
"kau kenapa Win?", tanyaku gemas
"gak, itu In, aku hanya ingin bilang, laki-laki itu, yang kemarin datang katanya dia adalah pacarmu ya?", tanyanya.
Membuat ku terkejut, dengar darimana anak ini.
"siapa yang bilang begitu Win?", tanyaku penasaran
"dia sendiri In, katanya ia kembali, maksudnya gimana In?", tanya nya lagi.
Sial, buat apa ia berbicara seperti itu di hadapan orang yang tidak ia kenal.
"seperti nya tidak perlu ku jawab ya Win, kau tak perlu tau sampai sejauh itu", kataku kemudian meninggalkan toko.
Kedatangan Irwan membuat semuanya kembali seperti dulu. Rasa berkecamuk di dalam dada datang juga mengikutinya. Rasa ingin marah pun menyertai.
Penghianatan yang dilakukannya. Meninggalkan ku dalam keterpurukan. Memberikan harapan, padaku dan juga keluargaku.
Berkali-kali datang lalu pergi lagi. Kini dia dekat. Mencoba mendekatiku lagi. Saat aku sudah mulai membuka hatiku untuk orang lain yang mengisi hari-hariku. Orang yang bersamaku hampir setiap hari. Membuatku nyaman walau awalnya tak senyaman yang sekarang.
Sebenarnya, masih membuatku bingung. Apa yang kau inginkan dari ku Irwan. Perempuan penjual bunga yang sudah 3 kali kau kecewakan. Dengan mudahnya, kau datang lalu pergi dengan tangisanku. Kemudian datang lagi dan lalu pergi tanpa pamit. Terakhir kau datang, lalu pergi dengan kata 'maaf, kita tidak bisa melanjutkan ini, aku tidak bisa punya hubungan jarak jauh, bagaimana orang tua kita nanti biar aku yang jelaskan perlahan'. Kau dengan mudahnya membuat enteng semua urusan yang bersangkutan dengan keluarga.
Bertahun-tahun, akhirnya aku merasa mendapatkan penggantimu. Setelah pengganti mu tersedia dihadapanku, lalu kau muncul merusak semuanya.
...***...
Hari ini, aku kembali kerumah Ef, membantu mamanya menanam kembali bunga-bunga yang sempat layu.
"indira bawakan bibit mawar hitam dari kebun tante", kataku sambil mengeluarkan bibit mawar yang sudah di stek itu dari kantong plastik yang ku tenteng di tangan.
"kebetulan sekali in, Efrian, dia juga sudah membeli bibit mawar hitam", sambil menunjuk ke arah segerombolan bibit yang ada di pojok taman di atas sebuah kursi.
"tapi, bibit yang kau bawa, harus tetap di tanam. itu spesial", lanjut mama Efrian
Lalu, kami berdua sibuk dengan tanah dan tanaman di hadapan kami. Berharap, kebun yang baru di buat menjadi seindah dulu. Entah sampai kapan aku membantu mama Efrian berkebun dirumahnya. Apakah sampai tanaman ini tumbuh sempurna? atau sampai berganti tanaman baru lagi?
"tan, jangan capek-capek ya, kan tante harus banyak istirahat. setelah ini biar indi yang membereskan, tante istirahat saja", setelah sisa 1 tanaman terakhir aku meminta mama Efrian untuk beristirahat mengingat keadaan kesehatannya yang belum pulih 100%.
"setelah ini makan ya In. mas Frian sepertinya tidak makan dirumah. biar kamu yang menemani tante", sahutnya sambil berdiri menuju keran untuk mencuci tangan. Kubalas hanya dengan anggukkan tanda setuju.
__ADS_1
Setelah mama Efrian masuk kedalam rumah. Aku membereskan menanam satu-satuny bibit terakhir ditanganku. Membereskan semua peralatan dan tanah yang berhambur, membuat kotor ubin bersih, bagian teras rumah ini.
"makan ya in", tegas mama Efrian. Aku mengangguk dan duduk di sampingnya.
"Tante mau apa? Indi ambilkan ya?", kataku sambil memegangi piring yang sudah berisi sedikit nasi itu. Lalu, perempuan cantik ini menunjuk lauk apa saja yang ia inginkan. Dengan cepat aku meletakkan ke piring dan kemudian meletakkan piring itu di hadapannya.
Baru saja aku ingin mengambil makananku. suara sepatu membuyarkan keheningan diruang makan yang hanya ada kami berdua.
"kirain makan diluar nak", kata mama Efrian ke anaknya yang kini tengah mencuci tangan.
"pengen makan sama mama", jawabnya.
Aku meneruskan aktifitasku. Mengambil makanan dan meletakkan piring ke meja lalu berjalan ke belakang. untuk mengambilkan pirimg makan untuknya.
"aku saja", katanya yang ternyata sudah menyusulku.
"gak apa, aku aja, duduk", suruh ku sambil berjalan menuju laci tempat sendok.
"mau makan apa?", tanyaku setelah berada satu meja dengannya.
"aku ambil sendiri saja", jawabnya kemudian merebut piring berisi nasi itu.
Aku fokus dengan makanan di hadapanku. suapan demi suapan. Aku mendengar ibu dan anak ini tengah bahagia di dunia mereka. Mungkin akan lebih leluasa tanpa ada aku fikirku.
Sibuk memikirkan diri sendiri sampai tak sadar dua orang di hadapanku kini menatapku dengan kompak.
"ke.. kenapa?", tanyaku gugup
"kamu yang kenapa?", jawab Efrian ketus
"heh, kok ketus gitu nak, Indira kenapa?", tanya mamanya yang benar-benar orang terlembut.
Aku yang tak paham kenapa. Aku merasa aku tak kenapa-kenapa.
"ah gakpapa tante, cuma inget kalau ada pesanan orang yang lupa indi kasih tau ke anak-anak toko", jawabku mengalihkan pembicaraan
"kebiasan susah dirubah", hakim Efrian terhadapku yang lalu di patahkan lagi oleh mamanya sendiri.
"mas, gak boleh gitu mas. kalau memang lupa ya gimana, masa mau disalahkan", katanya
__ADS_1
Aku diam lagi melihatnya di marahi mamanya yang tengah membelaku.
Apa masalah beberapa hari lalu masih membuat nya kesal sampai sekarang. Aku masih melihat dimatanya. Menunjukkan kalau benar ia masih tak suka dengan kedatangan Irwan.
"ehm. tan maaf, setelah ini Indi pulang dulu ya, mungkin besok atau lusa Indi kesini lagi, atau kalau tante butuh Indi, telepon aja ya tan", jelasku pada mama Efrian
Lalu aku berdiri membereskan piring bekas makan kami. Juga sisa makanan yang ada di meja. Kutatap mata Ef masih saja sinis terhadapku.
Maksudku, kalau kau tidak ingin aku ada disini. Bilang saja ke orang tuamu kalau aku tidak bisa kemari lagi. Jangan buat ia bergantung padaku dan akhirnya aku terikat dengannya. Kalau kau saja begini, bagaimana aku bisa betah ada dirumah ini.
"biar ku antar, sekalian balik ke kantor", tawarnya. Jujur, sangat tidak ingin di antar olehnya. Kalau bukan karena bujukan mamanya aku mungkin sudah menolak niatan itu. Masih belum bisa ku nilai, niat baik atau tidak. Ia menawarkan saja penuh dengan rasa berat hati rasanya.
Setelah berpamitan, aku masuk kedalam mobilnya. Duduk di samping pengemudi memasang seatbelt dan menatap kosong kedepan.
Tanpa saling tatap, aku menyadari mobil ini sudah berlalu meninggalkan rumahnya.
"diam", katanya. Tak mengerti maksudnya. menyuruhku diam atau menegurku karena aku hanya diam.
"diam saja?", tanyanya
Secepat kilat aku menjawab "kalau masih marah, kesal dan tidak suka aku dirumahmu bilang saja. tak perlu menunjukkannya di depan mamamu. biar saja ia tau kita baik tanpa masalah sedikitpun", panjang rupanya omelanku. Dari dalam hati, sudah sejak beberapa hari lalu kupendam. Sikap nya yang mulai berubah setelah melihat Irwan membuatku sesak.
Dia masih diam mendengar celotehan panjangku. Tanpa sadar kami sudah sampai di halaman toko bunga milikku.
Matanya tajam melirik ke satu objek. Aku mengikuti arah matanya. Betapa terkejutnya melihat laki-laki itu lagi. Untuk apa dia disana.
"udah ada kan jawabannya, kenapa kamu ingin cepat pulang. bukan karena pesanan orang, tapi karena ada orang yang menunggumu", katanya.
Lagi-lagi, salah paham. Sampai kapan? Yang kemarin saja masih belum rampung kemudian ada lagi.
"aku bahkan sejak pagi sudah dirumahmu dan tak tahu kalau ia akan datang lagi", jawabku
Kemudiam Ef menatapku tajam. "terserah kau saja, aku akan percaya apa yang kulihat"
"egois!! bahkan kau tak memberikan ku kesempatan menjelaskan", aku melepaskan seatbelt itu dan membuka pintu mobilnya
"kau fikirkan apa kau cemburu atau tidak. bertindak seperti ini, seakan aku tak boleh bertemu dengan siapa pun tanpa sebuah kepastian darimu. kau lihat, aku masih mau dan masih ingin berdiri disini untukmu bukan untuknya selebihnya, terserah mu mau berfikir apa!!", jelasku lagi sebelum turun dari mobilnya.
......***......
__ADS_1