KEMBALI (JATUH CINTA)

KEMBALI (JATUH CINTA)
Bertemu


__ADS_3

Pagi yang cerah.


aku sudah sibuk berdiri di meja kassa sambil membereskan pekerjaanku yang belum selesai kukerjakan tadi malam.


toko bunga indira


Yah, nama toko bunga itu memang diambil dari namaku sendiri. Aku memulainya dari berjualan bunga online sampai akhirnya bisa membuka toko dengan pelanggan yang lumayan banyak.


toko bunga Indira juga menawarkan jasa pembuatan karangan bunga untuk ucapan suka maupun duka.


Pagi ini, aku mendapat kabar bahwa Alena satu-satunya pegawai di toko ini sakit. Katanya karena ia sedang datang bulan. memang setiap bulan, setiap tamu itu datang Alena selalu ijin untuk tidak bekerja karena ia harus menahan sakitnya kram perut yang di rasakan semua wanita saat sedang kedatangan tamu rutin.


"selamat pagi apa ada yang bisa di bantu", kataku setelah suara lonceng berbunyi tanda ada seseorang yang membuka pintu.


"ah, seperti biasa nona Alena", kata orang itu.


"maaf, nona Alena sedang tidak bekerja hari ini, kau mau aku saja yang membuatkan buket bungamu, seperti biasa kan?", kataku lagi


"ah, maaf Nona Indira, aku sedang terburu-buru karena sudah terlambat ke kantor", sahutnya.


Budi Fajar Alam, salah satu pelanggan tetap toko bunga ini sejak dulu masih berjualan secara online.


setiap bulan tanggal 14, ia selalu membeli bunga untuk istrinya yang baru saja ia nikahi 3 bulan yang lalu.


Siapa yang tidak senang, mempunyai suami seromantis Budi ini. Ia ingat tanggal jadian bahkan tanggal pernikahan pun di buat sama seperti tanggal jadiannya. Pasti istrinya sangat bahagia sudah berhasil mendapatkan Budi. Wajahnya tampan dan pastinya Mapan.


"ngomong-ngomong, In, aku belum mengucapkan terimakasih atas karangan bunga yang kau kirim ke acara pernikahanku kemarin, karena sulit sekali bertemu denganmu", katanya membuka pembicaraan


Kubalas hanya dengan senyuman dengan tangan yang tengah sibuk merangkai bunga-bunga favorit Nyonya Budi Fajar Alam itu.


"lagipula, kenapa kau tidak datang sih in? padahal aku ingin memperkenalkan kau dengan semua kolegaku bahwa ini dia orang yang memberikan karangan bunga paling indah", katanya dengan berlebihan

__ADS_1


"kau hanya ingin memperkenalkanku dengan om-om tua beristri kan?",sahutku sambil tertawa


"kau fikir temanku hanya om-om in, aku ingin membantumu menemukan pasangan hidup in. masa kau ingin selamanya menjadi penjual bunga?", tanyanya


"penjual bunga dihadapanmu ini, penghasilannya hampir setara denganmu", kataku sambil mengejeknya


"untung saja bukan kau yang ku nikahi, kalau tidak, bisa kau injak-injak harga diriku setiap hari", katanya sambil mengeluarkan uang 150.000 dari dalam tasnya. "kembaliannya untuk mu saja In", lanjutnya lagi sambil tertawa dan meninggalkan toko ini.


Padahal uang yang dia berikan memang sangat pas tidak kurang apalagi lebih. aku hanya menggelengkan kepalaku dan tersenyum setelahnya.


Beranjak dari meja kassa, aku membereskan sisa package buket yang tadi terlihat sangat berantakan. Entah kenapa, aku selalu pusing kalau melihat sesuatu yang berantakan. Rasanya tanganku gatal dan ingin segera membersihkannya.


...***...


Waktu menunjukkan pukul 12.15 siang.


Aku baru tersadar bahwa aku belum makan sedari pagi. Membuat perutku sangat sakit, mungkin para cacing didalam sana sudah berdemo sedari tadi.


Nanti saja aku fikirkan itu. Sekarang waktunya untuk makan siang. Agar lebih mudah, pesan online saja melalui aplikasi ojek online. Sembari menunggu pesanan datang. Aku sibuk mengelola media sosial toko bunga ini dan meng upload beberapa koleksi bunga yang baru saja di panen dari kebun bunga milikku.


...***...


Tak lama setelah perutku terisi penuh. Suara lonceng terdengar. Tak bisakah sebentar aku beristirahat? baru selesai makan apa harus langsung bekerja. apakah ini yang selalu dialami Alena. Aku kemudian berdiri dari meja kassa sambil mengeluarkan kalimat "selamat datang apa ada yang bisa di bant___", belum selesai aku berbicara. Orang dihadapanku sudah menghardikku dengan bentakkan yang belum pernah kudapatkan dari pelanggan sebelum-sebelumnya.


"kau niat berjualan bunga atau tidak? kau tahu kan aku sudah dari seminggu yang lalu memesan buket bunga khusus bahkan DP nya sudah ku bayarkan. kenapa bunganya malah tidak datang?", katanya


Mataku terbelalak, biasanya Alena selalu memastikan pesanan orang telah sampai di tempat dan tidak pernah lalai dalam pekerjaannya.


"maaf kalau boleh tau anda memesan lewat mana dan siapa yang menerimanya? karena dari catatan saya tidak ada pesanan bunga yang belum di antarkan", kataku masih dengan nada rendah.


"lewat media sosial dan yang menerima atas nama Alena", jawabnya masih meninggikan suaranya. Terdengar sampai menusuk ke gendang telingaku.

__ADS_1


"oke baik, Alena adalah pegawai saya disini, dan hari ini ia tidak bekerja karena sakit dan tidak meninggalkan pesan untuk saya. kalau boleh tau mau diperlukan kapan buket bunganya?", tanyaku lagi dengan tangan dan kaki yang tidak kuat menopang badan ini. lemas sekali rasanya.


"hari ini, 30 menit lagi!", jawabnya kali ini dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya.


"kalau begitu, bisa pilih saja ingin bunga apa beri saya waktu 5 menit untuk merangkainya", kemudian aku berjalan didepannya menunjukkan bunga-bunga yang siap dirangkai. ia memilih beberapa bunga dan ku persilahkan untuk duduk di kursi yang memang sudah disiapkan di toko bunga milikku ini.


5 menit kemudian


"bapak bawa saja bunganya dan tidak perlu melunasi sisanya, anggap saja sebagian pembayarannya sebagai permintaan maaf saya atas kecerobohan pegawai saya", kataku sambil memberikan bunga itu kepada pemiliknya.


Matanya yang sinis tidak mampu ku tatap. Sambil memberikan 3 lembar uang seratus ribuan ia mengatakan "kau fikir aku tidak mampu membayar bungamu ini. lain kali kalau memang tidak mampu menerima orderan, jangan pernah mengiyakan", setelah itu ia melesat dari hadapanku yang hanya bisa mematung dibalik meja kassa.


...***...


"kenapa kau tidak meninggalkan 1 pesan pun untukku?", kataku dengan gemas kepada orang yang ada di ujung sana.


'maaf In, aku lupa benar-benar. apakah ia benar-benar terlihat marah?', jawab orang itu


"kau fikir saja sendiri"...


setelah mengatakan itu aku menutup telepon dengan wajah merah karena malu dan kesal.


Di laptop depanku, aku menuliskan sebuah pengumuman untuk mencari karyawan baru. tugasnya untuk menerima orderan melalui media sosial dan membantu Alena di toko.


Tak begitu lama setelah ku upload di media sosial ku, sudah saja alena mengirimiku pesan.


'Indi, aku belum mau berhenti bekerja di toko bungamu, selain menyenangkan aku juga bisa dapat penghasilan dari sana, ayolah jangan meraju begini. kita bisa bicarakan ini baik-baik'


Seketika aku terkekeh membaca pesannya. Dia fikir aku akan memecatnya. Yang benar saja, aku bahkan tidak pernah sedikitpun berfikiran seperti itu. Alena lah yang membantuku mempunyai toko sebesar ini bahkan sampai kebun bunga sendiri. Sekarang, kebun bungaku sudah bisa memenuhi permintaan ekspor bunga sampai keluar daerah. Lalu, apa dengan begitu mudahnya aku memecatnya. Itu sama sekali bukan aku.


...***...

__ADS_1


__ADS_2