KEMBALI (JATUH CINTA)

KEMBALI (JATUH CINTA)
Maaf


__ADS_3

Mata ku refleks terbelalak saat melihat story WA milik Efrian. Tergambarkan disana seorang wanita terbaring lemah dengan selang infus di tangan kirinya. memeluk bunga mawar hitam putih di tangan kanannya.


'Jadi untuk itu, Efrian selalu membeli bunga di toko ku', kataku dalam hati. Semetara, mataku masih melihat ke foto itu.


Perasaan menyesal kembali menyeruak dari dalam. Mengapa tak kutemani ia disana. Bukan tidak mungkin, dia membutuhkan teman berbagi saat ini.


'hey', sebuah pesan masuk untukku.


'hey, masih di rs?', balasku


Efrian, nama itu yang tertera di layar handphoneku sekarang. Pesan itu juga dari dia.


'sudah dijalan pulang, kau sudah dirumah?', tanyanya.


'sudah dari tadi, kalau begitu kau hati-hati', balasku lagi yang kemudian menutup aplikasi pengirim pesan itu.


Menyenderkan kepalaku, menutup mata dan merasakan damainya saat ini. Seketika, kejadian tadi terbayang lagi. Bertemu Efrian dan mengetahui sesuatu telah terjadi padanya. Lalu membuka mata dan tersadar. Belakangan ini, selalu memikirkan Efrian terus, Selalu.


'besok, kau kerumah sakit lagi?', tiba-tiba tanganku mengintruksikan sendiri jemarinya untuk menulis dan mengirim pesan itu ke laki-laki yang terus membayangiku.


Beberapa menit setelahnya. Sebuah pesan masuk.


'tidak, aku tidak tiap hari kesana, karena harus bekerja, setiap sabtu saja dan minggu kalau aku tak mempunyai pekerjaan yang banyak hari senin, ada apa?', setelah membaca itu, aku tidak berniat lagi membalas pesannya. Ah aku terlalu berlebihan kalau sampai punya perasaan tidak enak padahal kami tak punya ikatan apapun.


...***...


"pagi In", sapa erwin


"eh win, pagi ini kau antarkan beberapa pesanan karangan bunga, aku lupa memberitahumu kemarin", jawabku tanpa membalas sapa nya.


Erwin tertawa setengah mengejek melihatku.


"kenapa?", tanyaku yang hampir murka.


"aku baru saja pulang dari mengantar semua bunga dan karangan bunga, tanpa kau suruhpun aku tahu pekerjaanku In", jawabnya "lagian, kau, ada apa? beberapa hari ini seperti tidak fokus melakukan pekerjaanmu?", tanyanya.


"tidak apa win", jawabku sambil berlalu, kembali ke kebun bunga untuk melihat dan me refresh pandangan dan otakku yang benar, sedang tidak fokus.


"cerita, mumpung si cerewet tidak masuk hari ini", katanya menyusulku.

__ADS_1


"alena? kemana dia, bisa bisanya", jawabku.


"katanya jemput orang tuanya", sahutnya lagi.


"kau harus janji, tidak akan mengatakan apapun pada Alena, dia tahu aku sudah lama tidak pernah dekat dengar lelaki, tapi, entah kenapa, saat orang itu kesini, aku selalu memikirkan dia", ceritaku. Secepat kilat aku berfikir, mungkin memang harus ku curahkan segala yang mengganjal di pikiran ku ke orang yang mampu ku percaya. Bukan berarti Alena tidak ku percaya, hanya saja, aku terlalu malu untuk mengatakannya.


"orang itu?", tanya Erwin tak paham.


"Efrian, Alena selalu bilang ia tampan, yang pernah kau layani waktu ia memilih bunga, yang pernah marah-marah dan membuat moodku rusak", jawabku mendeskripsikan sosok efrian agar Erwin mengetahui orang yang ku maksud.


"ooh, dia, memang tampan', jawab erwin mengejek.


Sudah dua orang, salah, tiga orang termasuk aku, yang mengatakan bahwa Erwin itu tampan. Tapi, bukan hal itu yang membuatku memikirkan dia. Ada hal lain yang tidak ku tau apa.


"bukan karna tampan win,,, ", sambil menghela nafas aku meninggalkan erwin disana. Kembali kerumahku dan mengambil tas untuk aku pergi entah kemana. Yang pasti ingin menenangkan pikiran ku.


...***...


Dijalan, perasaan bingung yang terus mengikutiku, membuat kalut pikiranku dan juga akhirnya membuatku tidak fokus. Untuk kedua kalinya aku di serempet kendaraan dan kali ini benar-benar kena. Siku kiriku, lecet dan telapak tanganku tergores akibat menahan badanku agar tidak terhempas.


"In In, pergi begitu saja meninggalkanku sendiri ujung-ujungnya jadi begini kan?", kata Erwin yang sedang memapahku jalan menuju toko bunga milikku.


"tapi, memang benar In, Efrian itu tampan", katanya sambil menarikkan bangku untuk aku duduk. "dia juga baik In, penyayang, ke orang tuanya. yang ku tahu dia belum punya pasangan nah cocok kan", sambung Erwin


"kau membuatku semakin kesal Erwin", dengan wajah sinis kini aku menatapnya. "kau, tau dari mana kalau dia penyayang", tanyaku yang berubah penasaran.


"dia cerita, kemarin dia marah-marah dengan mu, karena dia harus kerumah sakit dan membawa bunga yang sudah dia pesan. di baru tau kalau ada toko bunga disini, padahal katanya dia tinggal di daerah sini", jawab Erwin


"untuk apa?", tanyaku semakin penasaran


"mamanya sakit, katanya suka bunga, jadi dia selalu bawakan bunga setiap kali ke rumah sakit. mamanya suka mawar hitam. Kebetulan aku cerita, kalau disini juga jual mawar hitam", sahutnya lagi


Dan aku sekarang tahu, Efrian membeli mawar hitam dan memohon itu karena Erwin pernah bilang kalau disini jual mawar hitam. Padahal, mawar hitam itu tidak kujual ke sembarang orang. Erwin Erwin, aku juga lupa mengatakan hal itu padanya. Sudah terlanjur mau bagaimana lagi.


kring kring, suara lonceng berbunyi.


Efrian, dia yang baru saja membuka pintu toko. Melihatku duduk dengan luka lecet di siku, dengan sigap Efrian mendekatiku.


"kau? jatuh?", katanya kini sudah memegangi lenganku.

__ADS_1


"keserempet mas", jawab Erwin.


"kau ini, ayo ikut aku", kata Efrian lalu menggendongku menuju mobilnya. Erwin dengan cepat membukakan pintu nya dan membiarkanku pergi dengan Efrian dengan tenang.


Ada apa sih, Erwin seperti kenal dekat dengan Efrian.


"kita mau kemana?", tanyaku


"rumah sakit, membersihkan luka mu sekalian aku jenguk mama", jawabnya tidak mengindahkan wajahku sedetikpun. Matanya, hanya fokus pada jalanan dihadapan kami.


"ef, boleh aku bertanya?", kataku lagi


"apa?", jawabnya dengan pertanyaan yang ku fikir itu adalah jawaban membolehkan aku bertanya.


"mama mu...",


"iya, dia sakit tp sekarang sudah mulai membaik,berkat mawar hitam dri mu", potongnya


Padahal aku tidak ingin membicarakan itu. Tapi, ada perasaan lega saat tau kondisi mamanya sekarang.


"tapi kau tidak bawa bunga?", tanyaku heran. Katanya ingin menjenguk mamanya.


"tadi aku Ke toko mu ingin membeli bunga, tapi, aku panik melihat keadaanmu seperti itu", jawabnya kini menatapku tajam.


Mobil kami berhenti tepat diparkiran rumah sakit. Aku duluan keluar dari mobil, karena tidak mau di gendong lagi olehnya seperti bayi. Namun, tetap saja, Efrian menggendongku sampai di UGD.


Setelah, lukaku di bersihkan. Kami berjalan menuju ruangan rawat mamanya Efrian. Hanya Efrian saja yang masuk kedalam. Sedangkan aku hanya menunggu diluar karena kurasa tidak ada kepentingan untuk masuk ke dalam.


Tak berselang lama, seseorang berdiri tepat di hadapan ku. Aku yang sedari tadi melamun dengan pikiran kosong kini di penuhi dengan nya.


"maaf" kataku


"maaf", jawabnya


"untuk?", tanyaku


"semuanya", katanya lagi.


Aku mengangguk menerima permintaan maafnya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2