KEMBALI (JATUH CINTA)

KEMBALI (JATUH CINTA)
Terpesona


__ADS_3

"beberapa kali bertemu, selalu dengan keadaan yang kurang tepat", katanya membuyarkan sepi yang sudah sedari tadi ada disini.


aku tidak merespon sama sekali. merasa bahwa tidak ada yang harus ku bahas. aku masih terkejut dengan kenyataan yang akhirnya aku tahu dan juga dengan perhatian yang diberikan Efrian.


"boleh tidak. temani aku malam ini?" pintanya.


"disini?", tanyaku kemudian di jawabnya dengan anggukan yang ku balas dengan anggukan juga.


......***......


pukul 8 pagi, mataku terbuka dengan pundak yang cukup pegal. ternyata, Ef semalam menyandar kan kepalanya ke bahuku. Kembali mengingat obrolan kami tadi malam.


"kau benar-benar tidak ingat denganku?".


Kalimat itu terngiang di telingaku.


Apa maksudnya, apakah sebelumnya aku mengenal nya?


atau


Dia yang mengenal ku?


Semua itu membuat ku bingung dan berputar-putar memenuhi kepalaku.


"eh, morning In", katanya yang baru sadar dari alam bawah sadarnya.


"morning Ef" sahutku.


Selain, obrolan yang membingung kan itu, tadi malam kami mendapatkan kabar bahwa mamanya Ef sudah sangat membaik. Mungkin butuh waktu satu sampai dua minggu untum bisa di bawa pulang dan melakukan rawat jalan. Hal itulah yang membuat Ef bisa tertidur lelap.


Lalu, apa yang aku lakukan?


Membiarkan orang ini bersandar dan terlelap.


Lucu sekali kamu In, katanya benci tapi suka.


Kutegaskan sekali lagi In. kau SUKA.

__ADS_1


...***...


Setelah berpamitan dengan mamanya Ef, kami pun meninggalkan rumah sakit itu untuk pulang.


Di jalan, tiba-tiba suasana sangat hening. Tidak ada yang membuka mulut, aku ataupun Efrian. Kami, hanya fokus pada fikiran kami masing-masing. Aku yang tidak bisa membaca isi kepala orang, hanya bisa menerka-nerka sebenarnya apa yang di fikirkan lelaki ini. Apakah sama sepertiku?


"Kalau mamamu sudah pulang dan sembuh, apakah kau masih membeli bunga untuk nya?", tanyaku. Bukan hanya untuk memecah kesunyian, tapi juga untuk menjawab rasa penasaranku. Aku tidak siap untuk kehilangan salah satu pelanggan setiaku. Apalagi itu Efrian.


"yang pasti aku harus selalu mengganti bunga di vas yang ada dirumahku. pastinya aku masih ingin membeli bunga di toko bungamu", aku hanya mengangguk mendengar jawaban nya, sekaligus lega, karena setalah ini pun ia masih menjadi pelanggan setia ku.


"dan satu lagi", lanjutnya, aku terkejut mendengar lanjutan itu. ku fikir sudah cukup sampai disini tadi ia menjawab pertanyaanku


"dan satu lagi, aku ingin minta tolong denganmu untuk membuatkan taman bungan di samping rumah, kalau kau lihat ada beberapa tanaman bunga disana, tapi semenjak mama sakit tanaman bunga itu tidak ada yang mengurus dan mati.


"kenapa harus aku? apakah kau tidak bisa membayar orang untuk menjadi tukang kebunmu?", jawabku dengan pertanyaan


"karna mama juga ingin berkebun, maka aku harus memastikan bahwa yang membantunya adalah orang yang ku kenal dan ku percaya", jawabnya dengan sangat pasti.


"semudah itu kau percaya denganku? bagaimana kalau ternyata aku orang jahat? bagaimana kalau tiba-tiba aku menyakiti atau meninggalkan mama mu sendirian"


"aku akan yakin bahwa kau tidak akan melakukan itu", jawabnya dengan sangat sangat pasti kali ini.


...****...


Sesampainya di rumah, aku melirik ke toko. Ternyata Erwin dan Alena sudah ada disana. Aku keluar dari mobil Efrian dan berpamitan. Saat aku memegang gagang pintu mobil. Secara tiba-tiba Efrian menangkap tanganku, membuat ku terkejut dan menoleh kepadanya.


apa-apaan ini, dalam hatiku. Mata kami bertemu, ia yang melihatku begitu dalam dan aku yang membalas tatapannya. Kami, menghentikan waktu saat itu juga. Semakin aku melihat nya, semakin hatiku kacau. Debaran jantungku semakin tak beraturan. Tuhan, aku ini lekas keluar dari keadaan ini.


"jadi bisa kan? bantu mama dan...." sesaat kalimatnya terpotong dan aku masih menunggu lanjutannya. "aku, membuat kebun bunga dirumah", lanjutnya


Aku hanya mengangguk tanda setuju, setelah berkali-kali terpana dengan tatapannya yang belum juga beranjak dari hadapanku. Kini, aku melihat, ujung bibirnya sengaja di tarik ke atas sehingga membentuk sedikit lengkungan manis. Semakin dekat kurasakan, wajahnya hampir menyentuh wajahku. Namun, dihentikan dengan hanya bibirnya yang berhasil menyentuh bibirku. Kecupan hangat untuk pagi hari ini dan orang yang bersamaku semalaman.


Aku membuka mataku, sesaat setelah terbuai dengan hangat nya Efrian. Kemudian, bergegas turun.


"aku mau mandi dulu, kau langsung ke toko saja, ada Alena atau Erwin, mereka akan membantumu", kataku dengan gugup dan langsung meninggalkan nya berjalan -sedikit- berlari sampai menuju pintu rumahku.


Setelah berhasil masuk, aku memegangi dadaku yang masih tak karuan itu. Mengintip di jendela, ku lihat ia turun dari mobilnya dan berjalan menuju toko. Dengan cepat aku ke kamar mandi untuk bebersih.

__ADS_1


Dikamar mandi aku masih kepikiran hal yang baru saja terjadi. Efrian menciumku. Semoga tidak ada yang melihat kami tadi. Apalagi kalau sampai Alena yang melihatnya. Habislah aku.


...***...


"tumben siang banget", suara perempuan yang langsung ku kenali menyambut ku


"beberes rumah dan mandi", jawabku sambil menuju meja kassa memeriksa pekerjaan mereka berdua di toko sejak pagi tadi


"bukannya habis kencan dengan Ef ya??", tanyanya menggodaku yang membuaku membelalakkan mataku. Sial, berarti dia melihatku tadi pagi. Dengan cepat aku berdiri dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tanganku sebelum Erwin juga mendengarnya.


"kau ini......", kataku


"eeeian eediiii aanh iaang", katanya dengan cadel karena mulutnya masih kututup dengan tanganku, sehingga harus ku buka agar mendengar nya dengan jelas.


"Efrian sendiri yang bilang waktu beli bunga tadi. tiba-tiba dia bilang kalau kamu itu manis", jelasnya langsung.


'hahaha, apaan sih Efrian, jadi sekarang aku bingung harus malu atau bagaimana', sahutku dalam hati. Tentunya raut wajahku tidak dapat di bohongi ada senangnya juga dipuji seperti itu olehnya.


"ah tidak, mengada-ngada saja dia", sahutku lagi sambil duduk kembali ke meja kassa untuk seleaikan pekerjaan ku.


"tapi ....", aku menengok pada Alena saat ia mengatakan itu.. tapi apa? tapi?


Alena tekekeh mungkin melihat ekspresi ku.


"tapi tadi pagi aku melihat mu keluar dari mobilnya, sebelum dia kemari", tawa Alena kencang setelah mengatakan itu.


sial! benar sial! Hal yang tidak ku harapkan ternyata terjadi. Alena, matanya memang sangat jeli. Sekarang malah aku bingung mau menjelaskan seperti apa. Aku tidak mau ada salah paham disini.


"ah dia meninggalkan 1 tangkai mawar hitam yang sudah di belinya untukmu, terimakasih karna telah menemani mamanya dirumah sakit, aneh, penjual bunga di beri bunga", lanjutnya lagi dengan tawa.


Maksudnya, Efrian sudah menjelaskan pada mereka bahwa tadi malam aku di rumah sakit menemani mamanya. Syukur lah mereka jadi tidak memikirkan macam-macam.


...***...


10 hari kemudian


Suara klakson mobil yang sangat nyaring bunyinya, tepat di depan rumahku. Pasti Efrian, karna dia sudah janji bahwa hari ini akan menjemput ku untuk sama-sama menjemput mamanya di rumah sakit karna mamanya sudah boleh pulang.

__ADS_1


"iya tunggu sebenta...."


__ADS_2