
Dengan susah payah aku membawanya masuk kedalam rumah.
Sebelumnya kudapati ia tengah mengigau namaku. Bukan orang berhati dingin yang membiarkan seseorang yang tengah mabuk sendiri didalam mobilnya. Sama sekali bukan aku. Ku tarik tangannya dan melilitkannya ke leherku lalu perlahan ku angkat tubuhnya yang cukup berat. Pelan-pelan dengan langkah setengah-setengah akhirnya aku berhasil menyeretnya ke depan pintu rumahku.
Sesegera mungkin, memutar knock pintu dan kubawa ia masuk. Sampai ruang tamu ku baringkan di sofa bed yang cukup untuk 1 orang.
"kalau saja pertemuan awal kita baik-baik, mungkin aku akan suka padamu", kataku yang kini tengah memandangi wajahnya yang memang benar-benar 'tampan', aku tidak bisa mengelak lagi. Apa yang Alena katakan memang benar. Efrian, ini, Tampan.
...***...
"selamat pagi", kata seorang laki-laki menyapaku yang baru saja membuka mata.
Aku ingat, sangat ingat. Tadi malam, aku yang membaringkan dan duduk disampingnya. Rupanya aku ikut tertidur juga. Warna merah menyambar wajahku saat ini. Malu sekali, tapi seperti terikat aku tak bisa kemana-mana saat ini. Ingin tenggelam di Palung Mariana saja.
"heyyyy", suaranya membuyarkan lamunanku. Kembali kepada kenyataan bahwa aku ada disini. Menemaninya tidur semalaman. Ah sial, apa-apaan ini. Kenapa aku bisa disini?! Siapapun itu tolong bawa aku pergi sekarang. Umpatku dalam hati.
"oh sudah bangun, jangan salah paham, tadi malam aku menemukanmu diluar sana, makanya kau ku bawa masuk kerumahku", kataku
"terimakasih", jawabnya sambil melemparkan senyum manis dari bibirnya. Membuatku tak karuan menangkap arti senyuman itu.
"indi", katanya, memanggil namaku ketika aku sudah berdiri berjalan menuju kamarku.
"kau tahu namaku dari mana?", tanyaku yang agak sedikit terkejut.
"pegawaimu. hari itu aku ingin minta maaf jadi aku menanyakan namamu, tapi kita malah bertemu di jalan malam itu", jelasnya
Aku mengangguk, "ada apa kau memanggilku?", tanyaku lagi
"aku, ingin langganan bunga mawar hitam denganmu, aku memerlukannya tiap hari sabtu", katanya sambil menunduk.
"harganya mahal", jawabku ketus
"akan ku bayar, asal kau mau memberikanku bunga itu tiap minggu",
"sebenarnya untuk apa?", tanyaku kini penuh dengan rasa penasaran
__ADS_1
"aku perlu", jawabnya lagi.
"akan ku fikirkan, kau pulang saja, akan membuat kesalahpahaman nanti jika kau terus disini, sebentar lagi pegawaiku akan datang", perintahku kepada orang yang masih duduk lemas disana.
Setelah mengatakan itu, aku pergi meninggalkannya. Kulihat dari kejauhan ia masih duduk dan memijat kepalanya, mungkin sakit, tapi itu sama sekali buka urusanku.
Bukannya bebersih, aku malah berdiri menatapnya dengan betah dari sudut rumahku yang tidak mungkin di sadarinya. Masih menatapnya hingga ia berdiri dan meninggalkan ruang tamu tempatnya menginap semalam.
...***...
sebuah pesan masuk ke handphoneku
'In, aku ingin pesan masing-masing 10 tangkai mawar hitam dan mawar putih, jam 3 sore akan ku ambil'
Membaca pesan itu aku tahu bahwa dia yang mengirim. Aku segera berjalan menuju kebun mawar hitam ku dengan bunga-bunganya yang mulai mekar. Lalu, memetik 10 tangkai untuk ku siapkan sebelum nanti laki-laki itu kembali marah-marah.
"tumben", sapa Alena yang rupanya berdiri di ambang pintu sedari tadi.
"pesan Ef", jawabku
"dia hanya memesan bunga saja", jawabku lagi
"tapi tidak ada di daftar pesanan. apakah dia memesan langsung kepadamu?", pertanyaan Alena yang cukup membuatku kuwalahan.
Alena sangat tahu, bahwa semua pelanggan kami tidak pernah memesan langsung kepadaku walau no. WA ku ada di bio instagram kami. Lebih sering orang akan memesan melalui DM atau telepon yang langsung terhubung ke toko.
"iya", jawabku singkat
Alena menatapku penuh makna dan juga ejekan. Pergi berlalu mengambil bunga itu dan merangkainya.
...***...
Aku berjalan menuju ruangan dokter, menemui temanku yang bekerja dirumah sakit ini. Aku memang sudah ada janji, setelah aku pingsan di rumah ef malam itu.
"langsung masuk", katanya.
__ADS_1
Aku menuruti kata-kata Sauqi, temanku, Dr. Sauqi tepatnya.
"ada apa? tumben sekali si tukang bunga ini berobat, katanya cukup melihat bunga bermekaran saja sudah membuat tipes nya tidak kambuh", skak Sauqi yang melihatku duduk di hadapannya
"aku pingsan, karena terlalu banyak minum, beberapa hari aku kurang istirahat. hanya ingin memastikan kalau aku tidak apa-apa dokter!", sahutku
Tetiba saja orang didepanku ini tertawa. Kemudian ia memeriksa ku. Semua hasil pemeriksaan baik tidak ada kendala apapun. Aku hanya perlu istirahat yang cukup. Memastikan agar tidak kelelahan dan tidak membuat tipesku kembali kambuh.
Karena tidak ada perlu di khawatirkan. Akupun pamit dan keluar dari ruang praktiknya, membiarkan pasien selanjutnya masuk untuk diperiksa. Tidak jauh dari ruangan Sauqi, aku melihat orang yang sangat familiar membawa sesuatu yang ku tahu pasti.
"ef", panggilku
"eh, indi, sakit? kenapa?", tanyanya terlihat cemas. Padahal untuk apa cemas, toh aku bukan siapa-siapanya.
"ah enggak, cuma cek aja gegara pingsan kemarin, jenguk siapa?", tanyaku sambil menatap bunga dan matanya bergantian
"mama", jawabnya "mau ikut?", tanyanya
Aku yang bingung ingin menjawab apa masih diam. "kalau gak mau gak apa kok", katanya lagi
"kayaknya enggak deh, soalnya aku harus ke itu, eh, ke..", belum selesai aku memberikan alasan, kalimatku lalu saja di potongnya.
"yaudah lain kali aj ya in, aku kesana, kau hati-hati", sambil menunjuk lorong yang menuju ke kamar rawat inap mamanya, ia lalu melambai kepadaku dan kini berjalan menjauh
Perasaan apa ini? Tidak enak karena telah menolaknya. Perasaan menyesal sepertinya ada juga. Perasaan takut ada juga, takut kalau sebenarnya aku punya perasaan yang lain kepadanya.
...***...
Sesampainya dirumah, aku membaringkan tubuhku di sofa bed yang ada diruang tamu. Lelah sekali, padahal aku hanya kerumah sakit saja. Sambil berbaring, mataku sibuk dengan layar handphone yang sedang kumainkan.
Bolak balik membuka WA, IG, TWITTER, ketika aku kembali membuka WA, kulihat nomor yang belum bernama disana. 'untung saja chatnya belum ku hapus', kataku dalam hati. 'hahaha, apa ini? aku memikirkannya lagi dan lagi!!, gak waras kamu ini indi'.
Dengan cepat kontak itu ku namai. Aku juga berfikir untuk mengirim pesan dan meminta maaf padanya karena telah menolaknya tadi. Sambil berfikir aku melihat story WA yang dikirim orang-orang yang berteman denganku. Sebuah story, dari orang yang sedari tadi kufikirkan.
Masih tersipu malu, seakan kebetulan aku menyimpan nomornya dan melihat aktifitas orang lain yang dibagikan lewat aplikasi ini. Sebuah story dari 'Efrian' muncul sekarang. Mataku memaksa membulatkan korneanya setelah melihat isi story tersebut.
__ADS_1