ," ucap penjual jamu.


Kok gratis ? Lagi promo neng.

__ADS_1


Permisi neng ,ibu pamit dulu.


Cepat - cepat ibu jamu itu pergi dan berlalu membuat Dini terdiam sejenak.


"Ya bu," balas Dini dengan nada pelan.


Setelah masuk memberikan plastik jamu ke mama Evi ,Dini bergegas ke kantor.


Sewaktu perjalanan ke kantor Dini dengan terburu - buru ,hingga tidak sengaja menabrak seorang pemuda yang di tangannya banyak alat tulis ,sehingga alat - alat itu berceceran.


"Aduh maaf - maaf aku terburu ... wajah pria tampan itu membuat Dini terpana ... A" ... aa ...


Aku mau masuk ke situ sambil menunjuk ,maaf sambil sedikit membungkuk.


"Ok enggak apa - apa ,ujar pemuda itu yang juga sambil mengumpulkan barang - barangnya yang terjatuh dan terus memandang Dini sampai menghilang dari pandangannya.


"Cantik!!


Dini tak berminat membahas soal laki - laki ganteng itu dengan Mira.


Mira adalah sahabat Dini,Mira selalu jadi barisan terdepan kalau Dini ada masalah di kantor tersebut.


Dini hari ini mendapatkan predikat pegawai terbaik pegawai terbaik


dilingkungan .


Dini sangat senang dapat predikat itu di kantor.


Dini pulang bareng mira hari ini.


Daniel terlihat di sebuah pertokoan,sibuk membeli peralatan melukis,ternyata stock catnya habis .


Daniel memang hobby melukis.


Daniel sampai rumah sibuk menurunkan alat - alat lukisnya dari mobilnya,terlihat seseorang membantunya Mang Ipul si tukang kebun.


"Di sini saja taruhnya," ujar Daniel.


Setelah menaruh barang - barang bawaan pak Daniel ,mang ipul dengan segera keluar ruangan.


Daniel membuka bajunya dan menuju kamar mandi .


Sebab sudah seharian di luar rumah.


Tercium harum segar seluruh ruangan kamar tidur Daniel.


Daniel merebahkan tubuhnya sebentar sambil memejamkan matanya.


Masih memikirkan wanita yang wajahnya sekarang menghiasi kamarnya.


Tok tok tok


Suara lembut terdengar memanggil namanya " Niel Daniel ," ujar ibu.


" Niel makan malam bareng ibu yuk.


"Ya ... Ok sebentar ," jawab Daniel.


Tak sengaja ibu melihat sketsa gambar wanita itu meja anaknya.


"Ini siapa nil?," tanya ibu.


"Orang yang bertabrakan dengan aku bu," ujar Daniel.


_______--------_________

__ADS_1


"hi pembaca setia ,penasaran enggak siapa Ibunya Daniel ? Yuk baca terus ceritanya


__ADS_2